Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
82. H.A.Z Circuit.


__ADS_3

Tiga bulan kemudian,


Hari ini, Hasna dan Lintang baru saja keluar dari kampus. Pelajaran telah usai dan mereka hendak pulang, kini keduanya menuju parkiran.


"Lin, langsung pulang nih?"


"Ia Na! mau kemana lagi, lebih baik kita nyantai di rumah." jawab Lintang.


"Oke deh! mobil, lo yang bawa ya." tandas Hasna dan di iyakan oleh Lintang.


Bim... bim...


Terdengar klakson mobil dari arah lainnya, Hasna yang hampir masuk ke dalam mobil pun menoleh.


Afnan sudah berdiri di sisi mobil sport miliknya. Satu buah bucket bunga dan kotak yang tidak terlalu besar dan di ikat pita berada di tangannya.


"Ustadz, Lin!" Hasna nampak terkejut.


"Iya Na! wah pasti ada yang spesial nih, secara datang tiba-tiba." balas Lintang.


Pasalnya Afnan selalu memberitahu, jika hendak menjemput Hasna. Namun, tidak dengan kali ini.


"Masya Allah, Byby!" pekik Hasna menyongsong kedatangan Afnan. Tatapan Hasna nampak berbinar bahagia.


"Assalamu'alaikum, Sayang!" Afnan menghampiri Hasna yang masih terpaku di tempatnya.


"Wa'alaikum salam Warahmatullah. Byby Sayang." Balas Hasna. Detak jantungnya mulai tidak beraturan. Seperti sedang di sambangi pacar yang Hasna rasakan.


Beberapa mahasiswa yang juga berada di parkiran tersebut memperhatikan mereka. Ada yang berdecak kagum dan lain sebagainya. Hasna memang mengakui telah menikah pada kawan kampus lainnya.


"Byby... koq, tidak mengabari jika hendak menjemput Nana?" tanya Hasna dengan malu-malu.


"Kan surprise! Sayang," dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya, Afnan mendekati Hasna dan berdiri di hadapannya.


Afnan memberikan bucket bunga yang ia bawa kepada Hasna. "Kullu 'ami wa anti bi khoirin, wa 'iidu miiladi sa'iid lak." (Selamat ulang tahun, selamat hari lahir untukmu.) Ujar Afnan.


"Mabruk alfa mabruk, yaum miladik mabruk!" (Berkah seribu berkah, hari lahirmu berkah!) Sambung Afnan dengan memberikan kotak kado setelah bucket bunga di terima oleh Hasna.


Hasna tidak dapat berkata apa-apa. Nampak matanya berkaca-kaca. "Aamiin, Syukron Hubby." ucap Hasna pada akhirnya dengan tetesan air mata haru.


"Byby, mau mengajak Sayang, ke suatu tempat." ucap Afnan cepat.


"Kemana, By?" tanya Hasna setelah mengecup tangan kanan Afnan dan Afnan mengusap ujung kepalanya di sertai Shalawat Nabi.


"Ada deh! yang pasti mengasyikkan. Mari Sayang." Afnan mengulurkan tangannya, Hasna menyambut uluran tangan tersebut.


Kini Hasna berjalan menuju mobil miliknya yang terparkir di depan sana. Dengan beberapa pasang mata memindai mereka berdua dengan senyuman.


Bak ratu kerajaan Inggris, tangan Hasna di bimbing Afnan dan keduanya berjalan beriringan, Hasna nampak anggun.


Hingga Hasna lupa berpamitan kepada Lintang yang memperhatikan mereka dari dalam mobil.


"Assalamu'alaikum, Dek Nana!" kali ini Ubaydillah menyapa Hasna dengan sopan, seperti biasanya.


Ubaydillah sudah berdiri di hadapan mereka. Dia hendak berpindah ke mobil Lintang.


"Wa'alaikumussalam, Kak Ubay." Balas Hasna.


"Dek, Ana bawa Nana pakai mobil ini." ucap Afnan dengan menepuk pelan bahu Ubaydillah.


