
Hasna masih berkutat dengan stir, pedal gas, rem, kopling serta kecepatannya.
"Trek model U By? Nana belum pernah! di U tajam begini." pekik Hasna menyadari trek asing di depannya.
"Ya, ada dua titik model U di sirkuit ini. Tetap tenang, Sayang! Byby di sini, Pertahankan kecepatan, dengarkan instruksi dari Byby!"
"Baik By!"
Hasna menarik nafasnya. Ia bersiap untuk mengikuti instruksi dari Afnan. Hal asing yang harus mampu ia kuasai mendesak.
"Pakai teknik clutch kick!"
"Apa By?"
"Clutch Kick! Sayang!"
"Tendang kopling, agar mobil tetap melintir, Sayang! sementara pedal gas tetap jaga di putaran tinggi. Lalu geser body mobil maksimal setelahnya." suara keras Afnan mampu Hasna dengar.
Afnan mengulang kata yang sama agar Hasna faham. Ini harus cepat ia lakukan, Hasna harus mengerti dengan maksudnya. Garis finish tinggal beberapa meter lagi. Sedangkan masih ada satu mobil yang harus mereka salip.
Hasna nampak berkonsentrasi, ia sedang memahami apa yang Afnan katakan.
"Drifting terlebih dahulu, Sayang! biarkan ban belakang slip dengan alur yang lebih besar daripada ban depan. kemudian arahkan ke-belokan tanpa mengurangi kecepatan mobil. Perhitungkan secara matang, buat kecepatan mobil stabil, jangan sampai mobil melintir dan kehilangan kendali. Kecepatan dan sudut belokan harus akurat." Ujar Afnan cepat.
"Maaf belum faham, tolong ulangi kembali kata-katanya dengan cepat, By!" pinta Hasna.
"Siap, Sayang!" Afnan mengulang kembali kata-kata arahan yang tadi dia ucapkan. "Faham?"
"Faham, By!" Hasna tersenyum ke arah Afnan.
"Ok! Go... go... go... drift! Clutching, stabilkan kopling langsung braking bermain dengan rem. Mendekati tikungan, tekan kopling, pindah ke gigi dua. Tancap gas sampai sekitar 4500 rpm."
"Siap, By!" Hasna mengikuti setiap instruksi Afnan. Ia bisa memahami dengan cepat. Apa yang Afnan katakan. Meski terkadang minta di ulang walaupun kemungkinan kecil.
"Lepas kopling! rasakan putaran kuat pada ban, nikmati getar putar cepat pada mesin. Buat ban belakang berputar sangat cepat sampai kehilangan traksi hingga bagian belakang mobil melintir."
"Ok!" mobil yang Hasna kendarai mulai menaikan kecepatan. Ban belakang berputar sangat cepat hingga mobil mirip menukik tajam, perpaduan decitan rem dan kopling ketika perpindahan gigi dan hentakan pedal gas, terdengar indah bagi para drifter, namun tentu saja tidak bagi orang awam. Itu suara yang amat mengerikan.
Hasna tersenyum puas dengan tekniknya baru saja. Begitu pun dengan Afnan, tantangan sesungguhnya masih di depan mata.
"Mulai teknik breaking, Sayang. tarik rem tangan saat memasuki tikungan untuk mengunci ban belakang, agar kehilangan traksi dan menciptakan gerakan drift (nampak berseluncur)." Hasna mengikuti apa yang Afnan katakan.
"Bismillah!"
Nampak mobil Hasna berseluncur memasuki tikungan tajam. Yang mengerikan, di sisi kiri tikungan adalah jurang dengan kedalaman belasan meter. Jika salah perhitungan sedikit saja, maka fatal akibatnya
"Lakukan HandBrake! (mengangkat rem tangan) sebelumnya injak kopling, tarik hand-brake secara bersamaan, tahan beberapa detik sampai menemukan titik putar berikutnya." Hasna menemukan titik yang di maksud Afnan. Mobil pun mengarah pada ruas tikungan dengan ban belakang nampak berseluncur.
"Good Baby! Lepas kopling, Now!" pekik Afnan. Mobil nampak melintir ke tikungan selanjutnya.
