
Siang hari,
Rencana Hasna dan Lintang untuk hamil, masih berlanjut.
Hasna dan Lintang sudah pulang dari kampus, karena mereka hanya bertemu dengan dosen pembimbing untuk membicarakan skripsi.
Kini keduanya, sudah berada di hotel Afnan. Hotel sudah kembali aktif dari delapan bulan yang lalu.
Afnan memang menunda membuka aktivitas di hotel walaupun sudah selesai di renovasi, ia ingin persidangan Kenneth dan Mark selesai terlebih dahulu agar merasa tenang, jika kedua penjahat itu sudah betul-betul di bui.
Hingga putusan hakim, sembilan bulan yang lalu, bahwa Kenneth dan Mark di hukum dengan masa hukuman seumur hidup. Maka sebulan setelah putusan itu, Afnan putuskan untuk membuka restoran dan hotel kembali.
"Sayang! sudah pulang ngampus?" tanya Afnan yang baru saja menjawab salam ketika Istrinya masuk.
"Sudah, By!" Setelah menutup pintu dan memastikan tidak ada orang, Hasna segera menghampiri Afnan dan langsung duduk di pangkuan Afnan.
"By! Byby sibuk ya?" tanya Hasna.
"Sedikit sibuk! Sayang ingin apa dari Byby?" tanya Afnan dengan pandangan fokus pada layar komputernya.
"Anak!"
"Hemmm, kan hampir setiap malam kita buat."
"Ya, tapi gak juga jadi! Nana ingin mencobanya lagi."
"Sekarang?"
"Ia, Byby!" Hasna bersikap manja seperti biasanya.
"Memangnya Sayang tidak lelah?"
"Tidak! ayuk By!" rengek Hasna.
"SubhanAllah, Sayang! minta anak koq seperti ingin es krim. Coba jelaskan, Sayang tuh selalu melakukan pemaksaan terhadap Byby akhir-akhir ini! ada apa?" tanya Afnan lembut. mengangkat Hasna yang melekat pada tubuhnya, berjalan menuju sofa.
"Tidak ada apa-apa! hanya ingin punya baby, apa salah By?" tanya balik Hasna setelah sama sama duduk di sofa.
"Tidak salah juga, akan tetapi~"
"Pokoknya Nana ingin punya baby lagi. Ayuk By!" Hasna menarik Afnan lalu ia mengecup bibir Afnan dengan agak kasar.
"Astaghfirullah! Sa- Sayang! jangan di sini."
"Huaaaaa, Byby gak Sayang Nana lagi. Sayangnya hanyalah sebatas bibir." Hasna melepas pagutannya lalu pura-pura menangis.
"Sayang! Byby selalu Sayang kamu, cup cup jangan nangis, di luar banyak pengunjung. Nanti mereka mendengar," bujuk Afnan.
"Ia, nanti malam kita buat anak lagi ya Sayang!" bujuk Afnan kembali.
"Nana maunya sekarang, huuu... huaaa, hiks hiks." Hasna makin menaikan tempo menangisnya.
"Cup..cup Sayang! ok ok kita buat anak sekarang! akan tetapi tidak di sini," ujar Afnan.
"Heee, Ok Byby Sayang! di mana?" Hasna langsung sumringah dan menghapus air mata palsunya.
"Di kamar biasanya!"
"Mari By, tunggu apalagi! semakin cepat, maka semakin cepat juga Dedek bayinya tumbuh di sini!" Hasna menarik tangan Afnan dan mengarahkan ke perutnya.
"Ia, Sayang!"
"Maaf, Sayang! Byby juga ingin memiliki bayi kembali namun, demi sebuah amanat maka kita harus menunda ini. Maafkan aku, jika telah berbuat curang!"
Afnan perang batin. Sebetulnya ia pun tidak tega jika memaksa mereka untuk kuliah ke Turki, akan tetapi ada sebuah amanat di dalamnya dan harus di tepati.
Akhirnya, setelah pamit pada pegawainya, dengan alasan ada urusan mendesak, Afnan membawa Hasna naik ke kamar hotel tempat biasanya.