"Silakan A, Ana pindah ke mobil Neng Lilin," Ujar Ubaydillah.


"Terima kasih, Kak Ubay! o ya maaf, tolong sampaikan pamit Nana pada Lintang, tadi lupa," cengir Hasna di balik niqabnya.


"Insya Allah," Ubaydillah tersenyum dengan meninggalkan mereka, berlalu menuju mobil Lintang.


Hasna sudah masuk ke dalam mobil dan Afnan segera masuk ke balik kemudi. Sedangkan Ubaydillah juga sudah masuk ke mobil Lintang.


"Yank, koq ada di sini? itu A Ustadz ada acara apa, Koq pakai bawa bucket bunga dan kotak hadiah?" tanya Lintang, dengan sebelumnya saling menyapa dan juga kecupan di tangan kanan Ubaydillah serta kecupan di kening Lintang dari Ubaydillah.


"Loh Ayank lupa? Dek Nana kan hari ini ulang tahun!" jawab Ubaydillah dari pertanyaan Lintang.


"SubhanAllah, koq Lilin bisa lupa!" ujar Lintang dengan terkejut.


"Mungkin Dek Nana sendiri pun lupa Yank! ya sudah, mari jalan, ikuti mobil Nana, kita akan pergi ke suatu tempat." Pinta Ubaydillah.


"Baik, Yank! akan tetapi kita hendak kemana?"


"Menuju ke Sirkuit tempat Kami balapan tiga bulan lalu, Yank!" jawab Ubaydillah.


"Ada acara balapan lagi, Yank?"


"Lebih dari sekedar itu," jawab Ubaydillah. Lintang tidak banyak bicara lagi, setelah kecupan hangat mendarat di pipinya.


Lintang pun tersipu malu, dengan hati-hati ia mulai melajukan mobilnya, mengikuti mobil Hasna yang di kendarai Afnan.


"A'a Dav, tidur dulu yah Sayang!"


"Silakan, Yank!" Lintang tersenyum menoleh pada Ubaydillah.


Ubaydillah bersandar dengan nyaman pada bangku penumpang, memejamkan matanya di sisi Lintang. Sesekali Lintang mengelus lembut dahi suaminya dengan sayang. Ia tahu, Ubaydillah sedang merasa lelah. Entah apa yang ia kerjakan setengah hari ini.


Di mobil Hasna,


"By, hendak ke mana?"


"Buka dulu kotak kadonya, Sayang!" pinta Afnan.


"Baik, By!" Hasna pun menuruti apa yang Afnan katakan.


"Gunting?" tanya Hasna tidak mengerti, ketika kotak sudah terbuka. Hadiah tersebut, di dalamnya hanya berisikan gunting yang di hiasi pita.


"Yups! nanti kamu akan tahu, untuk apa gunting itu!" jawab Afnan.


"Baiklah!" Hasna kembali menutup kotak hadiahnya. Ia tidak mau banyak bertanya.


"Buka niqab mu, Sayang! Byby ingin melihat senyum dan wajah cantik mu!"


"Tentu, hanya untuk Byby seorang." Hasna tersenyum, lalu ia membuka niqabnya.


"Masya Allah! mimpi apa semalam, hingga dapat melihat wajah bidadari surga pada siang begini," puji Afnan, dengan menepikan mobilnya setelah melihat kawasan tersebut sepi.


"Bybyyy," Hasna nampak tesipu malu, setelah mendapat pujian dari Afnan. Ia menutupi wajahnya dengan sebelah telapak tangan.


"Sini, Sayang! mendekat sebentar!" pinta Afnan dengan menepikan tangan Hasna.


Afnan melepas safety belt nya lalu ia mencondongkan wajahnya ke arah Hasna.


Cup!


Kecupan hangat menempel dengan sukses di kening Hasna, lalu turun ke hidung, pipi dan terakhir jatuh di bibir namun, tidak terlalu menuntut seperti biasanya.


