
Lima hari setelah Afnan mendapatkan kabar bahwa Hasna di tangkap polisi. Kini Afnan dan Ubaydillah sudah berada di Turki.
Afnan telah berhasil merapikan segala urusan Hasna. Bahkan demi membuat Hasna agar tidak menjadi tahanan. Afnan menyewa tiga pengacara handal sekaligus.
Bukan hanya karena kehebatan para pengacara yang membuat Hasna keluar dari sel dengan hanya menjadi tahanan kota selama tiga bulan. Saksi kuat dari seseorang yang Hasna tolong, Hasna menolong orang yang menjadi korban perampokan di jalan.
Akan tetapi tuduhan malah mengarah padanya karena menyerang dua polisi wanita dan juga satu Polisi pria dan tiga warga sipil, bukan tanpa alasan, itu di karenakan mereka salah faham, justru para perampok malah bisa kabur dengan mudah.
Hasna murka di tambah keadaan dirinya sedang cemburu pada Afnan, seseorang mengirimkan photo Afnan sedang mengobrol dan tertawa bersama seorang perempuan tanpa hijab, di sebuah restoran hanya berdua, itu yang Hasna lihat.
Pikiran buruk pun menghampiri, Hasna merasa di buang ke Turki oleh Afnan dan Afnan malah asik tertawa dengan wanita lain di Indonesia.
Maka dari itu, ia ingin mengundang perhatian Afnan agar datang ke Turki, kekacauan luar biasa Hasna lakukan. Setelah menghajar orang hingga masuk rumah sakit, Hasna pergi begitu saja dengan mengendarai mobil ugal-ugalan, melanggar lampu lalu lintas dan yang paling parah menabrakan mobilnya pada sebuah tiang listrik serta piva besi taman dan piva itu milik pemerintah, hingga mengalami kebocoran dan air menyembur hingga membasahi mobil Hasna dan juga area sekitar. Jika saja pihak pemeliharaan setempat tidak segera datang dan mengatasi masalah ini, mungkin tempat itu akan banjir.
**
Afnan saat ini sedang berada di rumah sakit, ia belum bertemu dengan Hasna dari sejak sampai di Turki, Hasna sempat masuk tahanan selama tiga hari tiga malam ini, Afnan dan Ubaydillah sedang menjenguk sekaligus meminta maaf atas perlakuan Hasna terhadap korban Hasna.
"Iyuuuhh, tuh polwan di hajar Nana? hidungnya sampai bengkok gitu." bisik Ubaydillah pada Afnan. Mereka tengah menjenguk para korban Hasna.
"Itu mancung Dek! bukan bengkok, hanya saja mancungnya keterlaluan jadi seperti bengkok!" balas Afnan.
"Ekhem!"
Suara deheman sorang laki-laki mengejutkan Afnan dan Ubaydillah yang sedang saling bisik.
"Eh, kak Nizam!" ujar Afnan
"Ini Dek orang yang berkelahi dengan Nana dan mereka harus masuk rumah sakit karena pukulan dan tendangan Nana." Ujar Nizam.
"Mereka baik-baik saja kan? tidak ada cedera parah?" tanya Ubaydillah.
"Tidak! Insya Allah dalam dua hari kedepan mereka sudah bisa keluar dari rumah sakit dan mereka akan siap-siap menghadapi panggilan polisi!" jawab Nizam.
"Loh kok jadi berbalik?"
"Dek Nana di sini korban! Dek Nana di tahan bukan karena kasus kejahatan yang ia lakukan namun, ia di tahan karena keteledoran berkendara, untuk kasus pemukulan itu di maklumi walaupun tidak di benarkan, karena Dek Nana membantu orang lain yang sedang di rampok dan Dek Nana malah di sangka satu komplotan dengan si perampok yang menyebabkan perampok aslinya bisa dengan mudah melarikan diri." Tutur Nizam.
"Huff! Syukurlah! tolong diurus Saja dengan baik hingga tuntas. Bagaimanapun kami harus mengcover biaya perawatan mereka." Ujar Afnan.
"Insya Allah, Dek!" tandas Nizam.
