
Afnan baru saja masuk ke dalam rumahnya. Ia langsung menuju kamar. Afnan menghela nafas lega, Istrinya masih ada, tidak minggat melalui lobang angin seperti yang Ubaydillah katakan.
Nampak Hasna sudah terlelap, Afnan melihat jam sudah pukul sembilan malam. Afnan segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Sayang?" Afnan memanggil Hasna pelan, setelah berganti pakaian Afnan ikut bergabung di tempat tidur. Pipi mulus nan halus milik Hasna yang kini menjadi sentuhan lembut Afnan, nampak sisa air mata di sekitar mata Hasna yang agak membengkak.
"Astaghfirullah! maaf telah melukai perasaanmu!" bisik Afnan. Lama Afnan menatap wajah yang kini sedang terlelap dengan damai, meringkuk seperti bayi dengan kedua tangan di lipat sebagai bantal, bahkan letak tidur Hasna tidak pada tempat semestinya.
"Sayang! kamu tidak rindu padaku?" bisik Afnan kembali.Hasna belum merespon. Sepertinya ia kelelahan menangis, hingga tidur dengan amat lelap.
Beberapa menit kemudian, Hasna menggeliat. Hasna terusik dengan sesuatu yang sedang menjejaki leher hingga pangkal telinga, lembab, hangat dan agak basah. Bibir Afnan sedang menyusuri leher Hasna dengan lembut.
"Emh!" lenguh Hasna, perlahan matanya terbuka. "Hehm, By!" senyum simpul dengan tatapan nanar, kesadaran Hasna belum sepenuhnya terkumpul.
"Sayang! ma'afkan Byby!" bisik Afnan, telinga Hasna terasa hangat karena hembusan nafas Afnan. Itu membuat kesadaran Hasna kembali.
"Ah! B-B-By...By...ini kamu kan, By?" Hasna terkejut hingga ia langsung duduk dan melihat Afnan tersenyum serta mengangguk. Hasna langsung menghambur ke dalam pelukan Afnan.
"Byby ma'afkan Nana! ma'afkan Nana!" Hasna menangis sejadinya dengan menenggelamkan wajahnya di dada Afnan.
"Ssst! please jangan mengatakan maaf lagi! itu menyakitkan. Byby sudah memaafkan mu, jauh sebelum kamu memintanya, Sayang." Hasna makin sesenggukan. Antara lega dan rasa bersalah melebur dengan tangisan.
Tidak ada yang bicara setelah itu. Afnan membiarkan Hasna menangis, tangannya mengelus lembut punggung Hasna, bibirnya mengecup pucuk kepala Hasna berkali-kali.
"Ah, hesstt." Hasna meringis tatkala tangan kirinya terlalu menekan di perut Afnan.
"Sayang! ada apa?"
"Maaf By! tangan Nana sakit."
"kenapa tangannya?"
"Hemm, jatuh!" jawab Hasna pelan "Dan cedera." Lanjutnya.
"Koq bisa jatuh? sedang latihan atau tanding? apakah cederanya serius?" tanya Afnan kembali dengan meneliti lengan Hasna.
"Sengaja jatuh! heeee... cederanya tidak terlalu serius koq." jawab santai Hasna dengan menyeringai.
"Astaghfirullah! koq begitu?"
"Tujuanku pulang By! siapa sangka dari drama jatuh ini, malah cedera betulan! namun, keuntungan lebih untuk ku!" Hasna menyeringai. Afnan geleng kepala.
"Aku telah salah melangkah dan keliru dalam membuat keputusan. Cintaku pernah kalah oleh ambisi, aku pernah meninggalkan hal indah yang ku miliki, yaitu kamu By!" Hasna menangkup wajah Afnan dengan kedua tangan, dengan tangan kiri yang Hasna paksakan.
"Bersyukur Allah menolongku untuk kembali meraih cinta dan keindahan dalam hidupku. Sebaik-baiknya di luar sana, tidak ada yang lebih baik selain keluarga."
