
Afnan menerima map dari Zainal. Lalu ia membuka dan memperhatikan isinya.
"Sudah Akhi Zain! data-data ini sudah cukup untuk menyeret mereka ke pihak berwajib bila macam-macam. Terima kasih!" ujar Afnan dengan suara cukup keras.
Anak-anak remaja tersebut saling pandang. "Siapa Anda sebenarnya? mengapa data-data kami ada di Anda? apakah Anda berniat melaporkan kami pada pihak berwajib?"
Salah satu remaja tersebut emosi, mendengar ucapan Afnan.
"Bila kami di usik oleh kalian! maka siap-siap, di manapun Kalian berada, kami sudah tahu dan kalian gak akan pernah bisa lari!" kali ini Ubaydillah yang angkat bicara dengan sedikit mengancam mereka.
"Kalian ngancam kami!" sarkas seorang remaja, ia berdiri dan menggebrak meja.
"Hei! jangan berulah di sini. Berlakulah sopan! Kalian berada di area Pondok Pesantren dan yang kalian hardik ini, Putra Kyai. Sekaligus Penerus dari para pembesar Pondok Pesantren ini." Zainal tidak terima Afnan di perlakukan sekasar itu.
Afnan adalah salah satu panutan di pondok pesantren tersebut. Sebab itu jika Afnan atau keluarga Kyai di perlakukan tidak baik oleh orang lain. Maka bukan hanya keluarga Kyai yang merasakan, akan tetapi para Guru, Ustadz dan juga santri ikut merasa terluka.
"Ma'afkan teman kami, Ustadz! kalau begitu, apakah Istrinya Ustadz bersedia tanding ulang?" tanya remaja yang lebih perangainya lebih ramah.
"Sudah! malam makin larut, mari temukan Kesepakatan." Afnan merelai mereka.
"Hanya itu yang kami mau!" tandas remaja lainnya.
"Terima panjar. (Menerima tantangan)." tegas Afnan setelah menerima bisikan dari Hasna. Membuat anak-anak remaja tersebut terperanjat, bagaimana bisa seorang Ustadz yang usianya jauh dari mereka, mengenal istilah-istilah balapan. Mereka bertanya-tanya di dalam hati, siapa sebetulnya Ustadz yang ada di hadapan mereka.
"Arena balapan, saya yang tentukan. Apa yang kalian mau, jika Istri saya kalah?" tanya Afnan kemudian. Membuat para remaja tersebut mengakhiri rasa penasaran mereka akan Afnan.
"Deal! kami hanya ingin istrinya Ustadz meminta maaf, karena telah menjadi penyusup dan mengacaukan balapan kami." jawab si remaja yang menyimpan photo plat mobil Lintang.
"Baik! tapi jika istri saya yang menang! saya minta kalian bertaubat dari dunia balapan liar, taruhan dan juga berbuat onar. Saya akan memfasilitasi kalian area balapan legal." Tegas Afnan.
"Setuju! besok malam, kami tunggu di area balap! pukul sembilan malam." final remaja lainnya.
"Jalan Raden Fatah, Area perbukitan hijau Cisadane. Distrik Utara. Kalian akan menemukan area balapan di sana. Masuk saja, katakan dari keluarga besar Hubbul Wathan. Maka kalian akan bebas masuk." Ujar Afnan, mereka mengangguk tanda faham. Setelah di rasa semua selesai maka para remaja tersebut membubarkan diri.
Tinggalah Hasna, Afnan, Ubaydillah dan Lintang. Sedangkan Zainal ikut berpamitan setelah para brandal muda membubarkan diri.
"Pemasangan Cctv belum merata A'a Bro! lagi pula penerangan pun belum begitu memadai, harusnya trek ini rampung dalam dua bulan kedepan." Ubaydillah membuka percakapan.
"Besok siang di usahakan Pasang Cctv merata. Penerangan bisa di titik-titik tergelap yang di dahulukan. Untuk aspal jalan sudah ok kan?" tanya Afnan kemudian.
"Bukankah A'a Bro yang sudah menjajalnya?" Ubaydillah malah balik bertanya.
"Ya satu bulan lalu, sepertinya sudah ok." Jawab Afnan.
**
Kini Afnan dan Hasna sudah berada di rumah kayu.
"Sini, Sayang!" Afnan yang sudah bersandar di tempat tidur, memanggil Hasna yang baru saja selesai membersihkan diri.
"Sebentar By! simpan handuk dulu." Hasna menaruh handuk kecil di kapstok baju. Kemudian menghampiri Afnan.
