
Roy pun membaca isi pesan di dalam secarik kertas tersebut.
"Aku ingin bertemu dan bicara! dengan mu, Abang. Aku harus kembali ke Jakarta. Aku gak mau jadi Adik nya Abang! Aku mau nya jadi Istri Abang!" isi tulisan nya Dias.
Roy menghela nafas pelan, Setelah membaca pesan dalam secarik kertas dari Dias.
"Yas! kamu cantik, Baik, lucu dan saat ini taraf hidup kita berbeda jauh. Mengapa harus aku yang kamu inginkan! karena keadaan ku. Maka aku sudah tidak memiliki keinginan untuk mencintai seorang wanita." Batin Roy.
"Shut! shut!" Dias memanggil Roy dengan desisan yang keluar dari mulut nya.
"Ah!" Roy terperanjat dari lamunan nya. Kemudian ia meminta kertas dari santri putra lain nya. Biasanya Iqbal bagai bayang-bayang untuk nya, kemanapun ia pergi, Iqbal akan menyertai, di manapun ia berada maka Iqbal pun ada. Namun sudah tiga hari ini, Iqbal pulang ke Desa nya. Roy menulis balasan untuk Dias!
"Ba'da Ashar, ku tunggu di area berpanah! ajak serta beberapa santri putri untuk menemani."
Dias begitu sumringah mendapatkan balasan pesan dalam secarik kertas dari Roy.
"Ok!" Dias memberikan kode, dengan menyatukan ibu jari dengan telunjuk nya hingga membentuk huruf O.
"Ekhem! Wahai Anak Adam! janganlah kalian lalai." Suara sang Ustadz sebagai Guru pembimbing pun membahana, ucapannya sudah dapat di pastikan sebagai peringatan agar tidak berbicara saat menyimak bimbingan nya.
Mereka pun kembali konsentrasi pada apa yang sedang di pelajari saat ini.
***
Rumah kayu.
"Assalamu'alaikum!" Roy berucap salam. Ia ingin bicara dengan Afnan. Kebetulan Afnan sudah pulang.
"Wa'alaikum salam!" terdengar sahutan dari dalam. Tidak berapa lama, Hasna pun muncul dari balik pintu.
"Eh Roy! mau ada perlu dengan Ustadz?" tanya Hasna.
"I-iya Na! Bang Ustadz nya ada kan?" tanya Roy.
"Ada, sedang ngobrol sama kak Ubay, Devano dan Adrian di halaman belakang. Masuk saja yuk!" ajak Hasna.
"Tapi Na!" Roy ragu, karena merasa tidak enak kalau harus mengganggu Afnan yang sedang bercengkrama dengan saudara-saudaranya.
"Hei. Tapi ...?! sudahlah. Ayuk masuk! kaya sama siapa aja, gak perlu sungkan. Ustadz juga pasti gak akan keberatan koq. Lo jalan duluan." Ajak Hasna.
"Am, ok Na! terima kasih." Roy pun masuk setelah di persilakan. Hasna berjalan di belakang Roy setelah menutup pintu.
"By! ada Roy nih!" seru Hasna ketika mereka baru saja sampai di taman belakang.
"Assalamu'alaikum!" ucap Roy.
"Wa'alaikum salam!" jawab mereka secara bersamaan.
"Hai Roy! wah baru bertemu lagi nih setelah bertemu di Jum'at lalu." Sapa Afnan ramah.
"Iya Bang Ustadz," jawab Roy. "Hai semua." Sapa Roy pada mereka.
"Hai! duduk Roy, gabung sama kami nih." tawar Ubaydillah.
"Ia Roy! jangan sungkan, kami kan keluarga mu juga." Devano menimpali.
"Yups Roy. Sini." Adrian menimpali.
"Om Roy!" sapa Afkha yang melambaikan tangan nya dari seberang tempat mereka duduk dan bermain, bersama Afsha, Alnaira dan Arsya.
__ADS_1
"Hai tampan!" sapa Roy.
Elyavira, Lintang dan Angela serta Hasna yang ikut bergabung kembali bersama mereka, terlihat asik berbincang di bangku kayu yang berada di bawah pohon rindang ujung taman.
