Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
51. Angela Hamil.


__ADS_3

Di sisi lain. Di sebuah jalan raya.


Adrian sedang mengarah ke hotel dengan Ayah nya. Mereka baru saja dari luar, mengurus pekerjaan yang masih berhubungan dengan hotel.


Saat ini Adrian sedang tergesa karena baru saja mendapatkan telepon dari Afnan. Yang mengabarkan bahwa hotel nya telah di lempar alat peledak oleh orang tidak di kenal.


Saat sedang fokus menyetir, telepon Adrian berbunyi. Ia sedikit tertegun ketika ia lihat siapa yang menelpon, tidak biasa nya sang Art menelepon.


"Ya Mbak." / Adrian.


(......) / Art nya


"What, pingsan? Ok saya pulang."/Adrian.


Adrian pun mengakhiri telepon nya.


"Pih! Aku harus pulang. Angela pingsan katanya. Baru aja Mbak Mia yang menelpon." Ujar Adrian kepada Papi nya.


"Pingsan kenapa?" tanya Pak Wiranata.


"Kurang tahu Pih. Nanti setelah Aku pulang, baru tahu penyebab nya apa." Jawab Adrian.


"Ok! kamu pulang saja, Papi turun di depan, biar nanti Papi naik taxi atau ojek online ke hotel." Pinta Pak Wiranata.


"Lalu, urusan hotel bagaimana Pih?" tanya Adrian kembali, ia merasa tidak enak keadaan hotel sedang kacau namun ia malah pulang.


"Sudah! tak perlu di fikirkan, biar Papi yang menghandle urusan hotel. Lebih baik kamu fikirkan dulu keadaan Istri mu." Ujar Pak Wiranata.


"Baiklah Pih, terima kasih. Aku pulang dulu nanti kalau Ange sudah baikan, aku nyusul Papi ke sana." Tandas Adrian.


Akhirnya Adrian menurunkan Pak Wiranata di halte dekat lampu merah dan setelah nya, ia bergegas pulang, dengan menelpon dokter terlebih dahulu agar datang untuk memeriksa kondisi Angela.


***


Di rumah kecil.


"By! Byby! Byyyy," Hasna berlari kecil dari arah luar setelah turun dari mobil dengan memanggil manggil Afnan.


"Wa'alaikum salam sayang." Terdengar suara Afnan dari ruang keluarga menyahut panggilan Hasna.


"Ma'af. Assalamu'alaikum!" Akhirnya Hasna memperbaiki ucapannya. Di susul dengan Lintang yang juga berucap salam.


"Wa'alaikum salam!" jawab mereka secara bersamaan.


Nampak seorang Dokter sedang menjahit luka Afnan.


"By! Byby kenapa? Koq bisa terluka begini?" Hasna duduk di sebelah Afnan sembari mengelus tangan Afnan.


"Terbentur meja receptionis sayang." Jawab Afnan dengan berusaha tersenyum agar Hasna tetap tenang.


"Ya Allah, By!"


"Yank, tangan Ayank pun terluka? ini kena apa? dan apa betul hotel A'a Ustadz ada yang nge Bom?" tanya Lintang.


"Kena serpihan kaca lampu Yank. Betul, koq Ayank tahu?" tanya Ubaydillah.


"Tahu dari grup anak-anak restoran. Mereka ada yang post photo A'a Ustadz terluka dan gambar hotel terbakar. Kata nya ada yang melempar Bom." Jawab Lintang dengan sudah memeluk Ubaydillah.


Luka Afnan selesai di jahit dan Dokter serta Asisten yang merawat nya pun berpamitan undur diri dari Tempat itu, setelah semua urusan pengobatan selesai.


Sedangkan polisi Imron sudah pergi dari sebelum Hasna tiba.


"By! sakit yah?" tanya Hasna. Kali ini ia sudah dapat memeluk Afnan, Setelah dokter dan Asisten nya pergi.


"Sedikit, sayang!" jawab Afnan.


"Koq bisa sih, ada yang menyerang hotel? kira-kira siapa pelakunya?" tanya Hasna Kembali.


"Polisi sedang menyelidiki nya Dek. Semoga dapat di usut tuntas segera. Agar hotel dapat di perbaiki kembali dan beroperasi secepatnya." Ubaydillah yang menjawab pertanyaan Hasna.

__ADS_1


"Aamiin."


"Yank mau Lilin buatkan makanan, atau minuman?" tawar Lintang pada Ubaydillah.


"Seperti nya A'a Dav, butuh istirahat di temani kamu Yank." Ujar Ubaydillah.


