
Di sudut lain kota S,
Roy yang dinyatakan sudah sembuh pun. Ia di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit oleh dokter.
Kini Roy dan Dias sedang berada di dalam mobil yang melaju menyusuri sebagian jalan berhotmix kota S. Mobil milik ponpes yang di minta Afnan untuk menjemput Roy serta Dias, lengkap dengan sang supir.
"Pak! di perempatan depan, lurus saja yah!" Pinta Roy pada Pak Supir.
"Baik den!" jawab sang supir dengan sopan.
Dias yang mendengar Roy mengubah rute perjalanan mereka, ia merasa heran, akan kemana suami nya itu? Pasalnya, jalan yang mereka hendak lalui bukan jalan menuju ponpes. Rute Ponpes harus nya belok ke kanan.
"Loh Bang! mau kemana? koq jalan nya tidak menuju ke ponpes?" Dias mengangkat tubuh nya sebentar dari dekapan Roy, lalu menatap suaminya dengan tatapan bingung.
"Ya memang kita tidak pulang ke ponpes, sayang. Kita akan pulang ke rumah Ku." Jawab Roy dengan tersenyum. Kembali menarik Dias ke dalam pelukannya.
"Rumah Abang?"
"Ya, rumah Ku! rumah kita tepat nya." Jawab Roy dengan santai.
Dias diam. Ia belum paham apa yang sedang suaminya katakan! setahu Dias, Roy tidak memiliki tempat tinggal lain selain di building ponpes.
"Bukan nya, rumah Abang itu sudah di sabotase para saudara nya Abang ya?" Dias masih belum menemukan jawaban dari Roy.
"Ya, itu beberapa bulan yang lalu. Namun berkat bantuan Bang Ustadz Afnan dan Bang Ustadz Ubay, sekarang rumah itu telah kembali. Sebagai rumah kita nanti nya sayang."
Dias yang kembali di peluk Roy pun, menengadahkan wajahnya, menatap wajah tampan suami nya. Tersirat keengganan dalam iris kecoklatan tersebut.
"Kenapa? ada apa? sayang, keberatan jika kita tinggal di rumah Ku? rumah kita!"
Dias tidak menjawab pertanyaan Roy. Ia hanya menggelengkan kepala nya pelan dengan bibir senyum simpul dan tetap mengatup. Lalu ia kembali menelusupkan wajah nya di dalam dada flat nya Roy.
"Sayang! katakan pada Abang, jika ada hal yang tidak kamu setujui atau kamu merasa keberatan tentang pendapat dan tindakan Abang. Aku bukan orang yang otoriter, menikah dengan ku, bukan berarti melenyapkan kebebasan berpendapat dan juga membatasi pergaulan mu, selama masih di jalan yang baik dan dapat di terima dengan nalar."
"Maaf Abang sayang! Bukan maksud Iyas menentang Keinginan Abang untuk tinggal di rumah Abang. Namun untuk saat ini, Iyas masihlah merasa nyaman tinggal di Ponpes."
Akhirnya Dias mengeluarkan isi hati nya yang terasa mengganjal. Roy tersenyum bahagia. Awal pernikahan yang tidak melibatkan kebohongan karena merasa tidak enak, pikir nya.
"Baik! kita memang akan tetap tinggal di Ponpes. Setelah Mami menikah dengan Ayah nya Iqbal, dan Setelah Mami ikut tinggal bersama Ayah Iqbal di Desa nya . Maka setiap akhir pekan kita akan pulang ke rumah kita, untuk menghabiskan waktu berdua. Bagaimana?" tanya Roy. Solusi yang tepat seperti nya.
__ADS_1
Mami Roy telah di lamar Ayah nya Maulana Iqbal dua hari yang lalu di rumah sakit, tepat nya di kamar rawat inap Roy. Mereka sama sekali tidak pernah bertatap muka sebelum nya. Hubungan mereka hanya berdasarkan rekomendasi Iqbal dan Roy.
Mami Roy akhirnya menerima pinangan secara sederhana atas desakan Iqbal. Namun betapa terkejutnya mereka ketika bertemu, Mami Roy dan Ayah nya Iqbal ternyata sama-sama cinta pertama sekaligus cinta monyet ketika di SMP dulu waktu tinggal di Jakarta.
Karena Kakek nya Roy pindah tugas maka Mami Roy ikut pindah ke Semarang. Sedangkan Ayah Iqbal selang satu tahun kemudian ikut pindah orang tuanya kembali ke Desa mengelola lahan pertanian warisan Kakek nya hingga kini telah menjadi kepala Desa di Desa nya.
"Setuju! terima kasih Abang ganteng, Abang sayang. Imam ku, Insya Allah until janah." ujar Dias pada akhirnya, ia begitu sumringah mendengar jalan keluar dari Roy.
"Aamiin. Terima kasih kembali sayang."
Cup!
Mata Roy membelalak tidak percaya. Bibir mungil sang Istri baru saja mendarat bebas tanpa permisi pada pipi kanan nya.
Roy reflek mengelus lembut pipi nya. Dias masih menatap nya secara intens. Ia takut Roy marah atau tidak senang karena ia telah kurang ajar mengecup pipi nya secara tiba-tiba.
Namun Roy malah menutup matanya dengan telapak tangan nya dengan tersenyum malu. Ia memalingkan wajahnya salah tingkah. Tidak terkecuali dengan Dias yang juga merasakan malu pada akhirnya. Ia pun memilih membelakangi Roy dan senyum malu-malu ke arah jendela.
