Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
66. Tsuiso Battle (Tandem)


__ADS_3

Hasna dengan tenang nya mulai mengoper persneling dan juga menginjak pedal gas secara perlahan namun pasti.


"Na! lo masih bisa berhenti sebetulnya," bujuk Lintang dengan suara lembut nya.


"Masih Lin! tapi gue gak mau, gimana dong!" balas Hasna dengan santai dan mulai menambahkan kecepatan laju mobil milik Lintang.


"Nanaaaaa! ini mobil gue. Gue berhak melarang elo buat balapan. Apalagi balapan liar lagi." Sarkas Lintang pada akhirnya.


"Iya gue tahu ini mobil Lo. Tapi sekarang berada di dalam kendali gue. Ouwss tuh kan kegeser. Lo pegangan saja deh jangan bawel. gue ke geser dua mobil nih."


Pada akhirnya Lintang hanya diam. Hasna sudah tidak dapat di bujuk lagi. Bahkan kini ketegangan mulai nampak pada gestur tubuh Hasna yang duduk tegap di bangku nya. Ia tergeser kebelakang oleh dua mobil sekaligus.


Hasna memutar otak agar dapat mengejar ketinggalan nya. Mobil yang ia kemudikan bukan mobil sport milik nya yang banyak alat canggih tersembunyi, untuk kecepatan dan sebagainya.


Terlebih Afnan yang begitu mencurahkan kasih sayang terhadap Hasna tanpa batasan, akan selalu kena bujuk rayu Hasna agar memodifikasi mobil nya dengan onderdil canggih yang tidak murah.


Hasna tersenyum senang, setelah nya melirik ke arah Lintang. Gelagat aneh Hasna membuat Lintang waspada.


"Bismillah!"


Seiring ucap Basmalah. Hasna menggeber mobil Lintang di kecepatan seratus, mengecoh lawan nya dengan pura pura hendak menyerempetkan mobil tersebut.


"Nana! jangan gila, mobil baru gue!"


"Santuy Lin. Lebih baik lo jadi navigator gue aja. Arahkan Map di jalan ini. Gue gak terlalu hafal Medan nya." Pinta Hasna.


"Ck! iya iya."


Dengan rasa kesal. Lintang pun menuruti Hasna. Ia mebuka Map pada kawasan tersebut.


"Di mana titik finish nya, Lin?" tanya Hasna. Pandangan nya masih pokus pada aspal dan beberapa mobil berandal liar di depan nya.


"Mana gue tahu! lo yang ikut balapan." Ketus Lintang.


"Cieee Ayank Lilin ngambek!" ledek Hasna, ia melirik sebentar ke arah kiri nya yaitu pada Lintang.


"Berisik! gue bakal ngadu ke A'a Ustadz. Lihat saja!"


"Ciaa mulai baper dasar Mak Mak."


"Lo sendiri apa?"


"Hehe .... Samma! pegangan Lin, gue mau nyalip yang hitam itu." Pinta Hasna, dan tanpa persetujuan Lintang. Hasna mulai memainkan pedal gas dan juga pedal rem.


Hasna berhasil menyalip mobil hitam di depan nya dengan mudah, si pengendara mobil hitam sampai menggebrak stir nya karena kesal tersalip mobil merah yang nampak asing.


"Mobil nya, koq asing? gue baru lihat Bray! lo tau gak mobil siapa?" tanya si pengemudi.


"Masa sih? gak! gue juga gak tahu siapa Drifter nya (pelaku balapan/Rider). Drifter baru mungkin!" jawab teman di sebelah nya.


"Kalau ada drifter liar baru, pasti ada informasi nya. Atau gue gak tahu yah." sambung si pengemudi tersebut.


"Entahlah!" balas teman yang tengah duduk di sebelah nya.


Sedangkan di depan Sana. Nampak dalam pandangan Hasna ada tiga mobil lagi yang harus Hasna lewati agar ia masuk di garis finish pertama. Walaupun garis finish nya belum Hasna ketahui, karena Hasna hanya mengandalkan feeling nya saja.


