
"Roy awas!"
Seru Dias, ketika melihat Roy hampir terjatuh dan hilang keseimbangan, karena kruk yang ia kenakan masuk ke dalam lubang paving block.
Dengan reflek, Dias berlari ke arah depan Roy. Lalu menahan tubuh Roy! Ia menahan tubuh Roy di bagian depan, dengan kedua tangan nya. Dias menahan dada bidang Roy
Sedangkan Roy menahan tubuhnya dengan kruk satunya, karena kruk pasangan nya terjatuh.
"Astaghfirullah'aladzim."
Hasna dan Lintang yang melihat kejadian itu hanya beristighfar sembari menutup mulut mereka menggunakan telapak tangan.
"Maaf!" ujar Dias mendongakan wajah nya menatap Roy. Mata Roy dan mata Dias saling bertemu. Wajah Dias merona dan tersipu.
"Terima kasih!" balas Roy dengan kata maaf dari Dias. Ia tersenyum kepada Dias, senyum yang dari setadi Dias harapkan.
"Assalamu'alaikum! apa-apaan ini? koq Neng Dias sentuh- sentuh yang bukan mahram nya?" tiba-tiba saja, salah seorang santri putra, melewati mereka dan menghampiri nya.
"Wa'alaikum salam!" balas salam untuk Santri putra tersebut.
"Iqbal!" gumam Dias. Maulana Iqbal. Santri putra senior yang sedang melakukan pengabdian terhadap pesantren sebelum ia betul-betul meninggalkan pesantren nantinya.
Maulana Iqbal, seorang anak kepala desa di kampung nya itu. Sudah menaruh rasa Kepada Dias dari sejak awal Dias menimba ilmu di pesantren sekitar enam hari yang lalu.
"Insiden kecil yang tidak di sengaja! Kang Iqbal!" ucap Hasna cepat sembari menarik Dias.
"Roy! kamu baik-baik saja kan?" tanya Lintang. "Baik koq!" jawab Roy dan menerima kruk yang Hasna sodorkan.
"Tidak sengaja tapi koq pegang-pegang." Kata Iqbal bernada tidak suka.
"Assalamu'alaikum Ustadzah!" ucap salam dari dua orang santri putri yang baru saja masuk dari pintu gerbang.
"Wa'alaikum salam! eh Ukhty April dan Ukhty Fitri." Hasna membalas salam mereka. Begitupun dengan Lintang serta Dias dan Iqbal. Roy hanya diam.
"Iiikkhh ganteng banget!" bisik Santri putri Fitri dan April.
"Husst! kendalikan penglihatan Anti!" Lintang yang mendengar mereka berdua berbisik-bisik pun mencolek pinggang Fitri.
"Hehe! Na'am Ustadzah Lilin." Seringai santri putri Fitri.
"Afwan, Ustadzah! apakah Huwa, santri Putra baru?" tanya Santri Putri April kepada Hasna.
"Insya Allah!" Di balik Niqab nya Hasna tersenyum.
"Kami pamit. Assalamu'alaikum!" ucap Hasna kepada kedua santri putri.
"Na'am, Tafadholiy Ustdazah." jawab mereka berdua.
"Lin! Iyas, Roy! mari," ajak Hasna yang sudah melangkah terlebih dahulu menuju ke rumah utama.
"Ana ikut Ustadzah," pinta Iqbal.
"Kang Iqbal! bukan nya ada kegiatan di Aula yah! koq kang Iqbal tidak ikut serta, malah mau ikut ke rumah utama." Tukas Dias sedikit ada rasa tidak suka.
"Hehe. Itu, nanti juga tidak mengapa Neng! A'a Iqbal, Ingin lebih mengenal Ujang kaseup ini." ucap Iqbal.
"Sudah Yas! mari, nanti keburu masuk waktu Maghrib! akan susah mencari waktu untuk bicara dengan Abi." Hasna mengingatkan Dias agar tidak berdebat.
"Baik Kak!" Balas Dias.
"Kang Iqbal jalan terlebih dahulu dengan Roy! kami di belakang kalian." Pinta Hasna.
