
Beberapa saat sebelum Hasna dan Lintang tiba di ponpes Hubbul Wathan.
"Alhamdulillah...."
"Nana lo masuk finish pertama. Lo menang Na!"
"Ia Lin, gue menang. Kita menang!!" pekik kegirangan dari Hasna dan Lintang.
Euforia antara Hasna dan Lintang, tidak berlangsung lama, karena Hasna sadar belum melaksanakan Shalat Maghrib.
Maka dari itu, Hasna sudah tidak perduli lagi dengan sekitar, ia menancap gas keluar dari area balap liar tersebut secepat mungkin, meninggalkan keriuhan para berandal liar yang tengah memperbincangkan nya.
Tujuan utama Hasna tentu saja mencarimu surau paling terdekat dari area tersebut, bertujuan untuk melaksanakan shalat Maghrib.
Sementara itu,
"Ugh!" terdengar nada kecewa, marah dan juga penyesalan yang tertahan dari si pengemudi Ferrari yang baru saja di kalahkan oleh Hasna. Menggebrak setir dan langsung bersandar lesu pada bangku kemudi nya. Ia memejamkan mata menahan amarah.
"Paraaaaah! mengapa gue bisa kalah dari mobil yang hanya sekelas city car. Drafter nya perempuan, lagi." lanjut si pengemudi Ferarri, mengepalkan tangan nya dan hanya meninju udara dengan bibir terkatup gemas.
Ketika mobil sejajar, mereka dapat melihat dengan jelas, dari kaca film mobil yang tidak terlalu gelap, bahwa pengemudi mobil merah yang telah mengalahkan nya adalah perempuan berhijab.
"Santai Cuy! Lo hanya kalah
Setengah sok (saat finish selisih jarak hanya sedikit).Gue dah ngantongin plat nomor mereka. Bagaimana kalau kita cari dan setelah bertemu, kita bikin trek baru? (nantang balapan)."
Si pengendara Ferrari pun tersenyum smirk. "Ok, anggap saja sore ini adalah perkenalan tanpa berkenalan."
"Good. Memang keren sih, permainan drafter misterius itu. Strategi nya, seperti nya doi orang terlatih Cuy! Jam terbang nya tinggi tuh, kalau cuma amatir, doi gak akan mampu menggunting lo di ujung finish, terlebih mobil yang doi kemudikan gak memiliki power mobil balap." Ujar teman si pengemudi.
"Wei, koq kabur?" pekik si Pengemudi Ferrari.
"Loh pemenang nya bablas?!" antara gumam dan pertanyaan dari teman di pengemudi Ferrari.
Pada akhir nya para berandal liar tersebut heboh. saling bertanya dan saling menyayangkan. Juga rasa penasaran yang paling utama.
Mereka telah menanti mobil City car merah tersebut berhenti, Mereka menunggu wujud si pengemudi keluar dari mobil. Namun nyatanya si drafter sudah berlalu dari area balap liar tersebut. Tanpa mereka ketahui, siapa dan dari mana.
"Penyusup! sialan." Ucap si ketua gengs.
"Maksudnya?" tanya salah satu peserta balapan liar.
"Mobil yang baru saja masuk finish, bukan peserta balap yang biasanya. Mereka seperti nya, hanya mobil yang kebetulan lewat, namun dengan cerdiknya, mereka menyusupkan mobil nya tanpa kita sadari." Ujar si ketua gengs.
"Oooohh." Pada akhir nya mereka ber oh ria.
"Tapi mereka keren bro! hanya menggunakan sekelas City Car bisa Sejago itu. Apalagi jika menggunakan mobil balap." timpal si berandal lain nya.
"Justru itu. Seperti nya mereka sudah lihai dan berpengalaman. Mangkanya hanya dengan City Car bisa Sejago itu. Ok, duit taruhan gak keluar sore ini gengs. Sebejad nya kita, gak makan hak orang!" tandas si ketua gengs dengan lantang. Membuat para berandal liar merasa kecewa, namun mereka tidak dapat berbuat apapun.
