
Di tempat berbeda,
Ubaydillah mengajak Lintang ke suatu tempat, tepatnya Resort milik Hasna dan tidak jauh dari Resort tersebut, terdapat restauran apung milik Lintang yang di berikan Ubaydillah sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka.
"Masya Allah .... ke sini lagi, terima kasih Yank! bisa nostalgia kan," Lintang memang paling senang kalau di ajak menginap atau sekedar menghilangkan penat ke Resort tersebut, karena di sinilah pertemuan nya dengan Ubaydillah begitu berkesan, hingga dari tempat itulah niat Ubaydillah menikahi Lintang muncul.
"Mari Yank!" ajak Ubaydillah sembari mengulurkan tangannya dan meraih tangan Lintang menuju bibir pantai.
"Baiklah Yank! tapi urusan kita mengenai sepatu itu belum selesai yah!" ucap Lintang.
"Ya Allah Yank! Ok nanti kita selesaikan setelah menyusuri pantai, untuk sekarang mari kita nikmati dahulu sore ini." ujar Ubaydillah.
"Baiklah!" Lintang bergelayut manja pada lengan Ubaydillah. Mereka menyusuri pantai tanpa menggunakan alas kaki.
"Yank, kita akan menginap di sini kan?" tanya Lintang.
"Insya Allah! kalau pulang juga sudah sore, nanti Kemalaman di jalan," ujar Ubaydillah.
"Ayank yang menenangkan Abang Acha yah! pasti ia mencari keberadaan kita lagi deh!" pinta Lintang.
"Ouh iya, A'a Dav koq lupa yah belum menelepon Abang, ya sudah duduk di sana yuk! Dad's menelpon Abang sebentar," ajak Ubaydillah.
"Tuh kan Dad's, suka begitu! lupa sama Anak nya. "Ya tidak lupa Yank! habis tadi kan Ayank marah-marah. A'a Dav juga tidak ada niatan ke sini, namun ketika di perjalanan baru lah terpikir untuk ke sini, tujuannya tentu saja meredam emosi kamu Yank," ucap Ubaydillah sembari menyentuh ujung hidung Lintang dengan jari telunjuk nya.
"Ya .... ya ....ya .... dan itu berhasil! namun baru meredam yah! belum melenyapkan." Lintang mencebikan bibir nya.
"Hehe Yank ... Yank... Jadi marah nya belum tuntas yah! Rasulullah SAW bersabda: Terdapat tiga sifat jika disandang seseorang dirinya akan dilindungi Allah SWT, diliputi rahmat-Nya, dan dimasukkan dalam cinta-Nya, yaitu bersyukur ketika diberi rezeki, memberi ampun ketika mampu, dan mampu mengendalikan diri saat marah." Bisik Ubaydillah yang langsung meninggalkan Lintang begitu saja, ia menuju tempat berteduh di bawah pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, sedangkan yang mendapatkan bisikan kontan tersenyum sendiri dengan raut wajah yang tersipu malu.
Ubaydillah seperti nya sedang menelpon. Lintang berniat menghampiri nya dengan sedikit ragu. Lintang malu dan merasa telah di tampar Ubaydillah dengan kata-kata nya.
"Hufff .... Bismillah! tidak. Aku tidak marah! ini lebih ke protes atau interupsi dan mencari penjelasan mengapa sepatuku di pasang alat pelacak." Lintang berfikir ke arah itu akhirnya. Setelah menarik nafasnya dalam serta mengembuskan nya perlahan, ia menghampiri Ubaydillah.
"Assalamu'alaikum Ayank! Suami ku yang bijaksana." ucap Lintang.
"Wa'alaikum salam! Ayank Lilin! Istriku yang cantik dan imut, tapi bawel." Ubaydillah tersenyum dan meraih tangan Lintang agar duduk di sebelah nya.
Para pengunjung resort lain nya nampak lebih banyak dari sebelum nya, di pantai tersebut saat menjelang matahari terbenam.
Senja itu di hiasi lembayung yang terpampang cantik serta menakjubkan terbentang menguning keemasan dari ufuk timur ke barat.
"Menelpon Abang Acha?" tanya Lintang yang sudah sama-sama duduk di atas pasir putih.
"Iya, Abang Acha dan Umi!" jawab Ubaydillah menatap Lintang.
"Lalu? Abang tidak ngambek?" tanya Lintang kembali.
"Tidak koq! Abang mengerti, ya tentu nya dengan sedikit bujuk rayu."
"Apa itu?"
"Merelakan kuda hitam milik Aa Dav, untuk nya." jawab Ubaydillah.
"Loh si jaka kelana Yank?" tanya Lintang kembali.
"Bukan! yang kopral Bejo (nama kuda Ubaydillah)," jawab Ubaydillah.
"Ouh yang itu! loh itu kan dalam pelatihan dan belum lama Ayank miliki?" Lintang kembali bertanya.
