Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
54.Perjalanan mencari Anak-anak.


__ADS_3

Di tempat berbeda.


Tepat nya di sebuah rumah yang lama tidak di tempati, dan sepertinya berada di pinggir kota. Tempat itu adalah tempat di mana Anak-anak sedang di sekap.


Dari sejak mereka sadar dari pengaruh bius. Tempat yang awal nya sunyi, menjadi gaduh dan berisik oleh suara rengekan dan teriakan Anak-anak.


Mereka tidak terlihat takut apalagi menangis minta di lepas. Mereka malah meminta banyak hal.


Minta minum, minta ke toilet, minta wudhu dan shalat, minta ini minta itu. Hingga si penculik yang jumlahnya lima orang itu kerepotan.


Namun mereka harus menuruti kemauan Anak-anak sesuai perintah Bos nya. Anak-anak tidak boleh di sakiti, mereka hanyalah alat untuk dirinya mendapatkan apa yang dia mau.


"Aaaaa, Nai gak mau bubu di sini, iiyyuuuu! gak like!" rengek manja Alnaira, ketika mereka di tempatkan di sebuah kamar dengan hanya beralaskan kasur lantai. Pandangan jijik terlihat dari sorot matanya.


"Iya, Dedek juga gak cuka, itu kan kelas. Kacul nya gak asik!" Afsha ikut-ikutan membuat si penculikan pening.


"Abang lapal! Om, tolong belikan naci goleng." teriak Arsya yang berguling guling di ujung kasur dengan memegangi perutnya.


Afkha nampak tenang. Makin bertambah usai, ia memang semakin terlihat berwibawa dan bersahaja. Seperti saat ini, ia hanya duduk bersila dengan jari-jari tangan nya tidak berhenti bergerak. Bibir nya terlihat juga gerak-gerak pertanda ia sedang berdzikir.


"Cukup! kalian ini sedang di culik! bukan sedang rekreasi," bentak si penculik. Membuat Alnaira menangis karena terkejut.


"Om pelan-pelan bicala nya! lihat Adik nya Abang telkejut, hingga menangis" teriak Arsya dengan nada sarkas. Lalu ia bangun dari tiduran berguling guling di kasur lantai. Ia raih Alnaira ke dalam pelukan nya.


"Aku bilang Diam!"


Teriak si penculik kembali. Bukannya Diam, Alnaira malah makin menjadi dengan tangis nya.


"Om! Aku bilang, pelankan suara nya! jangan belteliak lagi. Alhamdulillah, Kami tidak tuli dan kami macih Anak-anak, tidak cepantac nya Om peylakukan kami cepelti itu!" hardik Arsya kembali dengan tambah menaikkan suaranya.


Para penculik itu orang jahat, maka Arsya rasa tidak perlu untuk menghargai nya dalam bicara.


Hingga seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana?"


tanya seseorang yang baru saja masuk.


"Pening pala Ayeh Bos! Anak-anak ini begitu bawel." Aku jujur si penculik.


"Ahahaaha, hanya mengurus Anak-anak saja pakai ngeluh. Besok ente pakai rok saja!"


Tawa si pria tersebut. Hal itu di manfaatkan Arsya untuk meminta makan. Sepertinya dia adalah Bos dari para penculik.


"Om! Om, cepelti nya olang baik! tolong Om! pelut kami lapal, tolong Om! di culik juga kan butuh enelgi. Jika nanti kami mati kalena lapal. Om pasti di kejal polici loh!" Pinta Arsya dengan wajah memelas dan menarik narik ujung kemeja si pria.


"Hadeeuh. Ok! om menginginkan Kalian tetap hidup hingga esok, karena kalian adalah tambang emas untuk Om. Baiklah, kalian jangan berisik lagi. Om akan membelikan kalian makanan." Ujar si pria, seperti nya lebih memiliki perasaan.


"Telimakacih Om."


"Aku ingin minum cucu juga. Aku harus minum cucu untuk masa peltumbuhan Ku. Maka bawakan juga cucu!" Pinta angkuh Alnaira. seperti perintah.


"Aku juga! kami harus minum susu sebelum bobo." Timpal Afsha.


