Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
44. Mu'adzin Baru.


__ADS_3

Iqbal yang melihat Roy hendak pergi meninggalkan rumah utama pun, ia melebarkan senyuman nya.


"Hehe, belum juga bersaing, sudah pergi! Alhamdulillah, nasib baik masih ber pihak pada Ana. Neng Dias, setelah Akang selesai pendidikan, Akang akan mengkhitbah mu," celoteh batin Iqbal.


Tidak dengan Dias. Wajahnya nampak lesu. Harapannya luruh, perasaan nya saat ini layu mendadak, sebelum sempat berkembang.


"A'a Roy! jangan pergi, Neng mau ajak Papi melamar mu." Batin Dias.


"Nak Roy! Abi mohon, sudilah kiranya Nak Roy, untuk mem pertimbangkan nya kembali. Tidak baik, seseorang mengambil keputusan ketika sedang emosi." Suara berwibawa nya Abi Kyai menghentikan langkah Roy.


Bersamaan dengan itu, Umi keluar dari arah dalam. Beberapa cangkir teh yang di racik menggunakan gula aren murni, berada di atas nampan yang Umi bawa.


Kemudian Umi meletakkan nya di atas meja. Wangi dari teh tubruk melati berpadu wangi nya gula aren langsung menguar ke udara. Masuk tanpa permisi ke dalam rongga hidung beberapa orang yang ada di sana.


"Silakan di minum! lokh Nak Roy hendak pergi? ini loh minum dulu." Tawar Umi. Roy mendengar kelembutan dari suara Umi.


"Terima kasih Umi, saya harus pergi!" ucap Roy.


"Nak Roy! mungkin ada hal yang membuat Nak Roy merasa tidak nyaman berlama-lama di rumah kami. Namun menolak rezeki itu hal tidak terpuji. Allah tidak menyukai orang-orang yang menolak rezeki." Ujar Umi, sebetulnya Umi sudah tahu apa yang terjadi sebelumnya.


Roy hanyalah diam. Ia ragu antara melangkah atau kembali.


"Duduklah kembali Nak! setidaknya nya beri kesempatan kepada kami untuk memuliakan tamu kami." Timpal Abi Kyai.


"Hem! saya tidak pantas mendapatkan nya." Balas Roy.


"Setiap orang berhak menerima yang sudah menjadi ketentuan- Nya! Abi tidak memiliki hak menahan Nak Roy agar tetap berada di sini. Abi juga tidak memiliki keinginan, agar Nak Roy pergi dari sini begitu saja. Terlebih dalam keadaan emosi. Tolong fikirkan dengan baik, baru Nak Roy ambil keputusan selanjutnya. Mungkin setelah minum, perasaan Nak Roy jauh lebih tenang dan rileks. Sehingga Nak Roy akan mampu mengambil keputusan terbaik." Pinta Abi Kyai.


"Ya duduk lah Roy. Minum dulu, ini sudah sore, kamu akan pulang dengan berjalan kaki. Dari area ponpes ke jalan utama itu lumayan jauh. Kalaupun kamu mau pergi, biar kami yang akan mengantarkan mu!" Afnan ikut bersuara.


"Betul Roy! mari minum dulu," Ubaydillah menimpali.


"Roy! takdir membawa kamu menjejakkan kaki di sini, Takdir pula yang akhirnya mempertemukan kita kembali dalam keadaan lebih baik. Maka saran aku sih, coba ambil kesempatan ini, untuk kamu lebih mendekatkan diri kepada Allah. Mengenai Ibu mu, kami rasa dapat membantu, iya kan By!" Hasna menghampiri Afnan, lalu duduk di sisi nya.


"Insya Allah! jika kamu tidak keberatan untuk berbagi kesulitan terhadap kami. Maka kami akan berusaha membantu kamu keluar dari kesulitan itu." Lirih Afnan.


Kata-kata Afnan rupanya menggugah perasaan Roy yang notabene anak baik, hanya saja salah pergaulan.


Roy berbalik, lalu ia memandang Afnan dengan tatapan sendu. Roy merasa terharu dengan ketulusan mereka dalam memperlakukan nya. Selama ini banyak orang-orang terdekat nya, baik saudara ataupun sahabat menjauhi nya, setelah tahu Roy tidak lagi bergelimangan harta, keseluruhan aset di sita oleh pengadilan. Setelah di usut ternyata segala bentuk harta adalah milik negara, yang di monopoli dan di salah gunakan oleh Ayah Roy.


