Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
71. Kehabisan Bensin.


__ADS_3

"A Ustadz, Hujan!" Pekik Hasna. Ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang, setelah makan nasi goreng. Tiba-tiba saja hujan turun.


"Ah ia. Mau lanjut, atau berteduh?" tanya Afnan.


"Makin lebat A, berteduh saja!" pinta Hasna.


"Ok!" tandas Afnan, kemudian ia mencari tempat aman untuk berteduh.


Bangunan yang agak sepi tujuan Afnan. Ia memarkirkan motor nya di sebuah ruko kecil dengan beranda yang cukup untuk menitipkan diri agar tidak basah oleh air hujan.


"Sini Dek! hati-hati licin, seperti nya jalan nya agak berlumut." Ujar Afnan sembari mengulurkan ujung jaket nya.


"Baik A!"


Hasna menarik ujung jaket tersebut lalu melangkah mengikuti Afnan dengan tetap hati-hati.


Setelah berhasil sampai di pelataran ruko. Afnan melihat Hasna makin mengeratkan pelukannya sendiri. Tanpa pikir panjang, Afnan membuka jaketnya. Lalu ia selimutkan jaket itu pada tubuh Hasna bagian depan.


"Loh A! tidak perlu, A'a Ustadz sendiri nanti kedinginan." Ujar Hasna.


Afnan tersenyum serta menatap Hasna dengan lembut. "Tidak mengapa, InsyaAllah aku tidak kedinginan koq."


"Tapi___"


"Sssttttt.... Please, gak banyak protes! Kamu lebih membutuhkan rasa hangat, ketika dingin nya di atas normal." Ucap Afnan lembut.


Hasna mengerti. Jika cuaca terlalu dingin. Ia akan mengalami mimisan atau alergi merah dan ruam pada kulit nya. Afnan hanya sedang berusaha menjaganya agar tetap hangat.


"Terima kasih A." Hasna merasa terharu. Afnan meraih sebelah tangan Hasna. Lalu ia menggenggam telapak tangan Hasna dengan sebelah tangan nya.


"Tidak gratis! tak perlu berterima kasih." bisik Afnan, lalu menampilkan senyuman genit khas nya. Kemudian ia menyentuh pipinya dengan jari telunjuk, sebagai permintaan Cun.


"Ish! dasar Ustadz genit. Perhitungan lagi." desis Hasna pelan. Afnan yang mendengar nya pun malah tertawa. "Gak boleh Ustadz, kita sedang pacaran, tidak boleh Cun. Dosa!" imbuh Hasna.


"Ustadz juga manusia, Neng! boleh dong, sedikit saja." rayu Afnan dengan kembali berbisik, membuat hembusan nafas Afnan yang hangat pada telinga Hasna yang tertutup hijab, malah menimbulkan rasa hangat pada hati juga tubuh nya.


Tangan Afnan makin erat menggenggam telapak tangan Hasna. Hasna tahu Afnan kedinginan. Bibir Afnan kini mulai pucat. Sebetulnya Hasna merasa bersalah plus haru, karena Afnan lebih memilih kedinginan dengan memberikan jaket untuk melindungi nya dari dingin.


Hujan makin lebat, sungguh Afnan merasa amat kedinginan. Namun ia juga tidak bisa membiarkan Hasna kedinginan, atau ia akan mimisan. Afnan memilih menahan rasa dingin demi istri yang sedang pura-pura menjadi pacar nya.


Hasna celingukan ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. Ia harus membuat Afnan hangat dengan cepat. Jalanan begitu sepi. Bukan hanya karena sudah larut. Namun, hujan menambah suasana makin sepi.


Hasna menarik jaket Afnan agak naik. Lalu tanpa ba-bi-bu, ia meraih tengkuk Afnan dengan cepat dan membawa nya menunduk ke arah wajah nya. Hingga bertemulah bibir keduanya. Afnan melotot seketika. Tidak percaya dengan apa yang Hasna lakukan.


"Maaf! aku hanya ingin membuat A'a hangat." gumam Hasna, dengan bibir yang masih menempel pada bibir suaminya, yang kini sedang menjadi pacarnya. Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, ia mengecap bibir pacarnya dengan lebih dalam.


Afnan pun terbawa suasana, tubuhnya berangsur menghangat setelah ia meladeni pagutan pacarnya. Hasna menyembunyikan kepala mereka di antara jaket milik Afnan.


"Astaghfirullah'aladzim!" pekik Afnan dengan menarik kepalanya, menjauh dari Hasna. Otomatis kedua bibir yang sedang saling bertautan itu terlepas.


"Heee! maaf A, khilaf! tapi di sengaja. Imbalan nya sudah lunas, jangan minta bayaran apapun." seringai Hasna sesudahnya dengan mencubit pipi Afnan. Sungguh Afnan begitu menggemaskan, di saat kalangkabut seperti tadi.