"Sudah jinak! ya memang awalnya pun untuk Abang, namun kan nanti saat sudah agak besar, ya minta nya sekarang, sudahlah. Berikan saja, biar kita aman berduaan," goda Ubaydillah sembari mengedipkan sebelah mata.
"Genit!" senyum malu-malu nya Lintang dengan merunduk.
"Yank! kalau marah tidak boleh, lalu protes sedikit boleh? ya sebagai bentuk interupsi!" Ujar Lintang.
__ADS_1
"Boleh! mau Sekarang atau nanti?" tanya Ubaydillah, ia memiringkan wajahnya menatap lucu Lintang.
"Sekarang!"
"Baik, kita bicara di dalam kamar!" Ubaydillah meraih tangan Lintang, lalu mengajak nya berdiri dan Lintang menurut saja. Mereka menuju kamar resort yang biasa mereka tempati.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar, Setelah mencuci kaki dan tangan, Ubaydillah duduk nyaman di atas sofa, sembari memperhatikan Lintang yang seperti nya gugup berdiri di muka pintu kamar mandi.
"Yank!" panggil Ubaydillah dengan isyarat tangan. Lintang menghampiri Ubaydillah dengan ragu.
"I-iya!"
"Loh ada apa ini? koq malu-malu? biasanya malu-malu in," goda Ubaydillah.
"Yank apa sih!" protes halus Lintang.
"Sudah sini! cepat mau Protes tentang apa dan bagaimana? nanti keburu datang waktu Maghrib." Ubaydillah menarik Lintang dan jatuh di pangkuan nya.
"Awsh! Astaghfirullah." Lintang meringis dan juga terkejut.
"Baiklah! silakan bicara, tanganku hendak bekerja pada tubuhmu!" seru lirih Ubaydillah.
"Ayank!" protes Lintang dengan mendelik kan matanya pada Ubaydillah.
"Hehe .... maksudnya membuka hijab mu Ayank Lilin!" Ubaydillah mengekeh karena Lintang salah pengertian.
"Hihi .... aku fikir bekerja untuk hal lain," Lintang tersipu malu.
"Boleh juga ide nya."
"Enggak boleh! dasar laki-laki sudah mirip bensin, kena api sedikit langsung merespon." ucap ketus Lintang.
"Loh bagus dong! itu ciri dari laki-laki normal jantan luar dalam." balas Ubaydillah yang sudah membuka hijab dan pelapis dalaman hijab Lintang.
"Ya bisa dong! demi keamanan dirimu luar dalam." jawab santai Ubaydillah.
"Bagaimana bisa? memang berapa pasang sepatu yang Ayang pasang pelacak?" Lintang kembali bertanya.
"Mmmm .... Sandal, sepatu, sandal jepit, sandal bla .... bla dan bla ...." Ubaydillah bergumam sembari mengingat-ingat sepatu mana saya yang ia pasang pelacak.
"What? jadi hampir semua sandal dan sepatu Lilin di pasangi pelacak! Ayank keterlaluan!" pekik Lintang sembari turun dari pangkuan Ubaydillah dan bermaksud pergi ke luar kamar.
"Tunggu Yank! setidaknya tanyakan lah sebuah alasan, agar A'a Dav, dapat menjelaskan nya." Ubaydillah memeluk tubuh Lintang.
"Marah lah padaku! kalau mau beteriak ataupun memaki. Maka makilah Aku, namun jangan pergi ke manapun. Kita kan sudah sepakat dan berjanji, sepelik apapun keadaan rumah tangga kita dan sehebat apapun pertengkaran kita, maka di hadapan orang lain dan siapapun, kita akan tetap mesra kan sayang." ucap Ubaydillah mengingatkan akan janji mereka.
"Maaf Yank! Lilin hanya kecewa, merasa di curigai," ucap Lintang. Mendapatkan pelukan ia sedikit luluh.
"Maafkan A'a Dav juga Yank! Aku tidak bermaksud mencurigai dirimu. Namun waspada kepada hal yang tidak di inginkan." balas Ubaydillah seraya makin mengeratkan pelukannya.
"Ingat Yank! Sifat emosional merupakan nafsu amarah yang mengarah kepada kejahatan (Q.S. Yusuf : 53)." sambung Ubaydillah dan berbisik pada Lintang.
"Astaghfirulla Al Adzim."
"Ingat juga Yank! 'jika Kalian marah maka diamlah.' ( HR : Ahmad)." Ubaydillah masih berusaha meredam emosi Lintang.
Lintang terus beristighfar. "Maaf Yank! Aku khilaf. Padahal Ayank Davi sudah mengajarkan banyak hal."