Setelah Afnan melihat ke enam orang korban dari Hasna, ia pun segera bergegas pulang. Afnan rindu akan Istrinya dan dia ingin melihat reaksi Istrinya, karena Hasna belum tahu jika Afnan telah berada di Turki.
Dari Hari pertama ia tiba, Afnan berada di balik layar atas kebebasan Hasna. Sementara ia di tinggal di rumah Kakaknya, Hasna di temani Adreena serta Twins Q di rumah Hasna dan Lintang.
Afnan telah sampai di rumah tinggal Hasna dan Lintang. Hasna berada di kamar dari sejak ia keluar dari Sel, hanya tahanan Sel yang ada di kantor polisi yang layak, atas perjuangan pengacara yang Afnan sewa. Bukan dalam lingkungan penjara yang sesungguhnya.
"Assalamu'alaikum!"
Suara Afnan dan Ubaydillah menggema di ruang tamu yang luas. Lintang yang sedang duduk di ruang tengah pun mendadak kaku. Dirinya terkesiap mendengar suara yang tidak asing. Namun, ini seperti mimpi, mana mungkin kedua suara yang ia kenal berada di rumah itu.
"Hem, efek rindu!" gumam Lintang.
"Ini koq tidak ada penyambutan?" suara Ubaydillah kembali terdengar.
"Ayank!" gumam Lintang. Lalu ia segera berlari ke arah ruang tamu.
"Hoooo, Astagfirullah! Ayank Daviiiii!" Lintang menghampiri Ubaydillah dan langsung loncat ke tubuh Ubaydillah. Lintang memeluk Ubaydillah seperti teddy bear. Tubuh Ubaydillah hingga terhuyung ke belakang, ia terkejut juga tidak siap menerima serangan rindu dari Lintang.
A : Hem, lebay lu Dek Lilin.
L: Sirik lu Thor?! sana loncat ke tubuh si Cintanya! jangan ganggu Eikye.
A: 😭😭😭😭😭😭😭
L: Lah, si Thor mewek😝
A: Pen kek gitu👉, loncat langsung di peluk! tapi yang ada Cintaku auto semaput, mejret! yang loncat si imut kek anak gajah, 🤫😆itu sih kata Nakhla. Astagfirullah! punya anak perawan Kalau ngomong ngena banget 🙉🤭 Halah, ngelantur 🙈...
(Readers Demo! panci, ember, kuali, cobek, ulegan, cabai, gula, bahan rujakan ikut serta, selesai demo rujakan di rumah Bu erteh).
R: Lanjut Thor 😠😡🤬
__ADS_1
A: Oppss!! ya ya, ini lanjut 🤩😄
"Yank!" pekik Ubaydillah namun, ia membalas pelukan Lintang. Membuat Afnan geleng kepala sembari tersenyum dan memutar bola matanya malas.
"Nana ada di mana, Neng?" tanya Afnan.
"Dari kemarin tidak keluar kamar A!" balas Lintang.
"Baiklah! Ana ke kamar dulu, menemui Nana." Pamit Afnan.
Ubaydillah dan Lintang mengiyakan. Afnan pun segera beranjak menuju kamar Hasna.
"Yank! koq tiba-tiba ada di sini?" tanya Lintang dengan bergelayut manja.
"Kami sudah ada di sini dari empat hari yang lalu. Kebebasan Dek Nana pun sebetulnya tidak luput dari campur tangan kami. Hanya saja kami bermain di balik layar." Ujar Ubaydillah.
"SubhanAllah...aku pikir, A Ustadz belum mengetahui hal ini." Lintang merasa terkejut.
"Mana mungkin! kami tuh dari awal sudah tahu, selain dari Kak Nizam dan Kak Adreena, kami memiliki beberapa mata-mata di sini untuk melaporkan perkembangan kalian." Jawab santai Ubaydillah yang mengajak Lintang duduk di sofa.
"Ayank pasang pelacak lagi ya?"
"Tidak Koq, bayar orang-orang handal. Yang mampu di percaya!"
"Hem, terserah! aku tidak mengerti jika berhubungan dengan rencana dan otak kalian!" Lintang cemberut. Ubaydillah mengekeh dan mengecup pipi Lintang dengan gemas.
"Tidak rindu pada ku?"