"Hiiii. Ok! jangan bertindak gegabah lagi, kalau ada orang yang melihat bagaimana? persepsi mereka pasti akan berbeda." tegur Afnan lembut namun serius.

__ADS_1


"Iya_iya, maaf!" Hasna kesal, ia merasa malu atas tindakannya. Kemudian ia berlalu dari hadapan Afnan. Memilih duduk di atas bangku kayu yang tidak lagi utuh.


Afnan tidak mau Hasna salah faham ataupun marah. Ia segera menghampiri nya. "Maafkan A'a juga, Dek! ia deh untuk Dek Nana ada pengecualian, Kita halal Koq. hanya agak risih, ini kan tempat umum. Boleh di ulang tidak, imbalan nya? kurang greget nih." Goda Afnan kemudian. Ia berusaha mencairkan suasana.


"Heh, gak sudi! maaf ya Ustadz, tidak ada siaran ulang. Pamancar nya error kehujanan." Dengus Hasna. Afnan tertawa, lalu ia duduk di sisi Hasna. menautkan kembali satu telapak tangan mereka dan di taruh di atas pangkuan Hasna, tertutup oleh jaket yang menyelimuti tubuh Hasna.


"A ....," panggil Hasna pelan.


"Ya Dek." jawab Afnan.


"Di luar konteks kita saat ini yang sedang pacaran. Nana boleh tanya sesuatu?" Hasna menoleh pada Afnan.


"Tentu, tanyakanlah sayang." Afnan membelai lembut kepala Hasna dengan sebelah tangan lainnya.


"Emmm, dalam pernikahan kita yang sudah berusia tujuh tahun ini, mengapa Byby bisa tahan dengan sifat dan juga sikap aku yang sering menyebalkan? Bahkan aku sering berbuat onar dan nakal." Hasna begitu penasaran dengan kesabaran Afnan dalam menghadapi nya.


"Baru nyadar yah?" goda Afnan dengan memiringkan wajahnya melongok wajah nya Hasna.


"Ikh Byby! menyebalkan." Hasna meraup wajah Afnan, lalu mendorong nya perlahan. "Nana sadar dari dulu, hanya pura-pura tidak sadar saja," tuntas nya di barengi tawa dari suaranya yang serak serak basah terdengar sexy.


Afnan malah ikut tertawa. Lalu bergumam masih dengan tawa ringan. "Dasar gemes nakal."


"Ish! jawab doooong sayang." Hasna masih menunggu jawaban.


"Baiklah, Jawaban nya....sebab Aku mencintaimu karena Allah. Segala pergerakan mu, yang mengendalikan itu adalah Allah, kecuali iman mu! jujur, aku kagum akan hal itu."


"Ibarat Puzzle. Maka pernikahan kita adalah puzzle, harus saling melengkapi untuk menjadi kesatuan utuh, agar puzzle tersebut mampu menyatu dan terbentuknya Sakinah (Ketenangan) dalam ibadah terpanjang di sisa usia, atau tali pernikahan ini." Ujar Afnan dengan tersenyum. Dan mampu menggetarkan Hati Hasna hingga berkaca-kaca pada matanya.


"Prinsip lain nya selain tentang Cinta dan Puzzle?" tanya Hasna kembali.


"Salah satu nya karena prinsip tersebut." Ujar Afnan dengan menyeka air mata Hasna yang sudah keluar beberapa kali.


"Love you Ustadz. Lillahita'ala!" Ucap Hasna, ia tidak mampu berkata apapun lagi.


"Love you more, Lillahita'ala." Balas Afnan. Kini dengan berani, ia menarik Hasna agar bersandar pada bahu nya.


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا


Laten: Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yunin, waj’alna lil muttaqiina imaama


Artinya : "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Furqan: 74)


Terdengar Afnan melantunkan doa Nabi Ibrahim a.s. Doa tersebut selain untuk meminta keturunan yang Shalih dan Shalihah, juga untuk rumah tangga yang Sakinah (tentram dalam rumah tangga, baik jasmani maupun rohani).


Keistimewaan lain dari doa Nabi Ibrahim adalah, agar enteng Jodoh bagi para gadis atau bujang. Sebagaimana dalam sebuah hadits: 'Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga ********. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.' (HR. Bukhari dan Muslim).


"Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya." (HR. Al Baihaqi).


Setiap orang pasti ingin memiliki jodoh yang baik. Caranya? maka berdoalah sebagai bentuk usaha. Semoga bermanfaat, Di anjurkan bagi yang sedang mencari jodoh: shalat lima waktu tepat waktu, membaca shalawat Nariyah sebanyak 11 hingga 14 kali, lalu membaca doa Nabi Ibrahim a.s ,di atas. Sisanya bershalawat dan munajat kepada Allah, agar mendapatkan jodoh yang baik, atau rumah tangga yang sakinah (tenteram, damai) di tambah mawaddah (rasa Cinta dan kasih sayang) serta di Karuniai warahmah (Rahmat kebaikan, baik rezeky ataupun keturunan).