"Nakal!" Afnan menarik pelan hidung Hasna.
"Bukankah Byby yang menginginkan aku selalu nakal, yang penting nakal beriman, ia kan?"
"Ya ya ya! aku lagi yang~." Cup, Hasna mengecup bibir Afnan hingga menjeda kata-kata yang akan meluncur dari mulutnya.
"Sheh!" Afnan mendesis pelan dengan senyuman kecil, rasanya bibir itu mati rasa, sudah tiga bulan tidak mendapatkan sentuhan.
"Bisa di ulang, Sayang? rasanya aku lupa, cara berc**man." pinta Afnan dengan menjilat bibirnya sendiri dengan tatapan menggoda, bertujuan menggoda Hasna.
"Mulai deh turn on, mesumnya!" ledek Hasna.
"Mesum sama kamu sih harus! mencari tambahan pahala, Sayang. Kan sudah ada lawannya, kemarin-kemarin aku tidak punya lawan. Jadi...lupa tuh rasanya bercumbu."
"Ikh, gak senonoh! itu hukuman karena Byby sudah mendiami ku, hingga pesan saja di abaikan, Byby jahat!" Hasna meninju pelan lengan Afnan.
"Bukannya jahat, aku hanya tidak ingin nekad nyusul kamu ke Eropa. Kalau aku pergi juga, lalu anak-anak bagaimana? aku tidak mau Anak-anak kehilangan figur Ibu, juga Ayahnya. Mereka masih terlalu kecil untuk kita tinggalkan."
"Ma~."
"Sssttt!" Afnan langsung membungkam bibir Hasna dengan ******* lembut dan menuntut. Hasna membalasnya dengan sukacita.
"Lalu tiga bulan ini, Byby mikirin aku atau tidak?" Hasna melepaskan tautan bibir mereka lalu menatap Afnan.
"Aku... sibuk!"
"Berarti Byby sudah berhasil melupakan aku, dengan kesibukan itu?" Hasna manyun.
"Siapa bilang. aku tuh sibuk mikirin kamu!" Hasna tersenyum malu.
"Sayang! Aku suka saat kita kacau namun, tetap romantis, berapa banyak masalah yang datang silih berganti akan tetapi perasaan kita tetep sama." Ujar Afnan dengan memandang lekat wajah Hasna.
"Hatiku adalah yang paling beruntung dan paling bahagia di alam semesta ini, karena kamu hidup di dalamnya. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan betapa aku bersyukur menjadi penerima cinta, sebagai Istri mu." Hasna kembali menatap Afnan dengan lembut.
"Sayang, terima kasih telah mau menemaniku dalam petualangan ibadah terpanjang dan menakjubkan dalam hidupku. Selamat kembali ke rumah, selamat kembali untuk membuat jatungku berdebar tanpa berlari. Ku mohon jangan pergi lagi." mohon Afnan di akhir kalimat.
"Kata-kataku yang pernah mengatakan bahwa aku suka tantangan, ternya telah menjadi doa yang di qobul oleh Allah. Teruslah menjadi istri nakal Shalihah ku! tetaplah menjadi Gemez nakal ku, berjalanlah bersebelahan dengan ku dalam rumah tangga ini, dampingilah aku dengan tetap menjadi dirimu, aku hanya akan mengizinkan kamu pergi saat sang Maha Pemilik hidup memintamu kembali." Afnan mendekap tubuh Hasna.
"By!"
"Hum!"
"Aku tidak akan pernah pergi darimu lagi, kecuali Allah yang meminta hidupku. Karena Aku pernah membawa hatiku. Namun, separuh hatiku hilang dan ku temukan di sini." Hasna mengelus lembut dada Afnan. "Ternyata Byby-lah pemilik sebentuk hati yang utuh itu. Selama tiga bulan ini aku berfikir ulang tentang kamu, maka aku tidak akan pernah pergi lagi. Hidup berjauhan dengan Byby dan Anak-anak rasanya bagai jiwa ini tak memiliki raga." Hasna kembali meneteskan air mata.
