Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
48. Insiden Hotel (Bom)


__ADS_3

Hari-hari Selanjutnya,


"Assalamualaikum, A'a bro!” sapa Ubaydillah yang baru saja masuk ke dalam kantor Afnan membawa beberapa map di tangan nya.


“Waalaikum.......!” (Afnan belum selesai menjawab salam dan terhenti “salam,” melanjutkan dalam hati.)


Praaangg!! Boom!! wuzzz!!


Aaakkkhhhh .... tolong.....tolong ada BOM!


"Api... kebakaran.... kebakaran .... tolooong!!!"


Bersamaan dengan terdengar nya suara ledakan berkapasitas sedang dari arah hotel, maka tak selang lama terdengar nada jeritan kepanikan dari arah yang sama.


“Astagfirullah, ada apa Dek?” tanya Afnan. Di telinga Afnan, baru saja terdengar ledakan berkapasitas sedang, terdengar suara pecahan kaca dan teriakan serta riuh para suara kepanikan manusia dari arah lobby Hotel.


“SubhanAllah, tidak tahu A!” seru Ubaydillah. Mereka pun berlari ke arah sumber keributan.


“Pak, tolong! Astaghfirullah... Astagfirullah....,” terdengar suara karyawan Restoran teriak dan beristighfar.


“MENEPI!!!” teriak Afnan pada para karyawan nya yang mulai berkerubung mendekati lobby hotel sebagai TKP.


“Pastikan jarak kalian aman! matikan api di dapur, tinggalkan pekerjaan kalian, lalu keluar dari restoran dan hotel! hentikan segala aktivitas." pekik Afnan kepada para karyawan nya.


"Dek! tolong atur dan tenangkan mereka di tempat yang aman,” ucap Afnan lagi. Sebagai pesan pada Ubaydillah, dengan mimik wajah tenang, namun datar.


Lalu Afnan menggulung tangan kemejanya nya hingga hampir ke siku. Ia lihat seorang satpam tergeletak meringis kesakitan memegangi lengannya yang terluka.


Afnan segera berlari kearah satpam tersebut “Pak! pak! masihkah, dapat mengenali dan mendengar saya?” tanya Afnan saat setelah menghampiri satpam tersebut.


“Masih pak!” jawab satpam itu, masih dalam ringisan nya, nampak nya ia masih sangat sadar! Afnan melihat lengan satpam itu menganga sepertinya terkena serpihan kaca jendela.

__ADS_1


Di dalam, Api masih berkobar, sedangkan para tamu dan karyawan Hotel, masih berhamburan keluar menyelamatkan diri.


“Semuanya TENANG!” teriak Afnan. Lalu Afnan menelpon, polisi Imron meminta bantuan nya, menelpon Ambulance dan Pemadam kebakaran.


“Pak! ada empat orang terluka dan salah satunya tak sadarkan diri di dalam, kami kesulitan membawanya keluar.” Salah seorang tamu memberitahukan Afnan, sembari memapah seorang yang terluka di bagian keningnya. Api masih saja berkobar menjilat sofa, beruntung nya tidak menyambar lantai dua.


“Baik,” ucap Afnan. “Pak! ambulans sebentar lagi sampai, tolong bapak kuat dan bertahan ya! saya harus mengeluarkan yang di dalam,” ujar Afnan sembari membuka kemeja putihnya dan ia lilitkan pada luka pak satpam untuk sedikit menahan darah yang terus-menerus keluar.


“Jangan, pak! selamakan saja, diri Bapak!” seru satpam itu dengan meringis.


“Tidak apa-apa Pak! Insya Allah, saya akan baik-baik saja.” Afnan meyakinkan dengan tersenyum.


Ubaydillah menghampiri Afnan setelah memastikan para karyawan restoran di tempat yang aman. “A, Bagiamana keadaan di dalam?” tanya nya.


“Sepertinya, ada yang terluka dan tidak sadarkan diri Dek! maka dari itu Ana hendak masuk untuk melihat, dan mudah-mudahan Ana mampu menolong mereka.”


Afnan mantap berucap dengan mantap. Kini Afnan hanya menggunakan kaos putih sebagai dalaman kemeja yang sudah ia buat membalut luka sang satpam hotelnya.


“Tidak Dek! Anta tetap di luar, tolong bantu memadamkan Api memakai selang,” tolak Afnan.


