Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
57. Upaya penyelamatan Anak-anak.


__ADS_3

Di pondok pesantren Hubbul Wathan.


"Sayang! Alhamdulillah Anak-anak sudah di ketemukan. Mereka sedang berusaha menyelamatkan Anak-anak kalau dari pesan suaranya nya si Dedek sih." Ujar Umi kepada Hasna, Lintang dan Elyavira.


"Alhamdulillah! sungguhan kah Umi?" tanya Hasna, kurang yakin, karena Afnan belum berkirim pesan kembali.


Hasna hanya menerima pesan dari Afnan itu semalam. Ketika Afnan mengabarkan sedang istirahat sejenak di sebuah Mushola. Sejak itu Afnan belum mengirimkan pesan kembali.


"Insya Allah, sayang! Ini Dedek yang langsung kirim pesan suara dan juga memohon doa, agar mempermudah mereka dalam membebaskan Anak-anak. Namun setelah itu tidak ada kelanjutan nya kembali." Jawab Umi.


"Tidak mengapa Mi. Yang penting mereka sudah menemukan keberadaan Anak-anak." tukas Lintang.


"Alhamdulillah! kalau begitu, mari kita shalat dhuha di Mesjid. Agar banyak santri yang ikut mendoakan mereka." Ajak Elyavira begitu sumringah dan bersemangat.


"Tentu Kak El. Eh tapi .... pukul segini, apakah sudah masuk waktu dhuha. Takut nya, nanti kita shalat berbarengan dengan orang-orang kafir yang juga sedang bersujud." Ujar Hasna.


"Insya Allah sudah! Namun pukul segini ini bukanlah waktu terbaik untuk Shalat dhuha sebetulnya. Masih terlalu pagi." Jawab Elyavira.


"Loh koq gitu Na?" tanya Lintang. "Aku memang pernah mendengar tentang ketika terbit matahari maka berada di antara dua tanduk setan dan umat Muslim di larang shalat." Ujar Lintang. "Lalu, waktu terbaik nya kapan Kak Elya?" tanya Lintang. Kali ini, ia bertanya pada Elyavira.


"kerjakan sholat Subuh kemudian tinggalkan sholat hingga matahari terbit, sampai matahari meninggi. Ketika matahari terbit, ia terbit di antara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud." (HR: Muslim). Ujar Hasna. "Maka dari itu kita tidak boleh membarengi orang kafir bersujud dong!" tandas Hasna kembali. Lintang manggut-manggut tanda mengerti.


"Nabi Muhammad SAW bersabda:  'Awal waktu sholat Dhuha adalah ketika matahari meninggi setinggi tombak ketika dilihat, yaitu sekitar lima belas menit setelah matahari terbit." (HR: Muslim.) Elyavira melengkapi perkataan Hasna.


"Betul Neng! dan waktu Shalat dhuha yang terbaik adalah ketika di kerjakan pada akhir waktu." Sambung Umi. "Akhir waktu sholat dhuha, yaitu saat matahari akan tergelincir ke Barat." Pungkas Umi.


"Ada tiga poin penting batas Waktu Sholat Dhuha, itu menurut Aa Ustadz. Pertama; awal waktu sholat dhuha, yaitu setelah matahari terbit dan meninggi hingga setinggi tombak. Poin kedua, akhir waktu sholat dhuha, yaitu saat matahari akan tergelincir ke arah barat. Menurut Syaikh Ibnu 'Utsaimin, batas waktu sholat dhuha sekitar 10 atau 5 menit sebelum waktu zawal (matahari tergelincir ke barat).


Ketiga, waktu sholat dhuha terbaik yaitu dikerjakan di akhir waktu. Berdasarkan hadits riwayat Muslim; Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan sholat Dhuha, lantas ia mengatakan, 'Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "(waktu terbaik) sholat awwabin (sholat dhuha/ Shalat nya orang orang yang banyak kembali kepada Allah/taubat) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari." ucap Hasna. Ia menjabarkan lebih lengkap dari keterangan Umi dan Elyavira mengenai Shalat Duha kepada Lintang.


"Masya Allah TabarakAllah." Ucap Umi seperti memiliki kebanggaan tersendiri atas apa yang Hasna jabarkan.


"Shalat dhuha adalah, shalat sunnah yang di laksanakan di pagi hari dengan berbagai ketentuan. Sholat dhuha dilakukan minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat di mana setiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Melaksanakan sholat dhuha adalah anjuran dari Rasulullah. Dalam suatu riwayat Rasulullah pernah berwasiat kepada Abu Hurairah untuk menjadikan sholat dhuha sebagai amalan sunah yang dikerjakan setiap hari; (Kekasihku Rasulullah saw telah berpesan kepadaku supaya berpuasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat shalat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur." ( HR Buhkari dan Muslim). Elyavira kembali ikut bicara.


"Ada Keutamaan lain tidak, Mi?" tanya Lintang pada Umi.


