Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
68. Malam pertumpahan darah.


__ADS_3

"Nana lanjut lagi mogok bicara nya."


"Yakin?"


"Tentu!"


"Baik! besok Byby free loh, tadinya Byby mau ngajak kamu kencan. Berdua, seperti yang kamu inginkan." Ucap Afnan sembari berjalan ke arah dapur.


"Byy!"


"Humm."


"Jawab!"


"Apa yang harus Byby jawab?"


Tanya Afnan dengan cool nya mulai menyiapkan alat masak dan juga Bubu serta bahan untuk di masak.


"Astaghfirullah! maaf By, Byby belum ma'em ya?" Hasna sadar akan hal itu.


Keinginan sebuah jawaban dan juga mogok bicara yang ia janjikan, terlupakan karena rasa bersalah. "Istri macam apa aku ini? membiarkan suaminya kelaparan, lalu aku asik balapan. Dan sekarang bahkan Karena kelaparan hinggga harus masak sendiri. Maafkan Nana By." Batin Hasna.


"Sudah koq, tadi Byby makan di rumah utama." jawab Afnan dengan tangan yang sibuk meracik Bumbu.


"Hah." Hasna tercengang mendengar jawaban Afnan, dengan masih berdiri di dekat pintu dapur, pemikiran nya meleset jauh. Niqab dan hijab nya sudah ia tanggalkan.


"Kalau sudah ma'em, mengapa Byby masak?" tanya Hasna karena penasaran.


"Hem, tadi katanya hendak mogok bicara, tapi sekarang bawel sekali, si gemesin itu. Mungkin lupa, hihi," batin Afnan.


Hasna merasa di cueki. Ia membuka gamis dan laging bawahan nya. Kini hanya tinggal hotpants dan juga bra yang ia kenakan. Namun Hasna meraih baju Koko Afnan yang tadi sempat ia lepas dari tubuh nya, lalu Hasna kenakan kembali koko itu, yang hanya mampu membalut tubuh atas nya hingga satu jengkal di bawah area pribadi nya.


Kemudian Hasna berjalan dengan santai, mendekati Afnan dan seperti biasanya, akan berakhir memeluk Afnan dari belakang. Ketika Afnan memasak di dapur nya, Hasna akan selalu tergoda untuk memeluknya dari belakang.


Menempelkan dan menelusupkan wajah nya di lekukan bahu Afnan yang terasa hangat, serta mengikuti pergerakan tubuh Afnan saat meracik bumbu dan juga mulai memasak, itu adalah sebuah kebahagiaan dan kedamaian untuk Hasna.


Afnan pun sudah terbiasa, ia tidak akan keberatan ataupun risi dengan tindakan Hasna. Hatinya malah terasa berbunga- bunga.


"Jangan bobo di belakang situ, Sayang! kamu harus makan dulu! aku tahu, kamu pasti belum makan malam. Ingat, uring-uringan dan marah pun butuh tenaga. Maka dari itu, sebelum melanjutkan marah nya, sayang makan dulu." Ujar Afnan.


"Tentu By, oh jadi Byby memasak untuk Nana ya?" tanya Hasna dengan makin mengeratkan pelukannya di perut Afnan yang masih tetap rata.


"Iya," jawab singkat Afnan.


Hasna tersenyum simpul. Hasna pun makin menenggelamkan wajahnya di lekukan bahu Afnan.


Sebenarnya ia malu, karena melupakan perut nya sendiri, hingga harus Afnan yang memperhatikan, sampai harus repot memasak untuk nya, walaupun sudah terbiasa seperti itu. Andai Afnan melihat, kini wajah nya memamerkan semburat pink kemerahan.


"By!"


"Hum."


"Besok pagi, Nana ke rumah Ninen yah! kata Byby besok free, maksud Byby mau meluangkan waktu untuk berkencan dengan Nana kan?"


Hasna ingat akan rencananya dari beberapa waktu lalu yaitu berkencan ala anak muda. Ia pulang ke rumah Ninen nya dan Afnan akan berkunjung untuk menemui nya layak nya muda mudi sedang pacaran. Namun kesibukan mereka, maka Hasna belum dapat merealisasikan nya.


"Ok, mau di antar oleh Byby atau sopir ponpes?" tanya Afnan masih dengan kegiatan nya memasak.


"Berangkat Sendiri saja!"


"No, sayang! nanti apa kata Ninen, tiba-tiba sayang pulang ke rumah itu tanpa pendampingan." Afnan jelas tidak setuju.