"Di depan, putaran Na." Ujar Lintang yang menatap Map pada layar datar di hadapan nya yang menempel di dashboard mobil.


"Ok! thanks Lilin Chayank, akhir nya lo mau bekerjasama." Tanggapan santai Hasna. Seperti nya ia sudah menemukan celah untuk mendahului mobil putih di depannya.


"Astaghfirullah! baru sadar!"


"Ada apa Na?" tanya Lintang yang melihat Hasna mendadak panik.

__ADS_1


Hasna menelan ludah nya kelu. Kini jelas semuanya. "Satu tiang." Ucap nya lagi.


Ia melihat tanda jarak antara tiang listrik sebagai patokan hitungan panjang trek. Hasna mulai faham, bahwa balapan yang ia ikuti secara ilegal itu akan berakhir setelah beberapa putaran.


"Balapan dengan beberapa kali putaran ya Na?" tanya Lintang.


"Seperti nya." Jawab Hasna dengan mengangguk lesu.


"Semangat Nana!" pekik Lintang tepat di telinga Hasna. Hasna tahu itu sebuah ledekan kepuasan dari Lintang.


Namun Hasna tetap teguh pada pendirian nya. Sudah terlanjur berbaur di arena trek, maka tekad bulat nya ia harus menang! Kini tugas Hasna harus menyalip mobil kuning dan mobil orange yang tadi mendahului nya ketika awal balapan. Hasna seperti nya sudah menemukan cara untuk mendahului mereka.


Hasna mulai ber Slipstream mengikuti pembalap lain yang berada satu baris dan garis di depannya. Nanti nya ia akan memanfaatkan aliran udara di sekitar untuk mendapatkan momentum menyalip lawan nya.


Tepat di tikungan Hasna mendapatkan kesempatan untuk mendahului lawan nya. Momentum yang bagus. Dua mobil sekaligus ia dapat lewati.


Taktik Late Braking Hasna gunakan dan juga di padukan dengan teknik power slide ketika mencapai lawan, karena kondisi tenaga mobil Lintang yang nge-pas. Maka ketika masuk tikungan dan pindah gigi serta pedal gas diinjak dalam-dalam maka di dapatlah ekstra tenaga sehingga mobil mengalami oversteer( Roda tidak berbelok tapi bodi bergeser).


Tidak sulit Bagi Hasna berteknik Late breaking dan juga power slide. Ia mampu mendahului lawan balap nya dengan cara mengerem lebih lambat dari mobil di depan nya, yang akan ia dahului. Terdengar decitan antara kopling dan juga rem serta gas yang berpadu sempurna. Akhirnya Hasna melesat kencang dengan mudah, meninggalkan mobil yang baru saja ia dahului.


Nada peringatan dari suara elektrik pada Map yang sedang di gunakan terdengar nyaring memecah kesunyian antara Lintang dan Hasna.


Hasna memanfaatkan suara elektrik tersebut untuk menggunakan insting nya berapa kecepatan yang harus ia tambah atau kurang. Berapa jarak harus ia lalui dan di mana ia harus berbelok atau lurus, yang terpenting kini medan balap yang mulai ia kuasai.


Waktu pun terasa cepat berlalu, dua puluh lima menit telah terlewati oleh Hasna, ia mengejar dan terkejar pebalap lain nya. Saling menyalip dan berusaha mengalahkan.


Kini Hasna sedang menyesali keegoisan nya. Betapa tidak, Hasna terkecoh oleh pemikiran nya sendiri. Ia tidak menyangka jika pemikiran serta perkiraan nya meleset. Awalnya Hasna mengira balapan itu akan lurus pada satu jalur dan satu titik finish tanpa putaran. Namun kenyataannya, titik finish ada di titik strat, balapan di atur dengan putaran. Dan apesnya Hasna tidak tahu berapa putaran harus ia lewati.