Pasangan pengantin baru yang baru lima hari menghabiskan waktu bersama di rumah sakit itu, ternyata belum terbiasa dengan sentuhan kecil seperti itu. Roy dan Dias akan merasa malu dan canggung pada akhirnya.
Padahal Roy sering menggoda Dias. Roy yang bersahaja jika bicara, nampak dewasa serta bijaksana dalam urusan kepentingan rumah tangga, apalagi keperluan Dias! namun pada kenyataannya, mereka masih akan sama-sama malu jika salah satu nya bertindak agresif. Mereka bisa di bilang salah satu pasangan yang menggemaskan.
***
Sementara itu,
Sore hari pun telah tiba. Hasna dan Lintang sedang dalam perjalanan pulang menuju ponpes. Setelah sebelumnya mereka memanjakan diri di Spa, maka sesudah nya Hasna dan Lintang pun pergi mengunjungi salah satu panti asuhan yang berada di batas kota.
Setelah puas bermain bersama anak-anak panti. Mereka segera berpamitan kepada pengelola panti. Mereka tidak ingin kemalaman di jalan.
"Rezeky nomplok!"
"Apa sih Na?"
"Weh lihat Lin! gak nyangka akan bertemu yang beginian." Hasna menunjuk ke arah depan. Kali ini Hasna yang mengemudikan mobil.
Lintang yang sedang pokus pada sebuah buku pun, lantas menengadahkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya pada arah yang di tunjuk Hasna.
"Astaghfirullah! ya Allah mengapa harus bertemu hobby nya Nana! Na, lo jangan macam-macam dan jangan cari gara-gara deh!" ancam Lintang pada akhirnya.
__ADS_1
Di depan sana, nampak kerumunan mobil-mobil modifikasi yang siap meluncur bebas untuk balapan liar di area jalan yang cukup sepi dari pengendara lainnya.
"Siapa yang mau cari gara-gara dan macam-macam! Lilin sayang, gue hanya ingin satu macam koq. Yaitu, berbaur bersama mereka dan mencapai garis finish pertama." Hasna menoleh pada Lintang tersenyum dengan santai nya di balik niqab.
"Nana! putar arah, lewat jalan lain saja. Pantas saja dari tadi di jalan ini koq sepi, tidak seperti biasanya. Oh ternyata jalan nya sudah di blokir oleh mereka-mereka itu." Ucap Lintang.
"Ia Lin, kebetulan sekali." Hasna menyeringai. Lintang geleng kepala, sahabat sekaligus ipar nya itu bukan nya takut, ia malah nampak sumringah melihat mobil-mobil di depan yang siap berduel.
"Ok, eratkan pegangan. Siapakan mental! lafalkan Doa, rencananya, diam-diam gue akan menyusupkan mobil ini di antara mereka. Setelah bendera berkibar kita akan melesat, tujuan gue hanya garis finish pertama. Setelah nya kita tidak perlu berhenti. Terserah mereka mau berbuat apa. Ok Lin?!"
"Na, boleh dong gue memilih turun saja, lebih baik pesan taxi online, atau minta di jemput Ayang Dav." Lintang memelas.
"Opsi nya hanya dua Lin." Ucap Hasna yang mulai melambatkan mobil nya, pandangan nya beredar pada setiap mobil yang sudah berbaris rapi. Ia sedang mencari celah untuk menelusup kan mobil Lintang di atara para berandal sore tersebut.
"Ok, gue pilih satu di antara dua Opsi tersebut. Apaan?"
Sebelum menjawab pertanyaan Lintang. Hasna membelokkan mobil itu ke kiri secara perlahan dan diam-diam. Seperti nya ada satu celah untuk ia menempatkan mobil itu, tanpa para berandal itu sadari.
"Yang pertama, Lo diam, yang ke-dua lo diam saja."
"Huh! apa bedanya," dengus Lintang dengan raut wajah nampak kesal.
"Lilin sayang. Gue gak mau lo sendirian di sini. Makanya diam dan berdoa saja, Insya Allah kita akan baik-baik saja. sesekali hidup juga perlu ketegangan. Biar urat syaraf pada kendur." Lagi-lagi ucapan yang begitu enteng nya.
Di sisi belakang kanan mobil Lintang.
"Di, lihat mobil itu, aing (seperti gua dalam bahasa Indonesia dan ini bahasa Sunda) baru lihat," (harus nya Thor pakai bahasa Sunda,namun bahasa Indonesia saja). ucap salah satu pria yang berada di dalam mobil belakang Hasna.
"Hooh Fir! emmm, mungkin anak baru. Peserta balapan ini kan dari berbagai penjuru kota, bukan hanya dari wilayah ini saja." Balas pria satu nya yang tengah bersiap di balik kemudi.
Diam-diam pria yang pertama bicara,ia memotret plat nomor kendaraan milik Lintang dengan ponsel nya.
Sedangkan di dalam mobil Lintang. Hasna dan Lintang masih adu argumen. Lintang yang meminta Hasna untuk berhenti dan kembali. Hasna yang tetap pada pendiriannya untuk ikut balapan liar tersebut.
Namun sepertinya keinginan Lintang tidak akan terealisasikan. Nampak di depan, seorang wanita tengah bersiap melambaikan bendera, pertanda di mulai nya balapan liar tersebut. Maka dari itu Hasna tidak dapat mundur.
Hasna mulai berancang-ancang dengan melafalkan Basmallah. Lintang pun sudah berpegangan erat dengan mulut yang tidak berhenti Komat Kamit.
Bersambung ....
__ADS_1