Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
91. Merancang Dedek Bayi.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Ustadz!"


"Wa-Wa'alaikum salam Warahmatullah." Balas Afnan dengan sedikit terbata, karena dari suaranya seperti tidak asing. Afnan menoleh ke arah sumber suara dan tatapannya terpaku pada satu sosok itu.


HASNA!


Ya, Hasna ada di hadapannya. Dengan tangan kiri di gendong menggunakan arm saling. Afnan mengerjapkan matanya berkali-kali, takut pandangannya salah.


Tidak! wanita bercadar itu masih ada, wanita yang selalu menjadi doa-nya itu masih berdiri di tempatnya, dia nyata, dia tidak menghilang. Berarti itu Hasna! Hasna sungguhan! Istrinya. Istri yang ia rindukan hampir tiga bulan ini.


"Hehemmm," Afnan tertawa kecil, tubuhnya yang sempat refleks berdiri, kini limbung, lalu Afnan duduk dan menundukan kepala, nampak bahunya bergetar dan sedikit terguncang, Afnan menangis tanpa bersuara dengan membekap sebagian wajahnya menggunakan telapak tangan kiri.


Afnan tidak sanggup berkata-kata. Syok, sedih, sakit, bahagia, lega menjadi satu. Hasna yang melihat Afnan menangis, iapun ikut menangis.


Hasna mendekati Afnan lalu ia bersimpuh di lantai pijakan, tepat di sisi kaki Afnan yang duduk di bangku penonton. Hasna mengambil tangan kanan Afnan mengecup tangan itu dengan Khidmat. Air matanya berjatuhan.


"Ma'afkan Nana Ustadz! Ma'afkan Nana! Ustdaz boleh membenci Nana, Ustadz boleh marah sepuasnya pada Nana. Akan tetapi Ustadz harus tahu, Nana pulang untuk Ustadz." Hasna masih bersimpuh dan kepalanya masih menunduk dengan bibir yang masih menempel di tangan kanan Afnan.


Afnan tidak mengatakan apapun, ia masih tergugu dalan tangisan tanpa suara. Hatinya memanjatkan beribu-ribu rasa Syukur kepada Allah, karena doa-doanya selama tiga bulan ini di ijabah, yaitu mengembalikan Istrinya.


Hasna pun masih diam dan meletakkan kepalanya di atas tangan Afnan yang ia genggam dan bertumpu pada paha samping Afnan bagian kanan. ia memberikan waktu kepada Afnan untuk meluapkan semua emosi jiwanya.


Hasna tahu apa yang terjadi dengan Afnan, Lintang tidak pernah absen memberi kabar. Hasna ingin pulang dari sejak ia sampai di Eropa. Namun, Hasna tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan itu tanpa pengganti. Di hari yang sama ketika Afnan sakit, Hasnapun jatuh saat sesi latihan dan mengalami cedera pada bagian lengan.


Setelah satu bulan, Hasna mendapatkan pengganti. Dan ia di wajibkan memenuhi berbagai syarat termasuk berurusan dengan hukum setempat. Akhirnya Hasna dapat bernafas lega di karenakan alasan pembatalan kontrak itu karena cedera yang ia alami.


Sehingga pihak brand salah satu merk motor gedhe yang mengontrak Hasna, hanya mengenakan penalti. Hasna menyanggupi hal tersebut agar nama baiknya tetap terjaga dan tidak di nilai sebagai penipuan dan wanprestasi.


Namun, Hasna baru pulang ke Indonesia satu minggu yang lalu, setelah hampir tiga bulan memulihkan cederanya. Itu pun ia tidak langsung berani pulang ke kota S. Hasna pulang ke rumah singgah miliknya, Hasna butuh menguatkan diri terlebih dahulu, takut Afnan tidak langsung menerimanya begitu saja ketika ia kembali secara tiba-tiba.


"By...!" lirih Hasna dengan mendongakan wajahnya, menatap Afnan sendu masih dalam posisinya semula.


Afnan sudah berhenti menangis. Mendengar Hasna memanggilnya, Afnan menghela nafas pelan dan teratur, tatapannya nanar entah ke mana. Hasna masih menatapnya sendu penuh kasih sayang. Ingin memeluk tubuh tegap itu, ingin mengecup wajah tampan itu. Namun, sekuat diri Hasna menahannya, ia menunggu respon dari suaminya.


"Pulang lah!"


Hasna tercengang. Pelukan hangat yang ia dambakan pupus sudah. Kebahagiaannya sirna hanya dengan satu kata.


"By! tegur Nana, marahi Nana, hardik Nana, luapkan emosi Byby dengan ekspresi. Bahkan silakan pukul jika itu pantas Nana dapatkan. Nana ikhlas, asal jangan bersikap dingin dan mengacuhkan Nana." Hasna mengiba. Namun, Afnan tetap diam.


"Pulang!"