Pada akhir nya, Setelah kehebohan karena membahas si pemenang yang kabur. Maka para berandal liar membubarkan diri.
Sementara para berandal liar penasaran akan dirinya. Hasna sendiri sudah asyik bersujud di sebuah Mushola kecil yang sebetulnya tidak begitu jauh dari tempat balapan liar tersebut.
Lintang menunggu Hasna di dalam mobil. Namun karena waktu Maghrib yang juga berdekatan dengan waktu Isya. Maka Hasna memutuskan untuk tetap di Mushola tersebut hingga waktu Isya tiba.
Setelah waktu Isya tiba dan Hasna selesai melaksanakan Shalat Isya. Maka Ia segera kembali ke ponpes Hubbul Wathan.
Di perjalanan, mereka sempat membahas tentang tentang telepon dan juga pesan masuk dari para suami.
"Na! Miss call dari suami kita banyak banget. Belum lagi Pesan. Mereka spam."
"Huumm," Hasna mengerucutkan bibirnya. "Para suami kita, masih kurang sibuk mungkin Lin. Sampai bisa span Message seperti ini." Hasana menatap layar ponselnya dengan tersenyum.
"Balas Na?" tanya Lintang.
"Terserah! kalau gue sih enggak Lin. Kan gue lagi mogok bicara." jawab Hasna.
"Gue idem deh Na. Biar sekalian nanti jawab nya, Pakai Cinta dan kasih sayang." Lintang mengkik geli. Hasna ikut tertawa pelan.
__ADS_1
Sungguh dua perempuan yang cuek dan santai, mereka sama sekali tidak menyinggung soal balapan. Seakan-akan beberapa waktu lalu tidak ada hal apapun yang terjadi dan juga membahayakan nyawa mereka.
Setelah dua puluh lima menit. Mereka pun tiba di pesantren Hubbul Wathan. Hasna tahu keadaan ponpes masih ramai, Karena para santri masih sibuk dengan kajian juga pelajaran lainnya.
"Haaaaa! aman, Alhamdulillah akhirnya rapi juga." nada lega dari Hasna ketika mobil milik Lintang, sudah terparkir cantik di garasi yang dekat building para pengajar.
"Alhamdulillah! bicara-bicara, para Ustadz tampan itu, di mana ya Na?" tanya Lintang. Hasna mengerti, Lintang sedang menanyakan keberadaan para suami nya.
"Emmm, Kalau gak di Mesjid, mungkin di rumah Utama. Kita balik ke rumah kayu saja Lin. Ganti baju, lalu kita ke rumah utama untuk melihat anak-anak, sekaligus menjemput para suami. Gimana?" tanya balik Hasna.
"Ok Na! mari Na cepat, takut papasan sama para Ustadz itu. Nanti banyak pertanyaan berabe." Hasna pun mengangguk pertanda setuju.
Akhirnya mereka segera keluar dari garasi dengan jalan mengendap sehati-hati mungkin agar tidak menimbulkan perhatian. Namun langkah mereka terhenti dengan suara berat dari seorang laki-laki dengan sebuah pertanyaan, yaitu Afnan.
Afnan dan juga Ubaydillah tiba-tiba muncul entah dari arah mana. Membuat Hasna dan Lintang terkejut.
"Heeee, Byby! maaf By, kita ke rumah utama sebentar, untuk bertemu anak-anak." Kilah Hasna.
"Iya Yank! Lilin juga rindu Abang." Alasan Lintang.
Afnan dan Ubaydillah saling menatap. "Jangan biarkan mereka lepas." Ujar Ubaydillah.
"Siiip! kita harus mengintrogasi mereka untuk mendapatkan jawaban, mengapa mereka berputar-putar di kawasan tersebut.
Rupanya Afnan dan Ubaydillah telah mengetahui keberadaan Hasna dan Lintang dari alat lacak yang mereka pasang pada mobil Lintang.
Namun kali ini, mereka memilih tidak menyusul para Istri mereka. Tentu saja akan ada hukuman untuk si pembuat ulah.
**
Di beranda rumah Kayu milik Afnan dan Ubaydillah.