"Hasanan, Ustadzah!" seru Iqbal. Begitu pun dengan Roy, ia menurut saja dengan permintaan Hasna. Tampa bicara, ia hanya mengangguk! karena Roy tidak suka banyak bicara.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian,
Mereka telah sampai rumah utama.
"Assalamu'alaikum Abi! Umi!" Salam dari Hasna.
Lintang dan Dias serta Iqbal pun berucap salam. hanyalah Roy yang nampak diam.
"Wa'alaikum salam!"
Terdengar suara Umi yang menyahut dari dalam kamar.
"Lokh sayang. Ini siapa?" pertanyaan Umi ditujukan untuk Hasna dan Lintang.
"Ini Roy, Umi. Yang pernah kami ceritakan tempo hari." Jawab Lintang.
"Roy?!"
Umi nampak berpikir sambil menerka-nerka.
"Ini loh Mi. Roy yang dulu kalah balapan motor dengan Nana, itu lokh, motor nya si Valentino." Hasna mengingatkan.
"Ooh Iya! Masya Allah. Umi lupa, maklum faktor U," Umi menyeringai.
"Assalamu'alaikum Bu Hajah." sapa Roy dengan sopan, lalu ia menangkupkan kedua tangannya, pertanda bersalaman.
"Wa'alaikum salam, Roy! Panggil Umi Nyai saja, tidak perlu pakai Bu hajah," pinta Umi dengan tersenyum ramah.
Hasna, Lintang serta Dias, terperangah melihat begitu santun nya Roy, saat menyapa Umi. Terlebih Dias, ia merasa amat kagum terhadap sosok Roy.
"Hilal jodoh yang ku tunggu, akhirnya menampakkan batang hidungnya. Ooh Calon Imam ku! Finally .... I found you!" gumam Dias dengan tersenyum dan mengedip- ngedipakan mata.
Dias.
"Hush! Roy masih sehat Wal'afiat di bilang arwah!" tukas Hasna.
Mereka berdua pun akhirnya tertawa kecil.
"Umi, kami bertemu Roy di depan rumah sakit jiwa, sedang di kroyok beberapa orang. Alhamdulillah kami dapat menyelamatkan nya. Nana Sudah Izin dengan A'a Ustadz! dan A'a Ustadz menyarankan agar membawa Roy ke sini, untuk bertemu Abi." Hasna menyampaikan apa yang Afnan pinta.
"Astaghfirullah'aladzim, di keroyok, sayang?" Umi nampak terkejut mendengar penuturan Hasna.
"Ia Mi." Lintang mengiyakan.
"Innalillahi. Oh seperti itu toh sayang, Baiklah. Nak Roy! silakan duduk dulu, Umi panggil Abi sebentar."
"Terima kasih Umi." Ucap Roy.
Mereka pun duduk di ruang tamu, Umi kembali ke dalam untuk memanggil Abi Kyai. Tidak berapa lama, Umi kembali bersama Abi Kyai.
"Assalamu'alaikum!"
Sapa Abi Kyai. Suara Khas laki-laki, terdengar maskulin dan berwibawa memenuhi ruang tamu tersebut. Kagum! itulah yang Roy tangkap, untuk kesan pertama saat bertemu Abi Kyai.
"Wa'alaikum salam."
Jawaban dari semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Iqbal segera menyodorkan tangan untuk bersalaman. Abi menyambut nya dengan senyum khas nya yang santun.
Roy berusaha berdiri, tujuan nya tentu untuk bersalaman kepada Abi Kyai.
__ADS_1
Abi Kyai mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan agar Roy tidak berdiri. Ia faham dengan keadaan Roy saat ini.
"Duduk saja," Ucap Abi Kyai dengan penuh wibawa, padahal beliau sedang bicara santai dan hanya satu dua kata.
"Ta~"
"Perkenalkan, saya Qorry Husain. Saya orang tua dari mereka- mereka ini," ucap Abi Kyai menunjuk pada Hasna, Lintang, Dias dan Iqbal.
