
Afnan dan Hasna sudah berada di dalam perjalanan, Hasna yang mengemudi. Afkha dan Arsya duduk di bangku belakang. Sedangkan Afsha berada di dalam pangkuan Afnan.
"Perlahan saja Sayang! toh mereka sudah ada di kantor sekretariat Ponpes dan mereka bersedia menunggu." Ujar Afnan ketika Hasna kembali menaikkan kecepatan pada mobilnya.
"Baik By! Nana hanya grogi." Jawab Hasna dengan menoleh sebentar ke arah Afnan dan mengelus kepala Afsha.
"Grogi? Byby tidak salah dengar, kan?" dalam Sejarah mengenal Hasna, hanyalah tiga kali grogi, ketika hari pernikahan, pelukan pertama Afnan dan tentu malam pertama, eh ralat siang pertama.
"Hehe, bukan gitu! Nana gak Enak sama Lintang By! jadi menyusahkan dia." Ujar Hasna.
"Kalau Gak Enak! buang pada tempatnya, jangan di kasih kucing ya, kasihan kucingnya nanti keracunan." Ledek Afnan, membuat Hasna terkekeh.
"Biy! A'a tidak jadi setor Ayat nih?" Afkha tiba-tiba bertanya.
"O Iya sayang! maaf, kami lupa, silakan! Biyya menyimak." Afnan menyetujui.
Afkha pun taawudz, lalu ia membaca Surah pendek sebanyak tiga Ayat beserta artinya Yaitu Al-Qadr, Al-Bayyinah, Al-Aadiyaat.
Arsya pun melakukan hal yang sama namun, hanya dua ayat pendek beserta artinya pula yaitu Al-Asr dan Al-Fiil, Afsha sudah terlelap dari sejak naik mobil tadi.
"Alhamdulillah, bacaan kalian makin bagus. Perhatikan kembali tartil dan mahraj serta tadjwid-nya. Untuk Iramanya, A'a belum bisa mendalami selain Bayyati?" tanya Afnan.
"Insya Allah Biy. Masih nyaman dengan lagam Bayyati Biy, A'a ingin seperti Biyya. A'a kagum dengan liukan lembut senandungnya Biyya ketika menggunakan lagam Bayyati. Jadi A'a ingin faseh dulu dengan lagam itu." pengakuan Afkha.
"Masya Allah TabarakAllah. Boleh, akan tetapi coba juga untuk mendalami irama populer lainnya, Sayang, Kurdi, Hijaz, Shaba, Rast, Jiharkah, Sika, Nahawand." Ujar Afnan.
"Lalu Abang Acha?"
"Acha, lebih menguasai di Kurdi Biyya Nan!" timpal Arsya.
"Boleh, Sayang. Nanti lebih banyak lagi berlatih Ya A, Abang!"
"Tentu Biy. Insya Allah." Ucap keduanya bersamaan.
"Yah Dek Sha, tidak setor Ayat dong." ucap Hasna.
"Lalap sekali bobonya, Mimma!" jawab Afnan.
"Kalian bobo juga, Sayang! masih sakitar dua jam lagi sampai rumah." Ujar Hasna pada Afkha dan Arsya.
"Baik Imma," jawab keduanya. Suara mereka pun tidak terdengar lagi. Sepertinya mencoba tidur.
"By!"
"Heum."
"Bagaimana ceritanya, Lintang bisa di cegat para berandal itu By?" tanya Hasna dengan pandangan tetap fokus ke depan kemudi.
"Menurut Kak Ubay. Neng Lilin baru saja pulang dari menghadiri Seminar keagamaan. Di kota sebelah, Neng Lilin bersama beberapa santri putri lainnya. Mereka di hadang di jalan dengan empat buah mobil memblok jalan mereka." Tutur Afnan.
__ADS_1
"Lalu? apa mereka ada yang terluka?" tanya Hasna dengan nada Khawatir.
"Alhamdulillah, tidak! hanya saja beberapa santri putri panik, karena mereka memaksa Neng Lilin balapan di waktu itu juga. Walaupun sudah di jelaskan, bahwa sang pembalap sesungguhnya, adalah kamu, Sayang." Sambung Afnan.
"Astaghfirullah, kasihan Lintang dan Para santri Putri itu By!" nada penyesalan dari Hasna.
"Sudahlah, Sayang! mereka sudah dalam keadaan baik-baik saja di Ponpes. Beruntung para warga yang melihat kejadian tersebut, membantu mereka. Akan tetapi, Neng Lilin di ikuti hingga gerbang Ponpes dan kembali di hadang namun, Kak Ubay telah menengahi mereka hingga kita sampai nanti," jawab Afnan.
"Mohon Izin untuk menaikan kecepatan By!"
"Tidak lebih dari 100km/jam. Pastikan pengereman secara halus, Sayang. Ada Anak-anak di sini." Pinta Afnan tanda menyetujui.
"Baik By! terima kasih," Setelah kembali membaca Bismillah. Melihat jalan lengang namun, berkelok. Setelah mendapatkan Izin dari Afnan untuk menaikkan kecepatan. Maka Hasna pun mulai menaikkan kecepatan dari 60km/jam ke 80km/jam hingga 90km/jam.
Satu jam kemudian,
Kini Hasna dan Afnan sudah berada di gedung sekretariat Ponpes Hubbul Wathan. Sebelumnya mereka melaksanakan Shalat Isya terlebih dahulu di Mesjid Ponpes. Anak-anak yang terlelap telah Afnan pindahkan ke rumah Utama.
