Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
55. Akhirnya, Kami Menemukan Kalian.


__ADS_3

Di tempat Anak-anak berada.


Tuk tak tuk tak tuk ....


Terdengar suara benda padat yang di ketuk pada meja makan berbahan kayu, secara berulang kali dan bersama-sama.


Di meja makan rumah tersebut begitu bergaduh. Ya itu ulah para Anak-anak yang meminta ini dan itu untuk sarapan.


Mereka yang terkenal kalem jika di rumah, ketika bersama orang tua mereka. Kini Anak-anak itu begitu merepotkan para penculik. Jika saja bos mereka tidak menahan. Mungkin Anak-anak itu sudah di habisi.


Hampir satu malam tidak ada yang tidur dengan lelap. Minta apapun yang mereka inginkan, serta berbagai keluhan keluar dari mulut mereka.


"Kami lapar! kami mau ma'em Om! cepat.... cepat.... cepat!" pekik mereka secara bersamaan. Hanyalah Afkha yang nampak diam namun ia tersenyum simpul dalam menyaksikan kelakuan saudara-saudara nya.


"Om! cepatlah! Nai mau nya cucu cokat. Ini ail teh, Nai gak like!!!!!" teriak Alnaira, ia berdiri dan naik ke atas bangku,sambil berkacak pinggang. Air teh di dalam gelas pun ia depak begitu saja hingga tumpah di atas meja dan air membasahi meja makan tersebut.


"Hai! mengapa di tumpahkan? susah payah kami mencari air teh itu!" bentak ketua penculik.


"Ahahah! kalau kami tidak cuka bagaimana? halus di minum dengan pakca? iuuh no!" Afsha membalas bentakan si penculik.


Padahal Biyya dan Mimma mereka, tidak pernah satu kali pun mengajarkan muba'dzir kan makanan atau minuman.


"Anak-anak kurang ajar! tidak habis fikir saya, kalian itu tinggal di lingkungan pondok pesantren. Tapi kelakuan kalian melebihi bar bar jalanan. Hargai usaha kami karena telah mau merawat kalian." Ucap penculik lain nya.


"Kami tidak minta di bawa oleh kalian. Jika kalian halus melawat kami, itu leciko kalian kalena menculik kami. Maka nya Om! jika om inin di halgai! jadilah olang baik! untuk apa, kami halus menulut dan santun terlhadap kalian! dacal olang jahat!" teriak Arsya.

__ADS_1


Cara bicara yang masih terdengar khas nya kanak- kanak. Namun dengan porsi orang dewasa. Para penculik pun di buat tercengang. Apa rahasia merawat Anak-anak ini, sehingga mereka memiliki perangai bak orang dewasa dan begitu berani menghadapi beberapa pria dewasa dengan postur tubuh tinggi besar berwajah garang.


"Shit! terlalu berani yah kalian." Umpat si penculik lainnya dan ia mengeluarkan senjata api langsung menodongkan ke arah Arsya.


"Bungkam mulut kalian. Sudah tidak pantas lagi kalian di anggap anak kecil. Heran, mengapa Bos kami, masih bersikap baik terhadap kalian. Harus nya kami sudah menghabisi kalian dari semalam." Teriak si penculik. Ia merasa di rendahkan oleh sikap Anak-anak.


Sedangkan Anak-anak. Mereka bisa berubah seperti itu, karena Arsya yang meminta nya. Ia ingat betul akan pesan Ubaydillah sang Ayah, yang mengharuskan Arsya berani dan tidak gentar dalam menghadapi orang jahat.


"Jika kalian Endak di halgai maka halgailah olang lain. Allah SWT Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Mendengal. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Allah Swt. Semua aktivitas badan, pikilan dan hati kita semua diketahui oleh Allah SWT. Maka dali itu belfikil kembali Om! apa yang Om lakukan ini cudah baik? sudah benal? atau tidak?" ucap Arsya dengan lantang nya.


"Menulut Biyya kami. Sesungguhnya dalam dilimu terdapat dua sikap yang dicintai oleh Allah; yaitu sifat santun dan malu." (H.R. Ibnu Majah). Sedangkan Om Om ini tidak sedikit pun memiliki sifat tersebut." Ujar Afkha dengan begitu tenang nya walaupun moncong senjata api sedang mengarah kepada mereka dan dalam satu bidikan saja, bisa membuat nya terkapar.