"Sayang katakan dengan jujur. Kalian tidak kemalaman di jalan akibat shalat Maghrib kan? Harus nya kalian sudah sampai sebelum Maghrib!" tanya Afnan dengan lembut. Hasna dan Lintang bagai dua tersangka yang sedang di interogasi.
Hasna hanya menatap Afnan. Ia membungkam mulut nya dengan telapak tangan nya. Pertanda ia sedang mogok bicara. Afnan mengerti akan hal itu.
Afnan dan Ubaydillah menggiring Istri mereka untuk pulang ke rumah kayu. Mereka tahu para istri tengah menyembunyikan sesuatu hal.
Perkiraan Afnan dan Ubaydillah Sebetulnya mengena. Dari alat pelacak, mereka melihat mobil yang di kemudikan Hasna berada pada satu titik area dengan posisi mobil bergerak beberapa kali putaran.
Ubaydillah telah mendapatkan informasi dari polisi Imron, bahwa area tersebut memang tempat balapan liar ketika sore hari.
Namun kali ini Afnan dan Ubaydillah memilih agar para istri mengakui secara langsung tanpa harus di pergoki terlebih dahulu.
"Yank! katakan saja yang sejujurnya. Aku tidak akan marah." Desak Ubaydillah, Lintang duduk di bangku kayu yang ada di beranda rumah nya.
Rumah couple tersebut, memiliki beranda yang sama. Walaupun Hasna dan Lintang berada di beranda rumah masing-masing, mereka masih dapat saling lirik dan mendengar apa yang di bicarakan.
"Hemm," Helaan nafas dari Afnan. "So .... tidak ada yang mau mengakui?"
"Bu-bukan begitu By." Akhirnya Hasna bicara. Lalu dengan reflek menutup mulutnya kembali dengan telapak tangan nya.
"Bukan begitu, bagaimana?" tanya Afnan.
"Nana kan sudah mengatakan pada Byby, jika Nana sedang mogok bicara. Ya tolong jangan memaksa Nana membuka suara. Nanti mogok bicara nya batal." ujar Hasna terdengar konyol.
"Huff! baiklah, aku hargai keputusan konyol mu itu. Namun setelah tiga hari, kamu harus berkata tanpa di minta." Tegas Afnan.
Hasna segera mengangguk dengan cepat, mengangkat satu Kelingking nya dan menautkan nya pada kelingking Afnan sebagai bukti sebuah janji.
Afnan menerima nya dengan tubuh yang berdiri kaku dan tatapan datar nya. Namun sungguh, dalam hati ingin tertawa, melihat kelakuan Istri gemes nya.
"Kamu juga Yank? ikut mogok bicara?" terdengar Ubaydillah beratnya pada Lintang. Lintang menggeleng cepat.
"Lalu?" tanya Ubaydillah lagi.
"Ikut Nana nanti sebagai penjelasan nya. Kan Nana yang berbuat, maka ia harus bertanggung jawab. Ups!" Lintang hampir saja keceplosan.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Tidak Koq Yank! masuk yuk!" ajak Lintang.
Ubaydillah malah berlutut di hadapan Lintang. Lalu memeluk nya. " Lintang Prameswari, Ik hou van je. Je bent mijn laatste liefde. Ik wil voor altijd bij je zijn. Tolong jangan ambil kepercayaan ku." Bisik Ubaydillah. Lintang terpaku dalam duduk nya masih di peluk Ubaydillah.
Lintang berusaha mengingat kata-kata yang di ucapkan Ubaydillah, mencoba menelaah nya. pasalnya, ia tidak mengerti apa yang baru saja Ubaydillah ucapkan.
"Maaf, Yank!" dua kata yang keluar dari mulut Lintang. Ubaydillah
Di sisi lain,
Afnan menatap tajam pada wajah Hasna yang hanya menunduk. "Hasna Aulia Zaharni, İyi ki varsın, Sen parçalarımsın, Sen benim herşeyimsin. Tolong jangan nodai kebebasan yang ku berikan. Listen, apapun keadaan mu, bagaimana kesalahan mu, Hasna .Seni Çok Seviyorum." Tandas Afnan lembut, dengan mengecup dahi Hasna dengan khusyu.