"Kami minta sesuatu yang hangat Om! kasihan Adik-adik kalau halus bobo dalam cuaca dingin tanpa selimut atau apapun. Kami yakin olang tua kami akan mengabulkan apa yang kalian pinta demi keselamatan kami." Kali ini Afkha ikut bicara dengan nada dingin, terdengar mirip pria dewasa memang.


Itulah perangai Afkha jika bukan di lingkungan ponpes, terlebih saat ia sedang menghadapi penculik. Ia tidak boleh terlihat lemah ataupun takut.


"Ok! ok! apa yang kalian pinta akan segera tiba! baru kali ini di kerjai Anak-anak!" dengus si Bos penculik.

__ADS_1


"Cung! Gan! cepat, cari apa yang mereka pinta." Perintah si Bos penculik kepada anak buah nya.


"Siap Bos!"


"Lalu bagaimana dengan misi kita?"


"Besok pagi, kita akan mengirimkan surat kaleng! maka mereka akan tahu mengapa kita menculik Anak-anak ini!" jawab Bos penculik. "Sudah cepat, berikan apa yang mereka minta agar tidak berisik!"


"Laksanakan Bos!"


Mereka berlalu dari tempat tersebut. Si Bos penculik pun keluar dari kamar tersebut.


***


Di ponpes.


Afnan, Ubaydillah, Devano dan Roy sudah siap berangkat menuju titik yang ia temukan di dalam alat lacak yang Ubaydillah tanam di dalam sandal Arsya.


"By! Nana ikut." Rengek Hasna.


"Sayang tetap di rumah, temani Umi, Neng Elya dan Neng Lilin." Bujuk Afnan dengan memeluk nya.


"Yank! Lilin ikut!" Lintang pun meminta ikut.


"Jangan Yank! perjalanan nya jauh, belum lagi, seperti nya itu berada di pinggir hutan. Ayank tetap di rumah, Do'akan saja kami. Agar secepatnya dapat menemukan Anak-anak dan membawa nya pulang." Ujar Ubaydillah.


"Baiklah! Dad's hati-hati!" pinta Lintang dengan memeluk Ubaydillah.


"Tentu! Insya Allah!" Ubaydillah mengecup kening Lintang.


Devano pun menghampiri Elyavira. "Amih tetap di rumah ini, bersama Umi,Nana dan Lintang. Mommy, Granny, Daddy dan Grandad sedang menuju ke sini. Ayah dan Bunda juga sudah Apih kabari, mereka juga akan segera tiba. Apih pergi dulu." Pamit Devano.


"Assalamu'alaikum Warahmatullah wa barokatuh."


Tetiba seseorang berucap salam dan masuk begitu saja ke dalam rumah, karena pintu yang terbuka lebar.


"Wa'alaikum salam Warahmatullah!"


Balas salam secara bersamaan.


"Nak Imron! masuk Nak!" Abi Kyai menyapa orang yang baru masuk tersebut. Yaitu polisi Imron.


"Syukron Abi!"


Polisi Imron menyalami serta merangkul Abi Kyai. Lalu ia mengalami Umi.


"Masya Allah, Abi begitu pangling dengan sosok Antum saat ini Nak!" ucap Abi.


"Hehe, sudah besar ya Abi." balas Polisi Imron.


"Loh katanya, kita akan bertemu di sana Akhi?" tanya Afnan.


"Tidak jadi, Ana tidak ada teman di perjalanan. Nanti kalau Ana di culik, bagaimana?" Polisi Imron sedikit berkelakar.


Yang lain ikut menyeringai. "Oh Ana lupa, Akhi sedang bebas tugas." Ucap Afnan.


"Nah itu dia, maka dari itu jika Ana hilang dalam perjalanan, lalu siapa yang akan menemani Antum membebaskan Anak-anak?" tanya polisi Imron


"Baiklah. Mari kita berangkat!" ajak Ubaydillah.

__ADS_1


"Mari!"


"Sudah siap Ustadz?" tanya polisi Imron kepada Afnan. Maksud dari pertanyaan nya yaitu segala perlengkapan, seperti senjata api dan lainnya.