"Terima kasih! kalian orang yang baru saya kenal beberapa menit, namun rasa empati kalian begitu besar. Mana ada orang yang mau di bebani kesulitan oleh orang lain. Bahkan sahabat dan orang-orang terdekat nya sekalipun. Namun tidak dengan orang-orang di lingkungan ini. Saya sudah faham akan ketulusan kalian. Kalau Abi dan Umi mengizinkan, saya hendak menitipkan diri di ponpes ini, setidaknya untuk beberapa hari kedepan. Jujur saya butuh tempat untuk bernaung." UJar Roy.


"Alhamdulillah! tentu Nak Roy. Silakan Nak Roy tinggal di sini, dengan waktu yang tidak terbatas." Ujar Abi Kyai.


Roy kembali duduk. Masih malu Sebetulnya. Namun Roy harus membiasakan diri dan tentu ini keputusan terbaik, ia tidak mungkin kembali ke rumah keluarga dari Ayah nya yang sudah banyak mendzolimi nya.


Senyum Dias pun kembali mengembang. Kini harapan nya kembali menyatu. Namun tidak dengan Iqbal, senyuman yang sempat mengembang, kini berguguran.


Setelah Roy tenang, maka ia pun menceritakan mengapa ia di keroyok. Roy berniat mengeluarkan Ibu nya dari rumah sakit jiwa, menurut Roy, Ibu nya tidak lah mengalami gangguan jiwa, hanya depresi karena tekanan dari pihak keluarga Ayahnya. Namun paman dari pihak Ayah nya, selalu menghalangi Roy ketika berusaha mengeluarkan Ibu nya, karena mereka takut Roy akan mengajak Ibu nya kembali ke rumah Nenek nya dan di anggap akan membebani mereka.


Padahal mereka sendiri yang awal nya membujuk agar Ibu Roy Menjual rumah yang selamat dari juru sita. Namun siapa sangka mereka hanya mengincar uang penjualan rumah saja. Setelah habis, Ibu nya banyak di intimidasi hingga tertekan. Terlebih Ketika Roy mengalami kecelakaan dan fisik nya yang tidak lagi berdiri kuat. Maka dengan alasan mengurangi beban hidup, mereka memasukan Ibu nya Roy ke dalam rumah sakit jiwa.


Demi menghasilkan uang, Roy berjualan online, berupa sparepart motor dan sasaran nya anak-anak muda kalangan nya. Hasil nya ia tabung untuk biaya melanjutkan kuliah dan untuk mengeluarkan Ibu nya dari rumah sakit jiwa.


Roy sempat menangis saat bercerita. Afnan, Ubaydillah dan Abi siap membantu Roy. Mengeluarkan Ibu nya dari rumah sakit jiwa.


Roy sempat melarang nya, karena akan sangat berbahaya jika keluarga Ayah nya tahu mereka mengeluarkan Ibunya Roy. Namun Afnan sudah siap dengan segala konsekwensi nya.


Maka dari itu, Roy pun hanya mampu mengucapkan syukur dan terima kasih.


***


Di rumah kayu. Tepat nya di halaman belakang rumah kayu.


"By! mandi dulu," pinta Hasna sembari memainkan rambut Afnan yang sudah mulai memanjang, saat Afnan malah rebahan manja pada pangkuan nya.


"Nanti, sebentar lagi. Byby rindu pada mu sayang." Goda Afnan dengan memeluk pinggang Hasna dan menelusupkan wajah nya di perut datar Hasna.


"Nanti keburu Maghrib. Nana gak mau, lihat Byby gedubukan lagi seperti kemarin! buru-buru karena sudah Adzan tapi Byby belum bersiap untuk pergi ke Mesjid."


"Tidak lagi sayang! kemarin kan ada yang menggoda Byby dengan rezeki sore. Mana bisa Byby menolak rezeki. Apalagi berbonus pahala." Goda Afnan lagi, kali ini ia memandang wajah Hasna dengan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


"Mode genit nya di tahan By! nanti Nana tidak tahan lagi nih buat ngasih Rezeki sore kembali." Ucap Hasna sembari menutupi wajah Afnan dengan telapak tangan nya.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Mimma mau kasih rezeki sore lagi. Yuk dengan senang hati."


"Bybyyyyyy! ikh, jadi malas akh berduaan sama Byby. mode mesum terus kalau sama Nana juga." Pekik Hasna.


"Lantas, Byby harus mode mesum pada perempuan mana lagi. Ya pasti dengan yang halal kan, kalau bukan mahram juga mana Byby berani. Ikh horor!" kelakar Afnan.


"Hihi iya yah!"


"By ...." panggil lirih Hasna.


"Ya, sayang!" balas Afnan.


