Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
63. Herzevan Bahroynie Adipati


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat.


Akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu oleh Dias pun tiba. Di mana Roy telah bersiap mengucapkan qobul atas dirinya selepas Ashar.


Roy duduk di pembaringan dengan mengenakan pakaian putih ala pengantin pria dan peci putih berpayet. Dias di rias secara sederhana namun nampak cantik dengan gaun pengantin tertutup.



Abi Kyai menjadi salah satu saksi pernikahan. Afnan dan Ubaydillah berada di dekat mereka. Dokter dan perawat yang merawat Roy pun turut hadir karena di minta untuk hadir.


Tangan Roy di jabat oleh Papi nya Dias. Video call terhubung melalui ponsel Afnan dengan ponsel sipir penjara, akad nikah tersebut di saksikan oleh Papi Roy di dalam sel.


Sebelum nya Roy telah menelpon Papi nya, atas desakan Afnan dan Ubaydillah. Awal nya Roy menolak. Namun Afnan dan Ubaydillah menceritakan perihal si pendonor darah adalah Papi nya. Maka Roy berubah pikiran.


Ananda HERZEVAN BAHROYNIE ADIPATI bin Satya Arganta Adipati, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya MERLINDIAS ATTSAUTSHA. Dengan maskawin berupa satu buah cincin berlian, tunai."


Roy pun langsung menyambut nya;


"Saya terima nikah dan kawinnya MERLINDIAS ATTSAUTSHA. Binti Rizal


Abdillah dengan maskawin tersebut, tunai."


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.


"Sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah Hirobbal'alamin."


Akhirnya Roy dan Dias telah Sah, menjadi suami dan Istri.


Dalam kesederhanaan dan keterbatasan Roy. Suasana bahagia menguap begitu satu kata 'SAH' memenuhi ruang VVIP rumah sakit tersebut.


"Selamat Roy!" Afnan yang pertama merangkul Roy. Mengucapkan selamat serta mendoakan pernikahan mereka.


"Terima kasih Bang Ustadz."


Ucapan selamat dan doa pun mengalir dan bergantian dari Ubaydillah, Devano, Adrian, Iqbal lalu dari para orang tua. Berbagai petuah, nasihat dan juga ledekan mereka dapatkan.


***


Ba'da Isya. Kamar rawat itu hening. Para saksi, wali dan lainnya telah meninggalkan tempat itu. Kini peran Dias sebagai Istrinya nya Roy di mulai, ia akan merawat dan menemani Roy malam ini, Mami Roy di persilakan pulang untuk istirahat.


"Terima kasih, sudah memberi ku kesempatan untuk meraih pahala dari ibadah terpanjang dalam sisa hidup ini." Ucap Roy memecah keheningan dari kecanggungan yang terjadi.


"Terima kasih kembali, Abang! Iyas amat bahagia, Abang sudah mau menghalalkan ku secepat ini." Balas Dias.


Roy tersenyum memandang Dias. Begitupun Dias. "Ekhem!"


Roy terbatuk kecil. "Abang haus? mau minum?"


Roy mengangguk! Dias meraih gelas lalu menyodorkan nya kepada Roy. karena terburu- buru, air di dalam gelas sedikit tumpah mengenai lengan Roy.


"Maaf Bang!"


"Sudah, tidak mengapa."


Dias hendak menyeka air dari lengan Roy. Namun ia urungkan. Ia merasa gamang dan canggung.


"Sentuhlah! Aku sudah halal untuk kamu sentuh." Pinta Roy. Ia faham arti dari pergerakan Dias yang berhenti tiba-tiba.


"Bo-boleh Bang?" tanya Dias kembali.


"Hehe. Tentu, mau peluk juga boleh!" goda Roy. Makin membuat Dias merasa malu dengan wajah merona merah.


"Ish, Abang!" ucap malu-malu Dias.


"Sebelum halal, kelihatan nya jago betul dalam menggoda ku! hingga aku harus berjuang mempertahankan iman. Lah koq saat ini, baru ku goda begitu, sudah panas dingin!" seru Roy dengan mengekeh.


"Abang. Ikh! sudah, Aku malu ....," pekik Dias dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Perasaan nya tidak karuan saat di goda suaminya.


Roy mengekeh dengan meringis, luka jahitan pasca operasi, belum sepenuhnya kering. Jika ia banyak bergerak maka akan terasa sedikit sakit.


"Sini, tolong keringkan tangan ku. Ini basah, SAYANG."


Dag .... dug ....dag .... dug


"I-iya Abang!"


Jantung Dias berpacu dengan cepat ketika Roy memanggil nya SAYANG. Dias mengambil dua lembar tisue dengan tangan gemetar. Ia gugup dan Canggung di tambah kata SAYANG masih melekat merdu di telinga.


Mata Roy memandang wajah nya tidak berkedip. Dias menelan ludah kelu. Ketika Dias hendak menyeka air pada tangan nya. Dengan sengaja Roy menarik tangan nya hingga ke atas dadanya. Refleks Dias mengikuti tangan itu bergerak.

