
Assalamu'alaikum.
Di episode sebelumnya, banyak yang dongkol nih sama aib para suami. Gimana kalau Shalawatan dulu sebelum baca Bab baru. Agar hati tenang.
"Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian kuburan dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, bershalawatlah kepadaku karena sesungguhnya ucapan sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada." (H.R. Abu Daud No. 2044 dengan Sanad Hasan)
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali, serta menghapus sepuluh kejelekannya." (HR Ahmad 19/57 no: 11998)
"Siapa yang membaca shalawat ini sambil berdiri, maka diampunkan dosanya sebelum duduk. Dan jika dibaca dengan duduk, maka ia diampuni dosanya sebelum berdiri." dari Annas bin Malik ra, Lafadh-nya adalah :
(Insya Allah Shalawat penghapus dosa dan mohon ampunan.)
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى آلِهِ وَسَلِّمْ
Laten: "Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa’alaa aaalihi wasallim."
Arti: "Ya Allah, semoga Engkau memberikan rahmat kepada penghulu kami, Nabi Muhammad saw, dan kepada keluarganya, dan limpahkanlah keselamatan."
...Aamiin....
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Lanjut baca ya GENGS Emezz!
Lima hari kemudian,
Dari dua hari yang lalu, Afnan dan Hasna sudah berbaikan. Begitupun dengan Ubaydillah dan Lintang.
Hari ini adalah hari kelima. Namun, Hasna dan Lintang belum kembali hangat seperti biasanya. Hari ini para suami memiliki Ide untuk kembali menculik para istri, mereka hendak di bawa ke suatu tempat.
"Na! kita harus waspada, dari kemarin suami kita itu tidak melakukan keanehan apapun, walaupun masih agak kita diami. Biasanya sudah resah dan melakukan penculikan, tapi ini enggak!" ujar Lintang.
"Hooh Lin, mungkin mereka memiliki rencana lain," Hasna seperti berpikir.
"Yups, balik yuk!"
Mereka berdua sedang menghadiri halaqah ulama perempuan, yaitu para pendakwah perempuan dari gabungan beberapa Ustadzah di kota tersebut. Termasuk Hasna, Lintang dan Elyavira yang terkenal dengan sebutan Trio Ustadz Hijrah. tiga perempuan muda yang menjadi panutan dan idola baru Mak Mak pengajian.
Bim, Bim...
"Aduh! itu mereka berdua Lin!" bisik Hasna, ketika menoleh pada sumber suara yang membunyikan Klakson.
"Siapa?" Lintang yang sedang berbicara pada Ustadzah lainnya, tidak mendengar suara klakson, karena menyapa mereka.
"Para suami, lihat tuh! sudah ada di parkiran," ujar Hasna
"Yaduh! alamat diculik lagi," Lintang memutar bola matanya malas.
"Pasrah! kali ini enggak papa kali diculik, gue kangen Ustadz Lin!" Hasna mengekeh.
"Huh, dasar labil lu Na!" senggol Lintang.
"Kayak lo gak labil aja!" Hasna balik nyenggol Lintang.
"Ahaha, ia yah. Ok! singsingkan ujung gamis! kita hadapi mereka!" Ujar Lintang dengan semangat.
"Koq ujung gamis?"
"Ya iyalah, memangnya yang mau kita hadapi itu penjajah? orang suami kita! makanya ujung gamis, biar gampang bukanya!" Kikik Lintang, mereka bicara saling berbisik dan asik berdua hingga menjadi perhatian para Ustadzah lain.
Namun, bukan Hasna dan Lintang namanya, jika terganggu dengan pandangan orang lain, selama itu bukan kejahatan yang mereka lakukan. Mereka berdua akan bersikap cuek dan tak peduli.
"Dasar ganjen!" pungkas Hasna sembari tertawa kecil di balik Niqabnya.
"Ganjen sama suami sendiri, dapat pahala!" cengir Lintang.
Setelah berpamitan kepada beberapa orang lainnya, Hasna serta Lintang langsung menghampiri mobil Afnan.
"Assalamua'laikum, Sayang!" sapa Afnan dan di sambut sun tangan dari Hasna.
"Wa'alaikum salam, By!" balas Hasna.
"Hai Yank! Assalamu'alaikum," sapa Ubaydillah pada Lintang.
"Wa'alaikum salam, Yank!" Lintang pun melakukan hal yang sama, yaitu mencium tangan kanan suaminya.
"Sudah pulang bekerja, By?" tanya Hasna.