"Syukron, Sayang! Kehadiranmu membuat hidupku penuh warna. Jangan pernah lelah mencintaiku, jangan berhenti membuatku tersenyum." Afnan mengecup kening Hasna dalam.
"Afwan Byby! Separuh hatiku telah tersangkut dan terbawa oleh Byby sejak hari di mana Byby tidak pernah menolak sedikit pun apa yang ku inginkan, termasuk permintaan mahar yang di nilai gila oleh sebagian orang. Dan separuh jiwa Byby telah bersamaku sejak pertama kali kutatap matamu. Aku suka melihat Byby tersenyum, Aku tidak pernah meminta Byby untuk setia namun, hanya kumohon bawalah Aku selalu dalam hatimu, sematkan aku di bagian hatimu yang terdalam. karena aku tahu! Byby tidak akan pernah menyakiti bagian dari tubuh Byby."
"Tahukah kamu, apa arti kebahagiaan bagiku?" tanya Afnan dan Hasna menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kebahagiaanku adalah kamu! segala hal yang ada di dalam dirimu adalah kebahagiaanku. Mulai hari itu, saat kata Sah mengikat kita dalam halal, maka kita memiliki takdir yang sama, yaitu menggabungkan dua hati untuk menjadi satu dalam cinta."
"Kamulah pilihan terakhir ku! jangan bosan mencintai aku karena Allah, By!"
"Aku tidak akan mengumbar kata-kata sebagai janji, aku hanya akan membuktikan dengan perbuatan yang tidak akan pernah kamu lupa. Bahwa aku mencintaimu karena Allah." Afnan mengecup tangan Hasna.
Hasna tersenyum dengan mengecup pipi Afnan. "Ana Uhibbuki Fillah, Hubby!"
"Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu. Ana Uhibbuka Fillah. Wifey."
"Sayang! Kamulah Duniaku, yang akan aku bawa hingga ke Surga-Nya. Insya Allah!"
Hasna makin mengeratkan pelukannya. Hatinya di landa bahagia yang teramat.
"By!"
"Ya!"
"Kaki Byby koq pakai kruk? kata Lintang kecelakaan saat berlatih? apa benar By?"
"Hehe, benar! pergelangan kakiku terkilir agak parah saat kejadian, makanya masih di tangani ahli terapi dan hingga saat ini harus menggunakan kruk agar posisi pergelangan kakinya stabil! mobil merah ku menabrak pembatas sirkuit dan kakiku menekuk saat menahan rem ketika terjadi benturan keras." Tutur Afnana.
"Semua karena Nana ya By?"
"Iya!" jawab Afnan, ingin tahu reaksi istrinya.
"Maaf!" lirih Hasna, wajah Hasna langsung murung.
"Sudahlah, jangan murung begitu, semua telah terjadi! ibarat nasi sudah menjadi bubur. Maka berhentilah meminta maaf dan menyalakan diri sendiri."
"Baik By!"
"Kalau begitu...!"
"Apa, By?" nada curiga dari Hasna.
__ADS_1
"Karena kamu sudah membuat hidupku tidak keruan dalam tiga bulan ini, maka harus ada hukuman yang setimpal!"
"Ih koq begitu? aku baru pulang loh By, lenganku juga masih sakit!"
"Loh memang kenapa? kakiku juga masih sakit! jadi tidak ada alasan untuk kamu, menghindari hukuman ini." tandas Afnan.
"Ya maka dari itu, atas nama Cinta By! lihat kita satu hati kan? hingga cedera saja harus secara bersamaan. So... harusnya tidak ada hukuman apapun!" cegah Hasna dengan menggeser posisi duduknya.
"Tidak! hukuman tetaplah hukuman!" Afnan menyeringai penuh intrik. Ia menggeser tubuhnya mendekati Hasna.
