Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
53. Spray Bius.


__ADS_3

"Karena.... apa Bi?" tanya Ubaydillah.


"Mereka membawa senjata tajam dan salah satu dari mereka mengacungkan senjata api." Sambung Roy tanpa diminta.


"Astaghfirullah'aladzim. Ya Allah, lindungi Anak-anak kami yang tidak memiliki dosa apapun terhadap mereka." Ujar Afnan.


"By! senjata tajam dan senjata api." Pekik Hasna dengan mencengkram kemeja Afnan.


"Tenang Sayang! yakin akan perlindungan dan kekuatan dari Allah." Afnan berusaha menenangkan Hasna, Walaupun sesungguhnya ia pun merasa khawatir.


"Pih!" Elyavira memeluk Devano. "Nai Pih! bagaimana keadaan nya, mereka membawa senjata tajam dan Nai tidak bisa terkena debu, atau ia akan mengalami alergi." Keluh kekhawatiran Elyavira.


"Mooi! tenang lah, Mudah- mudahan mereka membawa Nai dan yang lain nya, ke tempat yang bersih." Bujuk Devano. Elyavira hanya mengangguk dan mengaminkan.


"Kita harus segera bertindak. Dek, telusuri lewat Cctv! Semoga kita mendapatkan petunjuk dari sana." Pinta Afnan Kepada Ubaydillah.


"Baik A, seperti nya Adzan isya sudah berkumandang. Kita akan memeriksa Cctv, selepas Shalat Isya." Jawab Ubaydillah tegas.


"Tentu! mari berjama'ah Insya terlebih dahulu." Ajak Afnan.


"Mari! yang perempuan berjama'ah di rumah saja. Umi baik-baik saja kan? jika Abi tinggal berjamaah ke Mesjid?" tanya Abi Kyai dengan memandang lembut wajah Umi. Sementara itu Umi balik menatap Abi dengan sendu.


"kalau Umi menginginkan Abi mengimami Umi di rumah, Abi tidak masalah jika tidak berjama'ah di Mesjid." Ujar Abi kembali.


"Hemm! pergilah berjamaah di Mesjid Bi! Umi dapat berjamaah dengan Nana, Lilin dan Elya." Jawab Umi.


"Baiklah! namun Abi mohon, Umi jangan bersedih lagi." Pinta Abi dengan nada permohonan sembari menggenggam kedua tangan Umi yang berada di pangkuan nya.


"Umi hanya takut...., Anak-anak akan menghilang dari kita, dan berpisah dengan keluarga kandung nya. Seperti yang Dedek alami Bi. Hiks .... hiks..." Umi kembali menangis. Ada sedikit trauma akan hal itu.


"Umi! ber perasangka lah baik terhadap Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan Maha penolong yang sebenar- sebenarnya Penolong serta Allah adalah sebaik-baik nya pelindung. Doa dan Usaha kita yang Insya Allah akan membawa Anak-anak kembali pulang." Ujar Abi Kyai.


"Astaghfirullah'aladzim. Terima kasih. Abi selalu mengingatkan Umi dari lalai kepada Allah."


"Umi kan Shalihah nya Abi. Berburuk sangka terhadap Allah itu termasuk dosa besar dan sepertinya Allah tidak Ridha, jika Umi merugi karena berburuk sangka kepada Nya. Maka dari itu, sebelum melampaui batas. Alhamdulillah lewat Abi lah, Allah menitipkan sebuah pencerahan untuk selalu mengingatkan Umi agar tetap mengagungkan Nama-Nya, Agar Umi tidak durhaka kepada Allah, hanya karena sebuah ujian yang tidak seberapa. Umi telah kufur nik'mat." Abi kyai tersenyum menatap Umi. Kemudian mengecup kedua tangan Umi.


"Terima kasih Bi. TabarakAllah!" Umi tersenyum di balik sendu nya.


"Wa fiiki baarakallah!" Abi mengecup kening Umi medalam. Lalu ia berdiri dari posisi berjongkok di hadapan Umi yang duduk di sofa.

