
Tok...tok..tok... Assalamua'laikum Ustadz, Ustadzah... suara ketukan di pintu begitu nyaring dan heboh.
"Innalillahi," ucap Afnan, membuat Hasna tertawa tanpa suara dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan nya.
"Pasti Byby lupa deh, memiliki janji dengan mereka." bisik Hasna.
"Janji apa yah!" Afnan mengingat-ingat.
"Entahlah, yang pasti jika dari suaranya, Janji seorang Guru terhadap murid-murid nya."
"Astaghfirullah, ia Byby lupa! tadi sempat berjanji pada Anak-anak Tahfiz untuk setoran ayat," ucap Afnan.
"Ya sudah sana temui dahulu!" pinta Hasna.
"Baik sayang, Ya Allah lagi tanggung begini," Afnan beranjak dari tubuh Hasna yang memang baru setengah bukaan saja.
Afnan segera turun dari tempat tidur, di luar pintu masih terdengar Para Santri putra dan putri berceloteh menebak keadaan di dalam.
("Tidak ada di rumah mungkin.")
("Atau belum pulang dari kantor?")
("Sudah koq, tadi kan Ana bertemu dengan Ustadz Afnan dan Ustadz Ubay di parkiran.")
("Atau masih di rumah utama yah!")
begitulah yang tertangkap dengar dari Kamar Hasna dan Afnan.
Afnan bergegas hendak keluar kamar, namun Hasna menahan nya.
"Byby tunggu!" pekik Hasna agak mengecilkan suara.
"Iya Mimma!"
"Itu..." ucap Hasna sembari menunjuk pada tumbuh Afnan yang tidak mengenakan atasannya karena sudah ia buka.
"Astaghfirullah!" ucap Afnan. seperti nya ia lupa. Ia pun segera kembali dan dengan cepat ia kenakan kaus nya tadi.
Sebelum pergi ia mengecup kening Hasna. Di luar pintu, masih saja terdengar kegaduhan dari para santri putra dan putri.
Afnan kembali hendak membuka handle pintu, namun lagi-lagi Hasna mencegahnya.
"By...Stop!" ucap Hasna.
"Subhan Allah! ada apa lagi sayang?" tanya Afnan sedikit jengkel namun masih tetap bernada lembut.
"Itu By! posisi kaus nya terbalik," jawab Hasna dengan menahan tawa.
Afnan pun mengamati keadaan tubuhnya! "Astaghfirullah Al Adzim," ucapnya kembali setelah tersadar bahwa pakaian yang ia kenakan memang terbalik.
Dengan cepat Afnan melepas kaus nya, lalu ia kenakan kembali kaus nya dengan posisi yang betul, tidak lupa ia raih kain sarung, lalu ia pakai karena ia hanya memakai celana boxer minim.
"Sebentar ya Mimma. Rupanya para laskar peraih pahala, belum juga membubarkan diri," ucap Afnan seraya tersenyum.
"Baiklah Byby sayang," balas Hasna.
Setelah ia memastikan keadaan seluruh pakaian sudah terpasang baik dan benar! maka Afnan bergegas keluar menemui para santri putra dan putri.
---
Di luar.
Afnan sudah membuka pintu rumah, dan ia segera keluar dari dalam rumah, Afnan sebisa mungkin memasang tampang berwibawa nya, tidak ada yang tahu! kehebohan apa yang terjadi baru saja saat di dalam pada Ustadz mereka. Afnan mirip anak kecil tercyduk makan permen.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Ustadz!" sapa mereka.
"Wa'alaikum salam Warahmatullah," balas Afnan.
"Ustadz..Afwan, kami sudah menunggu Ustadz di saung yang ada di pematang sawah, dari ba'da Ashar." ujar santri putra.
"Astaghfirullah, Asiif jiddan (maksud nya maaf yang amat sangat), Ustadz lupa! Baiklah, masih ada waktu sebelum Maghrib, Setor Ayat di sini saja agar tidak memakan waktu," ucap Afnan.
"Na'am نَعَمْ Ustadz," balas santri putri.
"Baiklah Ustadz, di sini pun tidak mengapa, bukan kah menuntut ilmu Agama itu dapat di mana saja! Asalkan di tempat yang jauh dari nazis," timpal santri Putra lainnya
"Tepat, Masya Allah TabarakAllah. YA menuntut Ilmu
itu bukan untuk belajar semata, tetapi belajar untuk kehidupan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Kehidupan meminta manusia untuk menuntut ilmu, karena tanpa adanya ilmu manusia menjadi makhluk yang belum wajar dalam berkehidupan. Bahkan dalam ajaran Islam hukum menuntut ilmu adalah wajib (dan mustahab atau sunnah) (HR. At-Tirmidzi).
