
Hari-hari berikutnya,
"Lin, malam ini Anak-anak jadi kan kita ungsikan ke rumah utama?" tanya Hasna.
"Jadi dong Na! pokoknya rencana untuk hamil kembali, tidak boleh gagal!" jawab Lintang penuh keyakinan.
"Oke! Bismillah, Otw hamil!" ucap Hasna, sembari tertawa yang di balas tawa juga oleh Lintang. Kini mereka sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, tujuan utamanya adalah toko buku.
Hasna dan Lintang sudah di akhir masa kuliah, kini keduanya hendak menyeselsaikan Skripsi. Setelah skripsi mereka di Acc, maka tidak lama lagi ketika skripsi selesai, mereka akan sidang skripsi lalu lulus kuliah. Maka rasa kekhawatiran mereka makin menjadi. Jika mereka lulus, itu artinya keberangkatan mereka ke Turki untuk melanjutkan pasca sarjana sudah di ambang mata.
**
Malam hari,
Hasna dan Lintang sudah janjian untuk menggoda para suami mereka malam ini. Mereka telah membeli lingerie baru tadi siang. Anak-anak telah di ungsikan ke rumah utama.
Afnan dan Ubaydillah belum pulang dari Jamaah Isya di Mesjid. Sepertinya Afnan akan pulang larut, ia harus mengajar kajian kitab malam ini.
Hasna dan Lintang amat percaya diri, malam ini akan dapat memperdayai para suami agar menghamili mereka.
Padahal biasanya mereka yang selalu mencari alasan agar tidak kembali hamil dengan alasan kuliah dan anak-anak masih kecil.
Hingga pun para suami yang akan berakhir menculik mereka untuk melakukan bulan madu kembali. Mereka berdua selalu memiliki cara mencegah kehamilan dan itu berhasil.
Namun, malam ini mereka bertekad untuk membuat suami mereka menghamili mereka, agar hamil secara bersamaan.
Tujuan utamanya tentu saja menggagalkan rencana para suami yang hendak mengirim mereka ke Turki, untuk melanjutkan Pasca Sarjana.
Ide yang muncul setelah Elyavira mengaku hamil kembali. Di tambah Angela pun menelpon mereka, mengatakan bahwa kini, ia sedang hamil dan janin di dalam rahimnya kembar, Angela dan Adrian tinggal di Singapura setengah tahun ini.
Saat ini Hasna dan Lintang sedang ketar ketir menunggu sang pujaan hati kembali dari Mesjid, namun setelah tiga puluh menit, mereka pun belum kembali. Akhirnya karena lama menunggu, Hasna berkirim pesan kepada Lintang.
"Lin, Ustadz belum pulang. Padahal gue dah siap-siap nih!" / Hasna.
"Sama Na! A'a Dav juga belum pulang. Gue dah mirip ikan duyung seksi, terdampar di atas kasur." / Lintang.
"Ahahaha, gue juga Lin, mirip pekerja malam komersial sepi job. Iyyuh... mengenakan baju yang dominan ke jaring ikan ini, rasanya nista sekali. Kalau bukan karena sebuah misi, gue milih tidur pakai gamis dua rangkap. Rencana kita tetap berjalan, kan?" / Hasna.
"Ahahahaha, lebih parah elo dong. Rencana kita harus berjalan mulus dong, pokoknya semangat empat lima. Hingga para Ustadz itu nyerah Na! kita akan menggoda mereka," / Lintang
"Siap Lin, hingga tetes darah akan menjadi darah daging di rahim." / Hasna.
"Assalamu'alaikum, Mimma! A'a, Dedek. Biyya pulang!"
Hasna yang mendengar suara Afnan pun gedubukan. Ia segera mengakhiri berbalas pesan dengan Lintang. Lalu ia melilitkan selimut pada tubuh yang hanya mengenakan lingerie seksi dan tipis yang tidak pernah ia mau pakai sebelumnya.
Begitupun di rumah sebelah. Lintang yang mendengar Ubaydillah masuk, ia segera menaruh ponselnya dengan cepat. Lalu ia masuk ke dalam selimut.
Hasna dan Lintang belum mau terlalu mencolok kalau malam ini memiliki rencana akan saling sedikit memaksa para suami untuk menodai mereka, demi sebuah misi.
Afnan langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Dengan santai Afnan masuk kamar.
"Ouh Mimma sudah bobo. Pantas salam Biyya tidak ada balasan!" celoteh Afnan, menghampiri Hasna lalu mengecup keningnya sebentar.
"Bobo yang nyenyak Mimma Sayang!" bisik Afnan. Ia segera menuju meja kecil untuk mengambil pakaian tidur yang sudah di siapkan Hasna.
"By!" Afnan yang sudah selesai berganti pakaian dan hendak menuju kamar anak-anaknya pun menghentikan langkahnya.
"Ya, Sayang!" Afnan kembali dan menghampiri Hasna.