"Tidak perlu di tanya! bagus Nana buat onar, jadi kalian datang ke Turki. Kalau tidak! mungkin aku akan bertemu Ayank setelah lulus S2." rajuk Lintang.
"Hehe, mana mungkin! sebetulnya bulan depan, kami sudah ada rencana hendak ke Turki untuk urusan bisnis dan juga tentu saja menemui kalian!" ujar Ubaydillah.
"O yah! pasti mau buat kejutan ya?" Ubaydillah mengangguk sembari ndusel pipi Lintang dengan hidungnya.
"Yaank! aku rindu Abang!" mata Lintang mulai berkaca-kaca.
"Sabar ya Sayang! nanti liburan Insya Allah bertemu." bujuk Ubaydillah sembari memeluk Lintang. "O yah! biasanya kamu ikut mendukung keonaran yang Dek Nana buat, akan tetapi tidak dengan kali ini, mengapa?" tanya Ubaydillah.
"Emm, siang menjelang sore itu kami pulang dari kampus, seperti biasa Nana memang mau mengikuti Competizone Lamborghini Real Race sama Clubnya. Kami sedang menuju ke sana, akan tetapi WhatsApp Hasna berbunyi dan Nana melihat pesan itu, tiba-tiba dia seperti marah, langsung menyuruh Aku turun dan pulang naik taksi. Lalu aku pun tidak tahu lagi Yank! Nana pergi ke mana? Aku menunggunya pulang dan malam hari sekitar tengah malam ada polisi datang ke rumah memberi kabar bahwa Hasna berada di kantor polisi. Ya sudah aku langsung nelpon ke Adreena dan Kak Nizam untuk minta tolong." Tutur Lintang.
"Ia Yank! Aku juga dilarang melihat ponsel tersebut. Nana betul-betul mengusir aku turun dari mobil dan menyuruh aku pulang dengan naik taksi." Ujar Lintang.
"Baiklah! kita akan segera
tahu jawabannya, setelah A'a Ustadz keluar dari kamar menemui Nana." ucap Ubaydillah
"kita ngamar yuk!" ajak Ubaydillah dengan merangkul bahu Lintang.
"Masih siang Yank! mau ngapain ngajak aku ngamar?" Lintang merasa curiga.
"Tidak mau ngapa-ngapain, A'a Dav mau bobo di temani kamu, Sayang! dari kemarin kurang tidur." terang Ubaydillah dengan santainya.
"Biklah! mari ngamar," Lintang mengikuti Ubaydillah menuju kamar.
Ternyata acara ngamar yang dimaksud Ubaydillah hanya untuk tidur. Itu adalah alibi saja, yang sebenarnya terjadi. Ketika mereka sampai di kamar, Lintang langsung di sergapnya dengan rayuan rindu dan kehangatan asmara. Akhirnya mereka melepaskan kerinduan, yang sudah beberapa bulan ini mereka tahan.
Sedangkan di kamar Hasna.
Afnan tidak menemukan Hasna di kamarnya, Hasna sedang ada di dalam kamar mandi. Seperti kebiasaan Hasna, jika sedang merasa terpuruk atau sendiri. Selain dari Shalat dan membaca Al-Qur'an ia tidak akan pernah berteriak atau memaki, dia hanya akan diam di tempat sepi atau diam di kamar mandi dan tebakan Afnan sepertinya tepat.
Setelah tadi ia membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Kini Afnan mengunci pintu dari dalam. Afnan langsung menuju kamar mandi yang tidak terkunci. Nampaklah Hasna menyandarkan tubuh di dalam bathtub tertutup busa sabun tebal, nampaknya ketiduran.
Afnan begitu terenyuh, Hasna sepertinya selesai menangis. Sisa-sisa air mata masih nampak pada pipi dan ujung mata Hasna yang terpejam.
"Sayang! kebiasaan buruk kamu tuh, suka tidur di bathub," ujar Afnan. Saat melihat Hasna terlelap.
Kejahilan Afnan muncul. Ia ingin mengejutkan Hasna dengan ikut masuk ke dalam tempat berendam berukuran cukup untuk dua orang tersebut.
Afnan membuka pakaiannya, hanya menyisakan underwearnya saja. Kebetulan ia juga merasa perlu mandi setelah dari luar.