"Maaf! Byby melupakan haru ulang tahun mu, akan tetapi sebetulnya, Byby tidak lupa koq. Hanya ingin memberikan kejutan untukmu!" Ujar Afnan sembari menatap Hasna penuh sayang.


"Tidak mengapa By! tidak penting juga, Nana tahu koq dari semalam sikap Byby aneh, biasanya kalau hari ulang tahun Nana, tengah malam Byby akan mengajak Nana Shalat malam dan berdoa bersama untuk keberkahan usia yang makin berkurang ini. Akan tetapi, semalam Byby malah Shalat Qyamu Lail ke Mesjid."


"Hehe, ia! Byby fikir Sayang mau marah! ternyata enggak, jadi gak seru! padahal, Byby berharap Sayang marah." ujar Afnan.


"Kalau begitu, kembali ke pagi tadi saja. Agar Nana dapat marah!"


"Ya mana bisa, aneh-aneh saja." Hasna dan Afnan mengekeh bersama.


Setelah Afnan mencium kening Hasna sekali lagi. Afgan menjalankan mobilnya, mereka menuju ke sirkuit balap.

__ADS_1


Empat puluh lima menit kemudian,


Hasna dan Afnan sudah sampai di sirkuit yang mereka tuju. Ubaydillah dan Lintang menyusul setelah beberapa menit kemudian.


Sirkuit tersebut nampak ramai, Hasna sendiri mengerut dahi. Nampak anak-anak berandal asuhan Hasna juga sudah memenuhi tempat tersebut.


Belum yang lainnya: Devano, Elyavira, Adrian, Angela, Roy, Dias juga Maulana Iqbal beserta Istrinya. Nampak pula Zainal dan Nurmala, mereka telah berada di tempat itu.


"By, ada acara apa? mau ada balapan lagi?" tanya Hasna, ia tidak segera keluar dari mobil. Begitupun dengan Afnan, ia masih duduk manis di sebelah Hasna.


"Lihat sayang, ke sekeliling! sirkuit ini, sudah nampak lebih rapi kan?" tanya Afnan, bukannya menjawab pertanyaan Hasna.


"Ia betul, lalu...?" Hasna kembali bertanya.


"Lalu... nih, untukmu?" Afnan menyodorkan beberapa berkas yang ia simpan di dashbor mobil.


"Apa ini, By?" Hasna makin tidak mengerti.


"Buka dan periksa saja, Sayang!" ujar Afnan.


Hasna pun membuka map yang berisi beberapa file dan berkas di dalamnya.


Satu per satu berkas tersebut ia buka, "Masya Allah! ini serius By?"


"Serius, Sayang! sirkuit ini, telah aku siapkan untuk hadiah ulang tahunmu! semua berkas dan dokumen itu resmi atas namamu. surat izin laik operasi, kepemilikan tanah dan lain-lainnya sudah sah sayang dimata hukum."


Afnan tersenyum kearah Hasna. Hasna sudah tidak dapat berkata-kata lagi, ia menangis dan setelahnya ia tidak peduli dengan tatapan orang di luar mobil sana, Hasna menghambur kepelukan Afnan.


Hasna menangis tersedu di sana, di dalam pelukan Afnan di dada betonnya, entahlah ia amat terharu, bukan kesedihan, melainkan tangisan haru dan bahagia.


"Sudah, Sayang! nanti matamu membengkak saat menggunting pita." Afnan mengelus lembut bahu Hasna.


"Terima kasih By! Nana tidak tahu, Byby bisa berkorban sebanyak ini untuk Nana. Nana pernah bicara, mengutarakan keinginan untuk memiliki Sirkuit, sebagai salah satu media dakwah, selain dari tausiah dan juga pengajian di pesantren, Nana ingin merekrut anak-anak jalanan. Merekrut anak-anak pembalap liar untuk hijrah dengan mereka tetap dapat menyalurkan hobi balapan mereka secara legal, di tempat yang semestinya. Ternyata kali ini, Byby mewujudkannya."