"Good job, Baby! fast tekan gas sambil lakukan countersteering (membelokkan stir di tikungan dengan perlahan namun pasti). Padukan Power Slide, hati-hati jurang sedalam dua belas meter di titik kiri."
"Sudah masuk ke jalur antara patahan dan lurus." Pekik Hasna.
"Teknik bejek pedal gas habis, kontrol arah mobil dengan stir lalu countersteering!"
"Yas, good! sejajarkan body, lakukan Shift Lock! drifting dengn menurunkan posisi gigi jadi lebih rendah dan Kunci ban."
"Sudah By!"
"Drifting dengan cara menendang kopling, Sayang! timbulkan guncangan pada transmisi sehingga mempengaruhi keseimbangan mobil. Slidding kanan. Biarkan ban belakang slip." Hasna mengikuti setiap instruksi Afnan.
"Yes...good job, Baby! masuk tikungan, injak pedal rem sampai bobot pindah ke depan. Langsung pijak pedal gas! gunakan teknik Scandinavian Flick!"
"What?"
"Scandinavian Flick, Sayang! membuat roda belakang nge-drift tajam pas titik tikungan."
"I Know!"
"Good! start Now! go.. pindahkan bobot kendaraan ke luar. Putar setir ke arah luar tikungan!" ucap Afnan.
"Ok, nice! putar balik setir hingga bagian belakang mobil bergeser. Pertahankan beberapa detik saat teknik menikung."
"Yes, By!"
"Bagus! Dynamic drift. Now!
angkat pedal gas biarkan bobot pindah dari belakang ke depan." mobil Hasna sudah melewati tikungan.
"Whuww! Alhamdulillah, Nana berhasil By!" teriak Hasna dengan tertawa. Afnan ikut tertawa lebar di sebelahnya dengan mengelus pundak Hasna.
"Karena kamu pintar, Sayang!"
"Thank you, By. I Love You Hubby Afnan. You are my world. My Best Husband!" teriak Hasna ketika sudah berhasil melewati tikungan tajam mencekam sebelumnya.
"Love you more, Baby! my cute wife! you are my world and Jannah. God willing!"
Cup!
Afnan mengecup tangan Hasna dengan cepat.
Kini mobil sudah berada di jalur lurus. Satu mobil yang harus ia lewati. Walaupun nampak mudah. Akan tetapi Afnan mengingatkan agar tidak jumawa. Karena bisa saja kegagalan akan mereka dapatkan jika salah bertindak.
"Stabilkan kecepatan, jaga agar mobil tetap terkontrol. Masih ada tugas untuk menuntaskan ini." Ujar Afnan.
"Nana, siap By!"
"Ok let's go... kita akhiri ini dengan kemenangan." Hasna dan Afnan kembali mengucap basmallah.
"By!"
"Ya!"
"Kalau Nana menang, bisa minta sesuatu?"
"Katakan!"
"Nana sendiri yang akan menghandle anak-anak itu untuk berhijrah. Nana akan berada di barisan belakang namun, paling penting."
"Deal!" ucap Afnan tanpa fikir panjang. Afnan faham apa yang di maksud dengan Hasna. Istrinya akan berada di belakang layar namun, ia memiliki andil cukup besar nantinya."
"Ok! terima kasih By!"
"Tambah kecepatan. Tempelkan mobil ini di ujung kanan mobil depan. Gunakan teknik Clutching dan braking dalam mencari celah, melewatinya. Untuk Kali ini Byby serahkan padamu! Byby akan menikmati prosesnya step demi step hingga berakhir di garis finish!"
"Baik By!" Hasna menekan pedal gas hingga kini mobilnya tepat berada di bagian ujung mobil di depannya. Mencari celah untuk mendahului, Hasna menekan kopling dan pindah ke gigi rendah.
Selanjutnya Hasna memadukan antara kopling dan rem hingga terdengar dengungan keras dari mesin mobilnya. Mobil di depannya seperti terpengaruh. Dari ayunan gasnya Mereka nampak ragu.