"Mari masuk, Sayang. Di luar dingin." Afnan membuka baju Koko nya dan memakaikan nya kepada Hasna. Kini Afnan hanya memakai kaus oblong putih sebagai dalaman baju Koko nya.
"Terima kasih By. Nana tidak akan menodai kebebasan dari Byby. Maaf, boleh di ulang kata-kata yang tadi." Pinta Hasna, ia tidak mengerti dengan kata-kata Afnan. Namun ia yakin, tadi itu kata-kata romantis, yang nampak dari cara Afnan menatap dan mengecup dahi nya.
"Hemmm, katanya sedang mogok bicara, loh koq itu bicara?" tanya Afnan, menggoda Hasna.
"Mogok bicara nya di pending. Ayuk By, ulang kata-kata tadi dan tolong beri tahu artinya." Ucap Hasna.
"Kalau begitu, silakan Sayang lanjutkan mogok bicara nya, Byby Izinkan. Dan untuk kata-kata yang baru saja, maaf tidak ada siaran ulang." jawab Afnan santai, dengan berdiri, ia hendak masuk ke dalam rumah.
"Dek, Ana masuk dulu. Assalamu'alaikum." Pamit Afnan Kepada Ubaydillah.
"Iya A! Wa'alaikum salam."
Afnan pun berlalu dari hadapan Hasna. Namun langkah nya di jegal Hasna.
"By! katakan sekali lagi. Nanti artinya Nana tanya pada Rasedha deh," pinta Hasna setengah merengek. Afnan tidak perduli, tetap melangkah masuk ke dalam rumah, sebenar nya ia tersenyum di dalam hatinya.
Begitu pun dengan Ubaydillah dan Lintang, mereka saling tarik menarik ketika sudah sampai dalam. Lintang hanya ingin tahu arti dari kata-kata romantis yang di ucapkan Ubaydillah.
"Yank! tunggu, tolong ucapkan lagi, kata-kata yang tadi, Nanti artinya aku tanya Devano." Bujuk Lintang, menggandeng tangan Ubaydillah.
"Tidak ada jawaban, sebelum ada jawaban! Kita barter, baigaimana?" tanya Ubaydillah.
"Maaf Yank! sebelum Nana yang memperbolehkan bicara, maka Lilin pun tidak akan bicara." Jawab Lintang.
"Kalau begitu, idem!"
"Yaankk please!" mohon Lintang. Ia mengikuti kemanapun langkah Ubaydillah.
Di rumah Afnan pun sama. Hasna tengah mengikuti langkah Afnan,ke arah manapun bergerak, tentu saja hendak membuat Afnan bicara kembali, mengucapkan kata-kata nya.
"Byy! ayo dong, bicara lagi." Hasna menarik Afnan lalu memeluk nya. Afnan pura-pura cuek.
"Kamu akan mendapatkan jawaban nya, ketika nanti kuliah pasca Sarjana di Turki." Ucap Afnan pada akhirnya.
"What, By?" Hasna terkejut.
"What, Yank?" Begitu pun dengan Lintang. Yang baru saja mendengar Ubaydillah menyatakan hal sama dengan Afnan.
"Ya! melanjutkan Kuliah di Turki."
"Tidak By, jangan!"
"Tidak mau Yank, please."
"Tidak ada penolakan!" tegas Afnan juga Ubaydillah.
"By! jika ini hukuman, maka hukum kami dengan cara lain, Nana lebih milih di culik deh," celoteh Hasna.
"Hemmm," Afnan mempertimbangkan. "Sayang nya, aku lagi gak mood nyulik kamu."
"Ikh Byby jahat!"
Akhirnya malam itu pikiran para Istri kalang kabut, mendengar hendak berkuliah ke Turki. Lintang dan Hasna saling berkirim pesan, mereka berjanji akan menyusun strategi agar rencana para suami gagal.
Bersambung ....
__ADS_1