
Hari-hari berikutnya.
"Sayang!" panggil Afnan dari dalam kamar. "Iya By!" jawab Hasna dari arah dapur.
Hasna menghentikan kegiatan nya di dapur. Lalu ia bergegas menghampiri Afnan yang memanggil nya.
"Iya By, ada yang Byby butuhkan?" tanya Hasna yang sudah berada di ambang pintu kamar. Afnan terlihat sedang mencari sesuatu di dalam lemari, dengan hanya menggunakan handuk.
"Ini sayang, Byby sedang mencari berkas-berkas bangunan untuk rumah tenang." Jawab Afnan.
"Loh, kan terakhir, Byby simpan di berankas kantor restoran." Hasna mengingatkan.
"Astaghfirullah'aladzim. Faktor U, mudah sekali lupa," tukas Afnan sembari menyeringai.
"Byby bisa saja! memang untuk apa?" tanya Hasna.
"Untuk kelengkapan IMB yang tempo hari belum lengkap." Afnan menghampiri Hasna dan menarik nya lembut untuk duduk di sisi tempat tidur.
"Sayang. Hari ini kamu bisa kan pergi ke rumah tenang, untuk meninjau rumah tenang tanpa Byby? sesuai janji kita semalam, maaf Byby membantalkan janji sepihak." Ujar Afnan.
"Boleh By! tidak mengapa, pasti hal itu lebih penting. Nanti Nana ajak Lintang dan Dias untuk menemani." Balas Hasna.
"Terima kasih sayang! Ia ini hal penting."
Sejak Afkha di khitan satu Minggu yang lalu dan Dias turut Papa Hasna ke ponpes, maka ia memutuskan untuk tinggal di ponpes karena ia sedang cuti kuliah, maka dari itu ia berniat mendalami Agama di ponpes Hubbul Wathan.
"Kembali Kasih By! cup," kecupan lembut di pipi Afnan. "Nana yang harus nya berterima kasih pada Byby. Rumah tenang itu kan Nana yang menginginkan nya," Ujar Hasna.
"Akan tetapi, sebagai suami mu, tetap saja, ada tanggung jawab Byby di sana." Tukas Afnan sembari menarik Hasna ke dalam pelukannya.
Hasna tersenyum sempurna dalam membalas pelukan Afnan.
"Pakai baju dulu yuk! oh yah memang ada hal penting apa, sehingga membatalkan janji dengan Nana?" tanya Hasna.
"Byby hendak mendampingi Guru pembimbing, di kelas Tadjwid, test kefasihan Makharijul huruf bagi santri putra dan putri, usia Tsanawiyah. Nanti nya kan mereka akan menjadi santri bimbingan Byby dalam hafalan Qur'an. Agar makin banyak para Hamilul Qur'an yang berkualitas, sayang." Jawab Afnan.
"Lokh, bukan nya besok By? lalu koq Hamilul Qur'an? bukan nya Tahfiz Qur'an By? maaf Nana merasa asing saja mendengar nya." Berlapis pertanyaan dari Hasna sembari menyeringai.
"Mereka minta di majukan, karena lusa kan hari libur nasional, dalam rangka
memperingati Isra Mi'raj. Maka santri putra dan putri akan kembali ke rumah masing- masing, besok siang setelah pelajaran usai. Mereka akan berlibur selama kurang lebih tiga hari." Jawab Afnan.
"Oh begitu!" ucap Hasna. "Iya, lalu, jadi begini sayang! Untuk saat ini para penghafal Al-Qur'an lebih populer dengan sebutan Hafizh Qur'an. Entah sejak kapan mulanya, karena tidak ada yang dapat menjawab nya dengan pasti. Apalagi tiba-tiba saja ramai Setelah banyak acara yang mengangkat Penghafal Al-Qur'an di televisi."
"Sebetulnya, pada mulanya istilah Hafizh digunakan untuk para penghafal hadits. Maka dari itu, Imam Ibnu Hajar Al-Ashqalani sebagai penghafal dan pensyarah hadist, populer di sebutkan Al-Hafizh Imam Ibnu Hajar."
"Ouh seperti itu By! selanjutnya By?" tanya Hasna.