"Sudah, Sayang! maka dari itu ada waktu untuk menjemput mu! O yah ini untuk mu!" Afnan mengambil buket bunga namun, bukan hanya berisi bunga mawar, akan tetapi berisi beberapa bungkus coklat batangan juga.
Hasna mengambil buket bunga tersebut. "Masya Allah! coklat pavorit. Terima kasih By!"
"Sama-sama Sayang! ikut Byby yuk!" Afnan meraih tangan Hasna dan menariknya pelan menuju mobil.
"kemana, By?" tanya Hasna dengan langkah mengikuti Afnan.
"Ke suatu tempat, pacaran! melepas rindu Sayang!" bisik Afnan
Hasna diam sebentar, lalu menatap Afnan. Setelahnya ia tersenyum, tidak dipungkiri ia pun rindu akan suaminya. Setelah tiga hari tidak tidur bersama, dan dua hari kemudian mereka agak jauh dan jarang bicara.
Sekesal apapun Hasna terhadap Afnan, rasa cinta yang ia miliki mengalahkan segala kebencian. Terlebih Afnan itu orangnya romantis, baik dan yang paling utama kesabarannya tingkat dewa.
"Kita juga akan pergi bersama Yank! pacaran." Ubaydillah merangkul Lintang.
"Baiklah Sayang! rindu yah?" tanya Lintang dengan manja.
"Tidak perlu di ungkapkan! rinduku, sudah sampai ke ubun-ubun dan hampir meledak." Kelakar Ubaydillah.
"Lebay kamu Dek!" ledek Afnan .
"Hemm, seperti A'a bro tidak lebay saja." ledek Ubaydillah dengan mengekeh.
Afnan dan Hasna pun ikut mengekeh. "Oke, kita let's go..." lanjut Afnan.
Setelah saling mengiyakan, Hasna masuk ke dalam mobil Afnan, sedangkan Ubaydillah dan Lintang masuk ke dalam mobil sport Hasna.
"Mau, ke mana By?" tanya Hasna setelah mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Ke Villa kak Ubay, Sayang! kita perlu bicara mengenai..."
"Kuliah di Turki!" potong Hasna.
Afnan hanyalah menoleh pada Hana, tersenyum sembari mengelus kepala Hasna dengan lembut.
Sedangkan di mobil yang di kendarai Ubaydillah, Lintang pun di buat penasaran, akan kemana mereka. "Yank, kita mau kemana sih?" tanya Lintang.
"Mau ke Villa. kita harus bicara! di sana suasananya sunyi. Jadi lebih tenang untuk bicara." Jawab Ubaydillah.
Lintang tiba-tiba diam. Ubaydillah pun memaklumi akan hal itu.
Di mobil Afnan, Hasna pun memilih diam. Di sepanjang perjalan menuju Villa Ubaydillah, mereka hanya diam. Akan tetapi tangan mereka tetap bertaut sebagai penyaluran rasa rindu, yang tidak diungkapkan dengan kata-kata.
Lima puluh menit kemudian, mereka berempat telah sampai di Villa Ubaydillah. Mereka pun bergegas turun dan pergi ke kamar masing-masing yang telah disiapkan.
"Baiklah, Sayang! sebaiknya kita bicara setelah mengganti pakaian." Ujar Afnan setelah tiba di kamar.
"Tentu By!" Hasna pergi ke arah lemari dan menyiapkan pakaian santai untuk dirinya dan Afnan.
Di Villa tersebut, sudah di sediakan beberapa pakaian agar tidak harus selalu mengepak pakaian jika hendak menginap.
Saat ini Villa pun sudah dilengkapi pelayan, sepasang suami istri. Sebelumnya mereka masuk kamar, terlebih dahulu meminta makanan untuk diantar ke kamar masing-masing.
Hasna dan Afnan segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Begitu pun dengan Ubaydillah dan Lintang, mereka melakukan hal yang sama di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ma'em dulu Sayang, camilannya! pasti kamu lelah seharian ini menghadiri halaqah." Pinta Afnan sembari duduk di sofa.
"Terima kasih By. Byby juga yah." Hasna langsung duduk di pangkuan Afnan, sembari mengalungkan tangan di leher Afnan dan tersenyum manja.
Sudah menjadi kebiasaan Hasna, jika sedang berduaan. Tidak bisa melihat pangkuan Afnan nganggur. Walaupun sedang kesal atau marah, ia akan duduk di Pangkuan Afnan dengan diam.