"Byby mau apa?"
"Mau, kamu!"
"Ti-tidak By!"
"Ia, Sayang!"
"Byby jangan mesum ya!"
"Harus! agar kamu tidak berani pergi lagi!"
"Bybyyyy!"
"Ia, Sayang!"
"Akh Byyy!"
Suara desah manja Hasna membuat Afnan segera menutup tubuh mereka dengan selimut.
"Satu-satunya cara agar mereka tidak bisa lari dari kita. Pokoknya, malam ini kita buat mereka hamil A'a bro!" Afnan teringat akan perkataan Ubaydillah.
"Ok! kita buat istri kita hamil Dek!"
"Maka dari itu, Anak-anak kita ungsikan, agar rencana kita mulus, karena tidak ada gangguan dari mereka."
"Ide bagus! Ana setuju Dek!" Final Afnan.
***
Hampir sepuluh bulan kemudian.
"A'a! Dedek! pegangi istri kalian, koq malah berebut toilet?" Umi kewalahan menenangkan dua orang wanita yang berperut buncit karena hamil dan mereka sudah hendak melahirkan.
"Maaf Umi! kami mulas!" jawab Afnan dan Ubaydillah secara bersamaan.
Ternyata, setelah Hasna kembali dari Eropa dia di hukum Afnan dengan di buat hamil. Begitupun Lintang, Ubaydillah menghamili Lintang. Maka dari itu Hasna dan Lintang hamil dalam waktu bersamaan. Merekapun kini hendak bersalin secara bersamaan.
"Byby! perut Nana sakit By!"
"Ayank Dav, perut Lilin juga sakit!"
Ubaydillah dan Afnan masih berebut toilet di dalam ruang inap rumah sakti.
"Ia, Sayang!" Afnan segera menghampiri Hasna. "Mana yang sakit, Sayang?"
"Ini... huf...huf..." tunjuk Hasna pada perutnya. "astaghfirullah! Byby tolong ini sakit!" Hasna meringis dengan mencekal lengan Afnan.
"Ah ia Sayang! Byby pun sakit perut!" jawab Afnan dengan meringis, lengannya nampak merah karena di cengkram Hasna. "Dedek cepat! gantian Ana yang ke toilet!"
"Sebentar A!" teriak Ubaydillah dari dalam toilet. Setelah beberapa lama Ubaydillah pun keluar toilet. Afnan nyerobot begitu saja.
"Umi, tolong titip Nana!" pekik Afnan pada Umi sembari lari masuk ke toilet.
"Bybyyyyy!" teriak Hasna sembari mengerang kesakitan.
"Sebentar, Sayang!" balas Afnan dari toilet dengan suara keras.
"Iya Yank!" Ubaydillah menghampiri Lintang. "Mana yang sakit?" tanyanya.
"Ini, pinggang rasanya mau patah." jawab Lintang.
"Aduh! Astaghfirullah." Ubaydillah kembali mengaduh dan memegangi perutnya sembari mengusap lembut pinggang Lintang.
'A'a cepat! gantian!"
"Sebentar Dek!"
"A'a...Dedek... kalau begini caranya, jangan pernah buat istri kalian hamil lagi!" protes Umi.
"Gak janji. Umi, Sayang!" jawab Afnan dan Ubaydillah, yang mendapatkan tatapan ancaman dari Umi.
Pasalnya, dari semalam Umi di buat pening oleh kedua putranya. Bukan membantu menenangkan para istri yang kesakitan. Mereka malah ikut ikutan mulas, sehingga kehebohan pun terjadi sedari masih di rumah, yaitu saling berebut kamar mandi, dan drama kamar mandi pun berlanjut hingga ke rumah sakit. Abi kyai hanyalah mengekeh sembari berdzikir.
Lima jam kemudian,
"Selamat Ustadz Afnan, Ustadz Ubay. Putra dan Putri kalian telah lahir dengan selamat, Alhamdulillah tanpa kurang suatu apapun." Ujar dokter Ane.
