
"Dek! tolong bawa A'a ke rumah sakit!" pekik Afnan kepada Ubaydillah.
"Ada apa A?" tanpa memperdulikan keadaan di dalam yang mulai bergaduh. Ubaydillah dengan segera menghampiri Afnan.
Tembakan tadi dari paman nya Roy yang baru saja keluar dari dalam persembunyian nya. Bernegosiasi dengan Roy. Namun Roy menolak memberikan semua aset milik nya.
"Jangan berbelit-belit keponakan ku tercinta. Agar masalah ini cepat selesai. Berikan saja semua aset yang ada di tangan mu!"
"Itu yang ku miliki!" ucap Roy dingin.
"Bohong!"
Paman Roy membidik nya. Namun Roy melawan nya, ia mendepak dengan cekatan, tangan Paman nya yang sedang memegang pistol dengan ujung tongkat yang ia kenakan dan kini hanya sebelah saja. Pistol pun terpelanting dan jatuh ke sisi meja. Posisi mereka sama-sama berdiri. Roy segera mundur.
"Sudah berani melawan ku, rupanya. Ahahaha itu senjata dan jurus baru mu? mana taekwondo mu, mana karate mu, sudah tidak berfungsi sebab karatan rupanya?" ledek Paman Roy. Lalu ia mengambil pistol anak buah nya yang baru saja datang bersama nya. Tanpa aba-aba, Ia menembak ke arah Roy, namun hanya ancaman. Karena tembakan nya meleset dan mengenai pot bunga.
"Dada A'a Kha, berdarah! Ana tahu, di bagian punggung pun seperti nya sakit. kepala belakang dan kening nya berdarah. Anta dan Dev bawa A'a Kha ke rumah sakit. Telepon Nana dan yang lainnya. Agar mereka menyusul ke rumah sakit!" ujar Afnan.
"Lalu, A'a bro sendiri?" tanya Ubaydillah nampak khawatir.
"Ana hendak membantu Roy di sini. Seperti nya, paman nya masih menginginkan yang lain."
"Cepat Dek! nyawa Anak ku memang ada di tangan Allah. Akan tetapi, manusia diwajibkan ikhtiar, mencari sebuah solusi untuk kesembuhan." ucap lirih Afnan, ia melihat Afkha bergeming di dalam pangkuan nya.
"Insya Allah A'a bro! Ana akan mengusahakan yang terbaik untuk A'a Kha." Ucap tegas Ubaydillah dengan meraih Afkha pelan. Ia menggendong nya dengan posisi membopong bagian depan tubuh nya.
Ubaydillah dapat merasakan darah merembes dari balik baju koko bagian depan yang Afkha kenakan. Afnan mengecup dalam kening Afkha yang berdarah. Hingga kini darah nya pun menempel di bibir Afnan.
"Sehat ya sayang." Kemudian Afnan melafalkan doa ketika anak sakit, berbisik tepat di telinga Afkha, Setelah nya mengecup ubun-ubun Afkha. "As'alullahal azhima rabbal 'arsyil 'azhimi an yassfiyaka. Arti: Aku memohon kepada Allah Yang Agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkan mu." (HR: Abu Dawud dan At Tirmidzi).
"Allahummasyfi ADZRAFFA KHAYRU AL-JARIS.
Allahummasyfi ADZRAFFA KHAYRU AL-JARIS
Allahummasyfi ADZRAFFA KHAYRU AL-JARIS." (HR : Muslim). Arti : Ya Allah Tuhan Ku, sembuhkan ADZRAFFA KHAYRU AL-JARIS ( ganti nama orang nya baca tiga kali) Afnan kembali melafalkan doa untuk kesembuhan Afkha dengan mengecup tangan Afkha.
Afkha mengecup pipi Afnan. "A'a sayang Biyya!" bisik Afkha dengan senyuman yang melemah. Afnan hanya mengangguk dengan tersenyum karena menahan air mata.
"A! Ana pamit! A'a hati-hati!" ucap Ubaydillah. Afnan mengangguk. Setelah nya Ubaydillah bergegas ke arah mobil dengan di bayangi dua orang warga. Di tangan mereka bambu serta gear sebagai senjata. Setelah mengucapkan terima kasih, Ubaydillah dan Devano cepat menuju rumah sakit.
Anak-anak pun riuh menangis, melihat kondisi Kakak mereka terluka. "Sayang! jangan di tangisi A'a nya! A'a Kha butuh doa, bukan air mata kalian," ucap lembut Ubaydillah.
Afkha terdengar sedang bertasbih dan bershalawat dengan suara yang berbisik. Menyaksikan saudara dan saudari nya menangis. Afkha hanya tersenyum.
Setelah kepergian Ubaydillah, Afnan kembali ke dalam. Nampak Roy sedang berdiri dan di tunjuk serta di maki-maki oleh pamannya.