"Celah empuk, Sayang!" ucap Afnan dengan suara yang agak keras.
"Tentu, By!" Hasna bersemangat.
Teknik HandBrake Drift Hasna pakai. Kopling diinjak dan disaat bersamaan hand-brake ditarik untuk menghilangkan traksi. Beberapa detik mobil nampak melakukan pengereman mendadak.
Namun, yang sebenarnya itu kecohan, agar Hasna dapat menaikan kecepatan dan melewati mobil di depan mudah.
Hasna melepas kopling dan menekan pedal gas ia melakukan countersteering.
Mobil bergeser dengan pelan namun pasti.
"Ok! sequential gearbox (perpindahan gigi beruntun.)Lalu Overtaking, Sayang! (teknik mendahului lawan). Hati-hati jarak aman agar tidak bersenggolan."
"Assiap, By!" Hasna menerapkan teknik yang Afnan sebutkan. Kini Lamborghini Aventadornya dapat leluasa meluncur dengan kecepatan lebih meninggalkan Ferarri yang dulu ia kalahkan. Tujuan utamanya garis finish.
__ADS_1
"Argh! kalah lagi." kesal si pengemudi yang di dahului oleh Hasna.
"Apalagi ini bro. Lamborghini, pakai city car aja kita habis di libas." Ujar di sebelahnya.
"Mereka itu sebenarnya siapa sih? gila driftrer-nya cewek bercadar. Ah kalau masih singel gue gebet."
"Aahahaha belum tentu dianya mau. Kalau yang ini ada lakinya bro. Ingat Bro, Ustadz keren!"
"Ahahaha. Merasa jadi pecundang, gue." Ujar si pengemudi dengan tertawa.
Di depan sana Hasna dengan mudah masuk garis finish. "Alhamdulillah, kita menang By!"
Hasna berteriak dengan tertawa. "Alhamdulillah, Sayang! kamu keren."
"Byby yang keren!"
Di tribun penonton,
"Nana, masuk finish!" pekik Lintang.
"Iya Dek, Alhamdulillah!" timpal Elyavira, mereka berpelukan dan berjingkrak ria.
"Alhamdulillah! selamat Kak Ubay!" Zainal merangkul Ubaydillah.
"Terima kasih Zain. Ini berkat kerjasama kita," Ubaydillah memang baru saja keluar dari control room, ketika melihat Hasna sudah menuju garis finish.
"Lo emang keren, Na!" Devano pun bersorak gembira. Tidak untuk pihak musuh. Mereka tertunduk lesu.
Kembali ke mobil Hasna,
"Boleh melakukan Burnout, By?" tanya Hasna sesaat setelah masuk garis finish.
"Silakan, Sayang!"
Setelah mendapatkan izin dari Afnan untuk melakukan burnout, Hasna mulia dengan memasukkan mobil ke gigi satu.
Hasna Menginjak kopling dengan penuh dan mulai mengencangkan mesin. Hasna menaikan rpm pada kendaraannya.
Setelahnya ban mobil Hasna menjadi panas, dan Hasna melepaskan gas dengan mengunci rem tangan secara bersamaan.
Hasna melepas kopling, maka roda mobilnya berputar sangat cepat, Hasna melepas kopling untuk mempercepat dan melakukan peel-out lalu Hasna mengunci rem tangan kembali dan rem parkir untuk memutar roda.
Maka kini asap tebal pun tercipta dan menyelimuti mobil Hasna, Hasna melakukan burnout dengan sempurna dan nampak keren.
"Wuih, keren!" kagum anak-anak remaja labil tersebut.
"Iya, Keren!"
"Dia profesional Sepertinya."
Itulah tanggapan para anak-anak labil itu.
Setelah di rasa cukup. Hasna dan Afnan berangkulan di dalam mobil. Bahkan Afnan mengecup bibir Hasna dalam dan saling membalas, setelah sebelumnya mengecup kening Hasna.
"Mari Sayang! semoga mereka tidak berbuat onar."
Afnan mengajak Hasna keluar dari mobil.
Beberapa anak-anak berandal itu mulai turun dari tribun penonton. Para peserta balap pun mulai mendekati Hasna.
