
"Roy! bertahan Roy, tetap sadar please!" pinta Afnan setelah mereka di dalam mobil polisi. Karena tidak ada ambulans.
"Na-am Bang!" Roy menyahut dalam ringisan nya. "Allahuakbar." ucap nya lagi.
"Ya Rab! kuatkan orang ini, kembalikan kepulihan nya seperti sedia kala. Masih ada seorang Ibu yang harus ia rawat dan jaga! Ibu yang dalam keadaan tidak baik-baik saja." Gumam Afnan dalam hatinya.
"Bagaimana, keadaan nya Ustadz?" tanya Polisi Imron yang duduk di bangku depan.
"Stabil Akhi. Tolong telepon Ubaydillah, di mana mereka saat ini, kalau sudah berada di rumah sakit. Kita menuju rumah sakit yang sama, agar Ana dapat menemani A'a Kha," pinta Afnan kepada polisi Imron.
"Toyyib, Ustadz!" Polisi Imron pun segera menelpon Ubaydillah, untuk menanyakan keberadaan nya. Roy masih terlihat tenang di sana. Afnan membantu menekan luka tembak nya dengan kaus milik nya.
Tangan Afnan sudah berlumuran darah. Ia tidak peduli. Roy amat terharu, orang lain bisa sebaik itu terhadap nya. Penyesalan nya menguap seiring terbersit kenangan tidak baik nya yang telah menyerang Afnan dan berkata kasar di masa lalu.
"Bang! A-aku mi-minta ma-ma'af, ba-nyak sa-lah. Te-terima ka-kasih a-tas per-perto-longan dan ke-keba-iik-kan A-bang dan kekeluar-ga A-abang. Pa-da ku dan Mam-mam-mih." Susah payah Roy menyelesaikan kata-katanya.
"Roy,sudahlah! Aku sudah memaafkan mu sebelum kamu minta. Masalah tolong menolong, bukan kah setiap muslim wajib menolong muslim lainnya jika butuh pertolongan." tukas Afnan.
"Hehe! A-ku ta-tahu Bang! Alhamdulillah ala kulli haal! nikmat sekali ternyata dekat dengan kematian saat kita sudah ikhlas dan siap!" bisik Roy dengan tersenyum manis.
"Hehe Tentu Roy! Aku pun pernah berada di dalam situasi yang sama. Indah nya saat kita berada di antara hidup dan mati. Di hadapkan pada akhir hidup, berfikir bahagia nya dapat bertemu langsung dengan Allah dan Nabi nya Muhammad SAW. Lalu indah nya untuk melanjutkan hidup dengan berbagai resiko amal perbuatan di alam barjah dan di kembalikan ke bumi dengan resiko ibadah dan perbuatan baik yang Istiqomah." Ujar Afnan pelan.
"Heuh! lucu Bang!" gumam Roy kembali.
"Sudah Roy! sebaiknya hemat saja tenaga mu! agar kamu tetap sadar. Kamu harus kuat dan kembali sehat. Yakin nih mau meninggal? lalu Dias bagaimana nasibnya, tidak sayang gitu di samber Iqbal?" tanya Afnan dengan menyeringai.
"Ahahahaha," Roy tertawa kecil dan memalingkan wajah nya dengan meringis. "Iqbal gak akan merebut Dias Bang, Hua sudah punya bidadari nya. Si kampret itu menghilang dari ponpes ternyata menikah dengan teman masa kecil nya. heee," ucap Roy berbisik bisik.
"Masya Allah. Koq bisa?"
"Doi yang telepon Aku! minta restu sama calon Abang nya."
Afnan makin tercengang. Banyak yang ia tidak ketahui ternyata. Tentang calon Abang. Apa maksud nya? namun untuk bertanya lebih lanjut Afnan urungkan. Ia tidak mau Roy sampai tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga akibat banyak bicara.
Akhirnya keadaan hening. Hanyalah suara polisi Imron yang terdengar sedang menelpon istri nya. Lalu setelah nya, ia menelpon Ubaydillah.
Di rumah sakit.
Afkha dengan cepat sudah di tangani dan telah berada di kamar rawat inap VIP lantai empat gedung rumah sakit tersebut.
"A'a! sama uncle Dev sebentar! Oom hendak menerima telepon." pamit Ubaydillah.
Afkha mengangguk dengan posisi tidur miring, karena tubuh bagian belakang nya memar dan itu berdenyut.
Empat jahitan di kepala bagian tengah, lima jahitan di dada, perkiraan dokter dari bentuk goresan dada Afkha yang terdapat luka panjang dan menganga, itu terkena ubin lantai yang menganga atau pecah dan mencuat. lalu tertindih dengan kencang dan tertarik. Beruntung tidak berupa tusukan.