__ADS_1


Namun Dias yang di landa gugup, tubuh nya malah hampir terjerembab menekan dada Roy. Dias yang sadar akan menyakiti Roy jika ia jatuh di dada Roy, maka ia segera menumpukan tangan kanan nya pada paha Roy.


Posisi nya kini berhadapan dengan Roy. Tatapan mereka beradu. Canggung! itu yang terjadi.


"Ciee! malam pertama nya di rumah sakit niiih." Bisik Roy menggoda Dias. Leher Dias terasa kaku. Saat setelah nya berbisik, Roy mencuri kecupan pertamanya nya dengan cepat, ringan dan singkat.


"Astaghfirullah'aladzim."


Dias segera menguasai diri nya dengan menarik tubuh nya. Lalu ia menaruh tisue begitu saja di atas pangkuan Roy. Jantung nya terasa hampir lepas.


Roy menikmati setiap kegugupan Istri nya. Ia ingin terus menggodanya walaupun tawa Roy dengan meringis menahan sakit.


"Sayang. Kamu tidak ingin lebih dekat dengan suami mu?" tanya Roy yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur pasien. Dias yang sedang merasa nervous ia lebih memilih duduk di sofa yang bersebrangan dengan tempat tidur Roy.


Deg!


kata sayang kedua yang Roy ucapkan. Roy yang pendiam, kaku dan dingin, kini menjadi orang yang bawel, jahil dan pandai menggoda. Dias betul-betul salah tingkah bila dekat dengan Roy.


"Hemm. Maaf Abang ....! Aku takut, malu dan ....,"


"Gugup?"


Dias mengangguk. "Mari dekat dengan ku. Maaf aku malah menggoda mu. Aku janji tidak akan menggoda mu lagi, kita hanya akan saling mengenal. Bercerita dan merencanakan masa depan."


Dias nampak lega. "Baik Abang ....," ia menghampiri Roy. Dias berdiri di hadapan Roy dengan mengatur nafas nya berkali-kali. Menenangkan degup jantung nya yang tak henti bertalu.


"Boleh Aku memeluk mu?"


"Peluk?"


"Ya! di sini," Ucap Roy lirih menunjuk sisi tempat tidur nya.


Dias nampak berfikir. Namun itu keinginan suami nya. Bukan kah harus di patuhi?


"Tentu." Jawab pelan Dias.


"Naiklah! hati-hati, karena aku tidak dapat memegangi mu." Ucap Roy. Dias mengangguk. Lalu ia naik perlahan ke atas kasur Roy. Dengan hati-hati ia memundurkan tubuhnya hingga menyentuh bahu kiri Roy.


"Pelan saja. Buat dirimu nyaman dengan ku!" bisik Roy. Lagi-lagi Dias hanya mampu mengangguk. Keringat mulai membasahi piyama panjang yang ia kenakan, padahal suhu di ruangan tersebut dingin dari air conditioner central. Namun ia berusaha mencari titik ternyaman dengan merapatkan tubuhnya pada tubuh Roy bagian kiri.


Roy menarik pelan kepala Dias agar menempel pada bahunya. Dias tidak menolak. Setelah agak lama dengan saling diam, Roy membuka suara.


"Perkenalkan, Aku Herzevan Bahroynie Adipati. Panggilan Roy, Aku anak tunggal, Usia ku, dua puluh delapan tahun."


"Lalu ....?"


"Lalu ....?"


Pertanyaan yang sama dan bersamaan pula membuat keduanya tertawa. Malam itu Dias mulai terbiasa dengan Roy yang ternyata orang nya mengasyikan, hangat. Memiliki sifat humoris dan penyayang. Mereka mengobrol tentang apa saja.


***


Di ponpes Hubbul Wathan.


"A'a Bro! lihat apa yang Ana dapatkan." Ubaydillah menunjukan layar ponsel nya.


"Apa itu Dek?" tanya Afnan.


"Chat! tepat nya hasil sadapan Chat dari Ayank Lilin dan Dek Nana. Mereka sedang merencanakan minggat ke rumah utama."


"Koq bisa? Ana belum paham nih." Ucap Afnan.


"Coba baca dulu A. Nanti mengerti." Pinta Ubaydillah.


"Baik!" mereka duduk di pelataran Mesjid, niat nya mereka hendak pulang setelah shalat Isya dan lalu mengobrol sebentar dengan para santri dan Guru pembimbing.


Afnan membaca isi chat Hasna dan Lintang di ponsel Ubaydillah.


"Na! Kita minggat ke rumah utama Yuk! Anak-anak alasannya kita berada di rumah utama." / Lintang.


"Loh! memang nya mengapa harus minggat segala?" / Hasna.


"Yaelah Na! lupa tadi siang Dias dan Roy Nikah? bisa jadi malam ini, para suami kita kena Sindrom pengantin baru."/ Lintang.