Afnan melingkarkan tangannya di pinggang Hasna dan mereka mulai makan cemilan dengan diam. Setelah makan camilan Afnan mulai berwajah serius. Ia mengangkat Hasna dan duduk berhadapan di atas tempat tidur.
"katakan, Sayang!"
Hasna mengerti, jika mereka hendak bicara serius, Afnan akan menyuruh Hasna mengeluarkan unek-uneknya terlebih dahulu, sebelum bicara apapun.
Hasna menatap Afnan dengan tatapan Sendu. Mata Hasna sudah mulai berkaca-kaca. "Jika saja boleh memilih, Aku tidak mau ke Turki!" ujar Hasna.
"Di sini juga aku sudah banyak menggali ilmu. Bukankah, sudah cukup dan tidak perlu pergi jauh, meninggalkan Byby dan juga Anak-anak!" tangis Hasna pecah kali ini.
Afnan menarik nafasnya pelan, lalu menggeser duduknya. Afnan memeluk Hasna. Membiarkan Hasna menangis dalam pelukannya.
"Maafkan Byby, Sayang!" bisik Afnan pelan.
Tangis Hasna semakin menjadi. Baru kali ini Hasna menangis begitu deras. "Aku tidak mau menjadi apapun dan siapapun! Aku hanya ingin menjadi Hasna. Hasna Aulia Zahrani ISTRINYA USTADZ. Tetap menjadi Hasna saat ini." ucap Hasna sembari sesenggukan.
"Sayang! Kamu memang tidak harus menjadi apapun dan siapapun. Jadi-lah diri mu sendiri, sebagai Hasna Aulia Zahrani. Hasna yang kukenal! Hasna, istriku! yaitu ISTRINYA USTADZ. Namun, alangkah lebih baiknya, jika kamu meningkatkan kualitas diri dengan memperkaya ilmu kembali. Suasana belajar di sana akan berbeda dengan suasana belajar di sini, Sayang." Ujar Afnan dengan suara halusnya.
Hasna tidak bicara, ia masih menangis. Mengeluarkan segala rasa sesak di dadanya. Afnan hanya dapat mengelus lembut rambut Hasna.
Di kamar Ubaydillah dan Lintang pun sedang terjadi tangisan dari Lintang. "Aku tidak bisa jauh darimu, Yank! juga Abang." Lintang bicara dalam tangisannya.
"Aku pun Yank! mana bisa jauh dari mu! akan tetapi ini harus kalian tempuh, sudah menjadi sebuah keharusan."
"Tidak bisakah diganti dengan hal lain?" tanya Lintang masih dengan isak tangisnya.
"Tidak! Maaf, Yank!" Final Ubaydillah.
Sepertinya upaya para istri untuk membujuk suami demi menghentikan langkah mereka ke Turki akan sia-sia. Para istri Mungkin harus menyerah Kalian ini.
"Hanya dua tahun Sayang, setiap liburan tiba, Byby dan anak-anak akan menemuimu di sana. Tidak perlu khawatir, anak-anak akan aku jaga dan rawat dengan baik, ada Umi dam juga Abi yang akan membantu menjaga mereka." ujar Afnan.
"Sesekali, mereka boleh ke Jakarta untuk bertemu Papa."
Hasna mengangguk lalu makin memeluk Afnan, "Apakah Aku sanggup berjauhan dengan Byby dan Anak-anak?" tanya Hasna pelan.
"Kamu pasti sanggup! kamu pikir, aku ini tidak gelisah akan berjauhan denganmu?"
"Kamu yang unik, kamu yang gemesin, akan berjauhan dari Byby. Kita harus lebih bersabar Sayang! hanya dua tahun, please!" sambung Afnan.
Tangis Hasnah mereda. "Baiklah...dengan syarat, Byby harus menemani aku selama dua bulan pertama, hingga aku terbiasa di sana dan siap di tinggal." Pinta Hasna.
"Oke dengan senang hati. Sudah! jangan menangis Lagi. Air matamu amat berharga, Byby hanya mengijinkan air mata bahagia yang keluar dari pelupuk matamu! bukan air mata kesedihan." tandas Afnan.
Akhirnya, Hasna ikhlas menerima keberangkatan ke Turki. Lintang pun melakukan hal yang sama, ia ikhlas dan menerima untuk kuliah ke Turki.
Sore itu mereka habiskan dengan bercengkrama bersama di halaman depan. Hingga malam tiba, mereka menghabiskan waktu berdua dengan para istri saling bermesraan dan meresapi cinta mereka.