"karena jalan Agama yang diambil oleh manusia pun mengharuskan manusia memiliki pengetahuan, dan dalam beriman pun manusia tidak diperkenankan untuk percaya kepada Allah sambil menutup mata, karena signifikansi menuntut ilmu adalah sebagai legitimasi dalam mempelajari segala hal yang dibebankan kepada setiap manusia untuk aplikasi amal atau beribadah, guna menghamba kan diri kepada Allah Swt."
"Maka dari itu, Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim . sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut." (HR. Ibnu Abdil Bar)."
"Begitulah, Baik! kalian tunggu di sini sebentar, Ustadz hendak ber Wudhu," ujar Afnan.
"Syukron Ustadz, Tafadhdhol (silahkan)," jawab para santri.
Afnan pun bergegas masuk ke dalam, karena dengan aktifitas sayang-sayangan nya bersama Hasna baru tahap pemanasan, maka dari itu Afnan pikir tidak perlu mandi, cukup berwudhu saja.
"Bagaimana By?" tanya Hasna yang asik dengan ponsel nya masih di atas kasur berbalut selimut.
"Terpaksa di gantung dulu sayang, tidak apa-apa kan? mereka tetap maksa untuk setor Ayat. Mereka sudah menunggu di teras depan," Jawab Afnan sambil menghampiri Hasna dan mengecup kening nya dengan lembut.
"Tidak mengapa By! demi untuk kebaikan, Nana rela di gantung, asal jangan cinta Nana saja yang Byby gantung," ucap Hasna sembari menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya.
"Si sayang sudah pandai menggoda Byby nih! belajar dari mana sih?" tanya Afnan dengan tersenyum kecil.
ia mengatakan itu.
"Awas ya sayang, untuk kali ini kamu merdeka dengan semua ledekan mu! tapi lihat nanti setelah ada kesempatan,
jangan harap kamu dapat lepas begitu saja! siap-siap ku tawan di kamar," ucap Afnan dengan berbisik di atas selimut, yang ia yakini itu tepat pada telinga Hasna.
"Iikkhh..Byby!" pekik Hasna masih berbalut selimut, menutupi seluruh tubuhnya.
setelah mengatakan itu dengan tersenyum senang, Afnan berlalu untuk mengambil wudhu.
Tidak sampai sepuluh menit, Afnan kembali ke teras depan, di mana para santri putra dan putri sudah menantinya untuk setor ayat.
Kini Afnan sudah berbaur dengan para santri, yang di bagi menjadi dua kelompok, kelompok Putra dan juga kelompok Putri. yang duduk saling berjauhan. Afnan duduk di antara keduanya.
"Mari mulai dengan taawudz dan lafal doa untuk belajar," pinta Afnan.
"Insya Allah Ustadz. Afwan Ustadz, mengapa kita harus selalu membaca taawudz saat hendak membaca Al-Qur'an," tanya santri putri.
"Hemm.. Baik! Akhy Guntur seperti nya sudah paham mengenai ini, coba tolong wakili Ustadz untuk menjawab nya," pinta Afnan dengan menunjuk salah satu santri Putra.
"Na'am Ustadz, syukron! Bismillah..jadi begini: Ta'awudz atau isti'adzah merupakan doa untuk memohon perlindungan dan penjagaan. Kalimat yang dimaksudkan ini adalah untuk memohon perlindungan dan penjagaan kepada Allah swt yang Maha Pelindung dari bisikan serta godaan setan," ucap santri Guntur.
"Masya Allah TabarakAllah! Cukup Akhi, Sekarang Ukhty Aina, tolong di lanjutkan untuk lebih menyempurnakan jawaban dari Akhy Guntur," pinta Afnan, kali ini ia berganti menunjuk santri putri.
"Baik Ustadz, terimakasih! jadi.. lafal
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."
__ADS_1
Imam Asy-Syafi'i, Abu Hanifah dan mayoritas ahli qira'ah menilai laradz inilah yang paling afdhal karena berdasarkan surat An-Nahl ayat 98, berbunyi:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Latin: Fa'iidha qara'talquran fasta'idh Billahi minashaytan nirrojiim.
Artinya: "Apabila kamu membaca Al-Qur'an, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl [16]: 98).
"Cukup, jawaban yang bagus! Ukhty Aina. Syukron, Tolong di lanjutkan oleh Akhy Adam,"ucap Afnan.
"Afwan Ustadz," balas santri Aina.
"Afnan tersenyum, Tafadhdhol Akhy Adam," pinta Afnan.
"Na'am Ustadz, selanjutnya adalah, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa membaca ta'awudz merupakan permohonan agar terhindar dari hal-hal negatif yang bersifat batiniah dan untuk mendatangkan kebaikan.
Anjuran membaca ta'awudz tidak dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga boleh dibaca kapan saja. Terutama saat hendak membaca ayat suci Al-Qur'an." tutur Adam.
"Alhamdulillah, atas semua penjelasan nya, Ustadz rasa cukup dulu untuk kali ini, bagaimana Ukhty Kintan sudah mengerti?" tanya Afnan.