"Insya Allah. Lalu, kapan Istri Ana boleh mengadakan laporan ke kantor polisi? harus kah menunggu dua puluh empat jam?" tanya Afnan.


"Besok pagi saja! walaupun sebetulnya malam ini pun sudah dapat membuat laporan, karena untuk orang hilang, saat ini tidak memakai sistim satu kali dua puluh empat jam lagi. karena akan langsung di tangani begitu laporan masuk." Tutur polisi Imron.


"Baiklah! besok pagi sayang ke kantor polisi dan membuat laporan kasus penculikan. Bawa rekaman Cctv yang tadi kak Ubay berikan sebagai bukti." pinta Afnan. "Byby pergi ya sayang!"


"Tentu By. Insya Allah, besok pagi Nana dan Lintang ke kantor polisi untuk membuat laporan." balas Hasna. "Byby hati-hati!"


Setelah berpamitan. Mereka pun memulai perjalanan untuk mencari Anak-anak.


***


Pukul dua dini hari, Afnan dan yang lainnya sudah hampir sampai pada tempat yang di tuju.


"Arah ke sana tertutup kabut tebal dan seperti nya jalan menanjak serta licin. Lalu bagaimana Akhi?" tanya Afnan kepada polisi Imron.


"Seperti nya harus istirahat sejenak! walaupun mobil ini tinggi, namun di khawatirkan slip ban, maka dari itu, sembari menunggu kabut menipis dan jalan agak kering. Kita istirahat dulu." Ujar polisi Imron.


Saat ini mereka menggunakan mobil polisi Imron berjenis Jeep.


"Baik! di depan seperti nya ada Musholla. Bagaimana kalau numpang rehat sekaligus melaksanakan shalat Qiyamul Lail." Gagasan Afnan.


"Ide bagus akhi!"


"Bagus juga A'a Bro!"


"Ok Bang Ustdaz."


"Baik, baik!"


Mereka pun meminggirkan mobil dan setelah nya bergegas mengambil wudhu dan masuk ke dalam musholla.


"Assalamu'alaikum! maaf Pak! kami, izin istirahat dan melaksanakan shalat." Ucap Afnan kepada tiga orang laki-laki paruh baya, yang telah berada di dalam musholla sebelum mereka masuk.


"Wa'alaikum salam! Silakan Nak! ma'af! Anak ini seperti nya bukan penduduk kampung sini?" tanya salah satu Pria.


"Betul Pak! kami berlima dalam keadaan Safara (bepergian), tujuan kami bukit cimalaya. Namun sepertinya, jalan menuju kesana tertutup kabut tebal dan jalan licin. Kami khawatir akan mengalami kendala, maka dari itu, kami putuskan untuk rehat dan Shalat di musholla ini." Tutur Afnan.


"Memang Anak mau bertamu ke tempat siapa?" tanya salah satu Pria lainnya.


"Kami....,"


Akhirnya polisi Imron yang bergantian bicara. Ia memperkenalkan dirinya sebagai polisi, memberitahu mereka berasal dari mana serta menceritakan maksud dan tujuan datang ke tempat yang dituju.


"Astaghfirullah'aladzim." Ucap bersamaan ke tiga Pria.


"Masya Allah. Jadi ini Ustadz Afnan dan Ustadz Ubaydillah, Putra dari Kyai Qorry! Putra dan putri kami adalah salah satu santri di pondok pesantren Hubbul Wathan." Ucap salah satu Pria.


"Masya Allah TabarakAllah." Ucap Afnan dan yang lainnya.


Lalu mereka saling berkenalan. Setelah berkenalan Afnan dan yang lainnya melaksanakan shalat Qiyamul Lail, mengaji dan berdzikir.


Hingga waktu subuh pun tiba. Mereka berjamaah shalat subuh. Setelah shalat subuh. Mereka di jamu kopi dan sarapan, karena semalam para Pria di Musholla berjanji untuk membantu Afnan serta yang lainnya, yaitu mengerahkan para pemuda untuk melakukan pengawalan. Maka sebelum pukul enam mereka berangkat ke titik tempat yang di tuju.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2