"Alhamdulillah!" ucap Afnan dan Ubaydillah secara bersamaan.
"Terima kasih dok! boleh saya melihat putra dan Istri saya?" tanya Afnan.
"Silakan Ustadz, sekalian mengadzankan." jawab dokter Ane.
"Baik dok!" dokter Ane mengangguk.
"Saya juga, boleh melihat putri Saya dok?" tanya Ubaydillah.
"Tentu, sekalian mengadzankan juga Ustadz!"
Afnan dan Ubaydillah segera masuk ke dalam ruang bersalin, yang mana Hasna dan Lintang berada di dalam ruangan yang sama, dengan kelahiran bayi yang juga dengan waktu bersamaan. Bedanya Hasna melahirkan bayi laki-laki dan Lintang bayi perempuan.
"Sayang! selamat Putra kita telah lahir." Afnan mengecup kening Hasna dengan tetesan air mata haru, lega dan bahagia.
"Terima kasih By!" ucap Hasna. "Selamat juga, Byby kembali memiliki tanggung jawab baru.
"Ia, Sayang! itu semua karena ketangguhan kamu, Surganya Anak-anakku!"
"Yank! terima kasih sudah memberikan aku seorang putri!" ujar Ubaydillah, ia mengecup kening Lintang.
"Terima kasih kembali Yank! lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil kita, Yank!" Lintang tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah, dari aku yang bukan siapa-siapa dan di rawat serta di besarkan penuh kasih sayang dari Umi dan Abi, serta A'a dan Kakak-kakak! kini aku memiliki keluarga utuh! aku ingin selamanya sama kamu Yank!"
"Tentu! atas izin Allah, kita di pertemukan dengan indah. Maka aku selalu memohon kepada Allah di pisahkan pula dengan indah, yaitu kematian yang Husnul khatimah." ujar Lintang dengan tersenyum.
"Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita, Yank! agar kita di pertemukan dan dapat bersama di Janah-Nya."
"Aamiin!"
Afnan dan Ubaydillah mengadzani bayi mereka. Setelah Hasna dan Lintang selesai di bersihkan. Mereka kembali di bawa ke ruang rawat. Sakit perut yang di derita Afnan dan Ubaydillah pun mendadak sembuh setelah menggendong bayi mereka.
"Yeeaayyy Alhamdulillah, akhirnya kami memiliki Dedek bayi." pekik kegirangan Afsha.
"Iya, lucu Dedeknya. Besok Abang beliin es krim ya, Dek!"
"A'a juga, mau beliin Dedeknya A'a permen karet."
"Astaghfirullah! Dedek bayinya belum boleh ma'em es krim dan permen, Sayang!" sergah Afnan.
"Loh kenapa?" tanya polos Afsha.
__ADS_1
"Karena hanya boleh mimi dari Mimma. Nanti kalau sudah sebesar kalian baru boleh ma'em es krim dan permen."
"Baik Biyya."
Anak-anak itu mengangguk serempak. Orang tua Hasna dan Lintang sudah berada di kamar tersebut, tadi sore Elyavira, Devano, Roy, Lintang sudah menjenguk.
Adrian dan Angela berada di Singapura, jadi belum menjenguk Hasna dan Lintang.
Satu Minggu berlalu, Hari ini keadaan rumah utama ponpes begitu hiruk pikuk. Nampak banyak tamu berdatangan. Di rumah utama sedang di adakan Aqiqah putra Afnan dan Putri Ubaydillah.
Aftharez Tsauqhy Al-jaris. (Aftha) Nama Putra dari Afnan dan Hasna.
Kyra Queensha Al-jaris Rayker. Nama putri dari Ubaydillah dan Lintang.
***
Tiga tahun sudah putra bungsu Afnan saat ini. "Aftha Mari bersama A'a dan Kakak! biarkan Mimma dan Biyya bersantai sejenak."