"Byby yakin mau membantu Roy, mengeluarkan Ibu nya dari rumah sakit jiwa?" tanya Hasna dengan membelai lembut dagu Afnan.


"Insya Allah, sayang! Byby sudah meminta tolong kepada Bang Anton, agar memantau perkembangan psikis nya."Jawab Afnan.


"Lalu, sudah ada kabar?" tanya Hasna kembali.


"Belum. Namun, jika psikisnya baik, maka Abi dan Byby sudah sepakat, akan membawa nya di ponpes. Biarkan tinggal bersama Roy! di building para pembimbing." ujar Afnan.


"Jika hasil nya kurang baik By?" Hasna penasaran dengan yang akan Afnan lakukan.


Afnan membawa tubuh nya duduk di sisi Hasna. Lalu ia memeluk Hasna.


"Rumah tenang sebentar lagi rampung! Seperti nya Byby akan menempatkan nya di sana dengan pengawasan dokter ahli di bidang nya dan juga para perawat yang mumpuni." Jawab Afnan.


"Hemmm, baiklah! semoga niat baik kita berjalan dengan mulus." tukas Hasna.


"Aamiin ya Mujibassailin." ucap Afnan, kini ia menarik Hasna agar duduk di pangkuan nya.


"By!"


"Hem!"


"Dias suka. Tepat nya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Roy! ia berniat mengajak Papi nya melamar Roy. Lalu .... bagaimana By?" tanya Hasna.


"Hemmm,wah salut dengan Iyas. ya lebih cepat melamar dan menikah maka lebih baik! agar tidak adanya kekaguman yang menimbulkan syahwat." Ujar Afnan.


"Memang boleh yah perempuan melamar laki-laki?" tanya Hasna dengan menangkup wajah Afnan dan memainkan ibu jari nya pada alis tebal Afnan seperti sedang mengukir berbentuk alis Afnan.


"Di ceritakan pula, dalam Al-Qur'an! tepat nya Al-Qashash: 26-27. Maka Nabi Musa pun pernah di lamar putri Nabi Syu’aib. Ia meminta Ayah nya menikahkan nya dengan Nabi Musa AS, karena keluhuran akhlaknya." sambung Afnan.


"Oh seperti itu! ya itu kan para Nabi, By! yang memang akhlak nya mulia. Lalu bagaimana dengan Roy?" tanya Hasna ragu. Mengingat siapa itu Roy.


"Sstt! tidak boleh seperti itu, kita tidak dapat begitu saja menilai orang dari luar nya saja, sayang. Coba nanti Byby akan bicara dengan Iyas, agar bersabar dahulu dalam jangka waktu satu bulan ini. Jika Roy memang betul berubah lebih baik, apalagi taraf ibadah nya lebih bagus. Maka Byby akan menjadi pendukung Iyas untuk melamar Roy. Insya Allah untuk taraf ke shalihan nya, nanti rasa cinta nya Dias yang akan mampu membimbing ke arah lebih baik." Ujar Afnan.


"Nana jadi malu!" Hasna tersenyum salah tingkah. Ia menyusupkan wajah nya di leher Afnan.


"Hehe! itu kan dulu, yang selalu Astagfirullah! sekarang kan sayang sudah Masya Allah, walhamdulillah, Allah hu Akbar." puji Afnan dengan mengelus lembut punggung Hasna seraya mengekeh. Afnan faham kalau Hasna ingat masa lalunya.


"Terima kasih. Itu karena kasih sayang Byby dan keluarga." Hasna menatap Afnan dengan berkaca-kaca.


"Itu karena, dari sini juga," Afnan menyentuh bagian dada Hasna.


Akhirnya mereka sama-sama tersenyum dan saling berpelukan.


"Biyya, Mimma! pacalan teyus, Anak-anak nya tidak di pelhatikan!"


Tiba-tiba saja Afkha dan Afsha sudah berada di hadapan mereka dengan keduanya sedang menutup wajah mereka menggunakan telapak tangan masing-masing.


"Astaghfirullah'aladzim! A'a kha dan Dedek Sha! koq tidak berucap salam terlebih dahulu?"


Afnan pun terkejut, sedangkan Hasna sedang mengekeh masih memeluk leher Afnan.


"Sudah salam Biyya! tapi tidak ada cahutan," jawab Afkha.


"Iya! bagaimana mau dengay, Biyya dan Mimma cedang beyduaan!" protes Afsha.


"Ma'afkan Biyya dan Mimma sayang!" Hasna dan Afnan sudah saling melepaskan pelukan kemesraan mereka. Lalu Afnan menghampiri twins A.