Untuk kening di perkirakan terbentur sesuatu, itu hanya di bersihkan dan di obati lalu di bubuhkan perban.
Sedangkan Triple A. Setelah di suapi makan oleh Devano sementara menunggu Afkha di tangani. Kini mereka sudah tenang dan tertidur di ruangan sebelah nya.
Selain karena trauma penculikan. Mungkin mereka juga kelelahan karena banyak menangisi kondisi Afkha. Yang sempat tidak sadarkan diri juga.
Setelah Pamit pada Devano. Ubaydillah pun bergegas ke luar ruangan dan menerima telepon dari polisi Imron.
"Astaghfirullah! Innalilahi. Roy tertembak?" / Ubaydillah.
(.......) / Polisi Imron.
"Na'am! na'am! di RSI Assyifa! kamar Safa, VIP empat." / Ubaydillah.
(......) / Polisi Imron.
"Belum ada yang datang. Sudah di telepon tadi, na'am Akhi. Sampaikan kepada Ustadz, A'a Kha dalam keadaan baik. Wa'alaikum salam." / Ubaydillah.
__ADS_1
Sambungan telepon pun terputus. Ubaydillah hendak masuk kembali ke dalam ruang rawat inap Afkha. Namun seseorang memanggil nya. Itu Hasna.
"Kak Ubay! tunggu!" Hasna menghampiri nya setengah berlari.
"Dek Nana!" gumam Ubaydillah. Sorot matanya berbinar, tatkala ia lihat siapa yang berada di belakang Hasna. Kekasih hati nya tentu saja Lintang.
"Ayank. Ya Allah, belum sore! tapi aku lihat seorang peri sedang terbang ke arah ku. Halah lebay." celoteh hatinya Ubaydillah.
"Kak Ubay. Bagaimana keadaan A'a?" lamunan Ubaydillah bubar jalan, seiring senyam senyum tidak jelas nya pun memudar dari bibir, yang kesesem sama Istri nya sendiri.
"Alhamdulillah sudah di tangani dengan baik dan mendapatkan perawatan. Hanya ada beberapa jahitan saja, Dek Nana tidak perlu khawatir. A'a Kha begitu luar biasa tegar dan tabah." Jelas Ubaydillah.
"Alhamdulillah. Masya Allah, Putra nya Mimma dan Biyya. Kalau begitu Nana masuk dulu Kak!" ucap Hasna dengan wajah lega.
"Tafadholiy. Ada Dev yang mememani." Ucap Ubaydillah dengan mempersilakan Hasna untuk masuk.
"Lalu.... Dek Sha, Abang dan Nai?" tanya Hasna. Ia menghentikan langkahnya.
"Alhamdulillah mereka dalam keadaan baik-baik saja. Hanya sedikit syok dan kelelahan seperti nya. Saat ini mereka sedang istirahat, tidur," jawab Ubaydillah. Hasna tersenyum lega.
"Maaf Kak! Keadaan A'a Ustadz?" tanya Hasna kembali, ia masih merasa khawatir dengan nasib Afnan.
"Hemmm. A'a Ustadz, Alhamdulillah baik! baru saja polisi Imron mengabarkan, bahwa si penculik sudah di tangkap. Lokasi clear! A'a Ustadz dan Polisi Imron sedang dalam perjalanan menuju kemari. namun ....!"
Hasna tercekat. Menunggu kata kata lanjutan dari Ubaydillah. Ubaydillah masih diam. "Namun .... apa, Kak?"
"Roy tertembak, di bagian kaki dan perut." Jawab Ubaydillah dengan penuh penyesalan.
"Astaghfirullah. Innalilahi, keadaan nya parah?" tanya Hasna.
"Belum tahu, Dek!"
"Baik! semoga Roy dalam lindungan Allah." Setelah mengucapkan terima kasih, Hasna pun masuk ke dalam ruang perawatan Afkha.
"Aamiin!"
"Ayang Lilin. A'a Dav rindu!" Ubaydillah celingak-celinguk. Ia memastikan tidak ada orang lain di sana.
Lintang mengerti. Setelah di rasa suasana aman terkendali. Mereka pun berpelukan. "Alhamdulillah Ayank Dav! akhirnya kita bertemu lagi."
"Iya Yank! Alhamdulillah." Ubaydillah memutar mutar tubuh mereka dengan bahagia nya.
Ubaydillah dan Lintang tidak menyadari kehadiran keluarga nya yang tadi jalan terpisah. Karena Hasna dan Lintang jalan terlebih dahulu dengan mobil milik Lintang.