"Lantas, apa sebutan untuk para penghafal Al-Qur’an? Istilah yang digunakan adalah Hamilul Qur’an. Kata 'hamil' itu berarti mengandung. Makna nya bukan mengandung seorang anak, namun di umpama kan seperti ibu yang mengandung bayi. Bayi nya ada dalam diri si ibu. Maka, Hamilul Qur’an sejatinya bermakna Al-Qur’an seperti ada dalam diri pada penghafal Al-Qur’an. Dalam bahasa yang sederhana, penghafal Al-Qur'an itu menyerap, menjiwai isi Al-Qur'an dalam pemikiran nya, perilaku nya, perkataan dan hal baik lain nya dalam keseharian mereka berdasarkan isi atau kandungan dari Ayat suci Al-Qur'an. Hamilul Qur’an berarti orang yang jiwanya Al-Qur’an." tutur Afnan.
"Masya Allah TabarakAllah." Hasna betul-betul kagum pada apa yang baru saja ia dengar.
"Ketika Bunda Aisyah ditanya, "Bagaimana akhlak Rasulullah? maka beliau menjawab 'Kana khuluquhul Qur’an." (akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an).
"Mengapa Bunda Aisyah berkata seperti itu? Karena Rasulullah itu jiwanya Al-Qur’an. Al-Qur’an benar-benar terkandung di dalam diri Rasulullah. Itu tercermin dalam tutur kata, perilaku, dan semua aspek kehidupan beliau," Tutur Afnan kembali.
"Allahumma Sholli 'Ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad." (Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.") Hasna hanya bersholawat ketika mendengar Afnan berbicara.
"Shollallah ala muhammad . Waala alaihi wasallam ,"
(Semoga shalawat dan salam dari Allah atas nya (Rasulullah) Semoga shalawat dari Allah atas (Nabi) Muhammad)." Balas Afnan.
"Lalu By?" Hasna bertanya kembali, sambil membantu Afnan berpakaian.
"Apapun nama nya saat ini yang di kenal masyarakat, baik Hafidz Qur'an maupun Hamilul Qur'an, Selama makna dan tujuan nya sama. Maka Insya Allah tidak akan mengurangi semangat para penghafal Al Qur'an yang Insya Allah malah akan semakin banyak Anak-anak sadar diri akan Al-Qur'an sebagai penghafal nya. Bayangkan sayang, tiap tahun, pendidikan di ponpes kita ini saja menghasilkan banyak para Hamilul Qur’an. Lalu jebolan pesantren lain dan saat ini banyak berdiri rumah Tahfiz! Masya Allah, Ini bukan tentang belajar di pesantren, boarding (Asrama), atau sekolah Sayang. Ini tentang bagaimana Al-Qur’an di ajarkan kepada setiap santri, tujuan nya agar tertanam akhlak Al-Quran nur karim di setiap penghafal nya. Setelah mereka lulus dari ponpes ini, maka apapun profesi mereka nantinya, maka patokan mereka tetap pada Akhlak Al-Qur'an." Ujar Afnan dengan penuh binar kebahagiaan.
__ADS_1
"Aamiin ya Allah." Hasna ikut bahagia, Melihat kebahagiaan dan optimis yang luar biasa dari Afnan.
Beberapa saat kemudian,
Setelah Afnan rapi berpakaian dan sarapan, maka ia pun pamit dari rumah kayu. "Byby pergi mengajar ya sayang!" pamit Afnan.
"Na'am Byby! tafadhol! Ana Uhibbuka Fillah," ucap Hasna seraya bergelayut manja pada lengan Afnan.
"Syukron. Ahabbakilladzii ahbabtani lahu ( Semoga Dzat yang kamu cinta aku karena-Nya juga cinta kepadamu) Ana Uhibbuki Fillah!" balas Afnan mengecup tangan. Selain mendoan ucapan Hasna. Afnan pun membalas kata-kata cinta nya. Lalu ia kecup juga kening Hasna.
"Ahabbakalladzi Ahbabtani La!" (Semoga Dzat yang kamu cinta aku karena-Nya juga cinta kepadamu.).Balas Hasna pula dengan senyuman manis khas nya.