Di ruangan Ubaydillah.
Lintang pun sedang merayu Ubaydillah agar mau di ajak membuat anak.
"Yank! Ayuk dong!" rayu Lintang.
"Yank! coba jujur, ini ada apa? mengapa kamu tuh ngotot ingin memiliki anak kembali, sedangkan kemarin-kemarin kamu selalu nolak?" tanya Ubaydillah.
"Emm, tidak ada alasan lain koq! hanya ingin bayi saja, aku tidak mau kalah saing dengan Kak Elya dan juga Angela yang kini sedang hamil." alasan Lintang.
"Hemm, nanti malam, ok? sekarang A'a Dav lagi banyak kerjaan nih." keluh Ubaydillah.
"Gak mau! maunya sekarang!" Lintang menarik tangan Ubaydillah hingga mereka menuju luar kantor Ubaydillah.
"Yank! Yank! Ya Allah, mau bawa A'a Dav kemana?" tanya Ubaydillah, sembari menuruti langkah Lintang dan sesekali tersenyum pada pegawai yang menyapanya.
"Mau di bawa ketempat produksi untuk membuat anak!" jawab santai Lintang.
"Astaghfirullah!" gumam Ubaydillah.
Lintang membawa Ubaydillah masuk ke dalam lift dan menuju lantai atas. Kamar milik mereka tujuan Lintang.
"Yank! sabar." Ujar Ubaydillah yang kini sedang membuka pintu kamar hotel.
"Sudah tiga minggu sabar Yank! Dedek bayinya gak muncul juga," Lintang menatap Ubaydillah dengan wajah sedih. Ubaydillah merasa tidak tega.
"Baiklah! mari memproduksi calon Dedek bayi." Ubaydillah membujuk Lintang agar tersenyum kembali.
"Sungguh?" tanya Lintang sumringah, Ubaydillah mengangguk dengan tersenyum.
Siang itu Afnan dan Ubaydillah di paksa para istri mereka untuk melakukan produksi bayi di dalam rahimnya. Mereka menurut saja demi kebahagiaan sang Istri.
***
Hampir empat bulan,
Skripsi telah usai dan sudah sidang skripsi juga. Mereka mendapatkan nilai yang memuaskan.
Siang ini Hasna dan Lintang sedang bersantai di belakang rumah Hasna, dengan berleyeh-leyeh di bangku pantai.
Setelah memakaikan pakaian dan mengantarkan Anak-anak ke depan pintu, untuk berangkat sekolah madrasah sore, masih di area pondok pesantren Hubbul Wathan, guna memperdalam pemahan ilmu Agama.
"Lin!"
__ADS_1
"Hem!"
"Mungkinkah kita harus menyerah? tinggal selangkah lagi, hanya wisuda Lin. Tetapi, kita belum juga hamil. Datang bulan juga normal dan sesuai tanggal, kita produksi anak hampir tiap hari. Aneh rasanya jika tidak ada satu sel sp*rma pun yang kecantol indung telur kita." Ujar Hasna.
"Ia sih Na, hampir empat bulan loh. Harusnya... dalam waktu dua puluh empat jam setelah pembuahan terjadi, sel telur akan berubah menjadi zigot. Zigot kemudian akan berkembang menjadi embrio dan menempel di dinding rahim dalam waktu lima sampai sepuluh hari setelah pembuahan. Aneh juga ya Na! sampai mau empat bulan lamanya gak jadi juga."
Hasna mengangguk tatapannya menerawang jauh, Lintang pun sama, mereka sedang berpikir. Sebetulnya apa yang menjadi kendala untuk kehamilan mereka?
Hasa tersenyum dan melihat ke arah Lintang. Saat ini di atas meja ada sebuah buku dan juga pinsil.
Hasna mulai menuliskan sesuatu. "Apa ini Na?" tanya Lintang.
"Sudah! baca saja, jangan banyak cakap!" seru Hasna.
"Oke, oke!" Lintang membaca tulisan Hasna, lalu ia tersenyum.