"Sudah, buka telapak tangan nya, percuma di tutup juga. A'a dan Dedek ngintip gitu." ucap Afnan sembari berjongkok di hadapan Anak-anak nya dengan tersenyum.


"Hehe.... yah ketahuan deh!" ujar mereka berdua dengan tertawa dan memeluk Afnan.

__ADS_1


"Iuuuhh! Mimma ini loh, pangeran dan tuan putri nya koq wangi debu dan panas matahari," ucap Afnan kepada Hasna.


"Iya Biy! ya Allah, wangi nya seribu rasa! memang nya A'a dan Dedek dari mana?" tanya Hasna dengan meraih Afsha lalu mengecupi pipi chubby nya.


"Kami baru pulang dari sawah dan ladang! seru ya Dek!" jawab Afkha.


"SubhanAllah! pergi ke Sawah dan ladang, bersama siapa?" tanya Hasna.


"Ia celu. Bersama paman Zain, Aunty Nur, Dek Acha dan banyak santli juga." jawab Afsha.


"Koq Mimma dan Biyya tidak tahu?" tanya Afnan.


"Kan A'a dan Dedek sudah pamit kepada Umma dan Abba!" jawab mereka.


"Ouh... mungkin tadi kami belum pulang. Mari mandi, A'a dan Dedek sudah ma'em belum?"


"Alhamdulillah, cudah Imma! tadi di ladang seru. kami masak di sana, lalu ma'em beycama." jawab Afkha.


"Wah sepertinya seru! lain kali ajak Biyya dan Mimma juga dong!" ujar Afnan.


"Boyeh koq. Hehe!" Afsha membalas dengan tertawa kecil.


"Baiklah! ini sudah hampir maghrib. Mari jagoan! mandi dengan Biyya dan Dedek mandi dengan Mimma."


Afnan menggendong Afkha Hasna menggendong Afsha, mereka menuju kamar mandi untuk memandikan twins A.


Setelah mandi dan berpakaian! kini bergantian Afnan dan Hasna yang mandi. Hingga waktu Maghrib pun tiba. Maka Terdengar lah lantunan merdu dari Mu'adzin di Mesjid ponpes.


Namun kali ini suara nya berbeda dari biasanya. Afnan berdiri di beranda rumah nya dan ia sedang menebak-nebak suara siapa yang sedang melantunkan Adzan Maghrib.


"Assalamu'alaikum A'a Bro!" suara Ubaydillah mengejutkan Afnan.


"Wa'alaikum salam, Dek!"


"Dad's! Abang dan A'a Kha ke mesjid telebih duyu." Pamit Arsya.


"Baiklah!" jawab Ubaydillah.


"Boleh ya Biy?" tanya Afkha.


"Tentu! jangan lari." pesan Afnan.


"Oke Biyya! kami peygi, Attayamu'ayaikum." Ucap Afkha.


"Wa'alaikum salam."


Setelah mengecup tangan kanan Afnan dan Ubaydillah, Afkha dan Arsya pun berjalan menuju Mesjid.


"Eh ngomong-ngomong, itu suara Mu'adzin nya, koq asing?" tanya Afnan.


"Pasti A'a Bro gak nyangka deh!"


"kenapa Dek?"


"Yang baru saja Adzan, itu Roy!" seru Ubaydillah.


"Masya Allah, jadi Roy! ternyata suara nya bagus juga." Ucap kagum Afnan. Wah ada Mu'adzin baru nih di ponpes."


Mereka berjalan bersebelahan menuju Mesjid.


"Ia, itu Roy!"


"Koq Anta tahu?" tanya Afnan, sebab Ubaydillah baru saja keluar dari dalam rumah.


"Tahu dong! tadi saat Ana mengantarkan Roy ke asrama santri putra. Eh Iqbal nantangin Roy Adzan, katanya sebagai perkenalan. Seperti nya Iqbal ingin menguji kebisaan Roy."


"Masya Allah. Maulana Iqbal! jangan bilang, ini sebuah persaingan agar mendapatkan perhatian dari Dias." ucap Afnan.


"Bisa jadi A'a bro! kasihan Iqbal, belum juga melangkah sudah ada saingan." Ubaydillah mengekeh. "Ana dengar dari Lilin, Dias hendak melamar Roy," ucap Ubaydillah.


"Ia, Dias berniat melamar Roy!"


"Lalu nasib Iqbal?" tanya Ubaydillah.

__ADS_1


"Serahkan, kepada Author!" Afnan dan Ubaydillah tertawa bersama.


Bersambung ....


__ADS_2