Hasna menghela nafas berat, apakah suaminya sudah berubah? apakah suaminya tidak mencintai dia lagi, secepat itukah?


Hasna berdiri perlahan! ia menatap Afnan dengan kesedihan, mau marah atau memaki Afnan pun tidak mungkin! bukan salah Afnan jika sikapnya dingin. Kesalahan berawal darinya, maka harus ia terima.


"Baiklah! Nana pulang By. Assalamu'alaikum!" Hasna kembali mengecup tangan kanan Afnan. Sebisa mungkin Hasna menahan air matanya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam!" pelan, Afnan menjawab salam Hasna.


Hasna mundur perlahan, tatapannya terpaku pada Afnan. Matanya sudah mengembun, wajah Afnan hampir tidak jelas karena air mata yang siap tumpah, sudah memenuhi netranya.


Hasna tidak sanggup lagi melihat Afnan bergeming di tempatnya, dengan tatapan fokus ke arah depan. Hasna membalikkan tubuhnya lalu ia berlari dengan menangis, menaiki setiap titian bangku di tribun penonton.


Hasna berlari keluar dari area tribun penonton dan lekas masuk ke mobil Lintang. Tangisan Hasna tumpah di sana, tatapan dingin Afnan, suara Afnan yang tidak bersahabat bagai sebuah tikaman tak kasat mata di relung hatinya.


Hasna pergi ke sirkuit bersama Lintang ingin membuat kejutan untuk Afnan. Ia tahu Afnan ada di tempat itu dari Ubaydillah. Namun, nyatanya kini ia yang di buat terkejut dengan sikap dingin Afnan.


"A'a Bro! Nana kenapa?" Ubaydillah dan Lintang baru tiba di tribun penonton dan Ubaydillah yang melihat Hasna berlari, ia merasa curiga ada yang terjadi di antara Afnan dan Hasna.


"Biarkan saja, dia pulang!" jawab Afnan pelan. "Kapan dia sampai di Ponpes, Neng?" tanya Afnan pada Lintang tanpa menoleh.


"Nana~."


"Maaf Neng! biarkan Nana yang menjawabnya nanti. Sekarang, A'a minta tolong untuk Neng Lilin menemani Nana pulang. Tolong, pastikan dia pulang ke rumah kayu. Jangan biarkan Nana pergi ke manapun! hibur dia juga, A'a akan menemuinya selepas Isya nanti." Ujar Afnan.


"Baik A Ustadz! kalau begitu Lilin pulang sekarang." ujar Lintang. Lalu ia pamit pada Ubaydillah dan setelah berucap salam dan di jawab Ubaydillah serta Afnan, Lintang pun menemui Hasna yang berada di mobilnya.


"Mari pulang, Dek!" ajak Afnan pada Ubaydillah.


"Mari A!" Ubaydillah yang mulai faham situasinya, memilih tidak banyak bertanya.


Afnan dan Ubaydillahpun segera menuju mobil Ubaydillah yang memang terparkir bersebelahan dengan mobil Lintang. Ternyata Lintang belum pergi, Afnan melihat Hasna dari luar kaca depan, Afnan tahu Hasna sedang menangis, ia menyembunyikan wajahnya di balik ujung hijabnya yang ia angkat sedikit.


Bukan Afnan tidak ikhlas namun, Afnan tidak siap. Lain halnya dengan Kematian yang notabene karena takdir Illahi, maka siap tidak siap harus siap dan ikhlas, ridho lillahita'ala.


"Ustadz jahat, Lin! gue membatalkan kontrak demi dia. Sekarang sikapnya seperti itu." ujar Hasna sembari sesenggukan. "Antar gue ke rumah Ninen, Lin!"


"Gak! pesan A'a Ustadz lo harus pulang ke rumah kayu." Bantah Lintang. "Na, gue yang tahu keadaan A Ustadz setelah lo pergi, dia seperti kehilangan daya hidup. Gue bilang wajar jika sikapnya seperti ini, Kalau gue jadi dia, mungkin sudah tidak perduli lagi." Kata-kata Lintang bagai sebuah anak panah yang menancap pas pada titik target.


"Astaghfirullah'aladzim!" ucap Hasna. "Gue Khilaf Lin, gue terlalu sombong dan percaya diri. Harusnya gue sadar! kesalahan gue ini tidak sedikit. Kesalahan terhadap suami dan Anak-anak terutama. Gue sudah betul-betul egois dan ambisius sehingga mata hati gue tertutup oleh ambisi." ucap Hasna penuh penyesalan.


"Sudahlah Na! tidak baik juga menyalahkan diri sendiri, yang terpenting sekarang lo sudah kembali, menurut gue itu keputusan yang tepat." ujar Lintang sembari melihat Hasna sebentar, lalu fokus Kembali ke jalan di depannya.


**


Ba'da Isya,


Afnan sudah berada di rumah utama. "Jadi kami belum bisa bobok dengan Mimma?" tanya Afsha.