"Baik! Lilin bersih-bersih dan ganti pakaian dulu. Mari ke kamar," ajak Lintang.


"Mari Yank! A, Dek Nana, kami ke kamar yah!" pamit Ubaydillah.


"O ya silakan Dek! Ana juga perlu istirahat," balas Afnan.


"Ok, nanti sore baru pulang ke ponpes." Ucap Ubaydillah sebelum betul-betul beranjak ke kamar nya.


"Menjelang Maghrib saja, agar tidak menjadi pusat perhatian para santri. Pasti mereka akan sangat heboh melihat perban di kening Ana dan perban di tangan Anta Dek." Ujar Afnan.


"Baik. kalau gitu kami ke kamar." Ubaydillah dan Lintang pun pergi ke kamar mereka.


"Sayang, kita juga ke kamar yuk." Ajak Afnan.


"Byby tidak mau minum sesuatu gitu, untuk membuat rileks?" tanya Hasna yang kini telah membuka niqab nya Setelah Ubaydillah tak terlihat.


"Terima kasih. Tidak perlu, Byby sudah minum air putih tadi. Saat ini Byby hanya butuh Istirahat." Jawab Afnan.


"Baiklah, mari." Hasna tidak mau melepaskan pelukan nya dari Afnan. Berjalan menuju kamar pun dengan memeluk tubuh samping Afnan.


"Setelah sampai kamar. Hasna membantu Afnan merebahkan tubuhnya. "Nana, bersih-bersih dan ganti pakaian ya By," ucap Hasna.


"Silakan, jangan lama ya sayang."


"Tidak akan By."


Sebelum berlalu dari hadapan Afnan, Hasna mengecupi wajah Afnan berkali-kali. Setelah puas ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


"Astaghfirullah'aladzim. Jadi ini yang membuat Ange terkejut hingga tidak sadarkan diri?" gumam Adrian seperti bertanya.


"Biadab! ini teror, siapa pelakunya?" ucap Adrian dengan kesal.


Barbie tanpa kepala dengan berlumuran darah. lima penggal kepala ayam utuh dengan darah masih berceceran, dua bangkai tikus yang mulai membusuk. Isi dari kotak paket tersebut.


Secarik kertas dengan tulisan tangan bernada ancaman. "Nikmati hidup mu, sebelum salah satu dari kalian berakhir tragis."


"AllahuAkbar. Ya Allah lindungi kami dari manusia-manusia yang hendak berbuat Dzalim terhadap kami." Doa Adrin setelah melihat isi pesan teror tersebut.


"Honey!" panggil lembut Angela dari dalam kamar, Ia baru saja siuman dalam pemeriksaan seorang dokter perempuan, Bernama Dokter Cucu Ardafh.


"Yes Baby." Adrian segera menghampiri Angela.


"Bagaimana, keadaan nya Dok?" tanya Adrian sembari duduk di sisi Angela dan mengelus kepala Angela.


"Tidak ada hal serius, seperti nya hanya syok saja dan selain syok, Bu Angela juga sedang mengandung. Tanpa sadar fisik nya agak melemah, jadi mendapatkan tekanan yang mengejutkan seperti tadi, berefek tidak sadarkan diri." ucap Dokter Cucu.


"Mengandung? maksudnya Dokter Cucu, Istri saya Ha-hamil?" tanya Adrian.


"Betul. Selamat Pak Adrian dan Ibu Angela, kalian akan segera memiliki bayi!" Seru Dokter Cucu dengan Antusias.


"Ha-hamil Dok?" tanya Angela kurang yakin.


"Betul. Hamil, kalau mau lebih jelas, langsung cek ke dokter Obgyn saja agar terdeteksi usia kandungan nya. Karena saya belum dapat memastikan usia kandungan nya. Atau untuk sementara pakai testpeck. Kebetulan saya membawa beberapa testpeck yang InsyaAllah hasil nya akurat." Ujar Dokter Cucu.


"Alhamdulillah. Tidak perlu di cek lagi Dok! kalau dokter Cucu, mengatakan Istri saya hamil, saya yakin dokter memiliki beberapa pertimbangan sebelum mengatakan nya dan saya percaya. Dokter Cucu, kan sudah menjadi Dokter keluarga saya dari sejak lama. Besok saja, saya cek langsung ke Dokter Obgyn," Ujar Adrian dengan berbinar.


"Honey, Aku hamil?" Angela menatap Adrian dengan mata yang berkaca.


"Yes Baby! thank you," jawab Adrian dengan tak hentinya mengecup kening Angela.