"Ide bagus sih Na! sedikit curang, yah enggak apa-apa. Demi membongkar aib para suami." kikik Lintang.
Entah apa yang di ditulis oleh Hasna, yang pasti keduanya bampak sumringah dan lebih bersemangat. "Gue ganti baju dulu Na!"
"Ia Lin, gue juga mau ganti baju! sama mau pamit ke Ustadz, kalau kita akan ke rumah Kak Elya." Ujar Hasna.
Mereka berdua pun bergegas berganti pakaian. Tidak lupa, mereka mengirim pesan kepada suami masing-masing bahwa mereka akan mengunjungi Elyavira di villa Granny.
Setelah siap, sebelum berangkat. Mereka juga pergi ke rumah utama terlebih dahulu, selain pamit kepada Umi, mereka juga menitipkan Anak-anak.
"Semoga berhasil, ya Na!" ujar Lintang.
"Aamiin, semoga aja Lin! ini langkah terakhir kita." balas Hasna.
🍃🍃
Hasna dan Lintang kini sedang dalam perjalanan menuju Villa Granny.
Di hotel dan restoran Ladhidh rest & food restauran. Para suami ,sedang sibuk di tempat kerja mereka, tidak ada penyadapan tidak ada pelacakan, mereka fokus pada pekerjaannya.
Setelah hampir empat puluh lima menit, Hasna serta Lintang sampai di villa Granny. Mereka di sambut hangat Elyavira dan Granny. Sedangkan Devano sedang pergi ke Jakarta, memeriksa pekerjaan di Garmen milik Ubaydillah.
"Kak Elya, bagaimana kehamilannya?" tanya Hasna. Kini mereka bertiga sedang menikmati beberapa macam buah segar yang di siapkan oleh para pekerja.
"Alhamdulillah, sudah tidak mual," jawab Elyavira.
"Alhamdulillah! o yah, Kak Elya boleh tidak, kami minta tolong sesuatu?" tanya Lintang.
"Emm, selama Kak Elya bisa! mau minta tolong apa?" tanya Elyavira.
Hasna dan Lintang saling melirik, lalu mereka mendekati Elyavira dan membisikkan sesuatu.
Setelah mendengar bisikan dari lintang dan Hasna, Elyavira mengerutkan dahi. "Untuk apa Dek?" tanya Elyavira.
"Untuk~" jawab Lintang ragu.
"Untuk, kepentingan kampus! Kak Elya," sambung Hasna cepat agar Elyavira tidak banyak bertanya.
"Baiklah, sekarang?" tanya Elyavira kembali.
"Ia Kak, sekarang!" jawab Lintang.
Sore hari, kini saatnya Hasna dan Lintang pulang. "Kak El, Granny! terima kasih banyak yah, kami pulang dulu." pamit Hasna.
"Sama-sama, Sayang! sering-sering dong main kemari, sekarang Granny dengar sudah tidak sibuk kuliah kan?" tanya Granny.
"Ia, kami sudah tidak sibuk. Satu langkah lagi Granny, yaitu Wisuda! maka kami sudah bebas." ujar Lintang.
"Alhamdulillah!"
"Dek Nana dan Dek Lilin hati-hati di jalan," ucap Elyavira dengan mengelus perut buncitnya.
"Insya Allah Kak! kami pamit, Assalamu'alaikum." Hasna dan Lintang, setelah berpelukan dan saling cipika-cipiki dengan Granny dan Elyavira, mereka menaiki mobil dan segera kembali ke pondok pesantren.
***
Malam hari,
"Gimana Na? jadi nih?" tanya Lintang.
"Jadi Lin, terlanjur sudah memintanya kepada Kak Elya."
Hasna dan Lintang sedang menunggu para suami dan anak laki-laki mereka yang sedang berjamaah di Mesjid dari Maghrib hingga menerus ke Shalat Isya. Hasna, Lintang dan Afsha Shalat berjamaah di rumah.