Afnan memperhatikan wajah Roy dengan seksama, lalu bertanya. "Ada hal yang dapat Abang bantu?"
"Hehe. Ia Bang! mengenai Dias!" jawab Roy agak canggung.
"Ok! mari bicara di dalam," ajak Afnan. Namun sepertinya Roy enggan beranjak dari tempat itu.
Setelah melirik kepada, Ubaydillah, Devano dan Adrian. Maka Roy pun mengeluarkan secarik kertas dari saku Koko nya, lalu menyodorkan nya kepada Afnan. "Di sini saja, semakin banyak yang tahu, Insya Allah, semakin banyak doa dan masukan." Tandas nya.
"Baik!" Afnan membuka kertas tersebut dan membaca nya, setelah nya, ia tersenyum dan memberikan kertas itu kepada Ubaydillah.
"Roy! Roy! menurut ana sih. sudah, terima saja pinangan Dias ini. Lusa doi akan kembali ke Jakarta. Nanti kamu nyesel loh." Ucap Ubaydillah sembari menggilir kertas itu kepada Devano lalu Adrian.
"Iya nih Roy! ada lamaran datang koq malah di tolak," sambung Devano.
"Semangat Roy! apa sih yang membuat kamu ragu?" tanya Adrian.
"Hemmm.... keadaan ku! saat ini dan dulu berbeda! kini, aku hanyalah Roy. Tanpa kedudukan apapun. Ibu ku di anggap gila oleh sebagian orang. Apa nantinya Dias akan mampu memahami situasi ini. Aku takut, Dias melakukan ini hanya karena egonya semata. Saat ini, aku tidak memiliki apapun untuk membahagiakan nya!" tutur Roy.
"Roy! sebetulnya keputusan dan pilihan ada padamu! namun jika kamu berfikir seperti itu. Sama saja kamu minder dan pesimis serta terdengar berputus asa." Ujar Afnan.
"Entahlah, Bang Ustdaz." Tukas Roy. "Saya mohon saran nya!"
"Roy! Dan janganlah berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah kaum yang kafir." (QS. Yusuf : 87).
"Innalilahi wa innailaihi Rodjiun." tanggapan serempak mereka.
"Astaghfirullah'aladzim." Roy berucap.
"Sedikit gambaran, Pesimisme dan keputusasaan adalah musuh keimanan karena seolah menafikan pertolongan Allah. Nabi SAW, melarang seseorang apalagi pemimpin untuk menyebar ketakutan dan pesimisme." Ujar Afnan.
"Lalu, bagaimana Roy?" tanya Ubaydillah.
"Hemm.... Kalau kami Jodoh, pasti akan ada jalan nya! untuk saat ini, Saya hanya mampu melepas Dias untuk kembali ke Jakarta. Demi melanjutkan pendidikan nya. Saya pun butuh waktu untuk merampungkan Kuliah saya, menyembuhkan kaki saya dan tentu menata keadaan Mami agar lebih baik. Alhamdulillah Mami sudah kembali khusyu beribadah dan ia sudah tidak pernah bermimpi buruk lagi yang menyebabkan nya berteriak histeris kalau malam." Tutur Roy.
"Alhamdulillah."
"Bagaimana, hasil dari proyek yang saya anjurkan?" tanya Afnan.
"Proyek apa A'a Bro?" Ubaydillah menyelak dengan pertanyaan sebelum Roy menjawab.
"Proyek Shalat malam, hehe." Afnan menyeringai.
"Ouh. Maaf Roy! silakan jawab," pinta Ubaydillah.
"Hehe, tidak apa-apa. Dari awal menjalankan nya, jawaban nya selalu sama. Setelah berbicara dengan Abang Ustadz! maka hati saya semakin mantap dengan petunjuk dari Allah." Jawab Roy.
"Baiklah! jika memang sudah menemukan jawaban dari setiap keluh kesah kamu, maka pilihlah yang terbaik, saya hanya dapat mendoakan
"Alhamdulillah. Masya Allah Roy! kami tidak menyangka loh, kamu yang dulu mirip gengster ternyata memiliki perangai yang baik, berbudi luhur," ucap Ubaydillah.