__ADS_1


Ubaydillah yang tahu, Umi trauma akan hal yang menimpa masa kecil nya, hingga ia di pertemukan dengan Abi dan Umi yang menganggap nya Anak kandung, ia amat terenyuh. Lalu menghampiri Umi dan memeluk nya kembali. Pelukan hangat dari seorang putra paling bungsu.


"Umi! tidak perlu khawatir, Insya Allah, apa yang Umi khawatirkan, itu tidak akan terjadi. Dedek dan A'a yang akan membawa mereka pulang." Ubaydillah berjanji akan membawa Anak-anak pulang.


"Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan." ( HR: Ibnu Hibban). Gumam Abi Kyai. Ia sedang memohon kepada Allah dari seorang Ayah untuk Putra nya. Agar Allah memudahkan janji seorang Putra tehadap Ibu nya.


***


Selepas Insya.


Afnan, Ubaydillah, Devano dan Roy sedang berada di dalam ruang sekretariat Ponpes. Di mana, di sanalah mereka meletakkan monitor pengontrol Cctv. Sedangkan Abi Kyai, memilih berdzikir dan bermunajat kepada Allah di Mesjid, bersama para santri putra dan para Ustdaz pembimbing.


"Ana sudah melacak alat pelacak pada jam tangan digital milik mereka. Posisi nya tidak dalam satu tempat. Berarti para penculik itu, telah melepaskan dan membuang nya di tempat yang berbeda. Kini hanya pada chip yang Ana tanam di sandal Abang. Jika Abang menggunakan sandal itu, Insya Allah kita akan dapat melacak nya dengan mudah." Ujar Ubaydillah.


"Semoga Abang menggunakan sandal itu Dek!" tukas Afnan.


"Untuk saat ini, lebih baik periksa Cctv terlebih dahulu," Pinta Roy.


"Ia Bang! lihat Cctv dulu. Aku penasaran, bagaimana cara mereka membawa Anak-anak." Devano menimpali permintaan Roy.


"Baiklah."


Dengan berucap Bismillah. Ubaydillah pun mulai membuka kembali rekaman Cctv dari sebelum Maghrib.


Mereka segera menuju Mesjid atau masuk ke dalam asrama bagi santri putri yang sedang berhalangan datang bulan.


Di sinilah titik sepi setelah para santri masuk ke dalam Mesjid untuk melaksanakan Ibadah berjama'ah Magrib.


Nampak Anak-anak yang dari tadi bermain di sudut dekat taman Mesjid, berbaur dengan para Santri. Mereka hendak pergi ke Mesjid untuk ikut berjamaah Maghrib. Afkha yang memang selalu memiliki naluri seorang Kaka untuk Afsha, Arsya dan Alnaira. Ia sedang mengajak Adik-adik nya meletakkan mainan, di dekat pintu masuk Mesjid. Mereka sudah terbiasa seperti itu.


Hingga beberapa orang berpakaian ala Ustadz dan santri menghampiri mereka. Beberapa orang tersebut keluar dari dalam Mesjid. Berarti mereka telah mempelajari situasi ponpes.


Nampak Afkha waspada dengan mereka, ketika salah satu dari mereka mendekati nya dan mengajaknya bicara. Afkha nampak melindungi Adik-adik nya yang ia hadang di belakang tubuh nya. Sayang seseorang itu tidak di ketahui sedang bicara apa, sehingga Afkha begitu waspada.


Hingga, seorang lain nya yang nampa tidak sabaran ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan men spray wajah Afkha, hingga Afkha tidak sadarkan diri.


"Arggghh! biadab! itu spray bius!" pekik Roy nampak emosi sembari bercucuran air mata, setelah menyaksikan Afkha tidak sadarkan diri dan di bawa oleh mereka menuju mobil yang baru saja tiba.