Kini mereka duduk di ruang santai, Afsha tidak jauh dari mereka, sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Sesekali ia melirik dan memperhatikan Mimma serta Tantenya yang sedang gerasak gerusuk saling bisik, tampak gusar.
Selang tak berapa lama, terdengar suara salam dari luar. Itu suara Afnan, Afkha, Ubaydillah dan Arsya.
Hasna dan Lintang menyambut kepulangan mereka berempat.
"Sayang! kami perlu bicara dengan Biya, A'a dan Dedek ke kamar belanjar dulu yah!" pinta Hasna.
"Ia, Abang juga. Ikut A'a Kha dan Kakak Sha ya Sayang!" Pinta Lintang.
"Baiklah, Imma!"
"Baik, Mom's!"
Anak-anak menurut dengan permintaan Ibu mereka. Afnan dan Ubaydillah nampak sedang berfikir, apa yang hendak Istri mereka bicarakan, hingga Anak-anak tidak boleh mengetahuinya.
"Ada hal apa,Sayang?" tanya Afnan.
"Ia Yank?" sambung Ubaydillah.
"Duduk dulu By!"
"Ayank juga, duduk!"
Kedua laki-laki yang nampak masih terlihat tampan dan gagah walaupun usianya sudah melewati di atas tiga puluh tahun itu. Menuruti para istri untuk duduk. Duduk tenang dan menatap para istri, terlihat raut wajah menunggu sebuah Jawaban.
"Em, ada kabar gembira!" pekik Hasna. Afnan mengerutkan dahi tak lama tersenyum.
"Kabar gembira?" tanya Afnan.
"Ia By!"
__ADS_1
"Hooh Yank! kita berdua memiliki kabar gembira untuk kalian," sambung Lintang.
"Kabar gembira, mengenai apa?" tanya Ubaydillah namun, sepertinya tidak sabaran ingin mendengar kabar gembira tersebut.
"Kami, hamil!"
ucap serempak keduanya, setelah sebelumnya saling melirik memberikan kode.
"Haaaa, Astagfirullah! koq bisa?" tanya Afnan dengan terkejut.
"Ia, siapa yang menghamili Kalian?" sambung Ubaydillah dengan pertanyaan, Ia pun nampak terkejut.
"Ya kalian dong, sebagai suami kami." jawab Hasna.
"Iya Yank! lalu siapa?" tanya Lintang pada Ubaydillah.
"Ya...tetunya, kami! memang ada orang lain?" Ubaydillah bergidik ngeri.
"Nih hasil tespeknya!" Hasna menyodorkan dua benda panjang yang terdapat dua garis merah di tengahnya.
Lintang pun melakukan hal yang sama dengan Hasna, ia memberikan dua buah tespek pada Ubaydillah.
para suami mengamati benda tersebut. mereka merasa bingung dan saling menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Dek, koq bisa? apakah suntik hormon itu gagal?" bisik Afnan.
"Ia A'a bro! tetapi kita tidak telat suntik ulang koq." balas Ubaydillah.
"Ekhem! kalian yakin, hamil?" tanya Afnan.
"Ya, ya~ yaaa kiiin!" jawab ragu Hasna.
"Hooh yaaaa kin koq!" timpal Lintang.
"Tapi, aneh!" ucap Afnan.
"Aneh kenapa? orang hamil ada suaminya koq aneh!" Ujar Hasna.
"Ia nih!" timpal Lintang.
"Ya karena... sepertinya, kemungkinan hamil itu satu persen." tukas Ubaydillah.
"Loh kenapa? kita berdua belum menopause loh!" tanya Lintang.
"Ia tahu. Akan tetapi, sepertinya kemungkinan hamil tuh kecil, walaupun kita menanamnya setiap hari." jawab Ubaydillah.
"Ia, tapi kenapa? kita masih sama-sama subur kan By, Kak?" tanya Hasna pada kedua laki-laki itu.
"Karena..." Afnan nyengir kuda. Lalu menelan ludahnya kasar dan mengusap tengkuknya perlahan.
"karena..." kali ini Ubaydillah yang ragu hendak mengatakan kebenarannya.