"By! Nana masih belum mengerti, sirkuit balapan itu milik siapa? mengapa Byby tiba-tiba saja memiliki tanah untuk area balapan?" tanya Hasna yang sudah Afnan tarik dan duduk di pangkuannya.
"Milik mu! besok siang, kita kesana, kamu harus lihat dulu treknya sebelum tanding." Jawab Afnan bibirnya mulai berbuat nakal di ceruk leher Hasna.
"Milik ku, By?" tanya Hasna kembali.
"Sudahlah Sayang! besok juga kamu tahu! malam ini, Byby minta hadiah istimewa, karena sudah membantu mu tadi." Ucap Afnan. tangannya ikut nakal, mulai masuk di balik gaun tidur Hasna yang cukup terbuka.
"Ish, Byby perhitungan sekali terhadap istrinya." Hasna mengerucutkan bibirnya yang mendapat sambutan baik dari bibir Afnan.
"Ya karena, kamu Istriku. Kalau sama orang lain Byby tidak akan perhitungan. karena tidak ada hal istimewa yang perlu di perhitungkan." Jawab Afnan dengan tatapan genitnya.
Cup!
Hasna mengecup kening Afnan, kedua pipi, hidung dan terakhir bibir. Di bagian bibir agak lama dan lembut.
"Sudah lunas ya By, itu hadiah istimewanya!" ujar Hasna setelah melepaskan pagutan bibirnya dengan tersenyum.
"Belum! yang tadi bukan hadiah, itu baru niat memberikan hadiah. Hadiah yang sesungguhnya harus di lakukan di balik selimut." Ujar Afnan, langsung merebahkan diri mereka di kasur dan menutupnya dengan selimut.
"By! tunggu sebentar." pinta Hasna.
"Nanti saja bicaranya, Sayang!" suara parau Afnan. Ia sudah mengungkung tubuh Hasna.
__ADS_1
"Byyyy! Nana baru saja datang bulan. So, stop it!" pekik Hasna.
"What? Innalillahi... Abi, Umi, tolooongg. Anak mu merana malam ini." ucap Afnan sembari berguling dari atas tubuh Hasna dan menjauhkan diri. Kini Afnan lunglai memeluk bantal guling.
Hasna mengulum senyum. "Loh koq, minggat?" kelakar Hasna.
"Attut!" ucapan manja Afnan, membuat Hasna gemes. "Ya Allah, kuatkan Iman ini." ujar Afnan kemudian nampak sedikit frustasi, sembari menghela nafasnya berat.
"Hemm, Iman atau Imin?" tanya Hasna dengan tertawa.
"Dua-duanya!" ketus Afnan, namun nampak lucu bagi Hasna.
"Unnncchh! Suamiku tersayang, kasihan sekali." Hasna mengelus lembut pipi Afnan. "Maka nimkat Tuhan mana lagi yang kau dustakan!" ledek Hasna kemudian sembari mengekeh.
"Cukup, Sayaaang! jangan membuat telinga Byby panas." protes lembut Afnan sambil manyun. Hasna makin tertawa menertawai mimik lucu dari wajah yang menanggung beban batin itu.
Akhirnya, malam itu Afnan terpaksa puasa batin. Mereka hanya tidur saling berpelukan.
**
Keesokan malamnya.
Hasna, Afnan, Ubaydillah, Lintang, Zainal dan beberapa santri putra sudah berada di lokasi balapan. Area perbukitan yang Afnan beli dan sudah ia sulap menjadi sirkuit balap mobil dan motor.
Devano dan Elyavira baru saja tiba. Ubaydillah yang memberi tahu. Sedangkan Adrian dan Angela tidak ikut hadir karena masih dalam masa pemulihan.
"Wah, para brandal itu makin banyak A'a Bro!" Ujar Ubaydillah ketika melihat pasukan mobil-mobil brandal liar itu baru masuk.
"Kembali ke rencana awal, Dek. Hubungi polisi Imron, agar mengerahkan pasukannya untuk berada di sekitar sini." Pinta Afnan.
"Ana koq sangsi yah! akan janji mereka yang jika kalah akan menyerah begitu saja dengan perjanjian awal. Ana takut anak-anak itu berbuat onar setelahnya." Kali ini Zainal ikut bicara.
