
Di Villa Granny.
Elyavira di buat pusing oleh Devano, Mommy Aaralyn, dan juga Granny.
Devano terus-terusan berteriak minta di lepas dari kamar. Ubaydillah mengurungnya sejak dari tadi sebelum ia pergi ke rumah Adrian.
Sebelum Ubaydillah, Lintang dan Anak-anak meninggalkan Villa. Ia berpesan agar Elyavira tidak membukakan pintu kamar mereka. Ubaydillah melarang Devano ikut ke rumah Adrian, apalagi jika ikut dalam pencarian Angela.
Bukan tanpa alasan. Namun Ubaydillah menghindari jatuhnya korban, baik luka ataupun hal buruk lainnya. Maka dari itu ia fikir lebih baik mengurung Devano. Mengembalikan Anak-anak ke ponpes. Dan ia pun meminta Izin dari Abi, Umi serta memohon doa, dari penghuni ponpes untuk keselamatan Angela.
"Mommy mau ikut Daddy. Mengapa Daddy dan Grandad meninggalkan Mommy?" Isak tangis Mommy Aaralyn.
"Sabar Mom! Ini demi kebaikan Mom. Ingat apa yang Bang Dav katakan. Sebaiknya kita diam di rumah dan memperbanyak doa. Untuk keselamatan semuanya." Bujukan Elyavira untuk menenangkan Mommy Aaralyn.
"Yes Elya Sayang. Mommy know! But, i wanna Ange. Oohh Baby, Where are you now?" tangis pilu kembali dari Mommy Aaralyn.
"Mom...!" Elyavira menyeka lembut air mata Mommy Aaralyn. "Tabah, Granny." Tangan sebelah nya sibuk mengelus lembut punggung Granny. Posisi Elyavira ada di antara mereka berdua.
Elyavira hanyalah mampu menghela nafas berat. Ia pun ingin melakukan sesuatu. Namun apa? ia hanyalah mampu memanjatkan doa.
"Sayang! help me, please." Pinta lirih Granny pada Elyavira.
"Yes Granny. What can i help you?" tanya Elyavira.
"Calling, my Davian!" jawab Granny.
"Ofcourse. second minut!" Elyavira ingat, ponsel nya berada di kamar. Namun jika mengambilnya. Pasti Devano akan memaksa keluar kamar dan akan menyusul Ubaydillah ke rumah Adrian.
"Ada apa, sayang?" tanya Granny, karena ia melihat Elyavira kebingungan.
"Ah tidak! di mana Ponsel Granny dan Mommy?" Elyavira malah balik bertanya. Keduanya geleng kepala.
"Huff!" Elyavira merasa putus asa. Telepon rumah, tidak dapat di gunakan. Karena sedang ada gangguan, sudah satu minggu ini.
Terpaksa Elyavira harus mengambil ponselnya di kamar. dengan risiko sedikit berselisih dengan Devano.
Setelah pamit kepada Granny dan Mommy. Elyavira pun dengan langkah pelan menghampiri kamarnya. Ia sudah tidak mendengar suaminya berteriak.
Bersyukur, Alnaira ikut Ubaydillah dan Anak-anak di antar ke Ponpes. Jika tidak, maka ia akan semakin pusing dengan segala celoteh dan rasa ingin tahunya.
Kreet. Pintu di buka perlahan oleh Elyavira. Senyum terukir di wajahnya, tatkala ia melihat Devano tertidur dengan tubuh nya bersandar di dinding kamar.
Elyavira ragu untuk masuk. Ia memindai ruangan tersebut. Ponsel miliknya ada di atas nakas dekat tempat tidur. Namun jika ia mengambil ponsel tersebut. Takut Devano bangun.
Cara terakhirnya. Ia masuk dengan mengunci kamar. Lalu ia taruh kunci kamar nya di dalam saku gamisnya.
"Mooi." Langkah Elyavira terhenti. Ketika suara Devano memanggilnya.
"Ya. Pih!" Elyavira memutar tubuhnya. Ia berhadapan langsung dengan Devano.
Devano bangkit dari duduknya. Lalu ia menghampiri Elyavira dan memeluk nya.
__ADS_1
"Mooi. Bagaimana keadaan Adikku?" tanya Devano.
"Insya Allah. Akan baik-baik saja." Jawab Elyavira. Devano menelusupkan tangan nya ke dalam gamis Elyavira. Tanpa Elyavira sadari ia mengambil kunci pintu kamar.