Setelah berpamitan kembali, Afnan bergegas menuju, kelas ilmu tajwid. Ia bertemu Ubaydillah juga di sana.
Hasna yang kini sudah siap dan rapi, Ia segera ke rumah utama. Tujuan utama nya melihat keadaan Afkha yang masih ingin tinggal di rumah utama. Malah ia meminta tidur di kamar Afnan.
"A'a Kha, Mimma pergi dulu yah! tidak lama koq, melihat rumah tenang, Biyya ada koq sedang di kelas Tadjwid. Jika butuh apapun A'a telepon Biyya yah!" pamit Hasna. Ia berlutut di hadapan Afkha yang sedang bermain game dan rebahan di sofa.
"Baik Ima! A'a atan baik-baik caja!" balas Afkha, kini ia meletakkan ponsel nya lalu ia duduk dan meraih pipi Hasna serta menggenggam nya.
"A'a sayang, jangan loncat- loncatan lagi yah! takut nanti luka Khitan nya berdarah lagi. Harus nya sudah sembuh kan, karena berdarah lagi tempo hari, malah lama deh sembuh nya." pesan Hasna mengecup kening Afkha.
"Tidak akan Ima cayang! Incha Allah!" ucap Afkha.
"Na! sudah siap?" Lintang baru saja keluar dari kamar nya.
"Sudah Lin! o yah Iyas mana yah!" Hasna mengingat adik sepupu nya yang belum juga muncul.
"Mungkin masih siap-siap Na! kan baru selesai mengikuti kajian wajib." Jawab Lintang.
"Assalamu'alaikum. Aku di sini Kak!" Dias muncul dari arah luar. Karena pintu terbuka lebar, maka ia langsung masuk.
"Wa'alaikum salam!"
Ucap Hasna dan Lintang bersamaan.
***
Hasna sudah sampai di rumah tenang. Mereka di sambut hangat mandor para pekerja itu.
"Ada kekurangan apa Pak? nanti saya sampaikan kepada suami saya?" tanya Hasna.
"Seperti nya belum ada yang kami butuhkan kembali Bu! semua alat dan bahan bangunan yang di perlukan, sudah lengkap." Jawab sang mandor.
"Baiklah. Nanti Kalaupun ada kendala, Bapak langsung hubungi kami saja! oh ya, untuk taman depan dan belakang, saya harap se asri mungkin ya Pak! untuk ruangan pun tolong buat seakan-akan mereka nanti sedang berada di rumah bukan dalam perawatan." Ujar Hasna.
"Baik Bu! Insya Allah!"
Mereka saat ini sedang berkeliling di rumah tenang. Memeriksa finishing rumah tersebut. Bangunan berlantai tiga dengan luas hampir seribu ribu meter itu setelah di bagi untuk halaman depan, taman, tempat parkir itu lebih mirip hotel ketimbang tempat perawatan orang sakit.
Hampir masuk waktu Ashar, ketika Hasna dan yang lainnya keluar dari pekarangan rumah tenang. Rumah tenang hampir selesai di renovasi. Afnan memutuskan membeli rumah warga yang sedang kesulitan uang karena terlilit hutang. Setelah nya di ikuti warga lain yang juga menjual tanah serta rumah nya. Maka lahan nya dapat lebih luas setelah di satukan.
Ia membeli nya dengan harga yang sesuai, hutang orang itu lunas, orang tersebut juga dapat kembali membeli rumah yang lebih kecil dan membuka usaha dari sisa uang untuk bayar hutang nya. Hikmah nya, Kini mereka hidup lebih tenang.
"Kemana lagi nih Na?" tanya Lintang yang duduk di sebelah Dias, kali ini Dias yang mengemudikan mobil milik Lintang. Hadiah Anniversary pernikahan dari Ubaydillah. Katanya menggantikan mobil Lintang yang dulu pernah tidak sengaja ia gores ketika pertama kali bertemu.
Hasna memilih duduk di belakang. "Bagaimana kalau kita makan dulu, gue Ingin makan mie ayam dekat rumah sakit jiwa itu Lin."
"Ouum yang dekat kantor polisi itu ya kak?" tanya Dias. " Iya Dek!" jawab Hasna.