"Ih, A'a Dav! A'a Ustadz! mau bicara aja pakai drama segala sih! ayo dong ngomong!" Lintang nampak sudah tidak sabar menunggu ucapan dari mereka.
"Ia nih, kalian pada kenapa sih?" timpal Hasna.
Afnan dan Ubaydillah malah saling pandang. Mereka seperti bicara lewat mata, haruskah mengatakannya atau tidak!
"Byby?"
"Ayank?"
"Astaghfirullah'aladzim. Ah ia!" keduanya nampak terkejut, setelah Hasna dan Lintang bicara sedikit meninggi.
"Ka~" ucap ragu Ubaydillah
"Ka-mi!" ucap ragu Afnan.
"Kami, melakukan suntik hormon testosteron sintetis dan progestin. Untuk mencegah kehamilan." Akhirnya Afnan bicara jujur.
"Jadi...?" tanya Lintang dengan bola mata yang melebar.
"Astaghfirullah! Lin, sampai kita jebol dan turun mesin juga gak akan hamil!" pekik Hasna.
"Kalian keterlaluan sekali!" sambung Hasna lagi.
"Maaf Sayang! kami terpaksa melakukannya. Sejak kalian memiliki rencana hamil karena ingin menggagalkan kuliah ke Turki." Afnan menghampiri Hasna dan memeluknya.
"Apa? koq Byby tahu, rencana kami?" tanya Hasna.
"Maaf Yank!" Ubaydillah pun menghampiri Lintang dan memeluk Lintang. "A'a Dav menyadap isi chating dan juga pembicaraan kalian, alat sadap nya A'a Dav sembunyikan di liontin yang Ayank kenakan!" ucap. Ubaydillah dengan suara agak keras agar Hasna mendengar.
"Astaghfirullah, pantas saja kami tidak juga hamil, padahal melakukan pembibitan hampir tiap hari, Ayank jahat!" Lintang memukul mukul dada Ubaydillah.
"Jadi... ini, hasil tespeknya?" tanya Afnan.
"Itu punya kak Elya! dan kami tidak hamil sebetulnya. kami hanya ingin menjebak kalian. Ternyata feeling kami tepat! bahwa ini semua konspirasi dari kalian mempermainkan kami berdua. Sekarang kami kesal terhadap kalian. Jadi izin pisah ranjang tiga hari! setelah tiga hari baru kita bicara. Ayuk Lin!"
Rencana penjebakan dari kecurigaan Hasna terhadap Afnan dan Ubaydillah dengan mengaku hamil lengkap dengan bukti tespek, ternyata akurat, seakurat tespek Elyavira.
Hasna melepas pelukannya dari Afnan dan ia meraih tangan Lintang yang masih di peluk Ubaydillah, lalu menyeret Lintang dan mengajak masuk ke dalam kamar tamu.
"Sayang! ma'afkan Byby! ini tidak seperti yang Sayang pikirkan!"
"Byby, bobo sama Kak Ubay!" pekik Hasna.
"Ia Yank! ajak A Ustadz tidur di rumah, kita pisah ranjang Yank!" ujar Lintang di ambang pintu kamar Hasna.
"Yah Yank, Yank... jangan dong! kami akan menjelaskan semua ini." ujar Ubaydillah.
"Tiga hari kedepan Yank, baru bisa di ajak bicara." balas Lintang.
"Sayang!" Afnan mencoba membujuk Hasna agar tidak marah.
"Gak menerima protes By!" suara Hasna dari dalam kamar, lalu kamar itu tertutup rapat. Para suami nampak pasrah bersandar di sofa.
"Hem, itulah pentingnya kejujuran!"
"Ia, sekecil apapun kebohongan akan terbongkar juga dan memperumit keadaan. Mari ke rumah Anta Dek! kita bicarakan siasat selanjutnya. Biarkan mereka tenang dahulu."
"Mari A'a Bro! O yah Kita ajak anak-anak juga." ujar Ubaydillah.
__ADS_1
Bersambung...