Kemenangan bagi Lintang, Kini ia malah sedang tertawa terpingkal dalam kecemasan yang ia sembunyikan karena kegilaan Hasna menekan pedal gas.


Yang membuat Lintang tertawa itu karena ia merasa lucu mendengar Hasna sedang merengek manja kepada Allah dan juga Nabi Muhammad di tengah kecepatan mobil dan juga permainan kopling, rem serta gas. Seakan akan Hasna sedang berdoa di atas sajadah.


"Ya Allah, Ya Rassullulah. Maafkan Nana! Nana tidak melihat jam tadi ketika hendak berbuat kesalahan. Ampuni Nana ya Allah, ya Rasulullah. Nana khilaf lagi. Sisakan umur Hamba untuk mengejar waktu Maghrib yang telah terlewat ya Rabb." Doa Hasna yang terdengar seperti celotehan.


Ya, pada putaran ke empat, Adzan Maghrib terdengar berkumandang dan kini waktu Magrib sudah terlewat beberapa menit. Berbeda dengan Lintang yang memang sedang menstruasi, maka ia hanya bershalawat saja di dalam hati nya.


Hasna begitu sumringah! ia mulai bersemangat kembali demi untuk meraih Finish pertama dan juga mengejar waktu Shalat nya yang sudah tertinggal beberapa menit.


"Satu putaran lagi Lin. Mobil Ferarri di depan itu kayak nya bakal susah di taklukan. lima puluh meter sebelum garis finish gue harus menggunting (mendahului secara tajam) nya. Lo siap-siap, pejamkan mata saja Lin." Ujar Hasna. Lintang hanya mengangguk.


Telepon Hasna di dalam tas beberapa kali berdering. Namun karena di silent, maka Hasna tidak mendengar nya.


**


Pesantren Hubbul Wathan.


"Sob! Lilin sudah dapat di hubungi?" Afnan sudah berulang kali menghubungi Hasna dan juga berkirim pesan. Namun Hasna tidak menjawab atau membalas telepon nya.


"Belum A'a Bro!" Begitu pun dengan Ubaydillah, ia pun melakukan hal yang sama. Namun Lintang pun tidak menjawab panggilan nya.


"Kalau begitu mereka kemana? koq hingga saat ini belum kembali." Terdengar nada Khawatir dari Afnan.


"Iya, tidak seperti biasanya. Tadi, Neng Lilin bilang, sebelum Maghrib akan sampai ponpes." Ujar Ubaydillah dengan mengernyitkan dahi, berfikir beberapa kemungkinan.


Afnan dan Ubaydillah pun memutuskan untuk pergi ke rumah utama, sembari menunggu Adzan Isya dan juga para Istri mereka.


Di area balapan.


Bismillah!


Hasna sudah mulai melakukan beberapa tekhnik untuk mendahului mobil Ferrari di depan nya.


"Cuy! mobil merah di belakang, kayak nya mau nyalip kita." ucap teman si pengemudi yang menyadari mobil di belakang nya sedang berusaha mendahului mereka dan akan nyolong finish yang tinggal beberapa puluh meter lagi.

__ADS_1


"Itu mobil yang tadi kan? yang lo potret kolomer nya?" tanya si pengemudi.


"Seperti nya. Wah wah wah, lo yang gak ada obatnya mau di gibas. ahahah ada ada aja."


"Ahahah, mereka pikir mampu! Waaah, penasaran tampang Rider nya." ucap si pengemudi kemudian setelah tertawa.


"Seperti nya perempuan Cuy! atau gue salah lihat ya?"


"Seriusan lo?"


"Entahlah, salah lihat mungkin."


Hasna masih berusaha untuk mendahului Ferrari di depan nya. Dua kali percobaan Overtaking, ( pembalap satu menyalip pembalap lainnya, baik di tikungan ataupun di jalur lurus.) namun gagal. "Argh!"