***
Empat bulan kemudian,
Kini saatnya Hasna dan Lintang berangkat ke Turki, setelah sebelumnya merayakan Wisuda dan juga kelulusan S1 nya. Orang tua Hasna dan Lintang pun hadir kala itu.
"Umi, Abi! kami pergi." Pamit Hasna di susul oleh Lintang.
"Pergilah Nak! doa Umi menyertai." Umi memeluk kedua mantunya secara bersamaan.
"Kalian jaga diri dan baik-baik di sana, Abi tidak akan pernah lepas mendoakan kalian, agar senantiasa di beri kemudahan dan perlindungan oleh Allah, di sana." Ujar Abi Kyai.
"Insya Allah, Abi." Hasna dan Lintang mengecup kedua tangan mertuanya.
Dua hari yang lalu, Hasna telah berpamitan kepada Ninen dan Kiki-nya. Hasna dan Lintang juga tidak lupa berpamitan kepada Dias, Roy, Devano, Elyavira, Granny, Grandad, Daddy dan Mommy.
"Cucu Umma dan Abba," Umi merentangkan tangannya, anak-anak yang hendak ikut Hasna ke Turki sebagai perjanjian awal, mereka pun berlari memeluk Umi dan setelahnya Abi.
Berpamitan pun selesai, Hasna, Afnan, Lintang, Ubaydillah dan Anak-anak siap berangkat ke Turki.
Di antar para Santri hingga gerbang Ponpes, Kepergian mereka di iringi Shalawat.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam jam lamanya, mereka pun sampai di Jakarta. Sebelum berangkat ke Turki mereka menginap di rumah orang tua mereka selama dua hari.
Tidak lupa, Hasna mengajak Twins A dan Arsya ke rumah singgah miliknya yang telah lama tidak di sambangi.
Afnan dan Ubaydillah juga melihat keadaan restorannya sebentar. Hasna yang ikut serta, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menemui teman lamanya yaitu Aji. Yang kini telah memiliki istri dan seorang putra berusia dua tahun.
**
Dua hari kemudian,
"Nana pergi Pah, Mah, Mira!" Hasna berpamitan kepada Papa, Mama dan adik tirinya.
"Baik-baik di sana, Sayang!" Vinny memeluk Hasna.
"Ia Mama, Vinny!" jawab Hasna.
"Kak, Nana! jangan lupa menghubungi kami," pinta Almira, adik tiri Hasna yang kini sudah berusia sekitar tiga belas tahun.
"Tentu Dek!" Hasna tersenyum pada Almira.
Papa Hasna merentangkan tangannya. Hasna segera memeluknya.
"Papa!" air mata Hasna tidak mampu di bendung lagi. Ia menangis dalam dekapan Papanya.
"Anak Papa kuat! Anak Papa itu pandai. Papa bangga padamu! Ma'afkan Papa, karena tidak menjadi Ayah yang baik selama ini." Papa Hasna mengelus lembut kepala Hasna.
"Papa! tetap yang terbaik untukku!" balas Hasna.
Lintang pun dalam dekapan kedua orang tuanya. Ia pun sama sedang menangis di sana. Hingga tangisan Hasna dan Lintang reda, pelukan berganti pada para suami.
"Terima kasih, Nak Ustadz sudah memberikan banyak kebahagiaan pada Nana, apa yang Papa tidak dapat beri, Nak Ustadz memberikannya! terutama kasih sayang." Ujar Papa Hasna.
"Sudah menjadi kewajiban Saya, sebagai suaminya, Pah!" balas Afnan. Air mata juga senyuman tercipta dari Papa Hasna.
Papi Lintang pun sedang memeluk Ubaydillah dan berterima kasih, telah menjaga putrinya hingga saat ini.
Setelahnya pelukan beralih pada anak-anak. Hingga beberapa saat kemudian operator mengumumkan keberangkatan mereka ke Turki.
***
Alhamdulillah, Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua belas jam, mereka sampai di Turki.
"Yeaaayy! ini rumah kami Biyya?" Anak-anak berlari ke sana kemari, setelah sampai di rumah mereka pada keesokan harinya, karena semalam mereka menginap di rumah Kakaknya Afnan.
"Ia Sayang! ini rumah A'a, Dedek dan Abang! nikmatilah waktu kalian di sini. Mintalah pada Biyya dan Mimma jika menginginkan apapun." Afnan tersenyum ke arah mereka.
"Wah keren A'a Bro!" ujar Ubaydillah.
