
Afnan terdiam. Ia duduk menegang karena terkesima dengan tampilan Hasna. Afnan yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, menghadap ke arah tangga, tatapan matanya langsung pada Hasna, yang baru saja turun dari kamar nya.
"Sayang!" gumam Afnan. Hasna tersenyum manis padanya (Nampak dari garis mata yang tidak tertutup niqab). Tampilan yang sederhana namun memukau. Rok plisket berwarna pastel, kaus putih yang di padukan jaket berbahan Levis berwarna tembaga, serta pashmina soft pink, yang menjuntai menutupi area dada hingga perut. Tidak lupa niqab yang sudah terbentang rapi menutupi wajahnya.
Hasna pun terpukau dengan tampilan Afnan yang nampak sederhana, namun terlihat keren. Ia berbalut celana jeans berwarna hitam, dengan kaus yang berwarna senada, namun di padukan Jacket Levi's berwarna biru tua yang tangan nya di gulung hingga seperempat lengan.
"Masya Allah Byby, tampan!" gumam Hasna di dalam hatinya.
Nenek dan Kakek Hasna yang memang pada awalnya sedang ngobrol bersama Afnan, mereka saling memberikan kode menggunakan isyarat, untuk keduanya segera menyingkir dari tempat itu dan memberikan mereka waktu untuk berduaan.
"Nak Ustadz. Silakan di lanjut, kami hendak beristirahat di kamar." Ucap Kakek nya Hasna.
"Terima kasih Ki." Balas Afnan dengan tersenyum.
"Nin, Ki! kami hendak keluar sebentar." ucap Hasna, ketika melihat kakek dan neneknya sudah berdiri dari tempat mereka duduk tadi.
"Iya sayang. Hati-hati," ucap Nenek Hasna. "Nak! kami masuk dulu," pamit Nenek nya Hasna kemudian kepada Afnan.
"Silakan Nin. Selamat Istirahat." ujar Afnan dengan tetap tersenyum dan menganggukan kepala nya takzim.
Setelah Nenek dan Kakek nya Hasna masuk ke dalam kamar, Kini di ruangan tersebut, sedang terjadi kecanggungan antara Afnan dan Hasna. Nampak keduanya hanya saling pandang dengan salah tingkah.
"Em.... A Ustadz!"
"Dek!"
"Hemmm..."
keduanya menunduk dengan tersenyum. Sesaat kemudian, Afnan sedikit mengangkat wajahnya, menatap Hasna ragu. Ia mengayunkan pelan tangan nya, dengan telapak tangan yang terbuka, sebagai pertanda mempersilakan. "Ladies first." Ucapnya.
"A'a Ustadz saja terlebih dahulu." Balas Hasna, malu.
"Ok! jadi.... kita akan merancang ini seperti orang yang sedang pacaran sungguhan?" tanya Afnan. Kali ini ia menatap Hasna dengan berani.
"Tentu! keadaan nya sudah mendukung. Apalagi dengan perasaan canggung ini. Nana ingin dapat feel yang namanya pacaran." Jawab Hasna.
"Baik! untuk dua malam kedepan, Aku akan mengapeli mu setiap malam. Apakah tidak akan merasa bosan?" tanya Afnan.
"Ustadz sendiri?" Hasna menjawab pertanyaan dengan malah balik bertanya.
"Tidak!" jawab Afnan tegas.
"kita akan menikmati hal ini, sebelum kembali ke kehidupan nyata. Baik, karena Sayang meminta panggilan kita pun di ubah, maka aku akan memanggil mu dengan Dek Nana. Sesuai permintaan kamu." Tutur Afnan.
"Terima kasih. Kalau begitu, panggilan Aku ke Byby. A'a Ustadz." Balas Hasna.
"Kalau begitu, pacaran yuk!!" seru Afnan.
"Ayuk, siapa takut!" balas Hasna.
"Baiklah. Pacaran, kita mulai...." final Afnan.
Mereka berdua tidak menyadari, ada dua pasang mata, sedang mengingtip dengan cekikan di balik tembok yang mengarah ke kamar Nenek dan Kakek Hasna.
"Mari masuk Mbu! nanti berabe Kalau ketularan kebelet pacaran." Ujar Kakek Hasna.
"Hooh Ama, yuk! gak kuat lihat nya." Ujar Nenek Hasna dengan mengekeh.
Akhirnya mereka masuk ke dalam kamar.
**
Setelah mengobrol sebentar di ruang keluarga. Kini Afnan dan Hasna sudah berada di luar rumah hendak menaiki motor.
Afnan menyodorkan helm untuk perempuan, berwarna pink. Sedangkan ia memakai yang untuk laki-laki berwarna biru tua.
Tiba-tiba saja Afnan tertawa kecil. Hasna mengerut dahi.
"Ada apa? apakah ada yang aneh, A?" tanya Hasna.
__ADS_1
Afnan menarik lurus kedua tangan nya. Menumpukan kedua nya di atas dashboard motor. Ia menoleh kepada Hasna, nampak keren bagi Hasna.