“Tapi A...” Ubaydillah menghentikan ucapannya. saat ia lihat Afnan tak menjawab, namun hanya melirik nya dengan ekspresi yang kaku.


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ


Ucap Afnan dalam hatinya, ia memejamkan matanya sejenak.


: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا


“Allohumma inni a’udzu bika minal hadmi, wa a’udzu bika minat taraddi, wa a’udzu bika minal gharqi wal hariqi, wa a’udzu biki an yatakhabbathanisy syaithanu ‘indal mauti, wa a’udzu bika an amûta fî sabîlika mudbiran, wa a’udzu bika an amuta ladighan”


Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa reruntuhan. Aku berlindung kepada-Mu dari jatuh dari tempat yang tinggi. Aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam dan kebakaran. Aku berlindung kepada-Mu dari bujuk rayu setan ketika (menjelang) kematian (sakaratul maut). Aku berlindung kepada-Mu dari mati di jalan-Mu dalam keadaan melarikan diri. Aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan binatang.” (Imam al-Nasa’i)

__ADS_1


“Keterangan dari Author yang juga masih dalam proses belajar; Doa di atas termasuk dalam kategori doa 'Isti’adzah'


(memohon perlindungan).


Sedikit penjelasan; "Kalimatnya terdiri dari “a’udzu bika” yang berarti “aku berlindung kepada-Mu.” Dari sekian banyak permohonan perlindungan, “al-hariq” (kebakaran) termasuk di dalamnya. Artinya, doa ini memiliki cakupan yang luas; ada tertimpa reruntuhan, bencana longsor bisa masuk di sini; ada jatuh dari tempat yang tinggi, sehingga cocok untuk pemanjat tebing dan pendaki; ada tenggelam, dan lain sebagainya."


“Karena itu, doa ini bisa dibaca siapa saja, baik yang hendak melakukan kerja-kerja sosial seperti relawan bencana dan tim penyelamat, ataupun oleh para pecinta alam, atlet olah raga, dan peneliti lapangan agar terselamatkan dari bencana-bencana yang tidak dikehendaki tersebut. InsyaAllah Kelebihan doa isti’adzah adalah ia seperti benteng yang melindungi kita”


Tanpa fikir panjang, Afnan berlalu masuk ke dalam lobby hotel nya yang terlihat sudah porak poranda. Langkah Afnan diiringi tahlil (laa ilaaha illallah), dan takbir (allahu akbar) dari dalam hatinya.


Setelah sampai di dalam, ia mengedarkan pandangannya yang di tutupi asap, ia lihat dua orang tergeletak sudah tak sadarkan diri. Dan satu orang sedang meringis kesakitan tidak dapat berdiri. Afnan masih dapat merasakan hawa panas dari kobaran api yang melalap sofa dan juga barang-barang di sekitar dekat Sofa.


Samar-samar terdengar bunyi sirine, entah dari blangwir atau ambulans. Afnan hanya ingin bergegas menolong korban. Ubaydillah tak tinggal diam. Walaupun ia sempat di larang Afnan untuk ikut kedalam, Ubaydillah merasa khawatir pada Saudara nya itu. Dengan mantap Ia mengikuti Afnan masuk kedalam lobby hotel.


Ubaydillah pun masuk kedalam lobby hotel, mengikuti langkah Afnan tadi. "A.. A'a Bro di mana?" teriak Ubaydillah.


“Dek? Ana kan sudah berpesan agar Anta menuggu di luar!" seru Afnan. Afnan dan Ubaydillah akhirnya bertemu di dalam lobby agak tertutup asap tipis.


“Ya sudah, cepat bantu bapak ini kelur,” suara Afnan kencang.


“Baik A! Nah ini yang tidak sadarkan diri bagaimana?” tanya Ubaydillah sembari mengibas ngibaskan tangan di depan wajahnya untuk menghalau asap.


“Anta bawa keluar yang masih sadar lalu bantu Ana kembali mengangkat yang sudah tak sadarkan diri,” ucap Afnan.


“Baik, A!” ucap Ubaydillah hendak melangkah.Namun...Bletuk..Buzz... terdengar suara ledakan kecil.


“ASTAGHFIRULLAH. Awas A!” teriak Ubaydillah saat ia lihat Afnan hampir saja tertimpa sebuah lampu gantung yang lepas dari penyangganya.


“Innalilahi. Astaghfirullah. Alhamdulillah ala kulii haal,” ucap Afnan.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2