Roy tidak mengizinkan Polisi Imron mendekati nya.
"Kurang ajar kau ya! keponakan tidak tahu diri! sudah mengganggu tidur ku! hanya ini yang kau bawa? hah!" bentak paman Roy.
"Ambil itu! hanya itu yang ku miliki saat ini! sebetulnya Paman tidak perlu melakukan drama penculikan terhadap Anak-anak yang tidak memiliki dosa apapun. Paman bisa meminta nya langsung. Maka Aku akan menyerahkan apa yang Paman inginkan." Tegas Roy
"Ahahahahah! kau fikir, Aku sebodoh itu? Kau tidak akan menyerahkan apapun tanpa ku pancing! lalu .... mana Mami mu? mau ku buat enak, malah pura pura gila! padahal cukup merayu laki-laki hidung belang dengan body nya itu. Ku pastikan dia hidup enak kembali." Ujar paman Roy dengan ucapan kasar nya.
"Sinting! tidak akan ku biarkan, Paman memperdaya Mami demi kepentingan Paman! harta Kami sudah habis oleh kalian. Masih kurang saja. Dasar manusia tamak!" Bentak Roy tak kalah sengit.
Afnan dan polisi Imron menyaksikan sisi lain Roy. Bagi Afnan sudah tidak terkejut lagi. Ia sudah tahu latar belakang Roy.
"Ustadz?" Polisi Imron memanggil Afnan dengan berbisik. Ia memberi kode bahwa beberapa polisi sudah berada di tempat itu dan mulai berpencar mengepung tempat itu.
__ADS_1
"Ok! tunggu mereka selesai bicara!" gerakan bibir Afnan.
"Bos! ada polisi!" teriak anak buahnya dari arah luar.
"Shit! rupanya kau mau bermain main dengan ku Anak bodoh tidak tahu diri. Aku kan sudah bilang di surat kaleng yang ku kirim ke ponpes. Bawa sisa harta yang kau miliki dan Mami mu, tanpa polisi!" geram Paman Roy.
"Aahahah! kami tidak pernah menerima surat kaleng dari mu paman! Sorry, kami sudah menemukan keberadaan mu dari semalam. Makanya jadi orang jahat tuh harus cerdas! Jagan hanya menculik. Tapi mengutarakan niat dan tujuan nya belakangan mirip orang minta surat kematian. Pakai nulis surat cinta segala. Ahahah Harus nya kami menghabisi Paman dan antek antek ini dari semalam. Namun sepertinya Allah masih melindungi kalian. Menunggu agar bertaubat. Sayang nya, waktu taubat kalian malah di sia-siakan." Hardik Roy pedas dengan senyuman mengejek.
Makin panas saja telinga paman nya Roy, mendengar keponakan nya makin berani dan tidak gentar dalam menghadapi nya.
Tangan Paman Roy ber isyarat kepada anak buahnya, agar maju. Para antek nya pun maju menyerang Afnan. Tahu mau di serang, Polisi Imron mengisyaratkan agar Afnan mengikuti nya ke luar. Mereka berlari ke halaman agar perkelahian lebih leluasa.
"Anak gak tahu diri. Mati saja kau!" terdengar teriakan dari Paman Roy yang murka. Dor.... dor ...dor .... dor .....
Suara tembakan begitu memekakan telinga. Paman Roy menembak Roy tepat di Kaki dan kaki Roy nampak tertembak. Itu di luar prediksi mereka. Melihat Paman Roy menembak, karena polisi Imron masih di dekat pintu. Maka ia pun berbalik dan angkat senjata dengan menembak lengan samping Paman Roy dan itu tepat sasaran.
Dor!
Afnan sudah mulai berkelahi dengan beberapa antek paman Roy.
Wuzzz!
Wuzzz!
Buk!
bukh!
Bugh!
bugh!
Dor!
Tembakan meleset jauh. Afnan yang khawatir akan polisi Imron, ia meminta tolong kepada para warga yang dari tadi menunggu di panggil. Kini para antek paman Roy berkelahi dengan para warga.
Afnan segera masuk dan ia melepaskan tembakan nya , mengarah pada si penembak polisi Imron dan mengenai paha si penembak.
Dor!
Polisi yang mendengar suara tembakan, mereka segera masuk dengan mendobrak pintu depan dan samping. Mereka mengamankan beberapa orang penculik. Termasuk Paman Roy.
"Lepas! urusan ku dengan bocah tengil ini belum selesai!" Paman Roy memberontak dengan menuding Roy memakai telunjuk nya.
"Heh!" Roy mencibir dengan senyuman puas dari ujung bibir. Posisi nya bersandar di dinding menahan kaki nya yang mulai mati rasa. Namun ia masih tetap tersenyum sinis pada Paman nya.