"Kain ninja Dek Nana, masih ada?" tanya Afanan.
"Ninja?" Hasna seperti nya belum faham. "Maksudnya A?"
"Itu loh! pendekar ninja kain sarung, yang hampir saja membogem calon suami nya."Jelas Afnan.
"Uuumm A Ustadz, jangan di ungkit, aku malu!!!!" pekik Hasna, ia tertawa malu-malu, sembari memukul pelan lengan Afnan. Percis seperti gadis yang sedang kasmaran.
Afnan pun kemudian ikut tertawa. Ia segera membantu Hasna untuk menyatukan pengikat helm nya.
"Terima kasih." Ucap Hasna.
"Tidak perlu sungkan, sekarang kita pacar." Balas Afnan.
"Koq kain ninja nya gak di pakai lagi?" lagi-lagi Afnan menggoda Hasna.
"Ikh A Ustadz!" Hasna mencubit pinggang Afnan, hingga Afnan mengekeh geli. "Itu kain nya Kiki, bukan punya Nana." Jelas nya dengan merajuk.
"Uuuu pacar Aku koq sensian. Naik yuk! takut keburu malam, nanti pasar malam nya bubur."
"Baik, A'a Ustadz." Hasna naik ke atas motor di bonceng oleh Afnan. Ia duduk menyamping layak nya perempuan. Duduk manis dengan senyum tak lepas dari bibir nya.
Hatinya berbunga-bunga. Itu yang Hasna rasakan. Begitu pun dengan Afnan.
Afnan melajukan motornya dengan santai. Menyusuri jalan yang agak remang, karena minimnya pencahayaan. Ia membawa Hasna menuju sebuah pasar malam di dekat alun-alun.
Di dalam perjalanan, mereka tidak lantas saling diam. Sesaat Hasna tersipu oleh gombalan Afnan. Yang ternyata Afnan pandai menghangatkan suasana.
Sesaat kemudian, mereka bergaduh karena Hasna mengomel, ketika kejahilan Afnan muncul. Afnan dengan kesengajaan menarik rem motor nya tiba-tiba, membuat Hasna terkejut dan mengharuskan nya memeluk pinggang Afnan lebih erat, ketika motor berhenti tiba-tiba.
"A'a Ustadz. Gak lagi membuat aku terkejut!" Protes Hasna, ketika lagi-lagi, Afnan mengerem dadakan.
Afnan tertawa. "Kamu lucu Dek. Lumayan dong agak hangat, pas tadi di peluk."
Hasna mencubit pelan pinggang Afnan, lalu keduanya tertawa. Hingga pada akhirnya sampailah mereka di sebuah tempat terbuka yang luas. Di tempat itu sedang di adakan pameran atau pasar malam.
Nampak berjejer rapi, beberapa pedagang pakaian, permainan dan juga makanan.
"Yuk!"
Ajak Afnan. Hasna mengiyakan sembari berjalan di belakang Afnan.
Mereka tidak berjalan beriringan. Hasna berpegangan dengan menarik ujung jaket Afnan dari arah belakang Afnan.
"A! aku mau main lempar bola!" pinta Hasna.
"Yang itu?" tunjuk Afnan pada salah satu lapak permainan. Hasna mengiyakan. Afnan dan Hasna menuju ke tempat permainan tersebut.
"Pak! sekali lempar berapa?" tanya Afnan pada penjaga lapak mainan tersebut.
"Sepuluh ribu rupiah, dapat tiga bola, A!" Jawab si penjaga lapak mainan tersebut. Afnan pun meminta enam bola pada awalnya. Namun ternyata Hasna meminta nya lagi. Hingga ia menghabiskan uang lima puluh ribu rupiah.
Setelah puas melempar bola kedalam kaleng- kaleng yang berisikan gulungan keras berisikan hadiah. Hasna menunjuk bianglala.
Afnan pun menuruti Hasna, setelah memberikan berbagai macam hadiah yang ia dapatkan kepada pengunjung lain. Kini Hasna tengah menikmati wahana bianglala dengan gembira.
Afnan mencoba mencari kesempatan ketika bianglala itu berputar dan berada di puncak, ia mencoba merangkul Hasna.
"Ikh, A'a Ustadz nakal!" ujar Hasna dengan menepis tangan Afnan yang sudah melingkar di bahunya.
"Sedikit Neng! dingin nih." Bujuk Afnan. Hasna merengut, namun Afnan tertawa. "ooooh jadi begini ya rasanya pacaran. Serba canggung dan takut."
"Hehe. Mungkin seperti itu. Awas saja kalau A'a Ustadz nakal lagi! Nana gak mau pacaran sama cowok nakal." Ancam Hasna dengan agak memiringkan tubuhnya menjauhi Afnan.
"Iya_iya! dasar cewek gahar, gak mudah di dekati ternyata," cibir Afnan namun tetap mengekeh. Sukses mendapatkan hadiah cubitan dari Hasna di area perut.
"Nah loh. Sekarang siapa yang nakal? enak saja bebas pegang-pegang." Ledek Afnan.