"Tidak mengapa, itu manusiawi!Islam tidak mengharamkan seseorang memiliki amarah. Namun Islam menganjurkan mengendalikan nya." ujar Ubaydillah. "Barang siapa menolak kemarahan nya, maka Allah akan menolak siksa-Nya dari nya (HR : Thabrhani)." sambung Ubaydillah.
"Hufff .... bantu Lilin untuk meredam amarah, Yank!" pinta Lintang
"Pertama tentu ber Istighfar," ucap Lirih Ubaydillah. "Sudah Yank!" tukas Lintang.
__ADS_1
"Lalu membaca doa Istiadzah Tujuan nya ya tentu saja agar kita dilindungi dari penguasaan syetan yang terkutuk, agar tidak masuk ke dalam tubuh kita melalui pintu Amarah yang kita miliki. Jadi syetan atau iblis yang akan menguasai diri, dapat tersingkir." ujar Ubaydillah.
"Insya Allah Yank!" Lintang memejamkan mata sembari melafal Istiadzah. "A'uudzu billahi minas syaitanir rojiim ( aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)." gumam Lintang.
Ubaydillah memutar tubuh Lintang perlahan, agar menghadap kepada diri nya.
"Sudah lebih tenang?" tanya Ubaydillah dengan tersenyum.
"Alhamdulillah sudah! namun masih agak dongkol lihat wajah Ayank Davi." jawaban yang jujur. Lintang cemberut manja menatap tajam Ubaydillah.
Ubaydillah tertawa kecil mendengar pengakuan Lintang. "Astagfirullah, imut bawel, lucu sekali sih kalau sudah marah!" Ubaydillah menarik gemas hidung Lintang.
"Ummm, sakit Yank!" protes Lintang dengan sedikit senyum.
"Sudah lebih baik?" tanya Ubaydillah kembali.
"Mmmm ..." Lintang hanya bergumam.
Ubaydillah tersenyum dan ia dekatkan wajahnya pada wajah Lintang, hingga ujung hidung mereka bertemu. "Ikuti ya...." ucap nya pelan.
Ubaydillah Kembali memundurkan wajah nya dan ia pegang hidung Lintang, kali ini lebih lembut. Kemudian ia menuntun sebuah doa peredam kemarahan.
Doa pertama:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ ، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِيْ ' وَأَجِرْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ
"Allaahummaghfirlii dzanbii, wa adzhib ghaizha qalbii, wa ajirnii minas syaithaani."
Artinya:
"Tuhanku, ampunilah dosaku, redamlah murka hatiku, dan lindungilah diriku dari pengaruh setan."
Doa ke dua:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . اَللّٰهُمَّ رَبَّ مُحَمَّدٍ اغْفِرْلِىْ ذَنْبِىْ وَاذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِىْ وَاَجِرْنِىْ مِنْ مُضِلاَّتِ اْلفِتَنِ
"Allahumma rabba muhammadin ighfirli dzambi wadzhib ghaizha qalbi wa ajirni min mudhillatil fiitan."
Artinya:
"Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan hatiku, dan selamatkanlah aku dari kesesatan fitnah." (Dari Aisyah RA, sesuai sabda Nabi SAW).
"Hemmmm ...." Lintang menghela nafas halus dan memejamkan mata sejenak, kini perasaan nya lebih baik.
"Alhamdulillah, terima kasih Yank!" Lintang berjinjit dan ia peluk leher Ubaydillah sembari membenamkan wajahnya pada dada Ubaydillah bagian atas.
"Alhamdulillah .... sama-sama Yank! ingat Yank, tujuan A'a Dav memasang pelacak itu tidak untuk menaruh curiga koq, intinya hanya kewaspadaan saja! Kamu berhak menghukum A'a Dav, atas kelancangan ini."
"Iya Yank! terima kasih telah begitu menjaga dan memantau keamanan Lilin, Biar aku fikirkan dulu, hukuman apa yang pantas Ayank Davi terima." balas Lintang.
"Baiklah. Silakan Ayank berfikir, apapun hukuman nya A'a Dav akan terima," ucap Ubaydillah.
"Baik! Namun untuk esok, Lilin tidak mau pakai sepatu itu lagi, dan sepatu serta sandal yang ada. maaf Yank!" ucap Lintang sembari melepaskan pelukan nya dari Ubaydillah dan sedikit menjauh hendak duduk di sofa.
"Tidak mengapa, pelacak nya bukan hanya di sepatu koq, ada di antara lipatan hijab dan tas." Gumam Ubaydillah. Rupanya Lintang mendengar Ubaydillah bergumam.
"Jadi?????!!!!"
"Ufffff!"
"Hukuman berlaku! mulai saat ini hingga tiga hari kedepan kita resmi pisah ranjang Tiga hari. Ingat! di hari ketiga pada jam yang sama, hukuman selesai!" pekik Lintang, lalu ia berjalan cepat, masuk ke kamar mandi.
Bersambung ....
__ADS_1