Panggil Afkha dari seberang sana. Afkha dan Afsha saat ini usianya sudah hampir empat belas tahun.
Afkha yang bersahaja tumbuh begitu tampan dan mengagungkan. Ilmu Agama yang makin baik, ilmu beladiri yang makin di kuasai, Afkha adalah cikal bakal laki-laki tampan beriman yang banyak di perhitungkan sebagai salah satu pewaris Hubbul Wathan.
Begitu pun dengan Afsha. Ia adalah gadis yang tumbuh cantik, imut dan Shalihah. Sedikit bar-bar tidak mengurangi rasa kagum para santri akan dirinya.
Kini keluarga Afnan tengah liburan di Singapura. Tepatnya di hotel milik Afnan yang di kelola oleh Adrian. Sore ini mereka sedang menikmati waktu bermain di taman Hotel yang luas dan Afnan memang membuat taman buatan tersebut dengan berbagai permainan anak, tujuannya agar anak-anak mereka dapat bermain dengan bebas dan nyaman saat liburan ke tempat tersebut.
Lintang dan Ubaydillah pun turut serta namun, sepertinya mereka masih di kamar hotel dan belum turun untuk bergabung bersama mereka.
"Nda au, Afa ingin engan Ima dan Iya caja (enggak mau, Aftha ingin dengan Mimma dan Biyya saja) jawab Aftha terdengar menggemaskan.
"Aaah Dek Aftha, tidak seru nih! masa main dengan Mimma dan Biyya! lalu main dengan A'a dan Kakaknya kapan? nanti tidak Kakak beri es krim loh!" protes Afsha.
"Nanti yah! Ial, ati Iya beyitan!" (Nanti lah! biar, nanti Biyya belikan) jawab Aftha lagi dengan santai.
"Masya Allah, Sayang! pintar sekali sih Dedek!" ujar Afnan dengan mencubit pipi gembul Aftha. "Lihat Mim, Aftha tuh pendiriannya kuat loh! kalau tidak mau ya tidak mau."
"Ia Biyya! A'a sama Kakak juga sering di buat kesal. Apalagi nada bicaranya yang terdengar kritis itu." Hasna tertawa kecil, Aftha amat menggemaskan, ia kecupi dengan gemas pipi chubbynya.
"Ima tukup! pipi Afa bacah!" protes Aftha sembari melepaskan diri dari kecupan Ibunya.
"Loh, Dedek mau ke mana, ma'em buahnya sudah?" Aftha tiba-tiba saja turun dari pangkuan Hasna yang tadi sedang asik menikmati buah.
"Cudah, Ima! amduyiyah cudah tukup!" (Sudah, Mimma! Alhamdulillah sudah cukup." jawab Aftha.
"Afa ain engan A'a dan Tata Iya, Ima! Attaymuayikum." (Aftha main dengan A'a dan Kakak Biyya, Mimma! Assalamu'alaikum.) Aftha langsung berlari ke arah Afkha dan Afsha setelah salamnya di jawab oleh orang tuanya.
"Hem, tidak terasa Anak-anak sudah besar ya, Sayang! sepertinnya Aku rindu suara tangis dan Celoteh bayi, nambah satu lagi ya Mimma." bisik Afnan.
"Ikh apa sih Biyya!" Hasna menjauhkan dirinya dari Afnan.
"Tidak perlu pura-pura ilfil gitu Mimma. Biasanya juga Mimma nyosor duluan, mari memproses bayi lagi Mim. Mumpung Dek Aftha lagi asik main."
"Tidak mau!"
"Kalau begitu, nambahin pahala deh Mimma!" rayu Afnan dengan gaya menggoda.
"Tidak mau juga! lihat By matahari masih bersinar, masa mau Aha Aha-an!" Hasna berlari untuk menghindari Afnan, tapi Afnan mengejarnya.
"Ya tidak apa-apa Mimma, namanya nambahin pahala tidak perlu nunggu malam." Afnan makin menggoda Hasna.
