
Langkah Afnan di barengi Ubaydillah. Kini penampilan keduanya nampak kacau saat sudah di luar restoran karena terlihat jelas dari sorot matahari siang.
"Wajah Anta, Jenggot nya makin hitam saja Dek!" Afnan mencoba berkelakar.
"Hehe, hitam akibat asap genit yang menempel A'a Bro! nah kaus Anta juga jadi media lukisan Abstrak A'a Bro," Ubaydillah kembali berkelakar.
"Hihi..iya juga ya! kira-kira kalau di lelang, laku atau tidak Dek? kalau laku, kan lumayan buat nambah-nambah biaya perbaikan hotel," ucap Afnan kembali dengan tawa kecil yang dipaksakan.
"Tenang saja, nanti Ana bantu lelang di internet, kalau terlelang dengan harga tinggi, kan Ana juga dapat jatah buat beli es cendol," canda balik Ubaydillah. Setidaknya Kakak Adik ini dapat saling menguatkan seperti biasanya, ketika sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja seperti saat ini.
"Anta, masih dapat menyetir tidak DeK? kalau tidak, kita minta di antar Polisi Imron saja! sepertinya tugasnya sudah selesai," tanya Afnan.
"Tangan Ana yang sebelah kiri Linu, kalau bergerak reflek. Apalagi mengemudi yang harus bergerak lebih banyak," jawab Ubaydillah.
"Kepala Ana juga pusing, apalagi lukanya, masih mengeluarkan berdarah!" seru Afnan pelan.
"Fix, kita minta tolong pada Polisi Imron. Untuk penjagaan di restoran dan hotel, nanti Ana libatkan security ponpes dan harus ada polisi juga sepertinya A, kita kan tidak tahu jika si pelaku akan kembali." Pendapat Ubaydillah.
"Baiklah, ide yang bagus Dek! Nanti kita bicarakan kembali dengan Polisi Imron, kita perlu menenangkan diri dulu. Sebetulnya Ana masih agak syok dengan kejadian ini. Kira-kira siapa pelakunya dan motifnya apa yah?" ucap Afnan sembari nampak berfikir.
"Humm, iya A'a Bro! Ana juga masih sedikit Syok, ya sudah nanti kita selidiki bersama. Sekarang bagaimana caranya hotel dan restoran secepatnya beroperasi. Karena kasihan para pekerja kalau kelamaan nganggur," ujar Ubaydillah.
"Ia Dek. Mari temui polisi Imron dahulu. Besok pagi kita adakan meeting," ujar Afnan.
"Baik, A'a Bro! mari." Ubaydillah mengiyakan.
"Assalamualaikum, Akhi." Sapa Afnan pada polisi Imron yang berdiri membelakangi nya karena sedang berbincang dengan polisi lainnya.
"Wa'alaikumsalam, Eh Ustadz. Dek Ubay! Semua masih dalam penyelidikan, saat ini dan untuk beberapa hari kedepan, lobby hotel akan di pasang police line dulu Ustadz," ucap polisi Imron.
"Lakukan menurut prosedur, kami sih mengikuti saja," tukas Afnan.
"Baik! Ustadz butuh bantuan?" tanya Polisi Imron. Seperti nya polisi Imron faham dengan Afnan yang hendak meminta bantuan nya.
"Hehe, ya mau merepotkan! minta di antar pulang ke rumah kecil." Jawa Afnan.
"Ustadz, kayak sama siapa aja. Gak merasa di repotkan! mari, mobil nya di luar area parkir." Ajak polisi Imron.
Mereka pun berlalu dari area hotel menuju mobil Polisi Imron yang terparkir di luar pagar hotel.
***
Di kampus Hasna,
Lintang baru saja menerima telepon dari Ubaydillah. Ubaydillah hanya menyuruh Lintang dan Hasna pulang cepat dan harus ke rumah kecil.
Lintang Sudah faham, jika Ubaydillah menelpon dengan bahasa yang kaku, berarti sedang ada masalah.
Lintang menghampiri Hasna yang sedang berkumpul dengan komunitas kelas nya.
"Na! masih ada pelajaran, atau tidak?" tanya Lintang.
"Tidak Lin, tapi mau ada meeting sebentar dengan team Proyek dosen. Memang nya kenapa?" tanya Hasna.