"Iya! sifat kalian tidak sopan dan tidak santun! Malu adalah sikap menahan dili dali peybuatan jelek, kotol, tercela, dan hina. Peylu kalian tahu, laca mayu meyupakan bagian dayi iman kalena dapat mendoyong ceceolang untuk meyakukan kebaikan dan mencegahnya dayi kemakciatan. Cedangkan kalian jauh dali kata itu dan kami hayuc menghoymati kalian? mimpi!" dengus Afsha. Ia berujar menyambung kata kata Kakak kembaran nya.


"Kami tidak takut dengan kemulkaan pala penjahat cepeyti talian. Yang kami takut hanyalah kemulkaan dali Allah." Jawab Arsya begitu berani, walaupun sebuah revolver sedang mengacung ke arah nya.


"Aaarrggghh! kurang ajar!"


Si penjahat merasa frustasi menghadapi mulut pedas dari Anak-anak itu.


Di luar rumah.


Afnan, Ubaydillah, Devano, Roy dan polisi Imron serta para warga yang ikut mengawal, baru saja sampai di halaman rumah tempat Anak-anak di kurung. Mereka berjalan mengendap, setelah kendaraan mereka berhenti agak jauh dari rumah tersebut.


"Seperti nya suara gaduh Anak-anak," bisik Afnan kepada mereka.

__ADS_1


"Betul! tidak salah lagi. Mereka terdengar sedang beradu mulut." ujar Ubaydillah.


"Itu suara Nai, sedang berteriak." Ucap Devano. "Princes nya Apih. Sedang apa kamu teriak-teriak Nak?" gumam Devano. Namun Ubaydillah dan yang lainnya masih lah dapat mendengar.


"Alhamdulillah! akhirnya kami menemukan kalian Nak! Dek, tolong kirim pesan kepada Umi! katakan bahwa Anak-anak sudah di ketemukan, Mohon Doa nya agar Anak-anak, dapat kita selamatkan dalam keadaan baik." Pinta Afnan kepada Ubaydillah.


"Laksanakan A'a Bro!" Ubaydillah pun menuruti permintaan Afnan. Ia mengirimkan pesan kepada Umi sesuai perkataan Afnan, agar tidak makan waktu untuk mengetik, maka ia kirimkan melalui Voice note. Nampak pesan suara itu telah masuk dan di dengarkan. Namun Ubaydillah segera membenahi ponsel nya kembali ke dalam tas kecil yang ia bawa.


"Kita harus menyebar untuk mengepung tempat ini. Gunakan balok kalian sebagai senjata." Pinta polisi Imron kepada para warga.


"Baik, komandan!" seru serentak para warga. Biasa nya orang awan akan memanggil polisi dengan sebutan komandan, entah apapun itu pangkat dan kedudukan nya. Mereka tahu nya komandan.


"Ustadz, Dek Ubay siapkan juga senjata yang kalian bawa. Sedangkan untuk Devano dan Dek Roy, sebaiknya kalian berjaga di luar pagar saja, Saya sudah menghubungi beberapa kawan saya. Mereka sedang dalam perjalanan. Nanti mereka yang akan membantu." Pinta polisi Imron kembali.


"Tidak! Aku harus ikut dengan kalian. Karena Akulah, Anak-


anak hingga di culik." Bantah Roy.


"Ini terlalu beresiko dengan keadaan kamu Roy." Ubaydillah menepuk pelan bahu Roy. Tidak bermaksud merendahkan, akan tetapi khawatir. Roy pun mengerti akan hal itu. Namun ia merasa perlu ikut bergerak dalam menyelamatkan Anak-anak.


"Tolong, izinkan Aku ikut kalian ke dalam. Aku yang diinginkan paman ku! apapun yang akan terjadi dengan ku nanti, kalian tidak perlu khawatir. Mami sudah membawa doa restu untuk ku! apapun yang terjadi, Insya Allah kami ridho." Roy berusaha meyakinkan mereka.


"Tapi ....," ucapan polisi Imron menggantung. Afnan saling pandang dengan Ubaydillah, lalu menganggukan kepala kepada polisi Imron. Pertanda mengizinkan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2