"Sini! mau kemana?" nada manja dari suara Hasna.
"Mau melihat anak-anak sebentar, Sayang! maaf Byby mengganggu tidur mu."
"Anak-anak di rumah Umi, mereka menginap di sana, tidak Koq By, Nana memang sedang menunggu Byby pulang." ucap Hasna.
"Loh menginap lagi? padahal Byby rindu tidur sama-sama Sayang! tadi kajian kitab dulu, makanya pulangnya agak lama.'' balas Afnan.
"Oh begitu. Ia, A'a dan Dedek, rindu dengan Abba katanya, mereka kan jarang bertemu, Abi baru pulang dari luar kota tadi siang."
"Baiklah!" ucap Afnan. "Sayang! loh sayang sakit? koq menutup tubuh sampai di lilit seperti itu? Byby baru sadar!"
"Tidak Koq By! hanya dingin."
"Baiklah! bobo lagi yah! Byby ke ruang televisi dulu. Ada pekerjaan belum selesai. Takut mengganggu Sayang! Byby kerjakan di sana saja." Pamit Afnan sembari berdiri.
__ADS_1
"Byyy! kerjain Nana saja dong! Kerjain yang lainnya nanti saja."
Afnan mengerutkan dahi. Lalu ia menaruh telapak tangannya di dahi Hasna.
"Suhu normal. Berarti tidak demam! tapi koq ngelindur bicaranya?" gumam Afnan, namun Hasna masih dapat mendengar.
"Iihh, Byby! di fikirnya Nana sedang mengigau?" Tanpa sadar Hasna duduk dan menyibak kasar selimut yang terasa menyesakan tubuhnya. Selimut itu hingga jatuh dari tempat tidur.
"Sayang, itu jaring ikan, kan?"
Afnan terkejut melihat pakaian jaring ikan yang Hasna kenakan begitu menerawang dan menampakkan bagian dalam tubuh Hasna. Namun nada pertanyaan Afnan malah terdengar lucu karena menampakan raut wajah yang polos.
"Haaaa, Astagfirullah! Byby pejamkan mata! jangan ngintip!" pekik Hasna, rencananya bubar jalan, Hasna segera berlari ke kamar ganti, ia merasa malu akan tatapan Afnan.
"Hahaha, Sayang! koq lari? mari bekerja! katanya mau di kerjain?" Afnan tertawa Setelah menyadari istrinya yang malah lari saat apa yang ia sembunyikan terbongkar.
Kini Afnan mengerti mengapa Hasna melilit tubuhnya dengan selimut hingga berbalut rapat.
"Gak jadi...!" teriak Hasna dari dalam kamar ganti. Ia segera mengganti dengan piyama tangan panjang dan celana panjang, Afnan makin tertawa.
Di rumah Ubaydillah,
Setelah ia masuk ke dalam rumah, Ubaydillah pun segera ke kamar, mengganti pakaian dengan pakaian tidur yang juga sudah di siapkan Lintang.
Setelah mengecup kening Lintang sebentar, Ubaydillah sempat melihat jam digital yang ada di atas nakas, pukul sebelas kurang. Pantas Lintang sudah tidur. Akan tetapi, ia tidak tahu kalau Lintang sedang pura-pura tidur.
"Aduh! ini bagaimana mulainya yah?" batin Lintang. Semangat yang berkobar padam seketika.
Lintang malah sedang menimang-nimang! haruskah ia membuka selimutnya dan langsung menerkam Ubaydillah yang sedang berdiri mengecek ponselnya itu.
"Aduh! murahan banget, huff! mau hamil aja harus kayak gini. Mengapa tidak dari kemarin- kemarin yah minta di hamilin. Sekarang gengsi juga Kalau harus minta duluan." batin Lintang.
"Yank!"
Ubaydillah memanggil Lintang yang nampak bengong menatap langit-langit kamar.
"Ya!"
"Loh, bukannya tadi sudah tidur ya?" tanya Ubaydillah sambil duduk di sisi tempat tidur.
"Pura-pura?" tanya Ubaydillah penuh selidik. "mengapa harus pura-pura?" tanya Ubaydillah kembali.
"Itu...ah sudahlah! Lintang keluar dari dalam selimut, lalu ia turun dari tempat tidur.
"Wow! jaring ikan!" pekik Ubaydillah.
"Ah! aaaaa, Ayank! jangan lihat." Lintang pun berlari masuk ke dalam ruang ganti. Ia segera menukar pakaian kurang senonoh itu dengan yang lebih senonoh, piyama daster selutut.
Sedangkan Ubaydillah yang mendapatan notifikasi pesan masuk, segera membuka ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Sob!" / Afnan.
"Wa'alaikum salam, A'a Bro!" / Ubaydillah.
"Nana, kelakuannya aneh!" / Afnan.
"Lilin juga, sekarang sedang bersembunyi di ruang ganti." / Ubaydillah.
"Ada apa dengan mereka?" /Afnan.