"Selamat!" pengemudi Ferrari menjulurkan tangannya. Hasna menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Terima kasih."
"So... kami telah menang. Akan tetapi Istri saya akan tetap meminta maaf kepada kalian atas kesalahannya." Ujar Afnan.
"Betul apa yang di katakan oleh suami saya. Saya akan tetap meminta maaf pada kalian. Ma'afkan saya Karena telah dengan sengaja ikut campur urusan kalian." Ujar Hasna dengan legowo.
Para anak-anak remaja itu saling pandang. Lalu salah seorang yang agak dewasa bicara. "Baik, kami sudah mema'afkan."
"Alhamdulillah," ucap Hasna dan Afnan secara bersamaan.
Afnan tetap Waspada dengan tidak melepaskan genggaman tangannya dari Hasna.
"Baik kalau begitu, Istri saya sudah menang, maka dari itu kalian harus menepati janji menuruti apa yang saya minta." Ucap Afnan dengan suara keras agar para remaja labil itu mendengar.
"Tahan!"
Teriak salah seorang dari belakang kerumunan.
"Ada apa, ini?" tanya Ubaydillah.
"Kalian telah berbuat curang!" tuding salah seorang remaja labil itu.
"Maksud kalian apa?" tanya Zainal.
"Ia, saudara kami curang di mana?" timpal Devano.
"Navigatornya berbeda. Bukankah itu curang? karena, melanggar kesepakatan?" tanya remaja tersebut dengan lantang.
"Baik! saya mengakui kesalahan saya. Untuk itu saya memohon maaf! bukan maksud saya hendak berbuat curang. Ini hanya bentuk perlindungan dari seorang suami terhadap istrinya." terang Afnan.
"Tetap saja itu namanya curang!" remaja lainnya ikut memanasi suasana.
Sepertinya kelompok anak-anak tersebut telah disusupi provokator. Anak-
anak remaja yang awalnya terlihat tenang, dan menerima kekalahan. Kini mereka nampak gusar termakan provokasi.
"Hei, hei, hei, kalian lupa! ini darah teritorial kekuasaan kami. Jangan kalian bertindak bodoh dan arogan. Coba kalian ingat-ingat, berapa mobil yang kalian turunkan? dan dari pihak kami hanya satu mobil! adil atau tidak? Kakak saya hanya melindungi istrinya, apa itu salah?" sarkas Ubaydillah dengan pertanyaan bertubi.
"Kami tidak takut! tetap saja perjanjian awalnya tidak begitu." salah satu remaja makin gencar memprovokasi.
"Baik, kalau ini di anggap salah! apa yang kalian inginkan?" tanya Afnan tegas.
"Duel!" tandas si remaja dengan berani dan tersenyum meremehkan.
"Gak gitu, aturannya!" Ucap datar Afnan.
"Suka-suka kami!"
Afnan, Ubaydillah, Devano dan Zainal saling lirik. Afnan mengkode untuk waspada.
"Sayang, siapkan kuda-kuda dengan baik! nampaknya kita akan mendidik anak-anak ini dengan sedikit kekerasan." bisik Afnan.
"Baik, By! nampaknya memang kita harus melewati satu ujian lagi untuk membawa anak- anak itu Hijrah." tandas Hasna.
Benar saja apa yang Afnan katakan kepada Hasna dan kode dari Afnan kepada Ubaydillah, Devano dan Zainal agar bersiap-siap.
Tanpa basa-basi anak-anak itu mulai merangsek mendekati Afnan, Hasna dan yang lainnya.
"Bantai!" teriak salah satunya.
"Bismillah!"
Ucap serempak Hasna, Afnan, Ubaydillah, Devano dan Zainal. mereka terpaksa meladeni anak-anak tersebut.
"Arif! konfirmasi kepada polisi Imron, kami di serang dan kami kalah jumlah." Ubaydillah berbicara pada Asistennya yang masih berada di ruang kontrol.
Terdengar Arif mengiyakan di balik earphone Ubaydillah.
Hasna mengikat kencang tali di gamis model blazer panjang tersebut, karena bawahnya memakai celana panjang.