"Anta suka kan Dek?" tanya balik Afnan. Sedangkan Lintang dan Hasna berada di kamar, membenahi pakaian mereka.
"Insya Allah, suka sekali." Jawab Ubaydillah dengan semangat. Afnan tersenyum lega. Rumah tersebut di beli dari hasil patungan mereka.
"Biyya, A'a mau berenang! boleh?" tanya Afkha.
"Tentu, Sayang!"
"O'om temani, kami." Pinta Afkha.
"Tentu jagoan, mari!" Ubaydillah menggendong Afkha. "Duduh sekarang A'a sudah berat sekali." protes Ubaydillah.
__ADS_1
"Ya tentu saja berat Dad's! A'a kan sudah besar!" Arsya menyahut dengan tertawa lucu, melihat Ayahnya keberatan menggendong Afkha.
"Oh ia, kalau gitu, gendong Kakak Sha saja!" Ubaydillah menurunkan Afkha lalu ia menggendong Afsha.
"O'om, turunkan!" pekik Afsha yang di bawa lari dan berputar-putar oleh Ubaydillah.
Lintang yang mendengar suara jeritan dan tawa anak-anak dari arah kolam, ia ikut bergabung di sana.
"Abang, jangan terlalu ke tengah," Ujar Lintang yang duduk santai di pinggir kolam.
"Baik, Mom's!" sahut Arsya, lalu ia naik ke punggung Ubaydillah.
Di kamar Afnan dan Hasna.
Afnan baru saja masuk kamar, Afnan tersenyum kala melihat Hasna berdiri di depan jendela menghadap ke arah taman.
"Melamun?" Afnan memeluk Hasna dari belakang.
"Byyy! tidak Koq," Hasna menyandarkan tubuhnya pada tubuh Afnan bagian depan.
"Mari bergabung ke kolam renang, bersama anak-anak, Sayang!" ajak Afnan.
"Anak-anak sedang berenang By?" tanya Hasna.
"Ia, bersama Kak Ubay dan Neng Lilin."
"Nana mau yang lain saja!"
"Wao... dengan senang hati!"
Afnan yang di dorong oleh Hasna ke arah tempat tidur pun bersorak kegirangan. Ia faham, Istrinya akan memperdaya dirinya. Ya siang itu Afnan dan Hasna larut dalam pergaulan asmara, tanpa gangguan.
***
Dua Minggu kemudian di Turki,
Hari ini para suami mengantar Hasna dan Lintang ke kampus, ini merupakan hari pertama mereka mulai ngampus, ada beberapa berkas yang harus Afnan dan Ubaydillah tanda tangani sebagai wali dari Hasna dan Lintang.
Atatürk Üniversitesi tujuan mereka. Hasna dan Lintang akan menghabiskan masa dua tahun kedepan di universitas tersebut.
"Bilgi birikimi, deneyimi ve yenilikçi eğitim anlayışından oluşan, dünyada ve Türkiye’de köklü, saygın bir geleneğe sahip Atatürk Üniversitesine hoş geldiniz."
Translate "Selamat datang di Universitas Atatürk, yang memiliki tradisi yang mengakar dan dihormati di dunia dan di Turki, yang terdiri dari pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman pendidikan yang inovatif." Ujar salah satu dosen dengan menyalami Afnan dan Ubaydillah. Pada Hasna dan Lintang hanya mengatupkan kedua telapak tangan.
"çok teşekkürler!" (terima kasih banyak).
Hasna dan Lintang, telah resmi menjadi Mahasiswi Pasca Sarjana universitas Atatürk.
Dua bulan yang Afnan janjikan menemani Hasna, di Turki bersama anak-anak pun selesai sudah. Hasna sepertinya sudah terbiasa dengan keseharian di sana. Afnan malah menambah waktu menjadi dua bulan lebih dua Minggu di Turki.
Hari ini saatnya Afnan dan Ubaydillah serta anak-anak pulang ke Indonesia, kembali ke Pondok pesantren Hubbul Wathan.
"Byyy!" Hasna nampak lesu duduk di sisi tempat tidur.
"Sayang, ingat! hanya dua tahun!" selalu ada rasa sedih di setiap perpisahan, sekuat dan setegar apapun manusia itu.
"Baik By! peluk dulu," pinta Hasna. Afnan memeluk Hasna. Tiba-tiba Anak-anak masuk ke kamar mereka.
"Mimma, Biyya!" panggil keduanya.
"A'a... Dedek! peluk Mimma, Sayang!" Hasna yang masih di peluk Afnan, meminta Twins A untuk memeluknya juga.