"Hehe, Byby tahu kan, Ninen dan Kiki bukan orang yang mudah berburuk sangka. Nana akan menjelaskan nya dengan baik kepada mereka." Hasna memutar tubuhnya, menyelinap di antara ketiak Afnan.


Kini Hasna sudah berada di depan Afnan. Berdiri di antara kompor dan Afnan. Hasna tahu, kompor itu baru saja di matikan oleh Afnan. Jadi ia aman saat berdiri di hadapan Afnan.


Cup!


Hasna mengecup hidung Afnan. "nakal." Afnan tersenyum. Ia menghentikan kegiatannya, kini ia memeluk Hasna.


"Tunggu di meja makan, Byby siapkan makanan nya." Bisik Afnan.

__ADS_1


Hasna tidak menggubris nya. Ia malah menatap wajah Afnan. "Terima kasih By." ucap nya lalu ia memulai mendaratkan bibirnya pada bibir Afnan.


Untuk beberapa detik mereka terbuai dengan pergulatan bibir yang bergerak halus dan perlahan, keduanya saling meresapi keindahan momen tersebut.


"Nana cinta Byby!"


"Byby pun, mencintai mu sayang."


Hasna melepaskan diri dari Afnan, lalu ia mengikuti permintaan Afnan untuk dirinya duduk di meja makan.


Tak berapa lama, makanan itu tersaji, Nasi goreng udang kesukaan Hasna. Tumis berbagai sayur yang di tabur sei sapi, serta salad buah sudah terhidang cantik di atas meja, di hadapan Hasna.


"Salad buah?"


"Tadi siang, Byby bawa dari restoran." jawab Afnan. Hasna pun mengangguk.


"Nana makan ya By."


"Silakan sayang."


Setelah berdoa, Hasna pun mulai makan. Satu suap untuk nya, satu suap untuk Afnan. Awal nya Afnan menolak, dengan alasan masih kenyang. Namun bujuk rayu Hasna mampu meluluhkan pertahanan nya. Akhirnya mereka makanan, Hasna menyuapi Afnan juga dirinya. Dengan Hasna duduk di pangkuan Afnan. Kebiasaan yang tidak pernah hilang di pernikahan yang hampir tujuh tahun lamanya.


Di rumah Ubaydillah dan Lintang pun sedang terjadi saling suap menyuap. Ubaydillah menghentikan interogasi nya, dengan syarat Lintang, mau makan dan berhenti mengikuti langkah nya untuk sebuah jawaban dari pernyataan di beranda tadi.


Untuk rencana berkuliah di Turki seperti nya sudah harga mati tanpa discount apalagi free.


**


Di rumah Roy yang cukup nyaman, Walaupun tidak semewah rumah Dias di Jakarta dan juga rumah Roy yang di sita oleh pengadilan.


Setelah di sambut baik dan hangat oleh Ibu mertua nya, seharian ini Dias hanya menghabiskan waktu merawat suami nya. Memandikan Roy, menggantikan perban, menyuapi Roy makan, Walaupun Roy sudah menolaknya namun Dias tetap melakukan nya. Ia merasa bahagia karena di berikan kesempatan untuk merawat orang yang telah ia dambakan selama berbulan lamanya.


"Sayang, sedang apa duduk di situ. Sini, memang nya tidak mau menggoda ku sebelum tidur? seperti yang kamu sering lakukan di rumah sakit." Panggil Roy dari atas tempat tidur.


Istrinya menjadi aneh, Dias nampak gelisah, itu terlihat beberapa kali menarik nafas berat dan juga mengelus dada nya dari sejak selesai shalat Isya tadi dan masuk ke kamar Roy yang sudah di hias ala kamar pengantin baru. Mami Roy yang melakukan nya.


Roy memang masuk terlebih dahulu ke kamar nya. Sedangkan Dias baru saja masuk. Setelah melaksanakan


"Hehe. Sebentar Abang, Iyas sedang membalas pesan dari Buna." seringai dan ucapan yang terdengar manja. Roy tahu itu alasan dari Dias. Ponsel Dias tidak menyala. Layar nya nampak gelap.


"Ok!" Roy hendak turun dari tempat tidur untuk menghampiri Dias. Namun Dias yang melihat itu, maka dengan spontan ia melarang Roy agar tidak menghampiri nya. Kini Dias yang begegas menghampiri nya.