"Lintang!"
"Nana!"
Hasna dan Lintang saling berpelukan, setelah sebelumnya mereka bersapa salam. Lintang dengan Ubaydillah memang sudah menunggu mereka di lobby sekretariat Ponpes.
"Ma'afkan gue Lin. Sudah membawa lo dalam kesulitan," Ucap Hasna penuh kesungguhan dengan meneteskan air mata.
"Enggak Na! Enggak! gue gak merasa lo memberikan kesulitan untuk gue. Kita ini sahabat, sekaligus saudari. Sampai kapanpun kita akan selalu bersama. Dalam suka dan duka." Ujar Lintang menatap Hasna dengan senyuman tulus dan menghapus air mata Hasna dengan ujung telapak tangannya.
"Terima kasih Lin, lo emang saudari ter the best. Gue sayang elo Lin."
"Gue pun sayang elo Na! elo juga saudari gue yang paling terbaik, sekarang hapus air mata lo, kembalikan Nana yang tegar dan kuat. Sahabat gue gak lembek begini." Ucap Lintang dengan tertawa kecil.
"Ok Lin!" mereka berpelukan sekali lagi.
"Di mana mereka Sob?" tanya Afnan pada Ubaydillah.
"Di dalam gedung sekretariat sebagian, sebagian lainnya di pintu gerbang. Mereka ingin menuntut pertanggungjawaban karena balapan sore itu kacau, akibat ulah si penyusup. Menurut mereka." Tutur Ubaydillah.
"Baiklah! mari temui mereka." final Afnan.
**
"Assalamu'alaikum!" sapa Afnan kepada hampir lima belas anak-anak muda yang baru beranjak remaja dan setengah dewasa.
"Wa'alaikum salam," Tidak semua remaja itu menjawab salam dari Afnan.
"Silakan duduk!" pinta Afnan seiring dirinya pun duduk bersama Hasna. Para remaja itu ikut duduk.
"Baiklah, kami sudah tahu tujuan kehadiran kalian di tempat ini. Silakan utarakan apa yang Kalian inginkan." Bahas Afnan dengan tenang. Ia langsung pada inti dari keinginan remaja tersebut.
__ADS_1
"Kami mencari seseorang misterius, yang telah mengalahkan kami balapan di sore hari tanggal dua puluh dua Januari kemarin. Yang kami tahu, dia perempuan dan menggunakan mobil jenis city car merah, ber-Nopol T 10 VE," Jawab salah satu remaja yang sudah agak dewasa.
"Mungkin yang kalian maksud, Istri Saya! ini orangnya," jawab Afnan tak seramah biasanya.
"Hah!"
"Seriusan?"
"Gila aja!"
"O My God, cewek bercadar! becanda kali?"
Bisik-bisik di antara para remaja tersebut karena tidak percaya. Mereka pun terkejut bahwa perempuan bercadar-lah yang mengalahkan mereka.
"Ya, itu Saya! Saya yang memang menyusup dalam pertandingan kalian Waktu itu!" jawab tegas Hasna.
"Istri Saya sudah mengakui, lalu kalian mau apa, darinya? hingga di cari-cari." tanya Afnan datar. Jiwa arogansi dan juga kepemimpinannya muncul saat ini. Afnan yang hangat menjadi dingin.
"Tanding ulang!" jawab salah satu remaja tersebut.
"Baik! saya tanyakan kepada Istri saya terlebih dahulu, karena saya tidak dapat memutuskannya langsung." jawab Afnan. Kemudian ia menoleh pada Hasna.
Jari tangan mereka saling bertaut. Hasna masih diam, bukan takut namun, sedang memperhatikan para remaja tersebut.
"Jika saya tidak mau? apa yang akan kalian lakukan?" tanya Hasna dengan suara datar.
"Kami pastikan, di manapun Kalian berada. Hidup kalian tidak akan tenang! Kami bisa bersahabat namun, kami pun bisa jadi musuh yang membahayakan." Jawab salah satu remaja dengan angkuhnya.
"Heh!" cibir Hasna.
"Stop, melakukan pengancaman! data diri kalian telah kami miliki." timpal Ubaydillah.
"Bagaimana?" tanya seorang lainnya dari para remaja tersebut.
Sebelum Hasna menjawab, Zainal masuk dan menghampiri Afnan."Assalamu'alaikum, Ustadz!"
Sapa Zainal dengan sebuah map di tangannya. Map itu berisikan data-data para remaja liar tersebut, yang baru saja di print.
"Wa'alaikum salam, masuk Dek Zain."
Afnan telah meminta tolong Ubaydillah untuk melacak data-data mereka. Tujuan utamanya tentu untuk melindungi Hasna. Jika sesuatu yang membahayakan Hasna dan Lintang kembali terjadi dan itu terbukti ulah dari anak-anak tersebut.
Maka Afnan tidak perlu sulit mencari mereka. Toh sudah tinggal kerjasama dengan pihak berwajib dan menciduk mereka. Bukan hanya rumah dan juga orang tua mereka namun, Afnan tahu di mana saja mereka berada saat berkumpul.
"What, Ustadz?" bisik-bisik para remaja tersebut karena terkejut. Mereka tidak yakin dengan melihat penampilan Afnan.
Bayangan mereka Ustadz itu memakai kopiah, kain sarung dan Koko atau jubah. Namun, tampilan Afnan. Jaket jeans biru dongker di padukan kaus putih dan juga Celana jeans putih, dengan sepatu sneaker putih.
Bersambung...
__ADS_1