Afnan dan Hasna masih kejar-kejaran dan berputar putar di taman tersebut, kebetulan taman sedang dalam keadaan sepi.
"Lihat Biyya dan Mimma main kejar-kejaran!" pekik Afsha di sambut tepuk tangan kegirangan dari si kecil Aftha.
"Biyya!"
"Mimma!"
"Biyya!"
"Mimma!"
Euforia dari Anak-anak membuat Afnan makin semangat mengejar Hasna dan tidak berapa lama Hasna tertangkap oleh Afnan.
"Nah kena deh!" Afnan memeluk Hasna dari belakang.
"Biyya lepas! malu nanti di lihat orang." Hasna meronta-ronta ingin di lepas.
"Tidak ada orang. Taman ini clear, karena aku yang meminta pihak hotel menutup taman ini untuk sementara, agar kita dan Anak-anak tidak terganggu dengan kehadiran orang lain.
"Astaghfirullah! pantas saja taman ini sepi, tidak seperti biasanya. Oh ternyata di sabotase si Bos!"
"Sesekali Mimma."
"Ya ya ya... Bos mah bebas ya By!"
"Ya kan kamu Ibu Bosnya."
"Tidak mau, aku Nana Istrinya Ustadz. Bukan Ibu Bos!" di perkirakan Hasna mencebikan bibirnya di dalam niqab.
"Ia deh ia, Nana Istrinya Ustadz." Cup...Afnan mengecup bibir Hasna dari luar niqab.
"Byby! nanti anak-anak lihat!" protes Hasna, Afnan hanya mengekeh dan membimbing Hasna untuk duduk di atas rumput bersamanya.
"Tidak akan! aku kan selalu melakukannya dengan rapi. Karena mencuri kecupan pada bibir mu, sudah menjadi keahlian ku."
"Ahahaha... Byby! kalau begitu, mencuri perhatian dari mu adalah kelihaian ku."
Afnan dan Hasna sama-sama tertawa. "Aku suka saat kamu mencuri perhatian dariku!" Afnan memajukan wajahnya, Afnan bermaksud kembali mengecup bibir Hasna. Namun,
"Biyya, Mimma! mari kembali ke kamar, hari sudah hampir Maghrib, bukankah kami harus bersiap-siap?" Afkha memanggil Biyya dan Mimmanya. Membuat Afnan terkejut dan menoleh ke arah Afkha. Nampak si kecil Aftha sudah berada di belakang tubuhnya sedang ia gendong di belakang.
"Baik, Sayang!"
"Tuh hampir Ketahuan! janji tidak akan nakal jika di luar kamar!" pinta Hasna.
Afnan malah tertawa. "Tidak janji!" jawaban Afnan mendapatkan hadiah cubitan mesra dari Hasna lumayan membuat Afnan meringis.
"Biyya, Mimma!" kali ini Afsha yang memanggil..
"I-iya, Sayang. Mari By!" ajak Hasna.
"Mari Mimma! eh bunganya yang tadi kuberikan jangan di tinggal." ujar Afnan. Setelah ia mengambil bunga dan memberikan bunga pada Hasna, Afnan dan Hasna berjalan ke kamar mereka dengan berdampingan dan bergandengan tangan.
Terima kasih para Readers gemez kesayangan, sudah mendukung karya Author. dari mulai IU? hingga IU part 2.
Nampaknya sampai di sini kisah Hasna dan Afnan. Syedih sih harus berpisah dengan kalian. Tapi ya cerita ini harus ada akhir. Mohon maaf kalau akhir dari kisah ini kurang greget dan memuaskan. Author hanyalah manusia biasa yang banyak kekurangan. Karena yang maha sempurna, Maha benar dan Maha baik itu Allah SWT.
Akhirul kata, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh.
...~Tamat~...
...Bekasi,...
...\=06/11/2021\=...
...\=00:15\=...
__ADS_1
...@Rose Noor...