
jdagh ..... bukh ....bukh .... kedua serangan terakhir Hasna mengenai wajah dan punggung si penjambret. Pada awalnya, si jambret melawan Hasna, akan tetapi tidak berhasil, sepertinya ilmu bela diri Hasna lebih mumpuni darinya.
"Aaaa .... ampun .... ampun ....teriak si jambret sebelum pada Akhirnya memohon ampun, saat Hasna berhasil melumpuhkan nya.
"Bawa dia ke kantor polisi Pak! nanti saya menyusul untuk membuat laporan bersama Ibu ini," pinta Hasna pada pak satpam.
"Baiklah Neng!" Pak Satpam pun bersama satu Satpam lain nya, segera membawa jambret itu ke kantor polisi, dengan menggunakan sepeda motor.
"Ibu! ini tas nya, mohon di periksa apakah isinya masih lengkap?" Hasna menyodorkan tas kepada Ibu korban jambret. Ibu itupun meraih tas nya lalu ia memeriksa isi nya.
"Hatur nuhun Neng! Hatur nuhun! (Terima kasih). ucap Ibu itu dengan kesungguhan.
Alhamdulillah uang nya masih utuh Neng! uang ini, akan saya pergunakan untuk membeli obat-obatan Bapak saya, yang sedang sakit stroke."
"Alhamdulillah ada Neng ini yang sudah menyelamatkan nya," ucap syukur dan penuh kelegaan dari Ibu tersebut setelah ia memeriksa isi tas nya.
"Sama-sama Ibu, kebetulan saya ada di sekitar sini dan melihat kejadian yang menimpa Ibu! Saya hanya berusaha menolong Ibu," ucap lirih Hasna. Ibu itu tidak melihat wajah Hasna karena tertutup niqab. Namun ia tahu pasti kalau Hasna sedang tersenyum kepadanya.
"Maaf, tadi Ibu mengatakan orang tua Ibu mengalami stroke?" tanya Hasna kembali Karena ia merasa iba
"Iya Neng! sudah tiga tahun lamanya, namun karena kami tidak memiliki cukup uang, maka dari itu saya merawatnya di rumah saja dan sesekali pergi ke perawatan alternatif untuk terapi." Ibu korban jambret Itu menjelaskan apa yang terjadi dengan orang tuanya.
"Mari Ibu kita ke kantor polisi untuk membuat laporan!" ajak Hasna pada Ibu korban jambret tersebut.
"Iya Neng! Bapak-Bapak terima kasih sudah membantu menolong saya," ucapan si Ibu kepada Bapak-Bapak lainnya yang dari tadi ikut mengejar si jambret.
"Sama-sama Bu!" tukas mereka.
...***...
Hasna, Lintang dan Ibu korban penjambretan pun kini sudah menuju ke kantor polisi. Hasna dan Lintang menaiki motor Hasna, sedangkan Ibu itu, menaiki ojek, dalam menuju Kantor polisi.
Setelah sampai kantor polisi, mereka pun langsung mendatangi bagian SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) yaitu tempat pelayanan kepolisian secara terpadu terhadap laporan atau pengaduan masyarakat, memberikan bantuan dan pertolongan, serta memberikan pelayanan dan informasi.
"Silakan! Anda yang menolong Ibu ini Ukhty?" tanya seorang polisi saat mereka sudah berada di dalam.
"Betul Pak!" jawab Hasna. "Tadi penjambret nya sudah diserahkan ke kantor polisi oleh satpam kampus kami." ucap Hasna kembali.
Akhirnya mereka pun mengikuti prosedur tentang pelaporan, korban, dan saksi.
Selanjutnya penyidik akan memberikan surat tanda penerimaan laporan atau pengaduan kepada yang bersangkutan.
...***...
__ADS_1
Di kantor Afnan.
Ubaydillah, baru saja masuk ke dalam kantor Afnan.
"Assalamu'alaikum A'a bro!" sapa Ubaydillah. Lalu ia duduk begitu saja di sofa tanpa menyapa obrolan berlebih terhadap Afnan.
Afnan yang sedang memeriksa beberapa dokumen, ia sedikit mengerutkan dahi "Si utun berjenggot kenapa tuh? tumben, tidak seperti biasanya! begitu masuk langsung duduk di sofa tanpa duduk dihadapan Ku!" batin Afnan.
"Ada apa dengan Anta Dek?" akhirnya Afnan menanyakan tentang Ubaydillah yang menurutnya sedikit aneh.
"Ini, A'a Bro! tadi Neng Lilin telepon, katanya hendak kemari sepulang kuliah! tetapi hingga saat ini belum juga tiba." jawab Ubaydillah.
"Mungkin masih di jalan Dek!" tukas Afnan. Tangan nya masih sibuk membolak balikan berkas berkas di atas meja.
"Kalau memang di jalan, harusnya sudah sampai dari tadi A! ketika tadi menelpon mereka sudah berada di parkiran! namun sekarang teleponnya tidak aktif! bahkan Dek Nana pun teleponnya tidak aktif." ujar Ubaydillah.