"Ucapan terima kasih yang mana lagi? ucapan terima kasih yang seperti apa lagi? yang harus Nana ucapkan, By? Byby sudah banyak membantu Nana, Byby sudah banyak berkorban untuk Nana, Demi ambisi Nana. Syukron laak ya Habibie."


Tangisan Hasna, makin menjadi. tergugu dan sesenggukan di atas tubuhnya Afnan. Untuk sesaat, Afnan membiarkan Hasna menangis terlebih dahulu sehingga ia puas.


"By, Sebetulnya tidak adak kado dan hadiah ter-indah dari Allah, selain dirimu. Terima kasih Ya Hubby, Jika... Ats tsalju hadiyyatusy syitaa'i, wasy-syamsu hadiyyatush shayf, waz-zuhuuru,hadiyyatur-rabii'i,wa anta hadiyyatul 'umri." (Jika...Matahari adalah kado musim panas. Bunga adalah kado musim semi. Maka, kamu adalah kado terindah dalam hidupku.) bisik Hasna dengan mengecupi wajah Afnan sambil menangis.


"Syukron, Hauryat'u janati!"


(Terima kasih, Bidadari Surgaku.) Bisik Afnan kembali sembari memeluk Hasna.


Setelah beberapa menit kemudian, sehingga isak tangis Hasna tidak terdengar lagi, hanya getaran kecil dari tubuhnya yang mengisyaratkan ia masih dengan sisa air matanya.


"Sudah, sayang! koq malah menangis. Ini rezeky kamu! Byby bahagia melakukan ini untuk mu. Karena niat kamu itu mulia. Mari lakukan pengguntingan pita, sebagai peresmian Sirkuit ini. Dan kamu yang harus melakukannya, Sayang!"


"Byby saja, Nana malu! mata Nana pasti bengkak," ujar Hasna, makin menelusupkan wajahnya di antara dada dan ketiak Afnan.


Afnan mengekeh. "Angkat wajahmu, Sayang. Byby mau lihat!" seru Afnan pelan.


"Gak mau, maluuuu!"


"Ahahah, kamu koq tambah lucu," Afnan mengelitiki Hasna.


"Cukup By! geli." Hasna tertawa sembari bergerak gerak di atas tubuh Afnan.


"Ya makanya. Mari gunting pita. Kalau tidak mau, Byby pastikan, Sayang pipis di celana."


"Jangan! baik Byby sayang. Nih lihat wajah Nana."


"Mfff, wajah mu lucu kalau sembab begini."


"Jangan, di tertawakan!" protes Hasna dengan memanyunkan bibirnya.


"Tidak Koq, mari Byby bantu merapikan niqab mu." Hasna menurut. Afnan merapikan niqab Hasna serta kerudungnya. Lalu ia memakaikan kacamata hitam miliknya pada Hasna.


"Sudah siap, matanya tidak terlihat karena sudah tertutup kacamata."


"Kembali kasih. Mari Sayang, jangan lupa! bawa guntingnya."


Hasna dan Afnan akhirnya keluar dari mobil. Kini mereka sudah di hadapan pita membentang yang melintasi garis start.


Hasna di sambut pelukan hangat serta doa dari Lintang, Dias, Elyavira dan juga istrinya Iqbal serta Nurmala.


Para laki-laki ikut mengucapkan selamat dan mendoakan Hasna, pengguntingan pita pun segera akan dimulai, sebelumnya Ubaydillah memimpin doa untuk kelancaran segalanya.


"Bismillahirrahmanirrahim."


(..........)


"Alhamdulillahirabbil'alamin, hamdan yuwafi nikmahu. Ya Rabbana walakalhamdu, walaka syukru." (Ya Rabb Tuhan sekalian alam, Kami berkumpul di sini untuk bermunazab mengharap keberkahan dan keridhaan-Mu ya Allah.)


"Allahumma shalli ala Muhammadin, Fil'awwalina wal'akhirin."


(........)


Akhirnya gunting pita pun dilaksanakan. "Bismillah!"


Cut!


Setelah pita yang membentang panjang itu putus, mereka semua mengucapkan Alhamdulillah.