"Astaghfirullah! Sindrom malam pertama. Iya Lin,gue lupa. Oke deh, kebetulan gue sudah selesai shalat Isya. Berangkat sekarang yuk ke rumah utama." / Hasna.


"Oke Na!" / Litang.


Chat mereka pun berakhir.


"Hehe. Mereka lucu Dek! padahal Ana lupa loh." Ujar Afnan.


"Nah! dengan isi chat ini. Malah mengingatkan kita kan!" ujar Ubaydillah.

__ADS_1


"Hem, seperti nya...., Kamar hotel kita, sudah lama tidak ngebul Dek!"


"Betul juga A'a Bro! tidak harus dapur saja yang ngebul. Kamar hotel pun sesekali harus ngebul," sambung Ubaydillah dengan tertawa kecil. Mereka memliki tujuan dalam pemikiran nya masing-masing.


"Ok!"


Afnan bermain mata dengan Ubaydillah. Ia menaikkan kedua Alis nya dengan menyeringai. Begitupun dengan Ubaydillah, mereka seperti nya memiliki sebuah rencana untuk mengerjai Istri mereka.


Sedangkan di rumah kayu.


Setelah mengakhiri chat via WhatsApp. Hasna dan Lintang keluar dari rumah mereka dan bertemu di depan rumah.


"Lin. Izin dulu dengan suami kita," ucap Hasna.


"Izin minggat gitu?"


"Iya lah, seperti biasanya. Walaupun minggat harus izin." Jawab Hasna.


"Ok Lin! kita kirim pesan saja. Izin menemani Anak-anak di rumah utama. Paling juga nanti mereka nyusul ke sana. Abi kan tadi berangkat keluar kota. Kesempatan bagus, untuk kita tidur di kamar Umi." Ucap Hasna.


"Iya Na! akhirnya, kita dapat lepas dari sandraan mereka beserta jaring laba-laba nya." ucap Lintang.


Mereka pun tertawa sembari berjalan dengan berangkulan.


"Assalamu'alaikum Ustadzah Hasna dan Lintang." Dua santri wati menghentkan langkah mereka.


"Wa'alaikum salam." Jawab Hasna dan Lintang.


"Maaf Ustadzah. Kami berdua di utus untuk menyampaikan, bahwa Ustadz Afnan dan Ustadz Ubay tidak enak badan. Saat ini mereka ada di depan Mesjid." Ucap salah satu santri putri.


"Mereka tidak mau di antar pulang oleh siapapun. Mereka hanya ingin di jemput oleh para Istri, katanya." sambung santri putri satunya.


"Astaghfirullah! baik Ukhti, kami kesana!" Hasna nampak khawatir.


"Innalilahi Ayank!" gumam Lintang. "Mari, Ukhti." Lintang mengajak mereka bergegas untuk menemui suaminya. Ia pun tidak kalah khawatir. Rencana mereka terlupakan.


"Di mana Ukhti?" tanya Hasna.


"Loh tadi di sini," tunjuk santri putri pada ubin mesjid. Memang betul adanya.


"Ia Ustadzah, tadi ada di sini," timpal santri putri satunya.


"Apa mereka pergi ke rumah utama ya Lin?" tanya Hasna.


"Bisa jadi sih, kita ke sana Na!" ajak Lintang.


"Assalamu'alaikum Ustadzah. Ustadz Afnan dan Ustadz Ubay menunggu di dalam mobil, dekat parkiran, katanya minta di antar untuk ke klinik." Santri putra, kali ini yang menghentikan langkah mereka.


"Baik! terima kasih Akhi, Ukhti."


Hasna dan Lintang pun bergegas menuju parkiran. Dua buah mobil sudah terparkir rapi, dengan mesin menyala. Itu mobil milik Afnan dan juga mobil milik Ubaydillah.


"Mobil suami kita Na!"


"Iya Lin, cepat kita lihat."


Tanpa pikir panjang, Hasna dan Lintang pun bergegas masuk ke dalam mobil milik suami mereka.


"Astaghfirullah By! katanya tidak enak badan ya? Apa yang yang Byby rasa?" tanya Hasna begitu masuk ke dalam mobil dan Afnan sudah berada di balik kemudi.


"Byby tidak apa-apa Sayang! hanya ingin menculik Istri nya untuk berbulan madu kembali." Jawab enteng nya Afnan sembari menjalankan mobilnya.


Ubaydillah pun melakukan hal yang sama pada Lintang.


"Jadi ...., By?"


"Betul. Sayang! maaf Byby sedikit berbohong."


"Hoooo ..... Bybyyyyyyyy!!!!"


"Ya, sayang!"


"Ayaaaaaaank!!!!"


"Ya, Yank!"


"Berhenti!"


"No sayang!"


Akhirnya Hasna dan Lintang memilih pasrah, saat di culik para suami menuju hotel milik Afnan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2