Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
69. Ngapelin pacar


__ADS_3

Afnan kembali ke rumah kayu. Ada yang berbeda, ia merasa kehilangan sesuatu. Tentu saja, kehilangan Istrinya yang gemesin.


"Assalamu'alaikum, A!"


"Wa'alaikum salam. Eh Anta, Dek! masuk." Pinta Afnan.


"Sarapan," Ubaydillah mengangkat sebuah tentengan berisikan makanan. "Di sini saja A'a Bro."


"Ok, Ana ganti baju dulu," Ubaydillah mengangguk, Afnan pun berlalu ke dalam untuk berganti pakaian.


Setelah beberapa menit berlalu. Afnan kembali keluar dengan telah berganti pakaian. Di tangan nya, dua buah gelas berisikan teh tawar yang masih mengepul.


"Wah, tepat!" tunjuk Ubaydillah pada dua cangkir di tangan Afnan.


"Neng Lilin, kemana Dek?" tanya Afnan.


"Di rumah utama, katanya mau bantu Umi masak. Habis nya di rumah kayu, tidak ada teman nya."


"Ooh.... Ok!" ucap Afnan.


"Memang nya, Nana betulan pergi ke rumah Ninen nya, A?" tanya Ubaydillah untuk lebih memastikan. Sebetulnya Afnan sudah memberitahukan nya tadi pagi.


"Betul. Seperti nya belum lama pergi, Nana Pamit lewat memo."


"Ya belum lama, Ana baru saja berpapasan di jalan utama ponpes, tapi kami hanya saling membunyikan klakson. Ana bawa Valentino tadi."


"Beli sarapan?"


"Yups. Ok, mari kita makan, pukul sepuluh Ana harus meetups dengan para santri yang hendak tadabbur alam," Ujar Ubaydillah sembari menghidangkan bubur di hadapan Afnan. Sedangkan ia sendiri memakan ketoprak untuk sarapan.


"Ana juga hendak ke kelas seni. Pagi ini pengumuman pemenang lomba kaligrafi." Afnan memulai sarapan nya, Setelah mereka berdoa bersama.


"Lalu, rencana selanjutnya?" tanya Ubaydillah kembali.


"Nanti malam, siap-siap ngapelin pacar dong." Seringai Afnan dengan geleng-geleng kepala, ia merasa aneh dan lucu.


"Ahahaha, si gemes nakal ada-ada saja ide nya. Tapi boleh juga A'a bro. Besok-besok gantian, Ana yang ngapelin Neng Lilin." tukas Ubaydillah.


"Gampang di atur, tapi .... Anta ngapel nya jauh Sob. Ke Jakarta." Seloroh Afnan.


"Ya di rumah utama saja. Ana berangkat ngapel nya dari sini. Atau dari Villa Granny." Balas Ubaydillah.


"Ya....ok juga. Huufff Ana koq Nervous yah." Afnan mengakui apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Serius A?" tanya Ubaydillah dengan memicingkan matanya.


"Serius. Dag dig dug ser, berharap malam cepat datang. Tuh, dapat SMS dari Nana saja. Rasanya serseran." Afnan tertawa kecil.. Ketika mendapatkan SMS dari Hasna di pengirim pesan biasa bukan Chat VIA WhatsApp.


"Wow, bisa segitu nya ya. Waaah Ana jadi pingin ngerasain tuh serseran kayak gitu. Eh ia dulu waktu sebelum menikah dengan Neng Lilin, ada rasa begitu tuh. Ana sempat di posisi darah mendidih, jantung berguncang." Ubaydillah mengekeh mengingat Nervous dan beberapa kebodohan kecil yang ia perbuat, saat baru mengenal Lintang.


"Haaah, Ia Ana tahu. Anta sih itu namanya bucin. Seperti yang Anta sering katakan pada Ana dulu."


"Ahahah, bisa jadi. Hem, Selamat pacaran deh A'a Bro. Nanti siang, Ana bawa Anak-anak ke Villa Granny. A'a bro bisa santai dengan Nana malam nya." tukas Ubaydillah.


"Ok, Syukron Dek." Afnan menyeringai, salah tingkah. "Ba'da Dzuhur ke rumah Roy sebentar Sob! sejak ia pulang dari rumah sakit, belum ada yang menjenguk nya." Ajak Afnan.


"Afwan. Beres A'a Bro! ngomong-ngomong, Mami nya Roy, jadi menikah dengan Ayah nya Iqbal?"


"Seperti nya, Insya Allah." Afnan dan Ubaydillah melanjutkan sarapan nya, setelah itu mereka beraktivitas seperti yang telah di rencanakan.


**

__ADS_1


Di halaman sebuah rumah gaya klasik modern.