Mobil Sport Hasna, Abi kyia yang mengemudikan. Ia bersama Umi. Elyavira bersama orang tuanya turut serta bersama Granny.
"Assalamu'alaikum!" sapa mereka. Namun Ubaydillah dan Lintang mengabaikan nya. Mereka tidak mendengar karena sedang di mabuk asmara.
"Dav!"
"Utun!"
Panggilan pelan dari kedua Ayah Ubaydillah. Yaitu Abi dan Daddy. Namun Ubaydillah yang masih berputar putar dengan memeluk Lintang, ia belum juga mendengar nya.
"Davian!"
"Dedek Untun!"
Belum ada respon. "Ya Allah sudah kepergok Indiaan, koq malah gak sadar diri." Ujar Granny.
Daddy dan Abi geleng-geleng kepala. Umi hanya mengekeh dengan mulut di tutup telapak tangan, Mommy Aaralyn menepuk Keningnya. Elyavira ikut tersenyum malu. Grandad hanyalah nyengir aneh. Melihat tingkah mereka berdua.
Kedua orang tua Elyavira pun ikut mesem mesem lucu. Menyaksikan tontonan gratis di depan nya.
__ADS_1
Akhirnya Daddy Dadryck memanggil nama lengkap nya dengan setengah berteriak. Dan itu berhasil menghentikan aksi drama India dadakan Ubaydillah.
"Davian Arjan Ryker!"
"Ah! Daddy, Abi, Umi, Mommy, Granny dan Grandad. Dek Elya." Ubaydillah malu bukan main. Ia gugup dengan mengabsen satu persatu orang yang sudah berada di dekat nya.
"Astaghfirullah! malah Indiaan di sini," ucap Daddy Dedryck.
"Hehe, maklum rindu, Dad!" ucap malu Ubaydillah. Lintang pun tersenyum dengan menunduk.
"Melepas rindu. Di tempat umum," Ujar Umi.
"Kan tadi sepi Mi." Balas Ubaydillah masih dengan nyengir kuda.
"Tau Nih Dav! di dekat sini kan ada hotel, mengapa tidak ke hotel saja!" celetuk Mommy Aaralyn.
"Ide bagus Mom's! mari Yank," Ubaydillah meraih tangan Lintang hendak mengajaknya pergi.
"Eeee mau ke mana?" cegah Granny.
"Ke hotel kan!" jawab Ubaydillah.
"Enak saja. Mau asik di hotel berduaan dan kami di cuekin? Sambung Grandad.
"Hehe. Ide cemerlang nya Mommy, Grandad! jangan di sia siakan. Sebentar saja koq," seringai Ubaydillah.
"Utuuuun." satu kata mendayu namun terdengar berwibawa.
"Assiap Abi. Tidak betulan koq."
"Dedek, kamu tuh! lihat sikon kenapa." Umi pura pura cemberut.
"Aih Umi, kalau lagi ngambek tambah cantik." Rayu Ubaydillah sembari menghampiri Umi dan merangkul bahu nya.
"Gombal!" kata Umi seraya tersenyum dan mencubit perut Ubaydillah yang membuat nya meringis dan menghadirkan tawa dari mereka.
"Mari masuk! mungkin Elya mau Indiaan juga dengan Dev!" cletuk Granny yang tangan nya sedang di gandeng Elyavira.
"Granny!" Elyavira tertunduk malu namun mereka faham pasti sedang tersenyum.
Di lantai bawah Rumah sakit
"Dokter! suster, tolong kami! pasien dengan luka tembak harus segera di tangani." Afnan sudah di Lobby sedang memapah Roy bersama dengan polisi Imron.
Polisi Imron segera menunjukan lencana nya. Di belakang nya juga di apit dua polisi berseragam lengkap.
Mereka mengerti dan segera mengambil berangkar dorong.
"Tidak sadarkan diri, Tadz!" tegas Polisi Imron yang menyadari kepala Roy terkulai lemah ke arah bahunya.
Afnan memeriksa denyut nadi Roy. "Denyut jantung nya lemah Akhi."
Beberapa pasang mata yang berada di tempat itu. Banyak yang memperhatikan mereka. Mayoritas memandang nyinyir ke arah Roy.
"Ganteng sih tapi penjahat!"
"Wah, masih muda, dah di buru Polisi. Tertembak pula."
"Ikh negeri lihat nya."
"Apakah dia korban begal dan kejahatan lain? Koq sampai banyak sekali darah nya?"
Spekulasi dari beberapa orang. Karena Roy di dampingi dua orang Polisi. Brangkar dorong pun tiba. Mereka segera
__ADS_1
membawa Roy ke IGD.
Bersambung ....