Abi Kyai memotong cepat perkataan Roy agar Roy tidak perlu berdiri untuk menyambut nya. Abi Kyai menjulurkan tangannya. Roy pun meraih tangan Abi Kyai dan mengecup nya. Roy sudah dapat menebak siapa orang yang ada di depan nya Ini.
"Silakan di lanjut, Umi kebelakang dulu." Pamit Umi. Ia hendak membuat minuman.
"Terima kasih Umi." Balas Abi seraya duduk dan tersenyum.
Untuk sesaat ruang tamu tersebut hening. Hingga terdengar sebuah salam. Ketika mereka menoleh, itu adalah Afnan dan Ubaydillah yang baru saja pulang dari restoran.
"Assalamu'alaikum!" Sapa Afnan dan Ubaydillah.
"Wa'alaikumussalam." balas Abi Kyai dan yang lainnya.
"A'a .... Dek! baru pulang?" tanya Abi Kyai.
Hasna dan Lintang terlihat sumringah ketika melihat pujaan hati mereka baru saja tiba. Namun tidak dengan Roy! sejenak Roy berfikir dan mengingat Wajah kedua orang yang baru saja masuk ke ruang tamu tersebut.
"Iya Bi!" jawab Afnan.
Hasna dan Lintang segera menyalami dan mencium punggung tangan mereka berdua.
Afnan dan Ubaydillah pun meraih tangan kanan Abi Kyai dan mengecup nya secara bergantian.
"Roy! perkenalkan ini suami Aku, Ustadz Afnan." Hasna memperkenalkan siapa itu Afnan.
"Nah kalau yang ini suami Aku! Ustadz Ubaydillah." Lintang ikut memperkenalkan Ubaydillah.
"Hai Roy!" sapa Ubaydillah.
"Apa kabar Roy?" tanya Afnan sembari menyodorkan tangan bermaksud untuk bersalaman.
"Eh Kalian kan, yang dulu pernah nyerang gue di area track liar, dan lo berdua juga yang sudah membuat Om dan Papi gue mendekam di penjara kan? ya betul, kita pernah bertemu di persidangan. Walaupun sudah bertahun lamanya, gue masih ingat! kalian penyebab awal ke hancuran keluarga gue!"
Tiba-tiba saja Roy meradang dan memaksakan berdiri dari tempat duduknya. Ia menuding Afnan dan Ubaydillah dengan telunjuk nya.
Hasna, Lintang, Dias serta Iqbal terperanjat, mereka merasa terkejut dengan reaksi Roy, Ketika sudah mengingat Afnan dan Ubaydillah. Namun Abi Kyai terlihat tenang, masih dalam duduk nya dengan tasbeh tidak lepas dari jari-jemari nya.
"Ma'af kan kami Roy! kami tidak berniat membuat mereka mendekam di penjara. Mereka masuk Bui karena kesalahan yang mereka perbuat." Afnan berusaha menenangkan Roy.
"Iya Roy! kalau Om kamu, tidak mengusik kami! maka kami pun tidak akan mengusik keberadaan Om kamu, hingga nama Ayah kamu terseret kasus nya, karena mereka terlibat kejahatan yang sama." Timpal Ubaydillah.
"Gue, gak percaya!"
Roy pun meraih kruk nya hendak pergi.
"Na! terima kasih, Lo sudah membantu gue? namun gue gak bisa berada di sini. Seperti nya gak akan cocok berada di lingkungan orang yang telah membuat hancur keluarganya." Roy pun mulai melangkah.
"Roy? tolong berhenti, ma'afkan suami ku! tolong, kamu jangan pergi kemana pun. Kecuali keadaan di luar sana sudah betul-betul aman! kan tadi kamu yang bilang sendiri, sudah tidak aman tinggal di rumah. Terlebih setelah Ibu kamu, di kirim ke rumah sakit jiwa, oleh keluarga Ayah mu."
"Hem! Maaf Na! tetap gak bisa, Permisi, Assalamua'laikum."
"Roy!"
Gumam Dias dengan penuh kecewa dan harapan yang seakan melambung begitu saja.
Bersambung ....
__ADS_1