Roy menarik lembut Dias hingga jatuh di pangkuan nya. Dias menelan ludah nya kasar. Ia tidak bisa pura-pura polos lagi. Roy tersenyum, perlahan ia membuka hijab nya Dias. Sebelum nya ia meminta Izin dengan tatapan lembut nya.


"Abang, belum shalat dua rakaat kan?"


Roy mengekeh, mendengar pertanyaan nervous dari Dias. "Sudah tadi, kamu lupa?"


Dias mengingat nya. Ia Setelah shalat Isya, Roy mengajak Sunnah dua rakaat. Setelah Mami nya meninggalkan mereka berdua. Alasan Roy masih ada wudhu. Jadi sekalian.


Dias terkesiap. Berarti itu tanda bahwa Roy menginginkan nya malam ini.


Dias memang pandai menggoda Roy. Akan tetapi untuk hal lebih jauh, Dias sendiri masih merasa ketakutan. Namun malam ini nampak nya Dias tidak akan dapat menghindar. Tidak mungkin ia akan menolak suaminya.


"Abang! Iyas takut." Jujur Dias. Tubuh nya mulai bergetar.


"Abang tidak akan melakukan nya, jika Iyas belum siap. Menikah dengan mu tidak hanya untuk melakukan hal itu." Ucap Roy dengan lembut dan juga senyuman. Sekesal apapun di dalam hati nya, ia tidak akan melukai sang Istri melalui kata-kata.


Dias memejamkan mata nya, ketika Roy mengecup kening nya dengan sayang. Lalu kecupan itu turun ke pangkal hidung Dias. berlanjut ke pipi dan hampir saja menjalar ke bibir. Namun Roy menghentikan kecupan nya seketika.


"Tidurlah. Sudah malam, nanti kelewat tahajud," Pinta Roy, senyuman hangat itu tidak lepas dari bibir nya.


Dias yang pun merasa bersalah. Sebelum nya Dias memang hampir terbuai oleh kecupan Roy.


Cup!


Dias mengecup bibir Roy dengan singkat, lalu ia menarik wajah nya untuk melihat reaksi Roy yang nampak kaku.


"Lakukan lah, Aku Halal untuk mu, Bang!" Pinta Dias nampak tenang, seperti nya sudah iklhas.


"Kamu yakin?" tanya Roy dengan memicingkan mata.

__ADS_1


Dias mengangguk. Sedetik kemudian, Roy mulai membuai Istri nya dengan asmara. Roy melakukan nya dengan perlahan dan lembut. Selain karena ia belum sepenuhnya bebas bergerak. Ia pun sadar tidak ingin Istri nya trauma akan malam pertama.


Perkembangbiakan yang terkesan alot tersebut, mampu membuat Roy dan Dias menggebu untuk menjangkau tujuan akhir.


Pekikan alami dan juga isak tangis dari Dias akhir nya menggema di dalam kamar yang cukup luas itu. Gigitan dan cengkraman kuat di bahu dan lengan Roy ia dapatkan. Malam ini Roy dan Dias resmi melepas kesucian mereka dalam ikatan halal.


Di Kamar sebuah building ponpes Hubbul Wathan.


Dua insan beda kelamin yang diikat dengan keabsahan halal juga sedang berperang di atas pembaringan. Melaksanakan ibadah malam selain dari Shalat dan mengaji. Itu adalah Maulana Iqbal dan Istri nya.


"Habie,(Habiebie/kesayangan) kata orang malam pertama itu sakit? tapi Koq Aku tidak merasakan nya, waktu malam itu?" tanya Istrinya Iqbal.


Iqbal menjeda sesaat aktivitas pada tubuh istrinya. "Biba (Habibati/ kesayangan) karena pada malam itu kita tidak sampai intinya malam pertama. Kamu nya nangis kejer, aku takut orang tua mu, menuntut ku, suami yang maksa istri."


"Hooo, jadi?"


"Ya, malam kedua ini, justru akan menjadi malam pertama kita. Dan kamu boleh nangis serta teriak sekencangnya. karena building ini sepi, lagi pula orang tua mu, tidak ada sini Biba. Tidak mungkin akan ada yang menuntut ku.


"Tapi.... Bie."


"Izinkan malam ini ya Biba. Aku tidak mau menunggu malam pertama kita menjadi malam ke-tiga dan seterusnya."


Dengan rasa takut akhirnya, sang Habibati nya Iqbal, menurut. setelah beberapa menit kemudian terdengarlah raungan, teriakan dan juga tangisan dari istri nya Iqbal, pertanda Iqbal sudah dapat meruntuhkan pertahanan sang Istri.