"Tenang Dek Zain. Kita serahkan segalanya kepada Allah. Semua yang terjadi di dunia ini sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT, bukan? seperti halnya pergantian siang dan malam. adanya alam yang indah, sebaliknya adanya hal-hal yang ditetapkan, seperti kita saat ini di sini, jika bukan karena Allah yang menghendaki, maka kita tidak akan berada di sini." Ujar Afnan.
"Pasti Akhi Zain ingat, akan rukun Iman kan? Iman Kepada Allah, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab-kitab Allah, Iman Kepada Rasul, Iman Kepada Hari Akhir dan Iman Kepada Qodho dan Qodar. Sebagai penganut agama yang kaffah kita harus menjalani Keridhoan-Nya dalam mengamalkan rukun Iman ke enam." sambung Ubaydillah. (Ket: Kaffah adalah, secara bahasa artinya keseluruhan. Makna secara bahasa tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita mengenai makna dari Muslim yang Kaffah, yakni menjadi muslim yang tidak 'setengah-setengah' atau menjadi muslim yang 'sungguhan,' menerapkam ajaran Islam di segala aspek kehidupan)
"Maka dari itu dalam hidup, haruslah terpenuhi keseluruhan itu sesuai tuntunan dan arahan dari al-Qur’an dan Hadits. Nah malam ini, Ana dan Nana sedang menjalankan Ridho-nya Allah, yaitu rukun Iman yang ke enam yaitu mengikuti Takdir. Menghadapi sebuah ujian karena menghadapi anak-anak labil kurang iman, yang pastinya amat berbahaya. Lihat mereka." Tunjuk Afnan. Zainal merasa ngeri.
"Astaghfirullah!"
"Maka dari itu, mohon doanya, agar kami di beri kebaikan oleh Allah." Pinta Afnan pada Zainal.
Hasna nampak tenang sedang bercakap dengan Lintang, Devano dan Elyavira.
"Ana tidak bisa melepaskan Nana melawan mereka seorang diri tanpa latihan yang cukup. Selundupkan Ana untuk mendampingi Nana di dalam mobil." Bisik Afnan kepada Ubaydillah.
"Kembang api akan mengalihkan perhatian mereka. Maka masuklah ke dalam mobil, saat semua orang perhatiannya teralihkan." Bisik Ubaydillah kembali.
"Baik! hubungi Arif untuk memasang kembang api, di detik kedua Ana masuk mobil. Lindungi Ana dari sini. Kita bicara lewat headset ini." Afnan menunjuk telinganya.
"InsyaAllah, Ana pastikan akan membantu Anta dan Dek Nana dari sini. Bagaimanapun Dek Nana harus jadi juara. InsyaAllah, Allah Ridho akan itu, maka dari itu, karena balapan terdahulu Allah jadikan Dek Nana sebagai perantara hijrah mereka, A'a Bro." Ujar Ubaydillah dengan tersenyum.
"Anta memang Adik Ana, yang Mumtaz, Dek!" haru Afnan memeluk Ubaydillah dengan tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian, ledakan kembang api nampak indah di udara, cahayan warna warni memenuhi area balap tersebut. Kerjaan Ubaydillah dan sang pesuruh. Afnan memanfaatkan itu untuk masuk ke dalam mobil Hasna. Para berandal itu meminta Lintang yang ikut bersama Hasna sebagai Navigator. Namun, Afnan mengkhawatirkan mereka berdua. Jadilah ia yang akan menggantikan Lintang.
**
Hasna sudah bersiap di dalam mobil. Nampak Ubaydillah sedang berbincang dengan ketua gengs brandal liar tersebut. Tidak lama mereka bersalaman dan dari kedua belah pihak di minta bersiap.
Afnan masih merundukan tubuhnya. Hasna tetap tenang di balik kemudi. Ada sepuluh mobil yang akan ikut bertanding. Hasna lawan tunggal, dia harus mematahkan langkah kesepuluh lawannya
Tidak adil memang namun, itu kesepakatan dari mereka. Tugas Hasna mengalahkan mereka. Walaupun dalam doa Hasna tidak minta menang. Namun ia minta yang menurut Allah terbaik bagi mereka.
Bruumm!
Bruumm!
Suara knalpot mobil Hasna. Para berandal liar agak bergidik ngeri. Sebuah Lamborghini Aventador yang akan mereka hadapi, dengan sekelas City car saja Hasna dapat mengalahkan mereka. Bagaimana saat perempuan bercadar itu mengemudikan Lamborghini-nya, dengan segala sistem speed sudah di modifikasi. Apakah mereka akan menang? mulailah timbul rasa pesimis.