"Jangan jauh dari Byby, Sayang!" pinta Afnan di sela-sela gerakannya yang sedang melandeni lima orang sekaligus.
"Sip, By!" Hasna mulai bahu-membahu dengan Afnan. Ia pun meladeni tiga orang sekaligus.
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Wuzzz!
Ubaydillah, Devano dan juga Zainal ikut terlibat di dalam perkelahian tersebut.
Wuzzz!
Bugh!
Jgred!
Beberapa remaja tersebut sudah terkapar tak berdaya, akibat sapuan punggung kaki Afnan.
Lain hal dengan Hasna yang melompat dan mengibaskan beberapa kali tendangan.
Dari pihak Afnan belum ada yang terkena tendang maupun tonjokan.
Jreb!
Wuzzz!
Bugh!
Brukh!
Hasna dan Afnan kembali di serang oleh beberapa orang. Namun, Hasna dan Afnan mampu melumpuhkan mereka.
Jumlah mereka makin banyak. Pasukan Afnan mulai kewalahan.
"Dek Sob, hubungi Arif!" pinta Afnan.
"Sudah A'a Bro!" jawab Ubaydillah.
Jdugh!
Argh! Devano terkena tendang dan terhuyung ke belakang, Zainal menahannya agar tidak terjatuh.
Brakkk!
"Astaghfirullah'aladzim!"
Hasna terpekik, tatkala ia di hantam selembar papan ukuran sedang yang memang banyak terdapat di sana sebagai properti pembangunan sirkuit yang belum sepenuhnya selesai.
"Sayang!" teriak Afnan yang melihat Hasna terhuyung dan memuntahkan darah segar di balik niqab-nya.
Afnan sendiri belum dapat menjangkau Hasna, ia sedang meladeni tiga orang yang mengayunkan gear, samurai dan juga cerulit. Tidak sebanding dengan Afnan yang hanya bertarung dengan tangan kosong.
"Astaghfirullah! anak-anak ini rupanya sudah menyiapkan segalanya.
"Sayang, bertahan!" teriak Afnan yang melihat Hasna sudah sempoyongan dan masih berusaha meladeni beberapa orang dengan sisa tenaganya.
Afnan berhasil melumpuhkan dua orang yang memegang cerulit dan gear, yang memegang samurai akhirnya di ladeni Ubaydillah. Afnan segera menghampiri Hasna.
"Sayang! sayang! bertahan."
"By! dada Nana sesak." Akunya Hasna dengan mata yang nampak sayu. Pandangan Hasna pun mulai Kabur.
"Iya sabar, Sayang! kita ke rumah sakit."
Tak berapa lama gerombolan polisi berbaju preman mulai berdatangan.
Dor!
Dor!
Dor!
Tembakan ke udara dari polisi Imron sebagai peringatan. Polisi lainnya mulai berbaris pada posisi masing-masing dan mereka menodongkan senjata laras panjang.
"Berhenti! atau kami akan berlaku semena-mena terhadap kalian!" seru polisi berbadan tinggi besar yang berdiri di sebelah Polisi Imron.
Para anak-anak remaja labil itu pun berhenti dari aksinya. Mereka menuruti titah Polisi Imron dengan ber-tiarap.
"Tiarap!" bentak polisi Imron.
Hasna dalam dekapan Afnan. Ia nampak memejamkan mata tengah menahan rasa sakit pada punggung dan sesak di dadanya.
"Sayang, kamu memuntahkan darah?" tanya Afnan yang menyadari niqab Hasna dan juga gamis Hasna terdapat noda darah. Hasna mengangguk.
"Astagfirullah!" helaan nafas Afnan.
"Bagaimana dengan janji Kalian?" terdengar Ubaydillah bertanya dengan suara lantang.
"Ma'afkan kami. Jangan bawa kami ke kantor polisi," wajah memohon dari si ketua gengs.
"Jika satu hal kalian lakukan!" balas Ubaydillah dengan datar.
"Apa itu?"
