
Malam hari selepas Isya, dua insan beda kelamin yang terikat dalam sebuah pernikahan, nampak sedang bersantai di teras belakang rumah mereka.
Itu adalah Afnan dan Hasna. "Masya Allah, bintangnya makin banyak By!" Ujar Hasna.
"Ia Sayang! begitu indah," timpal Afnan.
"By!"
"Hum!"
Hasna menyandarkan kepalanya di bahu Afnan. Tangan Afnan mengelus lembut kepalanya.
"Nana di izinkan, untuk ikut kompetisi balapan ke Eropa kan?" tanya Hasna.
Belaian tangan Afnan di kepala Hasna berhenti. Terdengar ia menghela nafas berat. Tidak bicara atau menjawab pertanyaan Hasna, Afnan malah mengajak Hasna masuk kedalam rumah.
"Sudah malam Sayang! anginnya makin dingin. O yah Byby belum melihat anak-anak sebelum tidur. Sayang ke kamar duluan ya. Byby mau lihat A'a dan Dedek!"
"By...!"
"Mari, Sayang!" Afnan membimbing Hasna masuk ke dalam rumah. Pendengarannya seakan tidak berfungsi, Afnan mengabaikan pertanyaan Hasna.
Hasna tahu, itu salah satu bentuk kekesalan Afnan yang terpendam. Ia belum mengizinkan Hasna untuk ikut kejuaraan dunia balap motor di Eropa.
"Ini kesempatan bagus By!" rayu Hasna, bergelayut manja di lengan Afnan, sebagai rayuan yang biasanya tidak pernah dapat Afnan tolak.
"Hem, ya bagus! akan tetapi, lumayan lama, Byby tidak ingin kamu pergi lagi dari sisi Byby. Dengan kamu kuliah di Turki saja, rasanya sudah menyiksa batin ini, lalu kini kamu akan pergi lagi untuk waktu yang cukup lama? pernah berfikir? bagaimana hampanya aku tanpa kamu di hari-hari ku?" tanya Afnan.
"By..." Hasna merasa bersalah.
"Kita bicarakan kembali nanti, Byby mau lihat Anak-anak. Kamu ke kamar terlebih dahulu." ujar Afnan nampak dingin.
"Ba-baik By!" mata Hasna berkaca-kaca.
Setelah mengecup dahi Hasna, Afnan masuk ke kamar Afkha terlebih dahulu. Hasna pergi ke kamar mereka dengan air mata yang mulai berjatuhan.
Afnan tersenyum melihat Afkha sudah terlelap. Ia duduk sebentar di samping Afkha, melantunkan Shalawat di telinga Afkha dengan berbisik, lalu mengecup kening Putranya, setelannya ia segera pergi ke kamar Afsha. Afnan melakukan hal yang sama pada putrinya.
Kini Afnan telah berganti pakaian dan sudah di atas tempat tidur. Hasna nampaknya sudah terlelap, ia memunggungi Afnan. Setelah membaca doa, Afnan memeluk istrinya dari belakang.
**
Keesokan paginya,
"Biya, Mimma... kami berangkat!" ucap serempak twins A setelah selesai sarapan. Tas sudah tersampir di bahu masing-masing. Mereka hendak berangkat ke sekolah. Supir mereka sudah menunggu di depan rumah.
"Ia Nak!" Afnan dan Hasna mengantarkan anak-anak hingga pintu depan. Setelah anak-anak pergi, Afnan dan Hasna kembali ke meja makan. Afnan meneruskan sarapannya tanpa bicara.
__ADS_1
"By! jangan diamkan Nana, jika hendak marah, marahlah dengan benar. Tidak diam seperti ini," Hasna duduk di pangkuan Afnan dengan memeluknya.
Afnan masih mengunyah makanan. "Aku tidak marah! hanya sedang berfikir dan takut salah bicara." balas Afnan.
"Ini Impian Nana sejak lama! hanya dua tahun By, untuk menjalani kontrak. Ketika Nana dan Lintang di Turki, bukankah kita sanggup melewatinya?"
"Heem, itu berbeda!" jawab Afnan datar.
"By..."
Hasna mengecupi wajah Afnan. Namun Afnan tidak merespon. "Aku berangkat ke restoran, Sayang! bukankah pagi ini ada jadwal ceramah untuk trio Hijrah?" tanya Afnan, Hasna mengangguk
"Byby tidak sedang menghindari ku, kan?" tanya Hasna mulai naik pangkat, eh pitam.
"Tidak! nanti siang aku harus pergi ke tambak lobster, ada penambahan pesanan." Afnan segera mengambil beberapa dokumen dari kamar, keluar kamar langsung mengecup kening Hasna.
"Bersiap-siaplah, nanti Neng Lilin keburu nyamper!"
Hasna mengangguk. Ia mengantarkan Afnan ke depan pintu, masih bagian dalam karena tidak memakai kerudung. Afnan mengecup kening Hasna kembali dan Hasna mencium tangan kanan Afnan.
"Jika pergi ke Eropa itu adalah salah satu kebahagiaan dalam hidupmu, karena dapat meraih mimpi! maka berangkatlah!" ujar Afnan sesaat sebelum melangkah ke luar pintu tanpa menoleh.
"Tapi... Byby tidak mengizinkannya." balas Hasna.
"Yang terpenting aku sudah menyuruhmu berangkat! doaku sudah cukup sebagai restu."
Afnan memejamkan matanya sejenak. "Aku berangkat! Assalamu'alaikum."
"Wa-waalikumsalam."