"Ana, akan cari tahu besok pagi!"/ Ubaydillah.
"Ok, sudah dulu Nana kembali dari ruang ganti." /Afnan.
"Neng Lilin pun!" / Ubaydillah.
Setelah salam, berbalas pesan pun berakhir.
"Sayang, koq jaring ikannya di ganti? yang tadi itu terlihat menarik padahal." ujar Afnan segera memeluk Hasna.
"Kurang nyaman By! ya sudah bobo yuk!" Hasna menarik Afnan untuk naik ke tempat tidur.
"Nana Ingin memiliki bayi lagi By, seperti Kak Elya dan Angela." Hasna mengutarakan keinginannya.
"Yakin? kemarin-kemarin nolak terus." Ujar Afnan.
__ADS_1
"Sekarang mau deh By." Hasna tersenyum, lalu mengecup bibir Afnan.
"Baiklah!" Afnan menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.
"Ya ampun, semudah ini? Aaaa hamil is coming! Turki goodbye!" pekik Hasna dalam batinnya.
Di rumah Ubaydillah.
"Yank! sudah bagus Pakai jaring ikan, mengapa di tukar?"
"Malu Yank!"
"Biasanya malu-maluin." goda Ubaydillah. Membuat pinggang Ubaydillah mendapati cubitan.
"Yank! kalau aku pingin Dedek bayi boleh, tidak?" tanya Lintang.
"Tentu! mau adopsi di mana?"
"Ikh, koq adopsi! bayi kita berdua yang aku lahirkan!" protes Lintang.
"Ooh! ya karena biasanya nolak hamil. Ok kalau begitu, mari aku hamili." Ubaydillah mengedipkan sebelah matanya.
"Hah! gak perlu repot melakukan pemaksaan ternyata." batin Lintang.
Pada akhirnya tanpa melakukan pemaksaan, kedua pasangan itu melakukan cocok tanam. Entah bibit itu akan tumbuh subur atau tidak!
***
Tiga Minggu kemudian,
"Bagaimana Lin?" tanya Hasana pada Lintang yang baru saja keluar dari kamar mandi rumahnya.
Para suami sudah berangkat bekerja. Maka dari itu Hasna dan Lintang bisa leluasa mengecek kehamilan dengan testpek.
"Belum Na!" jawab Lintang.
"Koq bisa! gue juga belum Lin. Gak mungkin kan kita sudah tidak subur?" Hasna duduk di kursi meja makan, raut wajahnya menandakan banyak pertanyaan.
"Ya, enggak mungkin Na! masih subur koq seharusnya." Lintang duduk di hadapan Hasna.
"Emmm, mencurigakan!"
"Ia sih! mungkin atau tidak ya, para suami kita menggunakan taktik tertentu?" tanya Lintang.
"Bisa jadi, tapi... dari kelakuan mereka nampak tidak ada yang mencurigakan Lin!" tebak Hasna.
"Hooh, selalu pasrah, kalau di hantam asmara tuh."
"Malah keenakan!" sambung Hasna dengan tertawa. Lintang pun ikut tertawa.
"Siang ini, kita ke kantor Ustadz sama Kak Ubay! pokoknya kita harus maksa untuk mereka mau nanam benih lagi. Sidang skripsi sebentar lagi Lin." Ujar Hasna dengan raut wajah gusar.
"Ia Na! ok, nanti setelah pulang menemui Dosen pembimbing, kita culik suami kita!" timpal Lintang.
"Siap!" semangat mereka kembali membara demi sebuah kehamilan.
Di kantor Afnan,
"Nampaknya, para Istri belum menyerah Dek!" Afnan dan Ubaydillah sedang mendengarkan percakapan Hasna dan Lintang dari alat penyadap yang Ubaydillah pasang dalam liontin kalung Lintang.
Lintang sendiri tidak menyadarinya, karena alat penyadap itu di rancang amat kecil dan tertutup desain batu permata yang di sematkan di dalam liontin.
"Ia A'a Bro! lalu, nanti siang kita harus pura-pura tidak berdaya saat di culik mereka?" tanya Ubaydillah.
"Ya tidak apa-apa Dek! di culik mau di ajak enak koq," Afnan terkekeh begitu pun Ubaydillah, ia ikut tertawa pelan.
"kita ikuti permainan mereka A'a Bro!" sambung Ubaydillah.
"Yups! padahal mereka tidak akan pernah hamil. Tidak tahu saja kalau kita sudah lebih dulu melakukan tindakan pencegahan." ujar Afnan.
"Heee, sepandai-pandainya mereka, tetap kalah langkah dengan taktik kita. Ada gunanya Ana menyadap ponsel Lilin dan menyadap pembicaraan mereka."
"Heem, mau menggagalkan rencana kami mengirim mereka ke turki. Coba saja."
"Mak-mak labil, nekad!" ucap Ubaydillah. Afnan dan Ubaydillah sama-sama tersenyum.
__ADS_1
Bersambung...