"Ah jangan memuji saya secara berlebihan Bang Ustadz Ubay." Sanggah Roy malu.
Akhirnya mereka tertawa bersama. Di lanjutkan dengan obrolan lain nya.
***
__ADS_1
Ba'da Ashar.
Di tempat Roy, menjanjikan Dias bertemu.
"Bang! Aku rindu." Ucap Dias dengan menunduk.
"Jangan katakan hal yang tidak pantas, Kepada yang belum halal untuk mu." Ucap Roy lembut.
"Maaf!"
"Tidak perlu minta maaf! Aku faham akan perasaan mu. Namun, lebih baik kata-kata itu di simpan saja, boleh di ucapkan ketika Aku halal untuk mu!"
Dias tidak percaya atas sinyal baik dari Roy. "Tentu Abang."
"Oh ya! lusa Aku akan kembali ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan ku." Ucap Dias.
"Pergi lah! selesaikan pendidikan mu, buatlah Papi mu bangga. Setelah Aku sidang skripsi dan lulus. Aku akan datang untuk meminang mu!" ucapan Roy sangatlah tegas.
"Masya Allah TabarakAllah. Abang serius?" tanya Dias tidak percaya.
"Aku tidak akan pernah main-main dengan keputusan yang sudah melibatkan Allah di dalam nya." Jawab Roy dengan tenang.
"Aku akan menunggu hari itu tiba," ucap Dias sumringah.
"Mami ku ingin bertemu dengan mu. Sebelum kamu pulang, aku mohon temui Mami sebentar." Pinta Roy. Mereka berbincang dengan duduk bersebelahan dengan jarak satu meter. di ujung kanan dan kiri mereka di dampingi santri putra dan putri.
"Insya Allah Bang! Aku akan menemui Mami Abang." ucap Dias.
Pembicaraan pun berakhir begitu saja.
***
Keesokan harinya, Dias menemui Mami Roy.
"Cantik!"
Ucap Mami Roy, dengan mengelus pipi Dias.
"Terima kasih Tante." Ucap Dias.
"Tante hanya ingin bertanya mengenai perasaan kamu terhadap Putra Tante yang saat ini, tidak sesempurna dulu." ujar Mami Roy.
"Tante! dari awal Iyas bertemu dengan Abang! Iyas sudah jatuh hati. Iyas akan terima Abang apa adanya." jawab Dias.
"Alhamdulillah! terima kasih Nak! Tante hanyalah mampu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
Mami Roy menangis haru. Begitu pun dengan Dias. Kini mereka berpelukan.
**
Lusa kemudian.
Dias kembali ke Jakarta.. Setelah berpamitan kepada penduduk Ponpes, kini ia sudah dalam perjalanan dengan di temani Bros pemberian Roy. Tidak ada perpisahan berarti dengan Roy.
Dias sempat mampir ke bengkel di mana Roy mengais Rezeki. Namun seperti biasa. Roy hanya akan berbicara satu dua patah kata dengan mimik wajah yang datar. Akan tetapi yang membuat Dias bahagia. Janji Roy yang hendak meminangnya masih akan ia tepati.
"Bang! setidaknya Aku minta nomor telepon mu! agar aku mudah menghubungi mu, kalau nanti Aku rindu dengan Abang bagaimana?" tanya Dias.
"Maaf! sebelum halal, Abang tidak akan membuat kamu berfantasi dengan selalu menghubungi ku. Aku tidak mau menambah dosa dari masa lalu ku! Biarkan rasa ini bekerja dengan Alami atas Izin Allah. Menahan rindu hanya untuk beberapa waktu saja, Aku rasa akan lebih baik, daripada membayangkan yang tidak-tidak saat bicara. Walaupun hanya di telepon. Karena nanti nya kita pun akan memiliki rindu itu seumur hidup kita, kamu boleh sepuas nya memiliki rindu bagi ku. Untuk sekarang, lebih baik simpan dengan baik rindu itu."
__ADS_1
Dias menghela nafas nya saat mengingat perbincangan akhir nya dengan Roy sembari memandangi siluet gambar Roy yang ia ambil diam-diam. Karena jika Roy tahu. Maka ia akan menyuruh untuk menghapus nya.
Bersambung ....