Dari kedua pasangan pemburu malam pertama itu, akhirnya selesai sudah. Kedua pasangan nampak bahagia walaupun ringisan tidak dapat di pungkiri hadir dari wajah-wajah sang Istri.


Tuntas sudah malam pertumpahan darah dari pelepasan kesucian antara Iqbal dan juga Roy di tempat berbeda, namun tanpa mereka sadari waktu nya hampir bersamaan.


Kini waktunya mereka beristirahat dari kelelahan yang mendera kedua pasangan tersebut. Namun alam tahu dan bagai saksi bisu yang mengintai lewat kegelapan sunyi. Bahkan beberapa pasangan pengantin lawas pun baru saja selesai melakukan ibadah diluar kajian dan shalat. Kini waktunya tarik selimut sebelum melanjutkan Ibadah malam lain nya.


**


Tepat pukul sembilan pagi.


Hasna yang sudah selesai shalat duha dan juga berganti pakaian. Kini ia sedang berjalan menuju rumah utama dengan sebuah koper pakain dengan ukuran sedang di tarik nya. Tentu saja tujuannya Anak-anak yang masih berada di rumah utama dari sejak enam hari yang lalu dan Hasna belum sekalipun tatap muka, kecuali video call dengan mereka.


Beberapa santri Putra dan juga Putri, yang kebetulan berpapasan dengan Hasna pun, menyapa Hasna dengan wajah-wajah kebingungan. Nampak berbagai pertanyaan terselip di mimik wajah mereka.


pandangan mereka tertuju pada koper yang sedang Hasna tarik. Hasna hanya tersenyum dan menjawab sapaan tersebut tanpa memperdulikan berbagai pertanyaan yang tersembunyi di antara mereka.


Hasna terus melenggang menuju rumah utama dengan santainya. Afnan yang diminta Hasna tidak pulang dulu ke rumah kayu pun menurut, sejak dari berjamaah Subuh hingga kini pukul sembilan, Afnan belum pulang ke rumah kayu. Ia menyibukan diri di area Ponpes dan juga lahan pertanian, berbaur dan Ngopi bersama dengan para pekerja.


"Mimaaa." Twins A yang melihat Hasna muncul dari pintu gerbang pun berlari menghampiri Hasna lalu mereka memeluk nya.


"Sayang, Mimma rindu kalian!" seru Hasna dengan kembali memeluk mereka berdua.


"Kami pun! loh, Mimma hendak pergi ke mana? koq bawa koper segala?" tanya Afkha.


"Mimma mau menyelesaikan misi, maka dari itu Mimma pergi dulu ya sayang," jawab Hasna.


"Pergi ke mana dan berapa lama?" tanya Afsha.


"Tidak lama koq. Ke rumah Umma Uyut."


"Nana, jadi?" tiba-tiba Umi muncul dari dalam.


"Jadi Mi. Ini rencana Nana dari lama." Hasna berdiri lalu ia memeluk Umi dan mengecup pipinya.


"Biyya mana? Mimma tidak bertengkar dengan Biyya, Lalu .... di usir kan?" pertanyaan menohok dari Afsha.


"Mmmm," Hasna saling pandang dengan Umi. setelahnya mereka tersenyum.


"Tidak Koq sayang, Mimma dan Biyya baik-baik saja, lagi pula mana mungkin Biyya akan mengusir Mimma sesalah apapun Mimma."


"Alhamdulillah!" ucap lega keduanya.


Lalu Hasna memberikan pengertian kepada Anak-anaknya bahwa Mimma nya pergi atas kemauannya, untuk menyelesaikan sebuah misi dan anak-anaknya harus bersabar hingga dua atau tiga hari kedepan. Setelah nya Hasna berjanji untuk mengambil cuti kuliah dan menghabiskan waktu bersama mereka.


Dengan kecupan lembut dan lambaian tangan, serta ucapan salam, kepada Anak-anak dan Umi. Hasna pergi meninggalkan mereka menuju garasi. Umi berderai air mata. Ia merasa tidak tega melepas mantu kesayangan nya itu. Padahal Hasna hanya pergi untuk sementara dan atas kemauan nya.


Bersambung ....

__ADS_1


NB: Yang memiliki aplikasi *** app. Mungkin berminat mampir, silakan mampir di Story baru Author dengan judul 'Ujung Ombak di Kaki Senja'. Nama Author nya sama Koq 'Rose Noor'. Terima kasih 🙏


__ADS_2