"Sabar Na .... sabar! Ingat yang selalu di katakan A'a Ustadz. Bahwa kesabaran adalah---"


"Sabar adalah kunci pembuka surga. Sabar adalah obat mujarab kesedihan. Murung dan bersedih adalah separuh penyakit, sikap tenang itu separuh obat, dan sabar adalah langkah pertama penyembuhan. Dan puncaknya, Allah Ta'ala selalu bersama dengan orang-orang yang sabar dan diberinya pahala tanpa batas. Sabar juga adalah kunci kesuksesan/ keberhasilan. Itu kan?" Hasna menyelak kata-kata Lintang dengan cepat.


"Yups!" balas Lintang dengan menyeringai.


"Hemmm ... Huuuh! Let's Hasna!" Hasna berbicara sendiri dengan cara menambahkan semangat nya. Hitungan yang matang dari Hasna, ia bermanuver dengan kecepatan yang di buat-buat untuk mendekati lawan drifter liar di depan nya. teknik menggantung kopling. Memainkan rem da gas. Akhirnya dengan satu hentakan saat tenaga mobil Lintang di rasa cukup untuk menjangkau lawan di depan nya. Ia melesat mendahului lawannya.


Untuk beberapa detik nampak lah posisi tsuiso battle (tandem)  yaitu merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu dan paling seru serta menarik pada detik terakhir menuju finish yang telah lama tidak para berandal liar itu lihat. Karena baru kali ini ada yang mampu mengalahkan Drifter liar Ferrari tersebut.


Nampak dua drifter seperti dilepas berbarengan di satu trek untuk beradu aksi dan keindahan ngedrift. Namun detik berikutnya mobil merah lah yang lepas dan masuk ke garis finish terlebih dahulu.


Sorak Sorai para berandal liar pun menggema. Ada yang kagum, ada yang kesal, ada juga yang bangung. Mereka bertanya-tanya, mobil siapakah itu? Siapa drifter nya?


"Oh ****! gak gak gak. Gilaaa gue di pecundangi. Gue yakin tadi itu perempuan!" Teriak driftrer liar Ferrari yang baru saja di kalahkan Hasna.


Betapa tidak merasa kesal. Mobil sekelas City Car nampak santai mengedipkan lampu sebanyak dua kali sebagai tanda permisi dan menyalakan dua lampu Hazard sebagai tanda terima kasih yang membuat nya cukup speechless sebelum pada akhirnya mobil city car merah itu masuk dan melewati garis finish dengan santai nya.


Di sisi lain.


"Alhamdulillah...."


"Nana lo masuk finish pertama. Lo menang Na!"


"Ia Lin, gue menang. Kita menang!!" pekik kegirangan dari Hasna dan Lintang.


**


"Ekhem ...."


"Hoooo, Nana! itu Pasti A'a Ustadz dan Ayang Davi."


"Hooh Lin."


Suara deheman sontak membuat keduanya terkejut, ketika tengah mengendap keluar dari garasi dan hendak menuju rumah utama, setelah memarkirkan mobil milik Lintang.


"Assalamu'alaikum!" (dua suara laki-laki bersamaan).


"Dari mana kalian, pukul segini baru tiba?" betul saja itu suara Afnan.


"Sayang tolong berbalik!" pinta Afnan kemudian.


"Yank! balik badan dan jawab!" Ubaydillah terdengar mengintimidasi Lintang.


"Heeee, Byby sayaaang! Wa'alaikum salam."


"Uumm, Ayank Davii! Wa'alaikum salam juga."


Hasna dan Lintang balik badan dengan senyuman semanis mungkin yang di buat buat, bagai ketumpahan gula Berton ton, saking manisnya Bikin diabetes para Suami.

__ADS_1


Uhuk! Thor bengek nih ke gep duo Ustadz ganteng. Eh salah! itu Nana and Lilin, kaboooorr!!!


Bersambung dulu bye, Wassalamu'alaikum.....


__ADS_2