"Kalian harus menepati perjanjian awal. Lalu belajar Agama dengan baik. Tenang saja, saya yang akan menanggung semua biayanya. fasilitas, dan tempat tinggal telah akan tersedia. Kalian tinggal membawa diri saja dan belajar dengan sungguh- sungguh." Jawab Afnan.
"Kami mengaku kalah dan akan menepati perjanjian itu."
"Bagus. Kalau begitu, malam ini Kalian boleh bubar, besok untuk yang Muslim saya tunggu di pesantren, untuk yang non muslim, bisa ikut ke pesantren. Kami akan menyediakan ahli spiritual dari Agama kalian, dan mereka akan membimbing kalian di tempat yang sesuai dengan ajaran kalia." Ujar Ubaydillah.
"Terima kasih Ustadz!" ucap mereka sembari meringis.
Para Anak-anak labil itu membubarkan diri. Tidak dengan yang telah melukai Hasna, yang membawa senjata tajam serta terduga penyusup sebagai provokator. Mereka di bawa ke kantor polisi untuk di periksa lebih lanjut.
"By!naf-fas Na-na, se-sak! Akh! Allah-hu-a-akbar," ucap Hasna lirih di telinga Afnan. Kemudian Hasna tidak sadarkan diri.
"Sayang!" Afnan menggendong Hasna dengan wajah tenang. Walaupun di dalam hatinya merasa cemas. Afnan hanya sedang berusaha tabah dan ikhlas dalam mengahadapi cobaan ini.
"Nana!"
"Dek, Nana!"
Lintang dan Elyavira berlarian menghampiri Hasna yang sudah tidak sadarkan diri.
"Astagfirullah, Nana kenapa A'a Ustadz?" tanya Lintang.
"Dek, Nana SubhanAllah, sadar Dek!" Elyavira menangis.
"Kena hantaman papan. tadi sempat memuntahkan darah, mengeluh sesak nafas. Tenang saja! Insya Allah, Nana akan baik-baik saja. Ana akan segera membawanya ke rumah sakit." final Afnan.
Akhirnya Afnan cepat membawa Hasna ke rumah sakit. Ubaydillah dan yang lainnya menyusul.
Setelah sampai di rumah sakit, Hasna segera mendapatkan perawatan
"Tidak apa-apa Pak! Alhamdulillah, itu hanya guncangan keras dari pukulan hingga memuntahkan darah. Oleh sebab itu Istri Anda mengalami sesak di dadanya. Untuk saat ini kami sudah memberikan penanganan terbaik. Nanti akan kita lihat setelah sadar, keluhan apa yang Istri Anda rasa." Ujar dokter.
"Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih dok!"
Satu jam kemudian Hasna sadar. "Sayang! kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Afnan.
"Alhamdulillah, rasanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja ingin di peluk Byby!" Hasna tersenyum malu-malu.
"Pelukanku untuk mu, Sayang! setelah dokter memeriksa mu kembali." ucap Afnan dengan tersenyum dan mengecup kening Hasna.
"Baik Byby, Sayang!"
Afnan memanggil dokter agar Hasna di periksa kembali. Dan hasilnya Alhamdulillah Hasna baik-baik saja, hanya perlu perawatan untuk memar dan menetralkan kembali nafasnya.
Ubaydillah, Lintang dan yang lainnya segera pulang setelah mengetahui jika Hasna baik-baik saja. Kini tinggallah Afnan dan Hasna di ruangan perawatan VVIP tersebut. Dengan Hasna tidur nyaman dalam pelukan Afnan di atas berangkar rumah sakit.
"Tidurlah, Sayang! Aku akan memeluk mu tanpa merasa bosan. Terima kasih telah hadir di dalam hidupku. Menjadi warna indah di dalam duniaku. Walaupun berkali-kali kau membuat aku terpedaya hingga menahan sabar lebih berat daripada menahan ujian. Namun, kesalahan yang kamu perbuat, terkadang membawa hal positif pada akhirnya. Love you Hasna Aulia Zaharni. Aku akan selalu siap menerima kesalahanmu. Kesalahan yang menurut ku, selalu berakhir dengan indah!"
Bersambung...
__ADS_1