Hasna bernafas lega. Satu lagi keinginannya terwujud, dan saat ini lebih dari lima ratus anak-anak muda yang awalnya balapan liar di jalan raya, kini mereka memiliki wadah untuk menyalurkan hobi mereka. Satu anak minimal menghafal lima Ayat pendek jika hendak ikut masuk ke dalam Club H.A.Z Circuit. Hasna tidak berhenti bersyukur di dalam hatinya. Lagi, suaminya telah membuat dia jatuh cinta kembali karena hadiah tersebut.


"Balapan Ayuk!" teriak salah seorang dari Gengs Zig-zag setelah menyantap jamuan yang telah di siapakan dengan suka cita. Hasna memberi nama anak-anak hijrah itu adalah Gengs Zig-zag.


"Siapa takut!" Afnan melirik Hasna. Dan Hasna mengangguk.


"Let's go...." pentolan Gengs Zig-zag pun mulai turun ke arena. Begitupun dengan Hasna dan Afnan.


Three


Two


One


Go...


Kini tidak lagi memakai jasa girl start. Karena sirkuit tersebut sudah memiliki lampu start. Setelah lampu merah menyala selama lima detik, dan kemudian padam, maka para pembalap mulai menancap gas, sebagai tanda mereka mulai balapan.


Afnan melafalkan Basmallah, lalu mulai menekan pedal gasnya dengan tersenyum ke arah Hasna. Dan Hasna membalas senyuman tersebut. Balapan mulai berjalan sengit saling mendahului dan saling meninggalkan.


Setelah melewati kelokan berbentuk U dan Hasna berteriak takut di sana karena Afnan melakukan teknik yang beda dengannya, maka setelah Afnan puas tertawa karena ketakutan Hasna, ia tidak lantas menuju garis finish.


"Kita mau ke mana?" tanya Hasna karena Afnan membelokkan mobilnya ke tempat lain.


Biar saja mereka saling berlomba untuk menuju garis finish, kita pacaran dulu Sayang! senyum genit Afnan.


"Genit!" pekik Hasna.


"Wajib itu, genit sama Istrinya!"


Hasna memalingkan wajahnya dengan menahan tawa. "Masya Allah, indah sekali pemandangannya By?"


"Nah maka dari itu, kita tidak boleh melewatkan pemandangan indah ini, Sayang! Alhamdulillah sudah sampai tuh." Afnan menunjuk pada sebuah bangunan dari anyaman bambu yang nampak seperti saung, hanya lebih rapih bentuknya.


Mereka kini berada di atas perbukitan, sejauh mata memandang, Hasna melihat jurang-jurang yang ditumbuhi pepohonan serta bunga-bunga indah di seberang sana. Di bawah, terdapat hamparan sawah dan juga aliran sungai yang mengalir nampak indah sekali.


Hasna ikut keluar dari mobil, tagannya dituntun oleh Afnan. Mereka harus lebih naik, untuk mencapai saung bambu tersebut.


"Lihat sayang, ke sebelah kanan mu!" pinta Afnan.

__ADS_1


Hasna pun menuruti apa yang Afnan inginkan. "Ya Allah, jadi kita bisa melihat kedua arah dari sini By, melihat suasana tegang balapan dan melihat suasana rileks dari persawahan, sungai perbukitan dan gunung juga." ujar Hasna.


"Ia, Indah bukan?"


"Indah By! sangat indah!"


"Duduk di sana Sayang, tidak perlu khawatir, kita bisa Shalat di tempat ini koq. Byby sudah menyiapkan segalanya, alat-alat Sholat, Alquran, air untuk ber-wudhu dan tempat Shalat yang nyaman, karena terhembus angin alami."


"Masya Allah, Syukron By!" Hasna memeluk Afnan. Setelah lama berdiri, mereka akhirnya duduk di sisi saung bambu menyaksikan keindahan alam sekitar dan juga sesekali mereka melihat orang-orang yang sedang balapan di seberang lainnya.


Hasna dan Afnan sama-sama tersenyum, tangan mereka bertaut manja, Semanja dan semesra Hasna bersandar di bahu Afnan.