"Besok ya, Sayang! malam ini Biyya dan Mimma perlu bicara dari hati ke hati. Oleh sebab itu, Dedek dan A'a bobok sini dulu dengan Uma!" rayu Afnan pada Afsha yang bergelayut manja duduk di pangkuannya.


"Biyya dan Mimma mau merancang Dedek Bayi, untuk kami kan?" tanya Afkha dengan spontan dan membuat keadaan hening seketika.


krik!

__ADS_1


Krik!


Seisi ruangan tersebut akhirnya tertawa, menertawakan pertanyaan Afkha yang terdengar polos dan lucu.


"Astaghfirullah! A'a koq tahu tentang merancang Dedek Bayi? siapa yang mengatakan itu?" tanya Afnan.


"O'om!" tunjuk Afkha dengan mimik wajah jujur. Ubaydillah yang di tunjuk Afkha, ia pura-pura tidak mendengar, matanya lirik kanan dan kiri menatap langit-langit rumah, sambil bersenandung (shalawat).


"Memangnya, O'om bilang apa?" tanya Abi Kyai.


"O'om bilang...A'a dan Dedek harus menginap di sini dengan Aba dan Uma, jangan menganggu Mimma dan Biyya malam ini. Karena Mimma dan Biyya mau merancang Dedek Bayi, harus bobok berdua saja! kalau A'a dan Dedek Sha ikut bobok dengan Biyya dan Mimma, maka Dedek bayinya tidak dapat di proses! memang prosesnya seperti apa sih Aba? apakah sama seperti memproses agar-agar?" tanya polos Afkha pada akhirnya.


"Kalau begitu, Dedek mau lihat Biyya dan Mimma memproses Dedek Bayi!" pekik Afsha, kegirangan.


"Eh, tidak boleh!" teriak semuanya hampir bersamaan.


"Kenapa?" tanya Afkha, Afsha dan Arsya secara bersamaan.


"Pokoknya tidak boleh, Titik." Afnan tahu, tidak akan selesai dengan waktu singkat bila berhubungan dengan pertanyaan dari ketiga anak ajaib tersebut. Sepandai apapun mereka, tetaplah anak-anak yang masih ingin tahu tentang banyak hal.


"Dedeeek, kamu tuuuh, membuat fikiran A'a dan Dek Sha, kemana-mana! iiikh sudah lama Umi tidak mencubit kamu! sini." pekik Umi lalu ia hendak meraih Ubaydillah namun, Ubaydillah segera berlindung di balik badan Lintang.


"O yah, bukankah tadi Dad's juga bilang.... Abang harus ikut menginap dengan A'a dan Kakak di sini. Agar dapat memberikan Dedek Bayi untuk Abang! apakah Biyya Nan, Mimma Na, Dad's dan Mom's


akan sama-sama bermain adonan Dedek Bayi? seperti halnya Abang main bentuk robot bersama dengan A'a dan Kakak menggunakan lego dan juga lilin mainan?" tanya polos Arsya.


"A'a Daviiii! koq bisa-bisanya meracuni mereka dengan kata-kata tidak senonoh!" kali ini Lintang yang merasa geram pada Ubaydillah.


Lintang segera menyerahkan Ubaydillah pada Umi agar di eksekusi cubitan dan juga jeweran di telinganya. Ia pun ikut mengeksekusi suaminya dengan cubitan di pinggang.


"Ampun Umi, Sayang! Ampun Neng Lilin, Sayang." melas Ubaydillah dengan nada manja.


Afnan dan Abi Kyai mengekeh, sedangkan ketiga anak-anak, menggaruk kepala mereka yang tidak gatal, sepertinya bingung dengan kelakuan orang dewasa di hadapannya.


Lima belas menit, Umi puas mencubit dan menjewer Ubaydillah, begitupun dengan Lintang. Akhirnya kekesalan mereka mereda. Afnan pamit pulang.


"A'a bro ini kunci rumah Anta!" Ubaydillah menyodorkan kunci.


"Koq di kunci dari luar? lalu Nana bagaimana?"


"Nana ada di dalam. Mungkin sekarang sudah tidur, Ana dan Neng Lilin sengaja menguncinya dari luar, berjaga-jaga agar Dek Nana tidak minggat!"


"Astaghfirullah! Istri Ana bukan tahanan rumah, Dek!"


"Ya namanya juga Mak Gemez nakal. Tidak menutup kemungkinan, ia akan minggat tanpa banyak fikir, bahkan melewati lobang angin-angin sekalipun sepertinya dapat ia lakukan. A'a Bro!"


"Astaghfirullah'aladzim. Di fikir asap!" Afnan merasa khawatir. Setelah pamit, Afnan bergegas ke rumah kayu. Ia takut Hasna minggat seperti yang Ubaydillah katakan, lewat lobang angin. Terlebih karena sikapnya tadi sore. Walaupun itu tidak mungkin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2