"Keutamaan lain nya. Insya Allah, dhuha merupakan sholat sunnah yang setara dengan 360 kali sedekah. Sedekah untuk seluruh persendian di dalam tubuh. Coba Nana, pasti faham juga penjabaran nya." Pinta Umi kepada Hasna.


"Jadi begini; Setiap pagi, diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma'ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan sholat dhuha sebanyak 2 raka'at." (HR : Muslim). Nah itu Lin." Tutur Hasna.


"Masya Allah. Alhamdulillah lebih faham lagi. Mari ke Mesjid. Walaupun shalat terbaik nya nanti, di akhir! bukan kah mereka membutuhkan doa kita saat ini?" tanya Lintang.


"Betul Lin, mari Kak Elya! Umi hendak ikut ke Mesjid atau Shalat di rumah saja?" tanya Hasna Setelah mengiyakan perkataan Lintang dan mengajak Elyavira ke Mesjid.


"Umi Shalat di rumah saja, sayang! namun ingin rebahan terlebih dahulu. Rasanya tubuh Umi kurang nyaman, agak lelah." jawab Umi.

__ADS_1


"Umi kurang istirahat. Kan Nana sudah katakan, untuk ber istirahat semalam, malah ikut kami bergadang." Protes lembut Hasna dengan menghampiri Umi dan memeluk nya.


"Umi ke kamar yah! sembari menunggu Abi pulang dari kantor polisi, nanti setelah kami Shalat. Kami belikan bubur ayam di depan gerbang utama." Ucap Lintang.


Abi Kyai memang sedang ke kantor polisi. Untuk melaporkan tentang penculikan dan surat kaleng yang mereka terima subuh tadi, sebagai pengancaman atas nyawa Anak-anak sebagai taruhannya, yang minta di tukar dengan dua orang yang sedang mereka lindungi, yaitu Roy dan Ibu nya. Tepat nya meminta barang berharga yang mereka miliki.


Abi Kyai di antar oleh Maulana Iqbal dan Zainal. Maulana Iqbal baru saja tiba sebelum subuh tadi, ia datang ke ponpes dengan seorang perempuan. Abi dan yang lainnya terkejut. Selama beberapa waktu menghilang dari ponpes untuk pulang kampung. Ternyata Iqbal sudah menikah. Istrinya ia titip untuk menemani Ibu nya Roy, sementara ia mendampingi Abi Kyai, ke kantor Polisi.


Hasna, Lintang dan Elyavira membantu Umi untuk istirahat di kamar nya. Kali ini Umi menurut. "Kami ke Mesjid dulu ya Umi." Pamit Hasna dengan mengecup kening Umi, setelah Umi berbaring.


"Sebaiknya Umi istirahat sebelum shalat. Susu hangat nya di minum ya Mi." Ujar Lintang dengan mengecup punggung tangan Umi dan Umi hanya mengangguk serta tersenyum.


"Tidak perlu khawatir Umi. Insya Allah mereka akan baik-baik saja." Elyavira ikut menenangkan Umi.


"Terima kasih Putri-putri ku!" Ucap Umi dengan linangan air mata. Namun Hasna segera menyeka nya dengan lembut menggunakan Ibu jari nya. Ia tidak mau melihat air mata Umi kembali terjatuh.


Setelah menitipkan Umi kepada Ambu. Hasna dan yang lainnya bergegas ke Mesjid. Di saat yang sama setelah keluar dari pintu gerbang rumah utama. Mereka berpapasan dengan Granny, Grandad, Daddy Dedryck dan Mommy Aaralyn.


"Granny! Grandad, Mommy dan Daddy!" pekik Lintang. Lalu mereka menyalami mereka dengan takzim. Di ikuti Hasna dan Elyavira.


"Sayang! bagaimana, koq bisa Anak-anak di culik?" tanya Granny.


Semalam mereka urungkan untuk pergi ke Ponpes, karena Devano Kembali menelpon agar mereka datang pagi hari saja. Maka dari itu mereka datang pagi ini, termasuk orang tua Elyavira yang belum datang, kabar nya masih dalam perjalanan.


"Baik lah kalau begitu, Mommy ikut shalat juga," ujar Mommy Aaralyn.


"Daddy juga," sambung Daddy Dedryck.


"Kami shalat di rumah mu saja sayang." Ucap Granny melirik kepada Grandad dan ia mengangguk.


"Baiklah! mari Granny Lilin antar. Oh yah bertemu Umi nya nanti saja, Karena Umi baru saja istirahat. Sedangkan Abi masih di kantor polisi, membuat laporan atas tindakan penculikan. Tidak mengapa kan?" tanya Lintang di akhir kalimat.


"Tidak mengapa sayang. Biarkan Umi Istirahat. Granny dan Grandad pun butuh istirahat. Semalam kami tidak dapat tidur." Ungkap Granny sambil mereka berjalan beriringan menuju rumah Ubaydillah dan Lintang serta menuju Mesjid untuk Shalat.