"Sampai jumpa kembali Paman! bersenang-senang dan berbahagialah di penjara. Reunian dengan Papi dan Om Rengga. Masya Allah, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan," ucap Roy lantang nan sinis dengan senyuman tetap mengejek.
"Aaaaaarrrrhhhhh!" Sret .....
Dor!
Paman Roy dengan cepat meninju perut polisi yang sedang hendak memborgol nya. Ketika polisi itu terhuyung, Paman Roy, dengan lihai menarik pistol sang polisi lain, padahal lengan nya sedang terluka, lalu menembak Roy sekena nya. Sasaran empuk nya perut Roy bagian atas, karena posisi nya bersandar menghadap pada nya.
"Allahuakbar!" ucap Roy, ia luruh ke lantai dengan perlahan, tubuh belakang nya menyeret pelan dinding tempat ia bersandar. Nampak darah menempel pada dinding itu sepanjang ia lewati. Tangan kanan nya memegangi bagian perut. tepat nya antara tulang rusuk dan lambung bagian sisi.
"Roy! Astaghfirullah'aladzim." Pekik Afnan. Ia segera berlari menuju Roy setelah meminta perlindungan Polisi Imron.
Polisi lain nya segera melumpuhkan Paman Roy. dengan menembak kaki nya. Ia pun jatuh duduk di lantai. Setelah terlihat lemah. Maka polisi segera memborgol nya dan membawa ke mobil polisi bersama dengan anak buahnya.
__ADS_1
Para antek Paman Roy yang berada di luar maupun halaman belakang sudah dapat polisi amankan.
"Roy! kamu tidak apa-apa kan?" tanya Afnan setelah Roy dapat ia jangkau.
"Alhamdulillah Bang U-ustadz, A-aku ba-baik!" serunya pelan dengan terbata.
Afnan melihat senyum keikhlasan dari wajah Roy.
"Sa-sampai kan. Ma-ma-afku pa-da, I-yas! A-aku ga-gal meng-khi khit- bah nya!" Roy memberikan sebuah kotak kecil pada Afnan.
Afnan mencoba membuka nya. Cincin untuk mengkhitbah Dias, itu yang Afnan simpulkan. Ber initial 'D' dengan taburan permata kecil di tengah nya dan satu diamond sedang di bagian sisi lain nya.
"Roy! kamu harus kuat! kita akan ke rumah sakit. Kamu akan baik-baik saja." Ucap Afnan optimis.
***
Di Jakarta ....
Praaang!!
Suara benda berbahan kaca jatuh dan pecah. Itu di rumah Dias.
"Iyas! ada apa Nak?" tanya Bunda nya Dias. Ia yang sedang menyiram tanaman pun bergegas masuk.
"Hanya gelas jatuh, Buna!" jawab Dias. Bunda nya telah berada di dekat nya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bunda nya.
"Alhamdulillah tidak Buna! hanya saja perasaan Iyas, berdebar begini. Rasa nya dada ini sesak Bun!" aku nya Dias dengan jujur.
"Wajah mu juga pucat. Kamu sakit Nak?" tanya Bunda nya Dias khawatir.
"Tidak koq Bun! hanya perasaan Iyas tidak nyaman. Maka dari itu Iyas hendak minum, tapi koq gelas nya malah jatuh." Jawab Dias.
"Mari duduk dulu. Buna ambilkan minum kembali. Serpihan gelas nya, biar bibik yang bereskan." Bunda nya Dias memapah Dias menuju sofa, lalu memanggil Art nya untuk membersihkan pecahan gelas dan ia kembali menghampiri Dias dengan gelas berisi air minum di tangan nya. Lalu menyerahkan nya kepada Dias.
***
Di ponpes.
Semua sudah berkumpul di rumah utama. Abi Kyai pun sudah kembali dari kantor polisi.
"Wa'alaikum salam. Iya Kak!"/ Hasna.
(......) / Ubaydillah.
"Alhamdulillah Hirobbal'alamin! / Hasna
(.....) / Ubaydillah.
"Innalilahi. A'a Kha terluka?" / Hasna.
Hasna baru saja mendapatkan telepon dari Ubaydillah dan mengabarkan bahwa Afkha terluka. Air mata Hasna luruh seiring tubuh nya ikut luruh ke lantai. Umi segera memeluk nya.
Lintang mengambil alih telepon nya Hasna. Ia segera mengaktifkan loud speaker pada Ponsel Hasna, agar semua yang ada di ruangan tersebut ikut mendengarkan. Terdengar Ubaydillah menjelaskan keadaan Afkha, Anak-anak lain nya dan ia serta Devano berada di rumah sakit mana, mereka berada dan tidak lupa memberitahukan Afnan yang masih di lokasi penculikan.
Hasna segera di papah untuk duduk di atas sofa. Ia terlihat lebih tegar setelah di beri minum. Setelah Hasna membaik, mereka bergegas menuju rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung ....