
Tiga Minggu kemudian. Ba'da Ashar, di pantai yang terdapat resort Hasna.
Hasna dan Afnan sedang berada di resort milik Hasna. Sesuai janjinya kepada Anak-anak, maka setelah Angela dan Adrian pulih, urusan penilangan di kantor polisi juga sudah teratasi. Hasna dan Afnan memutuskan untuk mengajak anak-anak liburan di resort.
Kasus Kenneth sudah di tangani oleh polisi dan Kenneth beserta Mark telah di bawa ke negaranya. Mereka terkena pasal berlapis, dari pasal ancaman, pengeboman hotel, penculikan, penusukan dan kejahatan lainnya. Kini kabarnya mereka tengah mendekam di penjara menunggu sidang-sidang berikutnya sebagai pengukuhan masa tahanan.
"Sayang! jangan terlalu ke pinggir laut, Biyya dan Mimma di sini, Ok!" pesan Hasna pada twins A dan juga Arsya.
"Baik, Imma." Jawab ketiga anak tersebut secara bersamaan. Lalu mereka kembali asik bermain pasir dan juga kejar-kejaran.
Sedangkan Afnan terlihat sedang merebahkan tubuhnya santai di atas pasir yang di alasi kain tipis. Pangkuan Hasna sebagai bantalan untuk kepalanya.
"Sayang, ba'da Isya kita pulang ke rumah kecil," ujar Afnan.
"Tidak, besok pagi saja By? terlalu malam kalau ba'da Isya," tanya Hasna yang kini tangannya mulai menyusuri wajah Afnan dengan lembut.
"Nanti malam saja, toh di sini juga sudah empat malam. Byby bosan sayang, kangen kerja."
"Baik Byby sayang, untuk suami tampan ku ini mana bisa nolak," kelakar Hasna dengan tersenyum ke arah Afnan.
"Gemesin!" Afnan menarik gemas hidung Hasna.
"Hati-hati! bengkok, By." pekik Hasna dengan mengusap hidungnya. Afnan yang mengintip bibir Hasna dari bawah niqab yang ia singkap pun tertawa. Sesuai perkiraannya, bibir sang istri sedang mengerucut lucu.
"Tidak akan bengkok Sayang, hasil operasiannya paten koq. Kan ciptaan Allah." Ujar Afnan sembari mengecup tangan Hasna.
"Hehe, iya sih."
"By!"
"Hum!"
"Ih, Byby bobo yah?"
"Tidak!"
"Mmm, Byby bosan tidak dengan Nana? atau mungkin jenuh dalam menjalankan rumah tangga ini?" tanya Hasna.
"Bosan? jenuh? koq tiba-tiba bertanya perihal ini?" tanya balik Afnan.
"Tidak koq, Nana hanyalah bertanya." Jawab Hasna.
"Kamu sendiri?" Afnan kembali bertanya.
"Nana sih, tidak By! sepertinya Nana makin jatuh dalam perangkap Cintanya Byby." Jawab Hasna malu-malu. Kemudian ia menyembunyikan wajahnya pada telapak tangan Afnan yang ia angkat.
Afnan tersenyum, Istrinya selalu membuatnya gemas. Di manapun mereka berada Hasna mampu menghidupkan suasana. Bagaimana ia akan bosan atau jenuh kalau setiap hari perasaannya selalu menghangat.
"Ia, Byby bosan! Byby jenuh!"
"Hooo, Astagfirullah! jadi selama ini apa? atau... Byby terpaksa ya baik-baik ke Nana, sayang-sayang terhadap Nana?" rentetan pertanyaan dari Hasna.
Afnan yang mendengar Hasna mulai emosi pun malah tertawa. "Ciee, Bu Ustadzah marah! sedang sensi datang bulan ya?"
"Byyyy!" protes Hasna.
Hasna memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah Afnan. "Lihat aku, Sayang!"
"Tidak mau! Byby menyebalkan!"
"kalau menyambelkan, pedas dong!" ledek Afnan.
"Itu namanya sambal, Bybyyyy." Pekik Hasna dengan memukul pelan lengan Afnan.
Afnan kembali tertawa. Kali ini ia duduk dan memiringkan tubuhnya melewati pangkuan Hasna yang sedang di luruskan, Afnan menghadap Hasna, dengan tangan kirinya menumpu di atas pasir sebagai penahan keseimbangan tubuhnya.
Sedangkan tangan kanannya sibuk menggenggam sebelah tangan Hasna. Dan sedang ia kecupi.
Hasna masih memalingkan wajahnya, ia tidak mau melihat Afnan. "Wajahnya sinikan, jangan di buang-buang begitu, nanti muba'dzir."
"Terserah Nana! ini wajah Nana, mau di buang atau di lempar gak akan ada yang keberatan." Balas Hasna. Afnan mengekeh, ia yakin di dalam niqab sana, pasti wajah Hasna amat lucu.
"Byby yang keberatan! takut di pungut laki-laki lain!"
"Di fikir kucing. Bahasanya di pungut!"
Afnan tertawa kembali. Jika Hasna kesal begitu, makin lucu. Terkadang Afnan lupa sudah memiliki laba dari pernikahan mereka, yaitu dua anak yang lucu-lucu dan pintar.
"Sayang, coba dengar dulu,"
"Tidak mau, Byby jahat!"
"Yakin?"
"Iya!"
"Sayang, maksud Byby... Byby bosan, saat tidak bersama kamu. Byby jenuh , saat kita sedang berjauhan. Kamu harus tahu, Byby jatuh cinta padamu setiap harinya, seiring Byby makin jatuh cinta pada Sang Pemilik Hidup, Allah Azza Wa Jalla (Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.)"
Seketika senyum Hasna mengembang. "Sungguh?"
"Insya Allah! Sayang." jawab Afnan, menatap Hasna dengan kesungguhan. Hasna merasa salah tingkah di tatap Afnan dari jarak yang amat dekat.
"By!" panggil lirih Hasna dengan malu-malu.
__ADS_1
"Uhibbuki fie kulli lahdzotin tamuuru fie hayati." ( Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku.) Afnan menatap Hasna penuh Cinta. Membuat Hasna tambah tersipu malu.
"Anta li suruqa al-ssamsi, yaa hubby." (Engkau adalah sinar mentariku, oh cintaku!) balas Hasna malu-malu.
Afnan mengulum senyum. "Boleh nakalin kamu gak sih, di tempat umum begini?" tanya Afnan.
"Coba saja kalau berani!" tantang Hasna.
Afnan celinguk kanan kiri. Ia melihat anak-anak agak jauh dari tempat mereka duduk. Pengunjung lain pun berjauhan. Intinya, saat ini mereka hanya berdua di dekat pohon kelapa tersebut.
Dengan kilat, Afnan menutupi tubuh mereka dengan kain pantai yang terbentang di atas kaki Hasna.
"Byby, mau apa? koq di tutup begini?" tanya Hasna setengah berteriak.
"Sssstt, jangan berisik. Byby mau nakalin kamu," jawab Afnan.
"Gak gini By!" Hasna tidak mau diam. Hingga Afnan menahan tengkuknya agar diam.
Secepat kilat, Afnan harus mendaratkan bibirnya pada bibir Hasna. Sudah tiga Minggu ini, dia tidak berbuat nakal pada istrinya.
Namun, tiba-tiba...
"Biyya! Mimma! sedang apa? mainan petak umpet ya?" itu suara Afsha.
Afnan ragu, antara meneruskan atau berhenti. Bibirnya sudah dalam posisi melaju dan hampir mendarat pada bibir Hasna.
"Biyyaaa!"
"Mimmaaa!"
Teriak anak-anak, tidak sabar akan sebuah jawaban.
"Ahm, i-iya Sayang! kami se-sedang, ma-mainan." Suara gugup dari Afnan hingga terbata.
"Kami ikutan Biy," pinta Afkha.
"Iya Biy, ajak kami main di dalam sana," timpal Afsha.
"Acha juga mau." Sambung Arsya.
Hasna sudah terpingkal di dalam kain sana. "Rasain, makanya kalau mau nakalin Istri lihat situasi." Hasna begitu puas tertawa.
"Kami, mainnya sudah selesai, Sayang! heee..." Afnan segera menyembulkan kepalanya dari balik kain.
Hasna masih tertawa di dalam sana. "Sayang, sudah! lihat anak-anak ajaib itu." bisik Afnan.
"Loh, Byby kan pawangnya. Tolong atasi mereka By," Hasna memegangi perutnya yang hampir kram karena menahan tawa.
"Biyya, koq mainnya sudah sih. Kami ingin tahu Biyya sedang mainan apa dengan Mimma." Protes Afsha.
"Emm, main...apa ya?!" Afnan mengusap tengkuknya dengan wajah menyeringai lucu.
"Sudah-sudah, Sayang- sayangnya, Biyya dan Mimma bermainnya sudah cukup atau belum?" tanya Hasna, ia berusaha menengahi dari perdebatan Anak dan Ayah tersebut.
"Alhamdulillah, sudah Imma!" jawab Afkha.
"Baiklah, kalau sudah cukup. Mimma belikan es krim. Lalu setelah ma'em es krim, mandi." ujar Hasna kembali.
"Kalian boleh memilih es krim sesuka kalian, minta sama Kakaknya, bilang Biyya yang suruh. Ingat! jangan berlebihan." Pesan Afnan.
"Es krim, yeaaayy! Alhamdulillah...!!!"
"Terima kasih Biyya!" kata Afkha.
"Terima kasih Mimma!" ucap Afsha.
"Mimma Na, Biyya Nan! terima kasih." ujar Arsya.
Ketiga anak itu menghambur ke dalam pelukan Afnan, hingga Afnan terdorong pada posisi terlentang dan kepalanya jatuh pada pangkuan Hasna.
Anak-anak saling berebut mengecup wajah Afnan. Afnan hanya pasrah dengan tersenyum. Hasna ikut tersenyum lebar melihat interaksi mereka.
"Janji, tidak bertanya lagi tentang tadi, Biyya melakukan permainan apa dengan Mimma." Pinta Afnan.
Anak-anak masih di atas tubuhnya. Mereka sudah dalam posisi tenang, Afsha tengkurap di atas tubuh Afnan. Afkha terlentang di lengan Afnan. Arsya duduk di antara dua paha Afnan.
"Janji!" balas Afsha cepat.
"Eh, ini namanya suap!" protes Arsya.
"Iya Biyya, bukankah ini namanya upah tutup mulut. Bisa di katakan suap." Timpal Afkha.
"Astaghfirullah! ma-maksud Biyya bukan seperti itu." Afnan melirik Hasna. Wajah Afnan mengiba, memohon pertolongan Hasna.
Sepertinya Afnan salah berucap, Jika sudah seperti ini, anak-anak ajaib itu tidak akan pergi begitu saja, kalau belum mendapatkan penjabaran dalil Qur'an dan hadits.
Hasna yang faham akan Afnan, maka ia mengalihkan perhatian anak-anak. "Koq hanya Biyya yang di Cun? Mimma tidak nih?"
"O iya, maaf Imma," balas Afsha cepat.
Afkha, Afsha dan Arsya pun segera berdiri dan menghampiri Hasna. Lalu kecupan kecil dari ketiganya pun Hasna dapatkan.
"Baiklah, kalau mau es krim, cepat! nanti keburu datang waktu Maghrib. Kalian belum mandi kan." Ujar Hasna.
__ADS_1
"Tentu Imma, kami pergi dulu."
"Assalamu'alaikum." ucap serempak ketiganya. Akhirnya anak-anak itu pergi ke toko es krim yang ada di lobby resort. Setelah sebelumnya mereka kembali mengecup pipi kedua orang tuanya.
"Wa'alaikum salam," jawab Afnan dan Hasna.
"Alhamdulillah, akhirnya bebas juga." nafas kelegaan dari Afnan.
"Jangan lega dulu By! siapkan saja jawabannya. Nanti entah esok, mereka pasti akan menyinggung masalah upah tutup mulut." Hasna mengingatkan.
"Hemm, Iya Mimma!" suara Afnan terdengar pasrah. Hasana mengulum senyum.
Cup!
Hasna tiba-tiba mengecup ringan bibir Afnan yang baru saja duduk, dengan cepat.
"Ooo Mimma, mau lanjut ya main nakal-nakalannya?"
"Eh tidak By!"
"Lanjut juga tidak apa-apa."
"Tidak mau...!" Hasna segera berlari dari hadapan Afnan menuju ke kamar resortnya.
"Maksudnya, tidak mau di sini ya kan Mimma?" Afnan mengejar Hasna. "Ok kalau gitu, lanjut di kamar main nakal-nakalannya."
"Enggak, di manapun!" pekik Hasna. Ia terus berlari menghindari Afnan sembari tertawa-tawa kecil.
***
Ba'da Maghrib...
Afnan, Hasna dan anak-anak baru saja selesai jama'ah Magrib. Afnan kemudian memimpin doa. Setelah selesai berdoa, Kini saatnya mengajak anak-anak untuk membaca Al-Qur'an sembari menunggu waktu Isya tiba.
"Mari buat lingkaran, Biyya mau test bacaan Al-Qur'an kalian, sudah berapa surah yang Kalian hafal." Ujar Afnan.
"Baik Biy, mulai dari A'a ya?" tanya Afkha.
"Baik, silakan A!"
Afkha pun mulai taawudz. Namun, ketika bacaan pada Ayat pertama, ponsel Afnan berdering.
"By, dari Kak Ubay." Hasna yang melihat layar ponsel Afnan pun memberitahukan. bahwa Ubaydillah yang menelepon.
"Kak Ubay?" tanya Afnan mengerutkan dahi, Hasna mengangguk.
"Si Dedek? apakah ada hal penting?" Afnan bertanya- tanya pelan, Ubaydillah tidak akan menelponnya malam, jika tidak hal penting dan mendesak.
"Sayang! dengan Mimma dulu yah, Biyya mengangkat telepon dari O'om, sebentar!" Afnan mengelus pucuk kepala Afkha.
Afkha pun mengiyakan. Akhirnya posisi Afnan di gantikan oleh Hasna, menyimak bacaan Al-Quran Afkha.
"Assalamu'alaikum! iya Dek? ada hal penting hingga Anta menelpon malam begini?" / Afnan.
"......" / Ubaydillah.
"Astaghfirullah! di mana posisinya? tapi baik-baik saja kan?" / Afnan.
"....." / Ubaydillah.
"Alhamdulillah, lalu apa yang mereka inginkan?" / Afna.
"....." / Ubaydillah
"AllahuAkbar. Menantang balap? Maksudnya tantangan balapan untuk Nana?" /Afnan.
"....." / Ubaydillah.
"Baik! kami pulang sekarang!"/ Afnan.
Setelah berucap salam, sambungan telepon terputus. Afnan bergegas menghampiri Hasna, lalu ia membisikkan sesuatu. Hasna nampak terkejut.
"Astaghfirullah'aladzim. By! Ma'afkan Nana, ini akibat keteledoran Nana karena telah berbuat curang di belakang Byby. Ma'afkan Nana sudah mengusik para berandal itu, hingga mereka mencari keberadaan Nana."
"Sudahlah sayang! tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Tidak ada yang perlu disesali, semua sudah terjadi. Byby sudah memaafkan mu dari awal, Byby sudah tahu apa yang kamu lakukan beberapa waktu belakangan ini. Yang terpenting saat ini, tanggungjawabmu! sebuah konsekuensi dari perbuatan mu!" Ujar Afnan
halus, dengan mengelus lembut kepala Hasna.
"Insya Allah, Nana tidak akan pernah lari dari tanggung jawab! terima kasih selalu memaafkan kesalahan Nana. Jangan bosan memberikan maaf untukku By!" pinta Hasna.
"Insya Allah tidak akan pernah bosan memaafkan mu. Karena, tanpa kesalahan maka manusia tidak akan pernah belajar dewasa, begitupun dengan kamu. Tanpa kenakalan, maka sebuah perubahan baik tidak akan ada harga pada manusia.
Begitu pun dengan kamu, Berterima kasihlah pada keduanya, Karena kesalahan serta kenakalan-lah, maka hidup mu jauh lebih baik saat ini."
Hasna memeluk Afnan. Ia sempat menitikkan air mata, tanda sebuah keharuan dari kata-kata Afnan yang menentramkan.
Afnan membalas pelukan Hasna dengan pasti, sebuah kecupan lembut di kening, akhir dari ungkapan perhatian serta kasih sayangnya yang tidak terucap.
"Baiklah Anak-anak! kita pulang sekarang, test bacaan Al-Qur'an-nya di mobil saja." Ucap Afnan kemudian kepada anak-anaknya, setelah pelukan Hasna terlepas.
Anak-anak yang melihat keseriusan dari wajah Afnan pun tidak banyak protes. Mereka segera ikut berbenah barang-barang milik mereka untuk pulang.
Bersambung....
__ADS_1
Ada apakah my Readers Gemez?!! nantikan NEXT Babnya👌🤗