"Ya sudah, kita ke sana Dek! nanti kan bisa langsung shalat di Mesjid dekat situ." Sambung Lintang.
"Oke Kakak-kakak ku!" ujar Dias.
Mereka pun menuju kedai Mie ayam yang dekat rumah sakit jiwa dan tak jauh dari pusat kota.
__ADS_1
"Bu! Mie ayam bakso tiga! eh kita samaan kan?" tanya Hasna pada Lintang dan Dias, saat ia sedang memesan mie.
"Iya Na!" jawab Lintang. "Sama in saja kak!" sambung Dias.
Hasna kembali memesan mie serta minum nya. Setelah beberapa menit menunggu, mie serta minuman nya pun tiba. Setelah membaca doa mereka pun makan.
"Alhamdulillah! mie nya enak Kak!" ucap Dias.
"Iya Yas! makanya Kak Nana dan kak Lilin tuh suka banget makan mie di sini, apalagi buka nya sampai malam." Balas Lintang.
"Kami sering ke sini Dek! walaupun sudah malam," Hasna pun ikut bicara.
"Alhamdulillah sudah masuk waktu Ashar. Mari ke Mesjid siap-siap untuk Shalat!" ajak Hasna. "Mari!" seru Lintang dan Dias.
Setelah membayar makanan nya, Hasna, Lintang serta Dias pun beranjak menuju Mesjid yang bersebrangan dengan rumah sakit jiwa.
Hampir dua puluh menit, mereka pun keluar Mesjid berbarengan dengan para jama'ah lain.
"Kak! itu koq ramai-ramai yah di depan rumah sakit?" tanya Dias menunjuk ke arah rumah sakit jiwa.
"Mungkin pasien kabur Dek! itu sering terjadi," Jawab Hasna sembari memakai sepatu nya.
"Masa sih Na! seperti nya itu orang sedang berkelahi!" ucap Lintang yang ikut memperhatikan keramaian di seberang sana.
"Iya kak! eh itu orang di keroyok!" pekik Dias. Hasna yang telah selesai memakai sepatu nya. Ia ikut memperhatikan apa yang sedang terjadi.
"Mari kita lihat, lebih dekat." ajak Hasna pada Lintang dan Dias.
"Mari Na!"
"Iya kak Mari!"
Mereka pun menyebrang dan menghampiri orang yang sedang bersitegang itu lebih dekat!
Hasna pun menyebrang memang akan mengambil mobil yang parkir dan mereka titipkan pada pemilik kedai mie ayam.
Bugh! bugh!
Makin dekat maka makin jelas, memang itu sebuah perkelahian. Eh tunggu itu pengeroyokan. Karena Hasna melihat seorang laki-laki muda sedang di keroyok empat orang berbadan besar.
"Eh mereka sedang mengeroyok seseorang Lin!" ucap Hasna.
"Lalu Na?" tanya Lintang.
"Iya Kak?" sambung Dias.
"Maka kita akan menolong nya! ini scurity nya kemana sih? koq ada orang di keroyok tidak di tolong." ucap Hasna.
"Na! ini terlalu beresiko!" ucap Lintang. "Betul kak! walaupun kita jago beladiri. Lihat itu musuhnya." Dias bergidik ngeri.
"Kalian bantu teriak agar orang orang datang menolong." Pinta Hasna. "Ok!" Tanpa fikir panjang Hasna dan Lintang serta Dias menghampiri mereka.
"Hai Kalian, beraninya main keroyokan! payah!" ledek Hasna mengacungkan jari jempol lalu memutar nya menjadi terbalik dan itu sikap mengejek dengan cara merendahkan.
Mereka pun sontak menoleh. Termasuk korban yang mereka keroyo! ia mendongakan wajah nya yang sudah babak belur dan berdarah-darah.
"Nana! Lintang!"
"Roy!"
Pekik Hasna dan Lintang. Ternyata orang yang sedang di keroyok itu Roy dan Roy mengenali suara Hasna serta Lintang yang hanya berhijab tidak berniqab.
Mengapa Roy ada di pelataran rumah sakit tersebut dan mengapa Roy di keroyok pula?
Nantikan kelanjutan nya. 👌
__ADS_1
Bersambung ....