Hasna belum menyadarinya, ada seseorang ikut bergabung dengannya, masuk secara perlahan dan memposisikan dirinya duduk di hadapan Hasna.
Hasna mengerjapkan mata, ketika merasa ada sebuah sentuhan di betisnya. Hasna membuka mata perlahan, samar seseorang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa! si-siapa kamu? mengapa ada di bathtub ini?" Hasna berteriak dan juga melempar busa serta beberapa botol sampo dan juga sabun ke arah Afnan. Hasna terkejut ketika melihat ada seorang laki-laki di hadapannya sedang menunduk dan memainkan busa sabun.
"Sayang, cukup! ini aku. Aku Afnan, Suamimu!" pekik Afnan.
"Haaaa, Byby!" Hasna langsung bergeser dan memeluk Afnan ketika ia mengenali suara yang amat di rindukannya selama beberapa bulan ini.
"Ia betul, ini aku Byby mu!"
"Maaf By! maafkan Nana, tadi wajahnya tidak terlihat, Nana terkejut!" Hasna mengecupi wajah Afnan.
"Justru, ma'afkan Byby. Karena sudah mengejutkan mu!" balas Afnan memandang wajah Hasna dengan perasaan iba.
"Tidak mengapa, aku senang." Hasna tersenyum. "By! akan tetapi...ini kamu sungguhan kan?" Hasna meneliti wajah Afnan yang ia kecupi sebelumnya. Nampak raut kelelahan di rupa yang masih tetap tampan itu, walaupun sudah hampir memasuki usia empat puluh tahun.
"Ya aku betulan, memangnya apa?" jawab santai Afnan sembari meraih pinggang Hasna agar bergeser naik dalam pangkuannya.
"Ya bisa saja qorin-nya Byby yang sedang menyamar!" ucap Hasna dengan manyun.
"Ya ampun, kamu berharap Byby sudah Innalilahi?"
"Ya tidak! jangan dulu," Hasna memeluk Afnan. Mereka diam dan Afnan membalas pelukan Hasna dengan tersenyum. Ia tidak marah ataupun menegur Hasna. Interaksi mereka biasa saja, seperti tidak ada masalah apa pun hingga Hasna menundukkan wajahnya. Ia baru menyadari jika Afnan terbang ke Turki pasti karena sudah terpancing oleh keonaran yang ia buat.
"Byby rindu, Sayang! biarkan aku menikmati kerinduan ini," bisik Afnan di telinga Hasna.
Hasna hanya mampu mengangguk. Afnan menatap lekat netra coklat Hasna. Penyesalan dan rasa bersalah nampak di sana. "Bermain game rindu di dalam air, nampaknya tidak buruk!" ucap lembut Afnan.
Hasna tersenyum kikuk dan menunduk malu. Afnan pun kembali tersenyum, tanpa bicara Afnan menepikan bibirnya pada bibir Hasna, selanjutnya game rindu itu dalam mode start hingga mencapai game over dari hasrat kerinduan yang menggebu.
**
Dua jam kemudian,
Hasna dan Afnan telah sama-sama berpakaian dan duduk di sofa kamar, setelah sebelumnya mereka memulihkan tenaga dari kelelahan bermain game rindu.
"Hebat sekali, tidak perlu pakai undangan atau Chat. Cukup dengan membuat keonaran maka aku terpancing dan segera terbang ke mari." Afnan membuka suara.
Hasna harus bersiap. Walaupun ia tahu, Afnan tidak akan marah atau murka kepadanya.
"Baguslah By! jadi Byby bisa melihat apa yang kulakukan di sini, daripada tertawa-tawa dengan seorang perempuan lain di sana!" cibir Hasna.
Afnan mengerutkan dahi, sungguh tidak paham dengan apa yang Hasna katakan. "Apa maksud mu, Sayang?" tanya Afnan.
"Byby lebih tahu maksud ku!" Hasna meraih ponselnya lalu, ia sodorkan pada Afnan.
Afnan memeriksa ponsel Hasna, lalu ia mengekeh. "Oh nampaknya ada yang cemburu, kembali berulah agar suaminya lebih memperhatikanya!" sindir Afnan.
"Heh! Aku ingin pulang!" lirih Hasna, ketika Afnan bergeser dan duduk tepat di sebelahnya.