Devano mengelabui Elyavira dengan mengecup pipinya. Setelah Devano mendapatkan kunci. Maka ia segera melepaskan pelukannya dari Elyavira.
"Mooi. Maafkan Apih." ucapannya. Lalu ia berlari ke arah pintu dan membuka nya. Elyavira hanya diam menyaksikan itu. Elyavira tersadar saat ponsel yang ia genggam berbunyi dan bergetar.
"Bang, Dav?"
Rupanya itu pesan dari Ubaydillah. Devano sudah berlari ke arah luar menuju garasi. lagi-lagi keributan terjadi di luar sana. Devano terdengar uring-uringan mencari kunci mobil.
"Dek El. tolong sampaikan kepada semuanya. Abang, A Ustadz, Adrian dan Daddy, beserta beberapa polisi. Sedang dalam perjalanan, untuk menghampiri titik penyekapan Angela. Alhamdulillah kami sudah menemukan titik terang."/ Ubaydillah.
Begitulah isi pesan singkat dari Ubaydillah, via WhatsApp. Elyavira bergegas menuju luar untuk menghampiri suaminya.
"Pih! mau kemana? bisa tolong, lebih tenang sedikit?" tanya Elyavira lembut.
"Mih, gak ada waktu! Aku harus pergi mencari Angela. aku harus ikut dengan Bang Dav dan yang lainnya. Angela Adikku Mih. Aku harus ikut menyelamatkan nya." teriak Devano.
"Piiiih!" Elyavira menghampiri Devano. "Lihatlah!" Elyavira menunjukkan pesan dari Ubaydillah.
Nampak Devano begitu nampak frustasi dengan menyugar kasar rambut nya, setelah membaca tulisan tersebut.
Sebelumnya Elyavira telah memberitahukan kepada Granny dan juga Mommy Aaralyn, pesan dari Ubaydillah.
"Mooi! lalu aku harus diam saja dan tidak melakukan apapun, gitu?" Devano terisak di dalam pelukan Elyavira.
"Baiklah. Mari Mooi." Devano menuruti ajakan Elyavira. Mommy dan juga Granny pun ikut Sholat berjamaah di Mushola, yang berada di dekat taman Villa.
**
Di sebuah jalan menuju ke arah Bandung. Hasna tengah mengendarai mobilnya, di sisinya Afnan, nampak duduk dengan tenang. Selepas Dzuhur dan setelah berjamaah Dzuhur di Mesjid yang mereka lewati. Maka kini mereka kembali melakukan perjalanan untuk menyelamatkan Angela pada titik tempat yang telah mereka temukan.
"Sayang. Jangan terlalu ngebut. Nanti kita kehilangan mereka." Ujar Afnan. Hasna bersikeras ingin ikut dan terlibat dalam pencarian Angela.
Hingga ia mendahului Afnan duduk di bangku kemudi. jika Afnan tidak mengizinkan ia ikut, maka Afnan pun tidak boleh ikut. Hasna mengancam akan membawa Afnan kembali ke ponpes. Afnan bisa apa, selain menuruti Istri labil shalihah nya itu.
"Baik By. Tenang saja, kita tidak akan tertinggal oleh mereka. Byby lupa, jari-jari terampilnya Kak Ubay? mobil ini sudah terhubung ke server nya dia. Di manapun kita. Kak Ubay akan menemukan kita dengan mudah. Maka dari itu, Nana sudah tidak bisa nyolong balapan pakai mobil ini." terdengar nada penyesalan bercampur frustasi. Afnan yakin kali ini Hasna sedang manyun lucu di balik niqabnya.
Afnan ngekek geli, mendengar Celoteh Hasna yang nampak kelepasan. Di balik suara lirihnya, terdengar nada dendam pada Ubaydillah. "Oooh, jadi Sayang kesal terhadap Kak Ubay, karena telah melacak mobil ini? dan Sayang tidak bisa menemukan alat pelacak itu? ternyata Sayang, berniat nyolong balapan pakai mobil ini, toh? namun sayang yah, mobil ini dalam pantauan Kak Ubay." ledek Afnan tertawa pelan.
Hasna makin kesal. Ia menaikan kecepatan nya. Namun tidak berlangsung lama, nada peringatan bahaya karena jalan berkelok, terdengar nyaring dari alat Pengingat keselamatan.