"Syukron Ustadz, sudah mengerti," jawab santri Kintan.
"Syukur Alhamdulillah, mari mulai pelajaran kita dengan membaca doa hendak belajar membaca Al-Qur'an," pinta Afnan.
"Setelah membaca Taawudz, maka bacalah Basmallah, setiap awal surat. Kecuali surat at-Taubah. Karena mayoritas ulama mengatakan, ini adalah satu ayat (khusus) yang ditulis di mushaf. Dan Basmallah ditulis di semua awal surat, kecuali at-Taubah.
"Mengapa seperti itu Ustadz?" tanya salah satu santri putra.
"Dari Sayidina Ali bin Abi Thalib RA. Abdullah bin Abbas bertanya kepada Ali bin Abi Thalib: "Mengapa dalam surat At-Taubah tidak ada bismillah?" Ali menjawab: At-Taubah tidak ada bismillah? Bismillah adalah pemberian keamanan. Sedangkan surat At-Taubah adalah perintah perang dengan pedang, maka tidak ada keamanan di dalam nya" (HR: Al-Hakim)
"Dari Sayidina Utsman bin Affan RA. Ketika Rasulullah SAW wafat dan tidak menjelaskan kepada kami apakah At-Taubah termasuk dalam Surat Al-Anfal atau tidak, maka kami menyandingkan keduanya dan tidak saya tulis diantara keduanya. Saya meletakkan At-Taubah pada tujuh surat yang panjang- panjang.” (HR Al-Hakim). Tutur Afnan.
"Syukron Ustadz dengan penjelasan nya," ucap santri putra dan putri.
"Afwan, mari mulai pelajaran kita," pinta Afnan.
Lalu mereka melafalkan Doa hendak membaca Al-Quran;
اَللّهُمَّ عَظِّمْ رَغْبَتِيْ فِي الْقُرآنِ وَاجْعَلْهُ نُوْرًا لِبَصَرِيْ وَشِفَاءً لِصَدْرِيْ وَذَهَابًا لِهَمِّيْ وَحُزْنِيْ. اَللّهُمَّ زَيِّنْ بِه لِسَانِيْ وَجَمِّلْ بِه وَجْهِي وَقَوِّ بِه جَسَدِيْ وَثَقِّلْ بِه مِيْزَانِيْ وَارْزُقْـنِيْ حَقَّ تِلَاوَتِه وَقَوِّنِيْ عَلى طَاعَتِكَ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاحْشُرْنِيْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَآلِهِ الْأَخْيَارِ
Laten: Allohumma azhzhim roghbatii fil qur-aani waj’alhu nuuron libashorii wa syifaa-an lishodrii wa dzahaaban lihammii wa huznii. Allohumma zayyin bihii lisaanii wa jammil bihii wajhii wa qowwi bihii jasadii wa tsaqqil bihii miizaanii warzuqnii haqqo tilawatihii wa qowwinii ‘alaa thoo’atika aanaa-al laili wa athrofan nahari wahshurnii ma’an nabiyii shollallaahu ‘alaihi wa sallama wa aalihiil akyaari.
Arti: Ya Allah, perbesar kecintaanku pada Al-Quran, jadikan Al-Quran sebagai cahaya pada penglihatanku, dan kesembuhan pada dadaku, dan penghilang kesusahan dan kesedihanku. Ya Allah, hiasilah lisanku dengan Al-Quran, perbaguslah wajahku dengannya, kuatkan tubuhku dengannya, beratkan timbanganku dengannya, berilah aku rizeki untuk benar-benar membacanya atas dasar taat kepada-Mu, di pertengahan malam dan penghujung siang, dan kumpulkan aku bersama Nabi Saw dan keluarganya yang terpilih.
Adapun yang lebih pendek, Doa sebagai berikut:
اَللهُمَّ افْتَحْ عَلَىَّ حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَىَّ رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنِىْ مَانَسِيْتُ يَاذَاالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ
Alloohummaftah ‘alayya hikmataka wansyur ‘alayya roma taka wa dzakkirnii maanasiitu yaa dzal jalaali wal ikroomi.
Artinya : Ya Allah bukakanlah hikmah-Mu padaku, bentangkanlah rahmatMu padaku dan ingatkanlah aku terhadap apa yang aku lupa, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Setelah membaca Doa, barulah mereka satu persatu setor Ayat Al-Qur'an dengan masing- masing surah yang sudah mereka tentukan.
***
Malam hari Ba'da Isya.
Di rumah baru Ubaydillah sudah ramai oleh keluarga inti dan beberapa penduduk sekitaran Ponpes sebagai undangan, beberapa Guru pembimbing serta beberapa santri putra dan putri.
Mereka hendak melaksanakan tasyakuran pindahan rumah baru Ubaydillah dan Lintang.
Bersambung....
__ADS_1