Twins A menghampiri orang tua mereka. Lalu memeluk keduanya. "Mimma jangan sedih terus tanpa A'a dan Dedek!"
Si sulung mengusap air mata Hasna. "Tidak, Sayang!" Hasna mengecup pipi Afkha.
"Mimma akan baik-baik saja di sini tanpa kami." si bungsu ikut menenangkan Ibunya.
"Tentu, Sayang! kerinduan ini akan menjadi kekuatan untuk Mimma di sini." Ujar Hasna.
"A'a dan Dedek, baik-baik dengan Biyya, Abba dan Umma ya, Sayang. Sesekali berkunjunglah ke rumah Enin dan Engki Uyut!" ( Ninen dan Kiki Hasna). Ujar Hasna.
"Insya Allah, Mimma!" ketiga orang itu bergantian mengecup pipi Hasna.
Di kamar Lintang dan Ubaydillah.
"Yank! aku akan sangat merindukanmu!"
"Aku pun!"
"Abang, sini Nak! peluk Mimom's, Sayang!" panggil Lintang pada Arsya yang sedang asik dengan mainannya.
"Baik Mom's."
Arsya pun menghampiri Lintang dan memeluknya.
"Abang harus tetap rukun dengan A'a dan Kakak! baik-baik di sana dengan Umma, Abba dan Didad's." Lintang mengecupi wajah Anaknya.
"Tidak perlu khawatir Mom's, Abang akan baik-baik saja dan akan selalu rukun dengan A'a dan Kakak! ya Kan Dad's?"
"Tentu, Sayang!" jawab Ubaydillah. Mereka kembali berpelukan dengan air mata Lintang yang tidak dapat terbendung lagi.
Hari berlalu dengan cepat. Afnan, Ubaydillah dan Anak-anak telah kembali ke tanah air. Hasna dan Lintang berusaha kuat tanpa anak-anak dan suami. Walaupun awalnya amat sulit dan memenyiksa karena menahan rasa rindu. Akan tetapi, lambat laun seiring berlalunya waktu. Hasna menemukan titik nyamannya di sana. Terlebih ia menemukan tempat balap di sana. Ikut bergabung dengan Club Lamborghini, sesekali Hasna ikut balapan di sirkuit Khusus.
***
Enam bulan kemudian.
Afnan dan Ubaydillah baru saja selesai meeting di hotel bersama para sponsor. Keduanya baru saja tiba di rumah kecil, sore itu anak-anak ingin menginap di sana.
"Sudah menghubungi Pak Izan Dek?" tanya Afnan yang baru selesai mandi. Pak Izan adalah salah satu supir di Ponpes.
"Sudah A! mereka sedang dalam perjalanan." jawab Ubaydillah yang sedang duduk di sofa dan menonton televisi.
Twins A dan Arsya sedang dalam perjalanan ke rumah kecil di antar oleh Pak Izan.
"Baiklah! coba kita lihat ada bahan makanan apa yang akan anak-anak sukai." Afnan menuju lemari pendingin.
"A'a bro!" Ubaydillah memanggil Afnan dengan jalan tergesa menghampiri Afnan.
"Ya Dek!" jawab santai Afnan.
"Emm, Nana masuk kantor polisi!"
"Astaghfirullah! lagi?" Afnan sedikit terkejut. "Mungkin dia rindu akan kantor Polisi." Afnan menggelengkan kepala pelan sembari tersenyum setelah meredam rasa terkejutnya.
"Keonaran apa yang Nana buat?"
"Melanggar rambu lalu lintas, kebut-kebutan di jalan dengan kecepatan melebihi batas normal, dan..." Jawaban Ubaydillah dan bicara dengan jeda.
"Dan... lalu?" tanya Afnan tenang namun terdengar penasaran.
"Berkelahi!"
"Menang atau kalah?"
"Sepertinya menang! karena enam orang masuk rumah sakit dan minta pertanggung jawaban biaya rumah sakit."
"Alhamdulillah, setidaknya Nana baik-baik saja jika ia menjadi pemenang."
"Hum, Mak Gemez Rusuh!" ujar Ubaydillah. Afnan tertawa pelan.
"Tolong katakan pada Kak Nizam,carikan Pengacara handal untuk mendampingi Nana. Siapkan tiket ke Turki. kita berangkat ke sana besok.
"Okieh A'a Bro!" Jawab Ubaydillah dengan santai dan mengekeh kecil.
__ADS_1
Bersambung...