"Ish! jangan salah By, kecanggihan alat-alat Kak Ubay. Ternyata belum dapat mengalahkan kecerdikan otak Nana. Banyak jalan menuju Roma Byyy." penyakik Hasna dengan senyum penuh kemenangan.
"Byby tahu, ada hal yang kamu sembunyikan, Sayang. Lihat saja, tanggal mainnya. Kamu itu, tidak pernah dapat menyembunyikan kebohongan atau kecurangan dari Byby." Ucap Afnan pelan, dengan smirk misterius. Membuat Hasna merinding dangdut.
"Uuumm.. Byby apa sih. koq kesannya ngancam gitu!" rengek manja Hasna.
Cup!
__ADS_1
Afnan dengan cepat mengecup pipi Hasna. "Aw! Byby. Genit! lihat sikon dong By." protes Hasna.
Afnan hanyalah tersenyum dan kembali duduk dengan tenang. Ia masih menatap Hasna dengan senyuman penuh misteri. Hasna pura-pura tidak melihat. Lalu ia fokus ke jalanan.
Hingga sebuah dering telepon masuk ke ponsel Afnan. Ubaydillah yang menelepon.
"Ya, Dek!"/ Afnan.
"Mengarah, ke sebuah hotel A."/ Ubaydillah.
"Hotel?" /Afnan.
"Ia! sepertinya, si penculik telah menyerahkan Angela pada bosnya." /Ubaydillah.
"Baik! kita harus bergerak cepat. Tolong Share alamat hotel itu."/ Afnan.
Afnan dan Ubaydillah pun. Mengakhiri teleponnya. Afnan segera memberitahukan kepada Hasna. Apa yang di sampaikan Ubaydillah tadi.
Hasna mengiakan penuh waspada. kali ini wajah Hasna dan Afnan nampak serius. Memperhatikan alamat hotel yang Ubaydillah berikan.
Sementara itu, telepon kembali masuk di ponsel Afnan. itu dari Zainal. Ia memberitahukan, bahwa Bapak pemilik bengkel yang semalam, datang bersama putranya. Dan menanyakan Afnan karena ingin bertemu. Afnan menjanjikan lain kali, untuk mereka bisa bertemu kembali. sambungan telepon pun selesai.
Di mobil lainnya, satu mobil diisi berempat. Ubaydillah, Lintang, Adrian, serta Daddy Dadryck. sedangkan Grandad kembali ke Villa. Satu buah mobil lainnya bersih empat orang polisi. salah satunya polisi Imron
"Mengapa kini, mereka berhenti di hotel? sedangkan tadi, mereka berputar-putar menuju bandara." Ucap Ubaydillah. sebelumnya, ia sudah menelpon Afnan dan juga polisi Imron.
"Apapun, yang mereka lakukan! semoga Angela baik-baik saja." ujar Daddy Dadryck. Dengan helaan nafas berat.
"Ia, semoga Allah melindungi Angela dan juga calon Anak kami." sambungan Adrian, dengan nada lesu.
"Aamiin." ucap mereka serempak.
**
Betul saja yang Ubaydillah katakan. Angela, kini tengah di kurung pada sebuah kamar hotel.
Tidak lama, tiga orang perempuan masuk ke kamar Angela. Angela yang tidak tahu apa-apa. ia mengernyitkan dahi. Tatkala melihat beberapa orang membawa gaun pengantin.
"Gaun pengantin? untuk siapa? lalu siapa yang menculik ku. Mengapa aku di bawa ke Hotel?" gumam Angela.
"Nona. Cepat Pakai ini, acara pernikahan akan segera di mulai." ucap salah seorang, yang membawa gaun pengantin tadi.
"Ma-maksud kalian apa? aku sudah menikah dan memiliki suami." protes Angela.
"Sudahlah Nona. Kami tidak tahu apapun tentang ini. yang kami tahu, Bos kami memerintahkan, agar Anda berganti pakaian dengan segera!" tegas perempuan satunya.
"Siapa Bos kalian? Mengapa dia berbuat ini pada ku?" ketus Angela.
"Hai Baby! kamu mencari ku. Aku sudah berada di sini sayang. kita akan menikah, lalu ke Amerika. Dan kita akan tinggal dengan bahagia di sana."
"Ka-kamu?!" mata Angela membola tak percaya.
__ADS_1
Bersambung....