"Astaghfirullah'aladzim. A'a Kha, Dek Sha!" gumam Afnan penuh penyesalan. Mata nya pun nampak berkaca-kaca dan ia memejamkan matanya perlahan, air mata mulai mengalir membasahi pipi mulus bercahaya nan maskulin nya.

__ADS_1


Ubaydillah dan Devano menggeleng-gelengkan kepalanya, hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Untuk Arsya seseorang itu membekap mulut nya, karena Arsya seperti berhasil menggigit tangan salah satu yang menarik nya. Arsya pun nampak terkulai lemah.


Ubaydillah mengepalkan tangannya ia menguasai tangis nya yang juga hampir pecah, menyaksikan sang putra mahkota tidak sadarkan diri di tangan orang asing. "Abang! ma'afkan Dad's, karena telah lalai dalam melindungi Abang!" gumam nya.


Afsha dan Alnaira di angkat secara pakasa. Beberapa orang menangkap basah pelaku penculikan dan berusaha menyelamatkan Anak-anak itu. Namun sepertinya mereka takut untuk bertindak lebih jauh. Leher Afsha di Kalungi belati yang cukup mengkilap dan yang membawa paksa Alnaira mengeluarkan sepucuk senjata api. Orang itu menodongkan tepat pada pelipis Alnaira.


Hingga akhirnya mereka dapat membawa Anak-anak dengan mudah. Masuk ke dalam mobil dan berlalu dari area Ponpes dengan kecepatan di atas rata-rata.


Devano menangis dan bersimpuh di atas lantai, menyaksikan Putri cantik nya, Alnaira di todong senjata api. "Nai.. Ma'afkan Apih! ma'afkan Apih," gumam Devano dengan pilu di sela Isak tangisnya.


"Seperti nya, Aku tahu siapa dalang di balik penculikan ini! spray bius itu adalah spray bius dengan merk yang sama. Yang juga mereka gunakan ketika membius Aku dan Mami."


"Roy?"


Afnan nampak bertanya, dan Roy faham akan pertanyaan Afnan.


"Paman kedua ku! Adik dari Papi ku, Paman yang paling serakah di antara yang lain nya. Orang yang tamak harta dan hobby nya bermain perempuan, Naudzubillah min dzalik!" ucap Roy dengan geram.


"Mereka ada di kota sebelah! ini chip dari sandal Abang, ternyata bekerja. Alhamdulillah Abang menggunakan sandal tersebut." Ujar Ubaydillah.


"Malam ini, kita akan berangkat ke sana! tidak perlu menunggu apa yang mereka inginkan." ucap Afnan mantap.


"Pasti dia menginginkan berlian yang ada di tangan Mami dan sudah ku titip kepada Abang Ustadz bulan lalu," tandas Roy.


"Berlian?"


"Ya! Berlian. Batu berlian murni, mas batangan. beberapa surat tanah yang jumlahnya masih hektaran di daerah Bogor, surat rumah dan Villa, hasil gaji dan jalan usaha Papi sebelum terjebak di dalan pekerjaan kotor nya. Itu murni memakai uang halal. Ternyara mereka masih mengincar nya. Maaf Bang! bawa saja semua, aku ingin menukar nya dengan keselamatan Anak-anak!" Pinta Roy kepada Afnan di akhir kalimat.


"Kamu yakin Roy?" tanya Afnan.


"Yakin Bang!" ucap mantap Roy.


"Tidak Roy! itu hak kamu dan Mami mu, jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat."


"Tidak mengapa Bang Ustadz! Aku dan Mami akan Ikhlas. Tidak ada yang lebih berharga daripada kalian, yang sudah menolong dan menganggap kami sebagai saudara." Ucap Roy.


"Terima kasih Roy! Masya Allah TabarakAllah. Kamu memang orang baik! namun kita akan memiliki cara untuk menyelamatan Anak-anak, tanpa harus menyerahkan barang berharga milik kalian." Ujar Afnan.

__ADS_1


Mereka pun saling diam pada akhirnya, diam berfikir mencari ide untuk menyusun rencana selanjutnya.


Bersambung ....,


__ADS_2