__ADS_1
"Maaf, Khilaf!" ujar Hasna tertawa.
"Ouh kalau begitu, Aku ikutan Khilaf deh!" Cup. Afnan mendaratkan kecupan nya secara singkat dan cepat pada pipi Hasna.
"Ustaaddzz!"
***
Setelah puas bermain di area pasar malam. Hasna dan Afnan sedang dalam perjalanan pulang, menuju rumah Nenek nya Hasna.
"A..." panggil Hasna lirih.
"Ya." jawab Afnan singkat.
"A'a Ustadz?!"
"Ya Dek Nana, ada apa?" ucap Afnan lagi dengan lembut.
"Lapar...."
"Loh tadi sudah beli banyak camilan. Masih lapar?" tanya Afnan. Di pasar malam, Hasna memang banyak membeli camilan atau jajanan.
"Iya, masih lapar." jawab Hasna manja. Afnan hanya mampu tersenyum di balik helm nya mendengar rengekan manjanya Hasna.
"Baiklah.... di depan seperti ada kedai nasi goreng. Mau, Dek?" tanya Afnan, sembari mengingat-ingat sisa uang di dompet nya yang tinggal dua puluh ribu rupiah.
"Mau A!" jawab Hasna cepat. Setelah di setujui oleh Hasna, Afnan pun segera menuju kedai nasi goreng pinggir jalan tersebut.
**
"Pak nasi goreng nya satu." Pesan Afnan. Tukang nasi goreng pun mengiyakan.
Afnan menghampiri Hasna yang telah duduk terlebih dahulu. Beberapa orang yang sedang makan di kedai tersebut melirik ke arah mereka.
Namun Afnan dan Hasna nampak cuek. Mereka malah asik mengobrol berdua. Ketika asik mengobrol telepon Afnan berbunyi dengan nyaring nya. Seperti nya Afnan lupa men-senyapkan suaranya.
Dari nada yang di tangkap. Itu dering ponsel jadul berbasis keypad tekan. Berbody montok! (mirip Author 🙈😆). Bahkan mungkin dapat berguna untuk melempar mangga tetangga (halah Author pengalaman yaaaa??!!") 🤫🤫🤫🤣🤣🤣).
Betul saja, Afnan mengeluarkan ponsel tersebut dari kantong jaketnya dengan cuek, lalu ia menerima telepon tersebut. Itu telepon dari Umi yang menanyakan nya akan pulang ke rumah yang mana. Afnan menjawab akan pulang ke rumah utama ponpes.
Beberapa orang di tempat itu, seperti merendahkan Afnan dengan apa yang ia miliki. Hasna yang memperhatikan itu, merasa sedikit terganggu. Namun Afnan mengelus bahunya untuk tetap tenang.
"Mangga.... nasi goreng na, A." (Silakan, nasi goreng nya, Kak.) si penjual nasi goreng melatakan sepiring nasi goreng, lengkap dengan segelas teh tawar hangat.
"Hatur nuhun Kang."
(Terima kasih Bang.) ujar Afnan.
"Koq hanya satu A?" tanya Hasna.
"Untuk kamu saja Dek! A'a sudah kenyang. Tadi kan banyak makan jajanan." Jawab Afnan.
Lagi-lagi beberapa pelanggan menoleh kepada Hasna dan Afnan. Dari beberapa orang itu, dua atau tiga orang tersenyum mengejek.
"Heh! kasian cewek nya, pacaran sama orang susah. Ganteng sih tapi kere." Bisik salah seorang perempuan pada teman nya.
"Kere apa pelit?" tanya teman nya.
"Kere seperti nya! tuh lihat, motor sama hape nya aja jadul. ikh alergi di bonceng motor jadul begitu." Mereka mengekeh.
Hasna tahu, mereka sedang di tertawakan. "Sayang! seperti biasa yah, kita makan sepiring berdua dan main suap-suapan. O yah, untuk Nenek, kakek plus Bibik di rumah, di bungkus ya Yank. Setelah ini kita beliin Umi dan Abi martabak juga, martabak Bangka sayaaaaang. Itu loooh, kalau Umi martabak kacang coklat. Untuk Abi martabak telur. Jangan lupa, yang spesial yah! telur nya delapan." celoteh Hasna dengan suara yang sengaja di buat nyaring.
Afnan mengulum senyum. Hasna mengedipkan mata. Afnan mengerti akan hal itu, ia pun geleng-geleng kepala. Sembari menerima suapan nasi goreng dari Hasna.
Orang yang tadi mencibir Afnan dan Hasna. Merasa tersentil oleh kata-kata Hasna. Kini mereka hanya diam dan segera menghabiskan nasi goreng nya.
"Ya Allah, Astagfirullah! se-munafik itukah dunia? andaikan saja aku turun dari mobil yang kami miliki, dengan dandanan perlente. Sudah barang pasti mereka akan bersikap jauh lebih baik. Ya Allah ampunilah mereka yang telah menggunjing sesama saudara nya." Batin Afnan.
Bersambung....
__ADS_1