Tepat nya rumah Nenek dan Kakek nya Hasna. Hasna baru saja tiba di halaman rumah tersebut.


"Alhamdulillah! sampai juga." Hasna bergegas untuk masuk ke dalam rumah.


Hasna pun sangat merindukan Nenek dan Kakek nya, yang sudah hampir dua bulan tidak pernah bertemu.


"Assalamu'alaikum! Nin, Ki! Ini Nana," Hasna pun mengetuk Pintu dan tidak berapa lama Nenek nya membukakan pintu.


"Wa'alaikum salam. Nana, Masya Allah. Ninen rindu!" Nenek nya Hasna menyambut kedatangan Hasna dengan suka cita. Mereka saling berpelukan


Begitu pun dengan Sang kakek. Ia menyongsong kehadiran Cucunya dengan wajah sumringah. Namun senyum mereka pudar tatkala menyadari Hasna hanya datang seorang diri.


"Mari Sayang. Loch Nak Ustadz, dan kedua Incu Buyut (Cicit) Ninen tidak ikut?" tanya sang Nenek dengan dahi berkerut.


"Tidak Nin."Jawab Hasna dengan santai sembari ngeloyor ke ruang keluarga dan sejurus kemudian, duduk di sofa.


"Apakah mereka akan menyusul mu?" tanya Sang Kakek yang juga penasaran akan cucu menantu dan kedua cicit nya.


"A'a Ustadz Ia Nin, Ki. Untuk A'a dan Dedek tidak! Karena Nana dan Ustadz, mau pacaran. Nanti malam A'a Ustadz ngapel ke sini. Layak nya Ngapelin Pacar gitu." Jawab jujur Hasna dengan tertawa.


"Ish! ada-ada saja kamu, sayang." sergah lembut sang Nenek.


"Naaa,na! rupanya ide konyol kamu itu tidak pernah luntur." Ejek sang Kakek dengan tertawa renyah sambil geleng-geleng takjub.


Tidak berapa lama, asisten rumah tangga di rumah itu datang dengan membawakan air minum, menyuguhkan nya di hadapan Hasna.


"Bik Rumiii." pekik Hasna, lalu berdiri dan memeluk Rumi dari samping tubuh nya. "Bibik apa kabar?"


"Neng Nana!" senyum malu-malu dari Rumi. "Alhamdulillah kabar baik. Diminum Neng." Tawar Rumi. Hasna berterima kasih. Kini Rumi pamit kembali ke arah dapur.


Hasna kembali duduk dan meminum orange juice yang di bawa oleh Rumi tadi. Rupanya Rumi telah tahu kedatangan Hasna. Tanpa di minta, ia membawakan minuman.


"Nana, sudah makan? Ninen tidak menyiapkan makanan, apapun untuk Nana. Ya habis Ninen tidak tahu Nana akan kesini hari ini." ujar Sang Nenek.


"Belum Nin. Sengaja, Nana ingin makan bersama Ninen dan Kiki. Tidak mengapa Nin. Makan yang ada saja," Sahut Hasna.


"Baiklah, tadi Ninen membuat pecak ikan mujair, lalapan dan sambal." Ucap Nenek Hasna.


"Sayur daun singkong juga! wah, mari Na.... Kiki juga lapar nih." Timpal Kakek Hasna.


"Mari Nin, Ki. Seperti nya menu yang menarik." Ujar Hasna sembari berdiri dan menggandeng tangan sang Kakek dan juga Nenek nya, berjalan menuju ruang makan.


Setelah sampai di meja makan. Kini mereka sedang menikmati hidangan nya. Hasna amat gembira, sudah beberapa bulan ini tidak berbaur apalagi dapat makan bersama dengan Kakek dan Nenek nya, karena kesibukan kuliah.


**


Hari pun berganti.


Mentari hangat kota 'S' sudah mulai bersiap, bergerak perlahan berangkat ke peraduan. Kini sang surya terganti cahaya senja, di sore yang cerah dan juga sejuk. Tidak ada yang tahu, seorang pria dewasa yang masih amat tampan sedang merasa kebingungan.


Ya! Afnan, sudah beberapa kali mematut dirinya di hadapan cermin, ia sedang memilih pakaian untuk dikenakan nya nanti malam, menyambangi kekasih hati nya.


"Sayang. Ternyata, aku sudah terikat dan terbiasa dengan mu. Lihat, bahkan aku tidak menemukan satupun pakaian yang cocok untuk ku kenakan nanti malam, mengapeli kamu." Gumam Afnan.


"Apakah aku sedang jatuh Cinta kembali?" Afnan tersenyum.


"Alhamdulillah. Hemmm," Gumam Afnan kembali. Lalu ia membaca doa ketika sedang merasakan jatuh Cinta. "Allohumma innii as'aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal'amalal-ladzii yubbaligunii hubbaka. Allohummaj 'al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii wa minal- maa'il-baarid."