Mereka menghabiskan siang menuju sore, di temani semilir angin bukit dan wangi rerumputan hijau yang manenangkan.


***


Menginjak satu tahun kemudian,


"Aduh! Mamii...hiks..hiks..." seorang Anak perempuan sekitar usai tujuh tahun menangis ketika terjatuh di pelataran Mesjid yang di lapisi paving block.


Di sudut lain, seorang Anak laki-laki tampan nampak sedang asik mengendarai jip Accunya, dengan penampilan yang cukup fashionable.


Celana jeans coklat, kaus abu-abu, jaket Bomber hijau Army. Namun, yang terlihat menarik ia mengenakan kopiah hitam di atas kepalanya.


"Hai, tolong Aku!" nampak anak perempuan tersebut memanggil si anak-anak laki-laki. Anak laki-laki itu pun, menghentikan laju mobil Accunya.


"Aku?" tanya si anak laki-laki menunjuk dirinya. keadaan Mesjid saat itu sedang lengang, karena para santri sedang berlibur, setelah selesai ujian.


"Ia siapa lagi! di sini kan cuma ada kamu! tolongin aku dong! aku jatuh dan kakiku berdarah! aku tidak bisa berjalan."


"Coba gerakan kakimu! tidak mungkin, tidak bisa berjalan! kakimu hanya luka, bukannya patah."


"Huaaaa, kamu nyumpahin kaki aku patah?" hardik si anak perempuan tersebut.


"Siapa bilang, Aku hanya di bicara, seperti sebuah perbandingan! hanya begitu saja menangis! dasar cengeng."


"Aku enggak cengeng! ya sudah kalau tidak mau bantu." anak perempuan itu berusaha bangkit namun, sepertinya memang betul-betul sakit, ia kembali terjatuh.


Afkha! ya, si anak laki-laki itu Afkha, ia segera turun dari mobil jeep-nya. Lalu ia pun mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Ranting atau apapun tujuan utamanya, agar ia dapat menolong anak perempuan tersebut tanpa menyentuhnya.


Afkha sudah berusia delapan tahun, kini ia duduk di kelas dua Sekolah Dasar Islam. Afkha melihat sebuah sapu di sudut ruangan Mesjid. Ia bergegas mengambilnya.


"Nih pegang sapu ini! kamu pegang ujung sana dan aku ujung sini, kamu harus bisa bangkit, dengan hanya memegang sapu ini." pinta Afkha kepada gadis tersebut dengan nada datar.


"Mengapa harus pakai alat ini sih? mengapa kamu tidak langsung saja, meraih tanganku!" protes anak perempuan tersebut.


"Tidak bisa! aku bukan mahram kamu, lagipula disini kita, hanya berdua! aku takut terjadi fitnah. Biyya dan Mimma ku bilang, seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tidak sebaiknya bersentuhan secara langsung." ujar Afkha dengan tegas.


"Huh! repot sekali hidupmu!" ucap si anak perempuan.


"Biarkan saja! repot sedikit, asal tidak di laknat oleh Allah." ketus Afkha.


Anak perempuan itu, memegang sapu yang Afkha ulurkan. Dia berusaha bangkit. Dengan meringis, akhirnya anak perempuan itu sudah dapat berdiri.


"Eh jangan dilepas!" ucap anak perempuan tersebut saat Afkha akan melepas sapu yang dipegang.


"Afkha!"


Seorang laki-laki dewasa memanggil Afkha.


"Hai, Biyya... Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam, Sayang! siapa ini?" tanya Afnan dengan lembut dan kemudian, menunjuk anak perempuan tersebut.


"Rhaishanum Almahyra Qurby. Om, panggil saja Shanum." jawabnya.


"Masya Allah, Nama yang cantik. Di mana orang tua mu?" tanya Afnan.


"Di sana, jawab shanum!" dia menunjuk ke arah Aula yang memang sedang diadakan acara pertemuan antara pengurus pesantren dan juga para wali santri putra dan putri.