"Bisa di undur gak tuh meeting?" tanya Lintang.
"Mmmm... seperti nya gak bisa, sudah deadline banget soalnya, proyek sudah mau mulai, tapi perencanaan belum matang." Tutur Hasna.
"Haddeeehhh! lo keterlaluan sibuk sih, makanya jangan ngeborong kegiatan kenapa, Neng!" cibir Lintang.
"Biar kelihatan sibuk aja! daripada sibuk menghabiskan uang Usatdz dengan shoping gak jelas." Hasna menyeringai. "Eh, ada apa sih? koq, seperti nya serius?" tanya Hasna pada akhirnya.
"Ayank Davi menelpon. Menyuruh kita pulang cepat dan harus pulang ke rumah kecil. A'a Ustadz pun sempat berbicara agar kita pulang cepat. Dari suaranya sih, seperti nya mereka sedang tidak baik-baik saja Na!" jawab Lintang.
__ADS_1
"Ada apa yah?" gumam Hasna. "Sebentar deh Lin. Coba tanya ke Kak Atin, Halifah dan Rissa. Mereka bisa gak yah mewakili gue untuk meeting?!" ujar Hasna.
"Ya sudah, jangan lama ya. Gue tunggu di parkiran." ucap Lintang.
"Ok! nanti secepat nya gue nyusul ke parkiran." Hasna pun segera menghampiri satu komunitas nya.
"Ok!" Lintang berlalu ke area parkir.
"Kak Atin, Halifah, Ris! Aku ada hal mendesak, jadi harus secepatnya pulang. Kalian bisa tolong wakilin Aku untuk meeting?" tanya Hasna dengan wajah penuh harap di dalam niqab nya.
"Bagaimana?" tanya Atin. Halifah dan Rissa pun saling pandang.
"Please!"
Tring!
Sebelum Atin, Halifah dan Rissa memberikan keputusan, dan di saat Hasna sedang memelas dengan kedua telapak tangan di katupkan. Notifikasi di ponsel Hasna berbunyi. Itu adalah kiriman di grup restoran.
"Astaghfirullah'aladzim." Pekik Hasna ketika ia buka aplikasi WhatsApp dan gambar pertama yang ia buka keadaan Afnan yang terluka. Lalu photo suasana kericuhan di hotel karena panik, api dan asap terlihat memenuhi lobby.
"Ada apa?" tanya Atin, Halifah dan Rissa dengan bersamaan.
"Hal gawat terjadi di perusahaan keluarga ku!" jawab Hasna.
"Oh, kalau begitu pulang lah Na! kami siap gantiin kamu meeting." Cetus ketiga nya.
"Alhamdulillah, hatur nuhun! kalian memang orang-orang baik dan bersahabat." Ujar Hasna.
"Karena kamu juga orang baik Na!" Puji balik mereka.
"Uunncch, terima kasih." Mereka saling berpelukan.
"Ok, aku pergi, sekali lagi terima kasih. Lain kali kalau sudah ada waktu luang, Aku teraktir makan," Ucap Hasna sembari mulai berjalan perlahan.
"Aamiin. Bye! Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam."
Hasna pun bergegas pergi ke parkiran untuk menghampiri Lintang.
"Kunci mobil!" todong Lintang dengan menyodorkan telapak tangan kanan nya ketika Hasna tepat berada di hadapan nya.
"Gak!"
"Nana! gue tahu, lo pasti sudah baca pesan di grup anak-anak resto kan?" tanya Lintang.
"Sudah! memang kenapa dan apa hubungannya dengan kunci mobil?" tanya Hasna, pura-pura tidak tahu jalan fikiran Lintang.
"Iikh Nana! pasti lo akan kesetanan bawa mobil nya. Terlebih kekasih lo sedang terluka." pekik Lintang.
"Pasti lah, biar cepat sampai!" balas Hasna dengan enteng nya.
"Nana! sini, gue aja yang bawa!" Lintang mau merebut kunci mobil.
"Ikh apaan sih Lin. Parnoan banget!" bantah Hasna dengan menyembunyikan kunci mobil yang sedang ia genggam.
Maka tarik menarik dan senggol menyenggol pun terjadi. Sumber masalah nya kunci mobil. Hasna dan Lintang tidak mau mengalah.
