Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
38. Khitan Masal.


__ADS_3

"kata A'a Kha, ia ingin di khitan Biy," tiba-tiba saja Afsha menyelak dengan sebuah jawaban, harus nya Afkha yang mengatakan nya.


"Yah Dedek, koq kamu yang jawab sih! gagal deh kejutan nya," protes Afkha yang membuat Afsha akhir nya menyembunyikan wajah di dada beton Afnan, karena saat itu posisi nya berada dan duduk dalam pangkuan Afnan.


"Khitan?!"


ucap serempak mereka. Pasalnya Afkha enggan di khitan. Pernah hendak di khitan, namun baru tahap pembicaraan saja, ia sudah menghilang. Ternyata bersembunyi di antara asrama putra.


"Hehe, jadi sekarang A'a sudah berani di khitan?" tanya Afnan kembali dan di anggukan kepala oleh Afkha.


"Tentu Biy! A'a kan sudah becal!" jawab Afkha. Terlihat begitu tenang dan kharismatik.


"Masya Allah! di fikir hendak bicara apa, ya sudah! kapan A'a hendak di khitan?" tanya Pak Kyai.


"Ingin secepatnya Abba. A'a mau belajay menjadi Imam dan tauciah. Talau beyum di khitan A'a macihlah Anak-anak." Jawab Afkha terdengar sebuah kemantapan.


Umi dan Hasna saling pandang. "Masya Allah, jagoan Mimma dan Biyya mulia sekali keinginan mu Nak!" Hasna menghampiri Afkha dan memeluk nya.


"A'a sabar yah! kami harus rempugan terledih dahulu, untuk mencari waktu. Kami harus memberitahukan kepada sanak keluarga lain nya, kalau A'a hendak di khitan. Agar A'a banyak yang mendoakan." Ucap lembut Umi seraya mengelus bahu Afkha yang tengah di peluk Hasna.


"Kapan itu Umma?" tanya Afkha, rupanya ia tidak sabar ingin segera di khitan.


"Tidak lama koq, Insya Allah dalam beberapa hari kedepan. Masih dapat bersabar kan?" tanya Pak kyai.


"Inca Allah, A'a cabay! butan kah, cecungguh nya Allah belcama olang-olang yang cabal." (Q.S Al-Baqarah :153). A'a pun inin belada dalam doyongan (golongan) olang Cabal." ucap Afkha. "Telimakasih Umma, Abba." Afkha kembali berbicara.


"Masya Allah." ucap kekaguman mereka,dengan apa yang Afkha ucapkan.


"Sama-sama Nak!" ujar lembut pak Kyai. "Terima kasih kembali sayang," Umi ikut membalas.


"Abang mau di khitan juga?" tanya Umi pada Arsya. "Iihh celem Umma," Arsya bergidik ngeri.


"A'a hendak di khitan di mana? di klinik, rumah sakit atau tempat lain?" tanya Afnan.


"Ini yang A'a endak bicalakan. Jadi A'a ingin khitan di pecantlen namun tidak hanya A'a! dapat kah A'a minta tolong pada Biyya?" tanya Afkha.


"Silakan Nak! A'a hendak minta tolong Apa?" tanya Afnan.


"Membiayai khitan masal di pecantlen ini dengan memboyehkan ciapa caja Anak yang ingin di khitan ikut . Tadi A'a lihat, ada Anak yang menangis, katanya anak itu ingin di khitan, tapi olang tua nya belum memiliki uang. Maka A'a ingin Biyya dan Mimma menolong meleka, sekalian A'a pun ingin khitan."


"Masya Allah. Alhamdulillah A'a, Biyya bangga dengan ke shalihan hati mu Nak! Insya Allah Biyya akan membiayai Khitan masal di ponpes," Afnan berdiri dengan Afsha tetap di gendongan nya.

__ADS_1


"Biy, tidak boyeh peyuk A'a! Dedek macih yindu." Rengek Afsha saat ia menyadari Afnan bangkit bertujuan memeluk Afkha.


"Dedek sayang, tidak baik seperti ini, Biyya akan peluk A'a dan Dedek koq! A'a mari Biyya peluk," pinta Afnan dengan bujukan lembut. Namun Afkha masih dengan cool nya duduk santai bersebelahan dengan Hasna dan Umi.


Afnan menghampiri Afkha dengan menggendong Afsha, lalu ia duduk bersebelahan dengan Afkha Setelah Umi bergeser memberi ruang, Afnan merangkul Afkha. Begitupun dengan Hasna ia ikut merangkul Afkha.


Abi dan Umi ikut tersenyum. Abi Kyai duduk sambil merangkul Umi. Arsya posisi nya duduk dalam pangkuan Abi Kyai, seperti nya ia mulai mengantuk.


Ubaydillah dan Lintang tidak terlibat dalam pembicaraan malam itu, karena mereka sedang berbulan madu. Bulan madu yang kesekian kalinya.