Artinya : "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin." (HR: Tirmizi)

__ADS_1


Setelah nya Afnan menghela nafas pelan."Hemmm."


Lalu Afnan pun menyerah. Ia duduk di sisi dipan, dengan mencengkram pelan dagunya. Sorot mata nya memindai Pakaian yang sudah berserakan dan menumpuk tidak beraturan di atas tempat tidur.


Pakaian ke sebelas yang ia ia coba, belum juga cocok untuk ia kenakan. "Heeee, se nervous ini?!"


Afnan memegangi dadanya yang dari setadi bertalu-talu dan serseran. Ia pun tertawa kecil. Mengekeh, menertawai kegugupan nya.


Karena belum ada pakaian yang cocok untuk ia kenakan. Maka, Afnan memutuskan ke Mesjid untuk menetralkan hati nya yang terus betalu-talu sebelum Adzan Maghrib berkumandang. Lagi pula, ia tidak betah berlama-lama di rumah tanpa Anak-anak dan Istrinya.


Anak-anak sudah di bawa Ubaydillah tadi sore, menuju Villa kediaman Granny. mereka pergi selepas Ashar, langsung dari rumah Roy tanpa kembali ke Ponpes.


**


Kini malam betul-betul tiba. Selepas Shalat Isya, Afnan bergegas menuju kediaman Nenek dan Kakek nya Hasna. Mengendarai motor bebek, hasil meminjam dari Zainal.


Bukan tidak ada motor di rumah utama selain Valentino. Namun Hasna ingin menaiki motor bebek. Kata Hasna, ia ingin kencan yang sederhana. Afnan pun hanya di perbolehkan membawa dompet tanpa banyak kartu yang isinya bejibun.


Afnan hanya membawa kartu pengenal, uang dua ratus ribu dan juga SIM serta STNK motor bebek milik Zainal.


***


Di kediaman Kakek dan Nenek Hasna. Ia pun sedang merasa tidak keruan, dagdigdug yang berlebihan. Beberapa gamis, tidak cocok juga ia kenakan.


"Ya Allah Na! mau nyoba berapa gaun lagi. Lihat, Pakaian mu sudah berserakan seperti itu." Ninen nya baru saja masuk ke kamar Hasna.


"Ninen tolong. Nana gugup, bingung berpakaian, takut A'a Ustadz ilfil, lihat nya." Hasna memeluk Ninen nya. Betul saja, telapak tangan Hasna dingin dan basah oleh keringat.


Nenek nya mengkerutkan dahi, "Betulkah, segugup ini?" batin nya.


"Minum dulu sayang. Tenangkan dirimu. Koq bisa segugup ini?" Ninen nya meraih gelas berisi air yang ada di atas nakas, lalu memberikan nya kepada Hasna.


"Tidak tahu Nin. Jantung Nana berdebar tak keruan. Mungkin memang begini rasanya mau bertemu pacar." Ucap Hasna. Mengucapkan terima kasih, lalu mengambil gelas dan meminum air nya.


"Heem. Dulu waktu hendak di Khitbah Nak Ustadz, berbagai alasan agar gagal." Ledek Ninen dengan kerlingan malasnya. Tentu saja bercanda.


"Ikh Nineeen." Hasna menelusupkan wajah nya di bahu sang Nenek karena malu.


"Assalamu'alaikum."


Terdengar ucap salam dari arah luar. "Hooo, itu pasti Ustadz Nin. Tolong Nana, ini belum siap."


Hasna gedubukan, Ninen malah terkekeh, geli sendiri menyaksikan hal aneh dari Hasna. Hampir tujuh tahun menikah, nampak gahar bila di luar. Namun ia masih seperti anak kecil di hadapan nya.


"Ninen ke bawah dulu. Bye! nanti Ninen katakan pada Nak Ustadz, Nana nya mulas-mulas karena gugup." Sang Nenek malah tambah gencar meledek Hasna.


"Nineeen. jangan,"


"Tidak mau."


"Ninen Please. Minta Ustadz nunggu sebentar."


"No! mau Ninen suruh menemani Kiki saja, Mabar game online." Ninen berlalu sambil mengekeh.


"Astaghfirullah'aladzim. Ninen dzalim ikh! jangan racuni Ustadz sama permainan yang banyak mengumpat itu." pekik Hasna. Namun sang Ninen malah tambah mengekeh.


"Biarkan saja, sesekali, daripada jalan sama cewek gugup. Pakai baju saja tidak selesai juga."


"Nineeeen!!!!!"


Malam ini perut Sang Ninen terasa kram, akibat menertawakan cucu nya, dengan kelakuan yang masih menggemaskan itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2