Memang terkadang keegoisan dua sahabat yang sudah ipar-iparan dan Mak-mak muda labil shalihah itu memang kerap terjadi di saat satu sama lain merasa ingin saling melindungi.
Tujuan Lintang, menginginkan kunci mobil tersebut agar tidak di bawa ngebut oleh Hasna dan Hasna bersikeras tidak mau memberikan Karena memang ia hendak ngebut agar cepat sampai untuk melihat keadaan Afnan.
"Ekhem!"
__ADS_1
Sebuah deheman, sukses menghentikan aksi senggol tarik antara Hasna dan Lintang. Dengan Lintang akhirnya mendapatkan kunci mobil tersebut ketika Hasna menoleh dan lengah.
"Eehh Mrs. Chici. Assalamu'alaikum!" sapa Hasna dan Lintang dengan senyum hambar.
"Wa'alaikum salam! sedang apa kalian? berantem ya?" tebak nya dengan tatapan mata menojolok ke arah Hasna dan Lintang dari balik kacamata yang bertengger di ujung hidung.
"Heee ... tidak Koq Mrs. Chi. Kami. sedang ...."
"Mau pergi .... ia sedang, mau pergi! heeee .... Adik ku! kamu yang bawa mobil yah." seringai Hasna di balik niqab, memotong cepat perkataan Lintang dan mendorong pelan Lintang mengarah ke tempat kemudi.
"Baiklah, hati-hati kalian dalam mengemudi!" seru Mrs. Chichi dengan suara berat khas nya. Mrs. Chici adalah Salah satu dosen wanita yang berkutat di bidang Ilmu filsafat Islam, ia cukup killer dan di segani para mahasiswa dan mahasiswi.
"Insya Allah. Terima kasih Mrs.Chici. Wassalamu'alaikum." ucap Hasna dan Lintang lalu masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumussalam."
Hasna dan Lintang pun bergegas meninggalkan pelataran parkir tersebut.
"Bahagia Lo yah! bisa merebut kunci dari gue!" ucap Hasna ketika sudah dalam perjalanan.
"Iya dong! seenggaknya rasa was-was gue gak double. Rasa was-was mikirin suami, rasa was-was karena di bawa ngebut. Sabar ya Nana chayank! gue pun khawatir dengan Ayank Davi." ucap Lintang.
"Iya Lin. Ma'afkan gue ya!" ujar Hasna dengan memeluk Lintang dari samping.
"Gue pun. Ma'afkan gue yah, tadi sudah agak kasar sama Lo!"
"Sudah gak aneh! Mak Mak Bar bar Hobby seriosa,"
"Nana! jangan mulai!"
"Heeee.... piss!"
***
Di tempat lain nya. Tepat nya di kediaman Adrian dan Angela.
Angela baru saja menerima sebuah paket yang di bawa Art nya dari lantai bawah.
"Non Angel, ada paket!" ucap Art nya yang baru naik dan berpapasan dengan Angela yang baru keluar kamar dan hendak turun ke lantai bawah.
"Lokh. Paket apa Mbak? Aku tidak merasa memesan paket apapun?" tanya Angela.
"Kurang faham Non!" Art nya menyerahkan kotak paket berukuran sedang tersebut.
"Terima kasih Mbak!" seru Angela dengan tersenyum.
"Sama-sama. Mbak kembali ke bawah yah!" pamit sang Art.
"Silakan Mbak."
Angela pun duduk di sofa yang tidak jauh dari tangga. Ia coba mengamati kotak yang entah apa isinya. Alamat yang tertera betul atas nama nya. Namun si pengirim tidak tercantum.
"Hemm," Angela menghela nafas pelan. Lalu karena penasaran dengan isi kotak paket itu, maka ia pun membuka nya.
"Astaghfirullah'aladzim."
"Aaaaaaaa." Angela berteriak ketika ia melihat isi kotak tersebut. Saking terkejutnya Angela pun hingga tidak sadarkan diri.
"Non Angel." Art nya yang mendengar Angela berteriak pun, ia segera berlari menuju lantai atas.
"Non Angel, kenapa? ada apa? Non bangun! Non!" pekik Art nya berusaha menyadarkan Angela yang sudah tidak sadarkan diri.
Bersambung ....
__ADS_1