Melihat keadaan sudah aman. Afnan duduk dengan benar. Sebelum memasang safety beltnya sendiri. Afnan terlebih dahulu merapikan Hasna. Pakaian Hasna, kerudung, helmet dan Memasangkan Safety belt lima titik, yaitu safety belt standar nasional dan Internasional pada mobil-mobil dengan kecepatan Horse-power dahsyat/ mobil balap.
"Tetap tenang! jangan berambisi untuk menang. Berusahalah pada sasaran yang tepat. Byby akan menjadi Co-Driver (Navigator) mu, Kak Ubay dan Zain akan membantu kita dari Control rooms." Ujar Afnan mengecup kening Hasna khidmat.
"Baik By! terima kasih sudah mau bantu Nana, menghadapi mereka."
__ADS_1
"Byby tidak akan pernah membiarkan mu mengalami kesulitan seorang diri. Terlebih ini peluang bisnis pahala dengan tujuan membuat mereka hijrah."
"Aamiin." Hasna mengecup tangan kanan Afnan.
Sang girls start mulai mengangkat syal pertanda balapan akan di mulai.
Hasna sudah bersiap dengan mesin mobil on. Afnan dan Hasna sama-sama baca Bismillah, Ber-Doa Memohon Keselamatan.
Doa Nabi Musa ketika di kejar Fir'aun.
"Rabbi najjini minal qaumidhalimin."
"Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim." (QS al-Qashash: 21).
Doa Nabi Lutth:
"Robbi najjinii wa ahlii mimmaa ya'maluun."
Artinya: "Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan." (QS as-Syu’ara’: 169).
Bacaan Doa Memohon Perlindungan dari Musibah
"Rabbi a'udzubika min hamazatisy syayathini wa a'udzubika rabbi ay yahdlurun."
Artinya:
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada Engkau yang Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku."
Syal dari girls start pun melayang, itu tandanya balapan di mulai.
Bruumm, ngeeeeuungg...
"Calm, Sayang! buat mereka merasa di atas. Setelah ada kesempatan kita yang akan memimpin." peringatan dari Afnan.
"Ya By!"
Tiga puluh menit sudah balapan tersebut berjalan.
Afnan fokus pada benda kecil di telinganya. Ubaydillah membantu mereka dengan mengirimkan informasi apapun yang ada di hadapan depan dan belakang
"Lima meter dari sini tikungan agak menukik. Libas dua mobil itu." Hasna nyimak dan patuh.
"slipstream mulai dari sekarang, Sayang!"
"Baik By!" Hasna melakukan apa yang Afnan suruh. Ia mengikuti mobil di depannya dengan memanfaatkan aliran udara.
"Late braking, Sayang! Go..." Hasna menuruti. "Slow! rem beberapa detik, tahan. hentak, luncurkan. Lalu tambahkan kecapan secara perlahan!"
Afnan terus memandu Hasna. Ia puas bisa bekerjasama dengan Hasna. Balapan, satu putaran lagi, Kini Afnan mengarahkan Hasna untuk menyingkirkan empat mobil di depannya.
"Siap Rolling Speed (teknik menggantung gas saat menikung dalam kecepatan tinggi).
"Ya!"
"Langsung Overtaking, Sayang! bisa melewati dua mobil."
"Yuhuuuu. Satu mobil lagi By!"
"Iya sayang! tetap tenang, jangan jumawa." pinta Afnan di iyakan oleh Hasna.
"Trek model U By? Nana belum pernah! di U tajam begini." pekik Hasna menyadari trek asing di depannya.
"Tetap tenang, Sayang! Byby di sini. Pertahankan kecepatan, dengarkan instruksi dari Byby!"
Hasna menarik nafasnya. Ia bersiap untuk mengikuti instruksi dari Afnan. Hal asing yang harus mampu ia kuasai mendesak.
"Pakai teknik clutch kick!"
"Apa By?"
"Clutch Kick! Sayang!"
"Tendang kopling, agar mobil tetap melintir, Sayang! sementara pedal gas tetap jaga di putaran tinggi. Lalu geser body mobil maksimal setelahnya." suara keras Afnan mampu Hasna dengar.
Afnan mengulang kata yang sama agar Hasna faham. Ini harus cepat ia lakukan, Hasna harus mengerti dengan maksudnya. Garis finish tinggal beberapa menter lagi. Sedangkan masih ada satu mobil yang harus mereka salip.
__ADS_1
Hasna nampak berkonsentrasi, ia sedang memahami apa yang Afnan katakan.
Bersambung...