Namun Afnan berfikir harus tetap memberitahukan Ubaydillah. Maka ia mengabarkan lewat telepon dan di sambut suara antusias kebahagiaan Ubaydillah serta Lintang di ujung telepon sana.


***


Dua Minggu kemudian.


Pagi ini, pesantren Hubbul Wathan lebih ramai dari biasanya.


Hari ini Afkha akan di khitan. Begitu pun dengan ratusan Anak lainnya yang telah berdatangan di dampingi Wali mereka. Anak-anak itu akan mengikuti Khitan masal.


"A'a sudah siap?" Afnan menanyakan kembali kesiapan Afkha. Terlihat Afkha begitu tenang.


"Incha Allah ciap Biy!" jawab Afkha. "Baik, dokter yang akan mengkhitan A'a sudah tiba, sekarang ada di rumah utama." rangkul Afnan.


"Mari ucapkan doa dulu," pinta Afnan, lalu ia menuntut Afkha untuk melafalkan nya.


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim.


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ


Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat


Artinya: "Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal shalih"


"Ingat ya A. Doa tersebut juga diucapkan oleh Rasulullah SAW, ketika beliau mendapatkan kesenangan dan berita gembira." ujar Afnan.


"Baik Biy, Insya Allah. A'a atan meninat nya!" ucap Afkha.


"Ya sudah, kita ke rumah utama! agar cepat selesai. Nanti setelah A'a selesai di khitan, barulah Anak-anak peserta khitan masal yang akan di proses." pungkas Afnan.


Afkha dan Afnan pun menuju rumah utama. Hasna sudah terlebih dahulu pergi ke rumah utama bersama Afsha dan Lintang.

__ADS_1


Sedangkan Ubaydillah sedang memantau persiapan Khitan masal di area Mesjid dan Aula. Arsya ikut serta bersama nya.


Afnan harus melakukan segala persiapan, dari mulai tempat, hadiah untuk peserta khitan masal. Memanggil beberapa dokter yang hendak mengkhitan dan juga beberapa polisi untuk melakukan penjagaan agar acara berjalan lancar dan kondusif. Polisi Imron pun ikut terlibat di dalam hal penjagaan. Setelah segala persiapan rampung, maka Afkha pun baru di khitan dua minggu dari hari pembicaraan mereka.


Di rumah utama,


"A'a tidak takut, kan sayang?" tanya Hasna yang sudah memeluk Afkha. Air mata nya tidak berhenti mengalir. Segahar nya Hasna tetap saja ia akan merasa sensitif jika berhubungan dengan Anak-anak nya. Khitan, itu pun dapat membuat orang tua meneteskan air mata haru.


"Tentu Mimma! janan thawatil A'a cudah belani dan ciap! A'a tan laki-laki, maka haluc belani." Afkha bicara penuh semangat, sembari membelai pipi Hasna dari balik niqab nya.


"Baiklah, seperti nya calon pengantin khitan nya sudah siap! maka, mari kita laksanakan saja," ucap dokter yang akan mengkhitan Afkha.


Setelah sebelumnya berdoa, untuk mohon kemudahan dan kelancaran, maka kini Afkha siap di khitan.


Afkha sudah di baringkan di atas tempat tidur kecil di ruang keluarga, banyak anggota keluarga dari pihak Umi dan juga Abi yang penasaran ingin menyaksikan. Orang tua Hasna masih dalam perjalanan.


"Aaaaa Biyya! Dedek takut! jangan melihat," rengek Afsha yang tidak mau turun dari gendongan Afnan dan bergelayut manja di sana.


"Dek! dengan Mimma yuk! Biyya hendak memangku A'a." Bujuk Hasna.


"Tidak mau!" Afsha yang biasanya tidak begitu, kini ia merangkul leher Afnan dengan erat.


"Dek! tolong jangan begini, Dedek Sha, kan pintar. Sama Abba yah! atau uncle Dev dan Aunty Elya."


"Iya Dek Sha, sini sama Uncle dan Aunty serta Nai, ke depan yuk! menemui Dek Acha dan Oom." bujuk Devano.


"Tidak mau, Dedek ingin dengan Biyya! hiks .... hiks," Afsha malah menangis dan makin erat memeluk Afnan


Semua orang berusaha ikut membujuk Afsha. Namun semua nya tidak ada yang berhasil. Termasuk Abi Kyai yang biasanya dapat menjinakkan Afsha. Akhirnya menyerah.


"Baik! sudah, tidak perlu menangis! nanti cantik nya hilang, Dedek Sha, akan tetap dengan Biyya, tenang ya sayang!" Afnan berusaha menenangkan nya.


Afsha mengangguk dalam sisa isak tangis nya. Sebagai kembaran Afkha, seperti nya Afsha merasakan ketidak nyamanan dan ketegangan, walaupun ia lain jenis. Mungkin itu ikatan batin si kembar.


Saat mereka sedang membujuk Afsha agar mau di gendong orang lain. Seseorang datang dan menyapa mereka dengan salam.


"Assalamu'alaikum!"


Mereka serempak menoleh dan membalas salam.


"Wa'alaikum salam!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2