"Ok Pak Adrian, Bu Angel! untuk sementara saya beri vitamin yang aman untuk Ibu hamil." ucap Dokter Cucu, seraya meletakkan beberapa ples vitamin di atas nakas.

__ADS_1


"Terima Kasih Dok!"


Dokter Cucu pun berpamitan karena di rasa tugas nya sudah selesai.


"Hai, calon Baby nya Papu. Baik-baik di dalam perut Mamu, yah!" Adrian mengecupi perut Angela yang masih datar.


"Honey geli." Pekik Angela. "Panggilan nya Papu dan Mamu?" tanya Angela.


"Ho'oh suka atau tidak?" tanya Adrian.


"Suka koq. Lucu! aku bosan dengan panggilan Daddy and Momy." Angela langsung setuju dengan panggilan tersebut.


"Honey. Lalu bagaimana dengan pendidikan ku?" tanya Angela yang sudah berada dalam pelukan Adrian kembali.


"Tidak perlu khawatir Baby, sebentar lagi kan rampung. Atau kamu bisa cuti kembali, sampai Anak kita lahir. Tenang saja, Aku akan selalu ada untuk mu, aku akan selalu bersama mu, di sisimu." Adrian berusaha meyakinkan Angela yang terlihat ragu.


"Bantu aku melewati ini. Bukan nya tidak senang, namun aku ragu Honey, karena kita belum merampungkan pendidikan kita." Angela akhir nya mengakui akan keraguan nya.


"Kita akan hadapi sama-sama. Jalani yang sudah menjadi ketentuan Allah. Maka tolonglah Yakin akan kuasanya Allah."


"Astaghfirullah'aladzim. Ma'afkan aku, aku terlalu cemas akan hal ini. Aku juga cemas akan peneror itu Honey." Ucap Angela.


"Jangan takut. Peneror itu justru sedang bersiap menghancurkan dirinya sendiri. Baby, kita di kelilingi orang-orang baik dan Shalih. Insya Allah mereka akan membantu kita. Hmmm.... sebetulnya, di hotel pun...."


Adrian menghentikan perkataan nya. Angela menanti dengan penasaran. Namun Adrian tidak melanjutkan kata-kata nya.


"Di hotel kenapa, Honey?"


"Ah, di hotel .... mmmm.... sibuk, hehe, ia sedang sibuk. Sudah Istirahat yah." Adrian menunda untuk memberitahukan keadaan hotel. Ia takut menambah beban fikiran Angela.


"Baiklah!"


***


Ba'da Maghrib,


Afnan, Hasna, Ubaydillah dan juga Lintang baru saja sampai di area Ponpes. Mereka langsung menuju rumah utama untuk memberitahukan kejadian di hotel tadi siang secara langsung.


"Assalamu'alaikum warahmatullah."


Afnan dan Ubaydillah yang mengucap salam secara bersamaan.


"Wa'alaikum salam. A'a, Dedek! Tiba-tiba saja Umi berlari dari dalam dan menghambur ke dalam pelukan Afnan serta Ubaydillah.


Afnan, Ubaydillah, Hasna serta Lintang bertanya tanya. Apakah Umi sudah tahu perihal kejadian di hotel? lalu siapa yang memberi tahu? namun Umi yang cenderung tenang, tidak akan menangis seperti itu. Lalu? Elyavira, berada di rumah Umi dan juga sedang menangis. Mana Abi? mana Devano? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala mereka.


"Umi ada apa?" tanya Hasna.


"Ia Mi, Umi kenapa?" tanya Lintang.


Afnan dan Ubaydillah hanyalah mampu mengelus bahu Umi yang masih menangis sesenggukan dan tidak juga bicara.


"Kak Elya, ada apa ini?" akhirnya Hasna dan Lintang menghampiri Elyavira.


"Dek Nana! Dek Lilin. Anak-anak...." Elyavira menjeda perkataan nya.


"Anak-anak, kenapa kak Elya?" tanya Hasna sudah berfirasat buruk.


"Anak-anak, menghilang. Para santri hanya menemukan mainan mereka tergeletak di halaman Mesjid. Mereka menyimpulkan Anak-anak di culik. Hiks... hiks...." Elyavira kembali menangis.


"Innalilahi!" Ucap Afnan.


"Astaghfirullah'aladzim." ucap Ubaydillah.


"A'a Kha! Dek Sha!" ujar Hasna lemas.


"Abang Acha!" Lintang pun merasa tidak bertulang seketika dengan berurai air mata.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2