Hasna dan Lintang sedang berada di dalam sana, Afnan kembali dari ruang penyimpanan berkas pesantren, untuk mengambil berkas.


"Baiklah Dek Shanum. Mari Om antar ke orang tua mu, akan tetapi sepertinya kamu luka." Ujar Afnan.


"Ia, Om! aku jatuh, minta tolong anak ini, malah di suruh pegangan sapu!" rajuk Shanum dengan bibir yang mengerucut lucu.


"Hem, ini Putra Om, namanya, Af--"


"Afud!" potong Afkha cepat. Afnan hanya tersenyum sembari menghela nafas pelan.


Dari sorot mata Afkha, ia meminta maaf, karena telah memotong kata-kata Afnan. Afkha memang tidak pernah memperkenalkan namanya secara bebar kepada orang luar. Ia paling malas dibuntuti atau di tanya-tanya.


"Oh putra Om toh. Afud! Aku rasa, tidak sesuai dengan style mu!"


"Lalu... terserah aku!" ketus Afkha. Afnan hanya menggelengkan kepalanya.


"Lukamu harus di obati terlebih dahulu. A, tolong keluarkan kotak obat!" Ujar Afnan pada Shanum, lalu ia meminta tolong pada Afkha.


"Baik, Biyya." Afkha mengeluarkan kotak obat dari dalam mainan Jip-nya.


Afnan segera mengobati lukanya shanum. Shanum nampak meringis kesakitan.


Setelah selesai mengobati Shanun, Afnan segera mengantarkan Shanum ke orang tuanya.


Afkha pun ikut mengantar Shanum. orang tua Shanum yang juga sedang mencari anaknya. tampak sumringah dan mengucapkan terima kasih kepada Afnan.


"Hei, kita akan bertemu lagi setelah besar nanti. Aku ingin memiliki suami Unik seperti mu!" ucap shanum pelan pada Afkha, di belakang orang tuanya dan juga Afnan yang masih berbincang.


"Berdoa saja! agar Allah mengabulkan kata- katamu. Dan aku akan berdoa mendapatkan jodoh yang Allah kehendaki," balas Afkha dingin.


"Aamiin!" Ujar Shanum tersenyum dengan memiringkan wajahnya, nampak imut.


"Dan ingat! pakailah kerudungmu dengan baik, jangan menjadi golongan dari orang-orang buka tutup! seperti jalanan saja tutup buka!"


"Kalau kamu jadi suamiku, aku akan melakukannya! maka dari itu, tolong mintakan pada Allah agar kita berjodoh. Maka, aku akan menutup auratku dengan sempurna!"


"Huh, anak kecil. Bicaranya pernikahan! aneh. Minta saja sendiri."


Afkha pamit pada Afnan, setelah disetujui, ia pun segera keluar dari ruangan tersebut.


Shanum menjulurkan lidahnya, merasa menang. Afkha hanya melirik sekilas.


Hasna, Lintang dan Elyavira nampak sedang berbincang di sudut lain.


Ketika Elyavira henak memasukkan makanan ia menutup mulutnya.


"Kenapa Kak?" tanya Hasna


dan Lintang secara bersamaan.


"Emmm, Aku sedang hamil lagi Dek, jadi... agak mual gitu." jawab Elyavira.


"Alhamdulillah.. Selamat ya Kak!" ucap keduanya sembari merangkul Elyavira, yang berada di tengah.


Setelah melepaskan Elyavira, Hasna dan Lintang nampak saling bertatapan, lalu mereka tersenyum.


"Na! gue dah Nemu cara untuk menggagalkan rencana para suami yang ingin kita kuliah ke Turki." / Lintang.


"Gue pun! semoga kita sepemikiran!"/ Hasna.


Mereka saling berkirim chat dengan cepat. Setelah chat mereka terima, maka keduanya saling tersenyum penuh kemenangan.


Ada rencana apakah dari Hasna dan Lintang, untuk menggagalkan rencana suami mereka, mengirim kuliah ke Turki?!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2