"Lacak saja Dek! kan semua kendaraan yang ada di ponpes sudah Anta pasang pelacak!" Afnan memberikan solusi dari kegundahan Ubaydillah.
"Ouh iya A'a Bro! Ana lupa, Ana sudah memasang alat pelacak di sepatu nya Neng Lilin," ucap santai Ubaydillah.
"Astagfirullah Dek! masa pasang pelacak di sepatu Neng Lilin! ada-ada saja ide Anta Dek!" ujar Afnan sembari mengekeh.
"Hehehe .... jaga-jaga takut di culik berondong," kelakar Ubaydillah sembari tertawa kecil.
"SubhanAllah .... Astaghfirullah Al Adzim! serius nih? kantor polisi, kembali? Yank sekarang kamu ikutan si gemez nackal yah, pakai hang out ke kantor polisi? memang nya gak ada tempat lain Yank, selain kantor polisi? Adduh!" Ubaydillah menepuk keningnya sendiri.
"Ada apa dengan Neng Lilin Dek?" tanya Afnan dengan berdiri dari kursi nya, lalu ia menghampiri Ubaydillah.
"Lihat A! titik ini kantor polisi kan? Ana lihat di Google earth juga memang betul itu kantor Polisi, tuh kan jelas!" Ubaydillah menunjukkan tempat yang dimaksud pada layar laptopnya.
"Betul! memang itu kantor polisi, lantas?" tanya Afnan sambil manggut-manggut menatap layar layar laptop.
"A'a Bro .... itu artinya, Ayang Lilin dan bisa jadi Dek Nana juga berada di sana saat ini," ucap Ubaydillah.
"Astaghfirullah Al Adzim!"
...****...
Di kantor polisi,
Setelah Hasna dan korban jambret melakukan pelaporan, kini mereka sudah bersiap-siap pulang setelah segalanya selesai diurus.
mereka hanya tinggal menunggu penyidikan dari polisi untuk kasus ini dan bila sewaktu-waktu mereka di panggil untuk saksi serta korban maka mereka harus siap datang.
__ADS_1
"Satu kali lagi terima kasih Neng," ucap si Ibu korban jambret.
"Terima kasih kembali Ibu! tidak perlu sungkan," balas Hasna.
"Na, mari pulang! mau telepon Ayank Davi, hp gue lowbatre!" Lintang mengajak Hasna segera pulang.
"Mari Lin! tunggu Ibu dapat ojek dulu, ponsel gue pun lowbatre nih Lin! tadi pagi lupa di carge," ujar Hasna.
"Mari Bu, saya antar ke depan untuk mencari ojek," ajak Hasna.
"Iya Neng!"
Hasna, Lintang serta Ibu korban jambret pun menuju depan gerbang kantor polisi.
Di saat yang bersamaan sebuah mobil melintas di hadapan mereka, hendak masuk ke dalam halaman kantor polisi.
"Sayang!"
"Hasna pun menoleh. "Lho Byby! kak Ubay! kalian kok bisa ada di sini?" tanya Hasna penuh keheranan.
Afnan segera turun dari dalam mobil, lalu ia hampiri Hasna. Sedangkan Ubaydillah masuk ke halaman untuk memarkiran mobil.
"Sayang, tidak apa-apa kan?" Afnan lupa sedang di mana, karena ia khawatir terhadap Hasna yang ada di kantor polisi.
Sambil bertanya dan memutar perlahan tubuh Hasna untuk memeriksa keadaan tubuh Hasna takut ada yang terluka, walaupun tentu saja tidak akan terlihat, karena tertutup pakaian yang lengkap menutupi aurat nya.
"Byby apa-apaan sih! Begitu datang, koq bersikap khawatir seperti ini? memang nya Nana kenapa?" tanya Hasna penuh selidik.
Afnan menghentikan aksinya lalu ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Heeeee .... ya, tentu saja khawatir, karena sayang koq bisa berada di kantor polisi!" jawab Afnan salah tingkah.
Si Ibu korban jambret, hanya diam ngelongo, ia sedang manatap Afnan antara kagum dan bertanya, siapa laki-laki itu?
"Yank! kamu juga tidak apa-apa ka? mengapa kamu berada di kantor polisi?" pertanyaan Ubaydillah pun berlaku untuk Lintang, saat ia telah turun dari mobil dan menghampiri Lintang yang berdiri dekat Hasna bersama seorang Ibu yang tidak ia kenal.
"Alhamdulillah Yank Dav! Lilin tidak apa-apa koq," jawab Lintang, sembari menarik tangan Ubaydillah agar ia mendekat padanya.
"Loh, Byby dan Kak Ubay koq ada di sini juga?" tanya Hasna.
"Ia Yank, koq ada di sini? bukan kah dari kami tidak ada yang menghubungi kalian yah?" Lintang ikut bertanya karena bingung, mengapa mereka berdua tiba-tiba saja sudah berada di kantor polisi.
"Eh kami ....!"
__ADS_1
Bersambung ....