Tidak terasa setelah dua puluh menit berteduh, akhirnya hujan pun reda. Afnan dan Hasna memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


Kini mereka sudah berada di dalam perjalanan kembali menuju rumah Neneknya Hasna. Namun keanehan terjadi pada motor yang di tumapangi mereka. drt...drt..dan tiba-tiba mati.

__ADS_1


"Yaaah, motor nya kepingin ngopi, Dek!" tawa renyah Afnan.


"Maksudnya A Ustadz, kehabisan bensin?" tanya Hasna. Di angguki oleh Afnan.


"Sepertinya.... kita harus mendorong nya, Dek." Ucap Afnan.


"Baiklah! tapi.... mengapa tadi, A'a tidak membeli minuman untuk motor ini? padahal sebelum hujan, kita kan melewati pom bensin loh!" cecar Hasna.


"Heeee... uang nya tidak cukup! sisa lima ribu." Jawab Afnan malu-malu.


"Astaghfirullah! pantas saja beli nasi goreng hanya satu porsi. Kehabisan uang Ya A?" tanya Hasna dengan sedih. "Pasti A'a Ustadz juga lapar yah?" pertanyaan akhir dari Hasna.


"Tidak Dek! aku kenyang, sungguh! walaupun masih ada uang, aku akan tetap beli satu porsi, kan biar di suapi kamu." goda Afnan dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ouh gitu ya. Ok deh! biar nampak romantis ya kan, A?" Hasna mencubit gemas pipi Afnan.


"Yups! eh siapa yang genit nih sekarang?" ledek Afnan.


"Sedikit! lumayan kan." bisik Hasna. Akhirnya mereka tertawa kembali.


"Sudah malam, mari kita dorong, Dek. Sebentar lagi juga sampai koq." Pinta Afnan kemudian.


"Baiklah, kita dorong sembari ngobrol," ajak Hasna. Lalu keduanya turun dari atas motor.


Mereka berdua mulai mendorong motor hingga sampai ke rumah Neneknya Hasna, dengan penuh canda tawa di sisa hujan yang baru saja menyiram kota tersebut.


Hasna berinisiatif untuk menyedot bahan bakar motor dari dalam mobil Kakek nya menggunakan selang kecil. Hingga motor kembali dapat di hidupkan.


Setelah di rasa bahan bakar itu cukup untuk ia sampai ponpes, maka Afnan pun berpamitan pulang.


"Besok jangan lupa ya A. Apeli aku lagi." pinta Hasna dengan tersipu malu.


"Insya Allah. Tentu sayang!" Afnan menghidupkan motor nya. Hasna menyalami Afnan dengan mencium punggung tangan kanan Afnan.


"Sayang, sini sebentar." Pinta Afnan. Namun tatapan matanya turun ke arah kaki Hasna. "Aman!" batin nya.


"Iya, ada apa A?" tanya Hasna dengan melangkah mendekati Afnan.


"Lebih dekat." Pinta Afnan, Hasna menurut.


Cup! Afnan mengecup bibir Hasna dari balik niqab nya Setelah Hasna tepat berada di sisi nya. Ia sudah faham letak bibir Istrinya walupun tertutup niqab.


"A'a Ustaaadz!"


Pekik Hasna karena merasa di curangi Afnan dengan mencuri kecupan dari bibirnya.


"Bye sayang, Maaf Khilaf lagi. Salam untuk Ninen dan Kiki. Assalamua'laikum. Sandal mu, bertali sayang. Jangan harap dapat melempar ku, kali ini." Afnan cekikikan sembari melajukan motornya.


Ternyata Afnan mengingat kejadian ia di timpuk sandal oleh Hasna, ketika menghibur nya Setelah gelang Khitbah Hasna tertinggal di saung Ambu. Maka dari itu, dengan perencanaan matang, kali ini ia dapat menghindari timpukan sandal Hasna.


Hasna yang sudah mengangkat kaki nya untuk melepas sandal, ia diam "Koq A'a Ustadz bisa tahu?"


Hasna mengurungkan aksinya, melempar sandal. Lagipula Afnan pun sudah jauh, Lalu ia ngomel-ngomel sendiri sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Dasar Ustadz mes*m, gak berubah juga."

__ADS_1


Hasna tidak menyadari, dua pasang mata sedang mengintip di balik gorden. Mereka tertawa geli, melihat kedua insan halal yang seperti Tom and Jerry tersebut.


Bersambung ....


__ADS_2