Sungguh Hasna makin sesenggukan. Ini jelas Afnan sudah mulai marah. Tidak akan ada kata-kata kasar, tidak akan ada umpatan atau teriakan. Namun, sikap dingin Afnan adalah hal terburuk yang Hasna takutkan, rasa serba salah dan perasaan yang sakit itu yang Hasna rasakan.
Ubaydillah sedang menunggu Afnan di beranda rumahnya. Setelah saling menyapa dan berucap salam Afnan dan Ubaydillahpun berangkat ke kantornya, Afnan sempat meminta Lintang untuk melihat keadaan Hasna.
"Ana sudah menyuruh berangkat! bukan berarti mengizinkannya. Ana merasa bersalah, akan tetapi...Ana berharap Nana mengerti dengan sikap Ana. Lalu, membatalkan rencananya ke Eropa." Ucap Afnan pada Ubaydillah ketika sudah berada di dalam mobil.
"Hem, sulit A'a bro! Nana sepertinya amat menginginkan kejuaraan tersebut."
"Ia Ana faham! apa yang akan dia cari? materi? apakah kurang dengan apa yang Ana berikan? kebahagiaan? apakah Ana kurang memberinya kebagian? kepopuleran? Nana salah Kalau berfikir ke arah situ. Ana tidak ikhlas jika Nana menjadi tontonan Khalayak. Ana hanya mengizinkan tampil di depan publik itu ketika ber-tausiah." Tutur Afnan.
"Sepertinya Nana hanya mencari kepuasan saja A'a bro." balas Ubaydillah.
"Ya dan kepuasan itu pada akhirnya akan menjeratnya ke arah maksiat yang tidak ia sadari," Ujar Afnan.
"Astaghfirullah'aladzim." Afnan dan Ubaydillah lalu diam.
"Ya Rabb! ampuni hamba!" ucap Afnan dalam batinnya.
__ADS_1
Afnan juga tidak lupa melafalkan doa untuk menentramkan hati Istrinya, tujuannya agar Hasna di lembutkan hatinya agar membatalkan niatnya untuk ke Eropa.
Doa memohon ketentaraan hati Istri,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوب
Laten: Allaziina aamanuu wa tathma'innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma'innul-quluub
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S ar-Ra'd: 28 )
***
Satu Minggu kemudian,
Hasna sudah siap berangkat ke Eropa. Beberapa orang dari Team-nya sudah berada di ponpes untuk menjemput Hasna.
"Mimma, apakah ke Eropa itu penting?" tanya Afsha yang kini berada di dalam pelukannya.
"Bagi Mimma ini penting, Sayang!" jawab Hasna, Afsha memeluk Hasna makin erat.
Afkha nampak diam dengan rahang yang mengeras, menandakan ketidak setujuannya akan keberangkatan sang Ibu.
Hasna segera menarik Afkha ke dalam pelukannya. "Ma'afkan Mimma, sudah egois terhadap kalian." Hasna mengecupi dahi Afkha, pada akhirnya tangis Afkha pecah namun, ia sembunyikan di dada Hasna.
Afnan malah tidak nampak batang hidungnya. Hasna sempat ragu akan keberangkatannya, akan tetapi Team-nya kini sudah berada di sana untuk menjemputnya.
Setelah Pamit pada Anak-anak, Umi, Abi, Lintang dan Ubaydillah. Hasna berangkat tanpa lambaian tangan atau senyuman Afnan.
Hanya secarik kertas untuk Hasna yang Afnan titip pada Ubaydillah. Afnan tidak di ketahui keberadaannya, sejak subuh tadi Afnan tidak pulang ke rumah kayu ataupun rumah utama.
"Assalamu'alaikum, Sayangku!"
"Byby mengizinkan kamu pergi. Jagalah diri baik-baik, karena Byby tidak dapat mendampingimu. Maaf! Byby juga tidak ada saat kamu berangkat. Akan tetapi doa ku dengan ikhlas melepas keberangkatan mu! ku tunggu kamu kembali, pulanglah pada suamimu saat kamu sudah bosan atau merasa tidak kerasan di sana. Peluk hangat dan cium mesraku menyertai mu. Dari suami yang amat mencintai dan kini akan selalu merindukanmu."
Afnan Al-jaris.
Hasna tergugu dalam tangisan. Dua orang wanita berhijab yang ada di sampingnya, mengelus lembut punggung Hasna. Mereka adalah manager dan asisten Hasna, satu komunitas pencinta balap motor.
"Byby, di mana kamu? terima kasih masih perduli padaku!" batin Hasna dengan tangisan masih saja belum mereda.
Afnan diam-diam menyaksikan keberangkatan Hasna, setelah mobil yang Hasna tumpangi tidak terlihat lagi, maka Afnan meminjam mobil salah satu guru pembimbing untuk mengikuti Hasna.
Ya Afnan tetaplah Afnan apapun rasa kesalnya terhadap Hasna, tidak akan mampu ia bersikap tidak perduli terhadap Hasna.
Afnan membuntuti Hasna hingga mobil menuju jalan bebas hambatan. Afnan tersenyum getir saat melihat mobil itu menghilang di telan gerbang tol. Tetesan air mata jatuh tidak terelakkan. Hatinya sakit saat mengingat sang istri akan tinggal lama di negara orang.
Kembali berjauhan dengannya dan Anak-anak. Afnan menghela nafas pelan untuk mengurai rasa sesak di dadanya.
__ADS_1
"Sampai jumpa, Sayang! aku menunggumu kembali." Afnan memutar kendaraannya dengan perasaan yang tidak baik-baik Saja.