"Tinggal pulang, Gampang!" jawab Afnan. "Perlu kamu tahu, perempuan itu kemenakannya Cleo! ia ingin meminta saran, untuk pernikahannya, calon suaminya seorang muslim, Cctv di restoran tersebut nanti yang akan meredam kecemburuan mu!"
Memang benar adanya. Afnan tidak hanya berdua dengan perempuan itu, Ubaydillah dan beberapa orang pengunjung ada di sana. Hanya di dalam photo nampak Afnan sedang nyengir hanya berdua dan duduk berhadapan terhalang meja, dengan perempuan tersebut.
Afnan mengecup tangan Hasna, setelah memejamkan mata sejenak dan menarik napasnya dalam, Afnan beranjak ke arah jendela.
"Byby! harusnya memarahi Nana!" ujar Hasna dengan masih duduk di sofa.
"Tidak ada untungnya, kemarahan hanya akan memberikan peluang untuk setan masuk dan memporak porandakan Iman, lagi pula... hingga kemarahan tingkat Ifrath pun, (kemarahan tingkat berlebihan saat marah, misalnya dengan berteriak dan melontarkan kata-kata kasar. Tak jarang pula diikuti dengan tindak kekerasan). Tidak akan pernah mengembalikan semuanya." jawab Afnan datar.
"Jujur, awalnya Nana cemburu karena photo itu. Nana merasa di buang ke sini sementara Byby di sana asik dengan perempuan lain. Namun, hal yang paling utama, mereka tidak mendengarkan penjelasan Nana yang sedang menolong orang. Mereka malah menuduh Nana berkomplot dengan para perampok itu, malah membuat para perapok yang sudah Nana kalahkan kabur dengan mudah. Maka dari itu, sekalian saja Nana bumbui kejadian itu dengan menghajar para polisi yang mencoba memfitnah Nana dan Nana ingin Byby tiba di sini dengan cepat, maka dengan cara membuat onarlah cara tercepat membuat Byby datang ke Turki.
"Hem, kamu memang pandai! namun, teledor! jika saja saksi tidak kuat, maka pengacarapun bisa apa? selain berusaha meringankan hukuman mu." tandas Afnan.
"Nana melakukannya dengan sengaja dan penuh perhitungan. Menghajar polwan itu hingga hidungnya patah, dan lainnya, menabrak tiang lampu juga piva besi, itu sudah Nana perhitungan resikonya." ujar Hasna.
"Mobil Lamborghini Byby hancur bagian depan! tapi nana tidak akan minta maaf!" tegas Hasna. "Nana sudah minta ijin untuk sedikit memodifikasi mobil itu lewat kak Ubay dan Byby telah menyetujuinya. Lagipula anggap saja ganti rugi karena Byby sudah membuat Nana cemburu." Final Hasna.
"Henmm!" Afnan tersenyum miring dengan menggeleng kepala. Sungguh sangat lucu istrinya ini. Menabrakan mobil dengan sengaja dia bilang modifikasi? lalu...Afnan harus ganti rugi atas kecemburuan? betul kata Ubaydillah Mak labil Shalihah, Mak gemes nakal!
"Aneh! mana ada orang minta ganti rugi untuk sebuah kecemburuan? lagi pula, aku baru mendengar tentang modifikasi mobil dengan cara di tabrakan!"
"Ada, itu Aku! untuk modifikasi ya anggap saja modifikasi alami, cepat dan praktis By!" sungguh Afnan ingin tertawa, apakah istrinya sedang bercanda? begitu santai dalam memberikan jawaban, untuk perbaikan mobil yang telah hancur di bagian depannya itu, Afnan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Pusat kebahagiaan ku terletak pada Umi dan Kamu! dua wanita yang memiliki kedudukan mulia untukku! jika itu membuat kamu bahagia, maka aku bersyukur, karena insya Allah, aku sudah meraih pahala dari kebahagiaanmu!"
__ADS_1
"Hem, aku kalah lagi dong kalau begitu." gumam Hasna lalu menekuk wajahnya. Afnan tersenyum merasa Istrinya belum mampu mengalahkan emosinya, seberat apapun ia membuat masalah.
Bersambung...