"Sebaiknya Granny dan Grandad istirahat saja dulu." Ucap Elyavira sembari menggandeng tangan Granny.


"Terima kasih sayang!" Granny tersenyum ke arah Elyavira dan mengelus lembut tangan Elyavira yang sedang melingkar di lengan nya.


**


Kembali pada upaya penyelamatan Anak-anak.


"A'a tidak apa-apa? Insya Allah A'a Kuat!" bisik Afnan saat Afkha sudah berada di dalam pelukannya.


"A'a baik-baik saja!" bisik Afkha kebali. Padahal dirinya sedang tidak baik-baik saja. Kening yang berdarah dan punggung yang sakit akibat tertimbun enternit agak lapuk yang jatuh terkena tembakan bertubi.

__ADS_1


Saat suara tembakan itu berhenti, Afkha tidak dapat menghindari reruntuhan enternit yang rubuh dan menimpa tubuh belakang nya. Karena posisi Afkha masih tiarap.


Afnan pun tidak mampu menyelamatkan nya. Ia sedang memangku Afsha dan melindungi nya. "A'a! maafkan Biyya!" hanya itu yang Afnan ucapakan, berbarengan dengan dua titik air mata yang jatuh tidak dapat ia tahan. Sedangkan pucuk revolver kembali membidik kepala Afkha.


"Jangan coba tarik pin itu! karena Aku, yang akan lebih dulu meledakan kepala mu!" ucap Afnan dengan tidak gentar. Melihat buah hatinya tidak berdaya. Darah Afnan terasa mendidih.


Setelah menyerahkan Afsha kepada polisi Imron. Afnan dengan cepat mengeluarkan pistol jenis Glock-19 milik nya dari holster di balik jaket yang ia kenakan. Ketika si penculik lengah, ia bergegas menodongkan Pistol tersebut.


Dengan tangan kanan lurus agak memiringkan pistol nya tepat di kepala si penodong secara tegas. Polisi Imron serta Ubaydillah melindungi nya, dengan juga mengacungkan senjata jenis yang sama namun beda type ke arah penculik lain nya.


Agak lama mereka saling mempertahankan posisi. Hingga satu orang penculik memulai perkelahian, sasaran nya Afnan, karena ia yang paling terdekat jaraknya.


Bugh! wuzz!


Si penculik berlari hendak memukul Afnan. Namun Afnan yang sudah waspada, ia segera berbalik dan menendang lengan si penculik dengan sebelah kaki. Si penculik bangkit karena sempat terhuyung.


Wuzzz!


Ia hendak menendang balik. Namun Ubaydillah sigap melindungi Afnan dengan juga menendang penculik.


Afnan menyadari, nampak nya ada celah dan kesempatan bagus. Barulah Afnan meraih Afkha setelah senjata si penculik dapat ia lumpuhkan, dengan memukul tangan nya dan senjata itu terpental jauh.


"Kurang ajar!" pekik si penculik yang kehilangan Magnum nya. Ia hendak menghalangi Afnan ketika mengangkat Afkha. Namun dengan sigap, polisi Imron setengah loncat dan menendang dada si penculik.


Sreeet! bugh. Brughh!


Penculik tumbang dan jatuh ke lantai dengan mulut berdarah. Namun karena Khawatir dengan keselamatan Afnan. Polisi Imron berkode agar Afnan cepat mengangkat Afkha.


Tetap dalam perlindungan Polisi Imron dan juga Ubaydillah. Afnan segera memangku Afkha dan membawa nya keluar dari tempat itu.


Afsha, Arsya dan Alnaira sudah terlebih dahulu di bawa masuk kedalam mobil, oleh Devano dengan pertolongan para warga pendamping yang memang sudah siap di halaman.


"A'a! Biyya tahu, punggung A'a sakit! tahan ya Nak! A'a bersama Oom dan Uncle Dev, akan ke rumah sakit terlebih dahulu. Biyya hendak membantu Om Roy di sini." Ucap lembut Afnan.


"A'a tidak apa-apa Biy! A'a baik-baik caja. Alhamdulillah, Allah begitu cayang pada A'a. Melalui mucibah ini. Allah membuktikan lasa sayang nya telhadap A'a Biy!" Afkha tersenyum setengah meringis. Afnan tahu ia berbohong.


Afnan berusaha tenang. Namun mendengar kata-kata Afkha yang begitu iklhas dan tabah. Afnan merasa terharu. Ia tergugu karena tangisan, dengan kembali memeluk Afkha.


"Biy! jagan angis. A'a baik-baik saja. Biyya cengeng!" ledek Afkha di balik sakit nya dengan menyeringai. Ia menyeka lemah air mata Afnan yang akhirnya tertawa kecil.


"Ha ha! A'a bisa saja. Koq bicara nya mirip Mimma."


Namun mereka terkejut dengan kembali terdengar suara tembakan dari dalam.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2