Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
45. MERLINDIAS ATTSAUTSHA.


__ADS_3

keesokan harinya di rumah kayu,


"Ya, silakan bicara!" pinta Afnan kepada Dias.


"Terima kasih. Begini A, Dias menyukai seseorang dan seseorang itu adalah Roy." jawab Dias.


"Ya! lalu?" tanya Afnan kembali.


"A'a Ustadz, berkaca dari pengalaman Bunda Khadijah yang mengajukan pinangan kepada Rasulullah SAW. Lalu bagaimana, jika Aku pun melakukan hal yang sama? dan membawa Papi untuk melamar Roy?" tanya Dias, memulai percakapan dalam obrolan sore hari tersebut.


"Yas! sebelum Khitbah atau lamaran, sebaiknya ta'aruf terlebih dahulu. ta'aruf itu tujuan nya untuk saling mengenal calon pasangan. Tentu saja tidak hanya berduaan. Tidak boleh sering bertemu dan jika pun bertemu, harus di sertai orang terdekat, baik guru, orang tua atau teman." tukas Afnan.


"Oh! seperti itu? memang tidak boleh yah, langsung tancap gas, lamar lalu nikah?" tanya polos Dias.


"Ya Allah Dek! segitu kesemsem nya kamu sama Roy?" tanya Hasna.


"Hihi! Iya Kak. Hingga saat ini, belum ada laki-laki manapun yang mampu meluluhkan hati Iyas, hanya dengan sebuah senyuman. Walaupun senyuman itu bukan untuk Iyas." jawab alami Dias dengan jujur dan berterus terang.


"Hehe, Yas_Yas! Pernikahan di dalam Islam itu memang mudah dan simpel sebetulnya, namun tentu tidak untuk main-main. Hanya karena kesemsem, lalu langsung tancap gas dan ngajak nikah." Ujar Afnan.


"Hehe .... Aku tidak main-main dengan niat ku ini A Usatdz! Aku serius. Sejak Kak Nana Menikah dengan A'a Ustadz dan pertemuan kalian dengan cara apa itu ....?" tanya Dias.


"Ta'aruf!" jawab lirih Afnan.


"Ah nah ia ta'aruf, lalu Khitbah, maka itu sangat amat berkesan untuk ku. Aku pun memutuskan untuk tidak berpacaran, aku ingin menikah dengan jalan ta'aruf itu." Tutur Dias.


"Dek! coba fikirkan kembali. Kak Nana mengenal Roy dari sejak Kakak menginjakan kaki di kota ini. Roy itu berandalan, gengster. Bukan nya Kakak menghalangi Iyas untuk melamar Roy. Namun setidaknya, cari tahu dulu latar belakang nya, keadaan dirinya saat ini. Memang sih, saat ini Roy terlihat lebih santun, lebih beragama. Namun Iyas harus tahu, Ayah Roy di penjara seumur hidup. Ibu nya .... Iyas kan dengar sendiri dari Roy keadaan nya. Untuk Iyas mungkin tidak ada masalah. Lalu, bagaimana dengan Papi dan Buna? Dek, Buna sayang sekali dengan mu! jika Iyas sakit, maka Buna akan ikut sakit. Walaupun Buna adalah Ibu sambung mu! namun bagaimana perasaan nya, jika putri yang ia rawat dari kecil hendak melamar seorang pria tanpa Buna tahu sebelumnya." Ujar Hasna.


Dias di besarkan oleh Ibu sambung nya dari sejak usia empat tahun. karena Ibu kandung nya sudah meninggal Dunia ketika ia berusia dua tahun di karenakan kangker hati. Harus nya ia tidak memaksa untuk hamil, namun Mami Dias bersikeras mempertahankan Dias hingga lahir. Ia berusaha merawat Dias dalam keadaan sakit nya. Hingga suatu hari ia tidak tahan lagi dengan penyakit nya dan takdir pun berkata lain. Ia meninggal Duni, meninggalkan Dias yang baru berusia dua tahun.


Papi Dias berusaha merawat Dias dan tidak memikirkan pernikahan kembali, hingga Dias berusia empat tahun. Namun ketika Dias masuk Bimba, Seorang Guru Bimba yang masih gadis dan baru berusia dua puluh satu tahun mencuri perhatian nya, ketika Dias selalu ingin di temani oleh sang Guru layak nya sang Ibu. Buna, panggilan Dias kala itu, karena masih cadel dan ia tidak dapat menyebutkan kata Bunda dengan sempurna, maka Dias memanggil Bunda nya dengan sebutan Buna, bahkan hingga kini di usianya yang ke dua puluh.


Karena sering nya mereka berinteraksi, di tambah Dias sangat lengket dengan sang Guru, begitupun dengan sang Guru yang bernama NABILA ANGGITA begitu sayang terdapat Dias. Maka dengan dukungan keluarga, Akhirnya Papi Dias, RIZAL ABDILLAH menikahi ANGGI (sapaan Buna nya Dias).

__ADS_1


"Iya Kak! terima kasih, sudah mengingatkan Iyas. Iyas juga sayang Buna, hingga kapan pun. Iyas akan bicara terlebih dahulu kepada Buna Koq! lusa Iyas akan kembali ke Jakarta, lalu kembali ke ponpes dengan Papi dan Buna. Untuk ber ta'aruf dengan Roy. Kali ini Iyas yakin Kak! dari doa-doa yang selama ini Iyas panjatkan. Hanya ketika bertemu Roy lah, hati ini tertaut." Dias kembali meyakinkan Hasna.


"Sudahlah sayang! tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu. Bukan kah kita selalu melibatkan Allah di setiap rencana yang kita buat. Walaupun nantinya yang akan menentukan hanyalah Allah." Ucap Afnan kepada Hasna.


"Insya Allah By," timpal Hasna.


"Namun Yas! perlu kamu tahu, di dalam Islam, jarak antara proses ta’aruf dengan khitbah atau lamaran hingga ke Nikah ini, tidak boleh terlalu lama. Pada umumnya, sekitar satu sampai tiga minggu saja, dari mulai perkenalan hingga akhirnya lamaran secara resmi dan tentu nya menikah. Nah berarti ini harus adanya kesepakatan dari kedua belah pihak." Ujar Afnan kembali.


"Baik A! Iyas mengerti. Terima kasih atas wejangan nya, Iyas mohon Doa, agar niatan baik ini berjalan dengan lancar." Pinta Dias.


"Insya Allah, kami akan selalu berdoa yang terbaik untuk mu. Karena 'Doa adalah senjata nya orang beriman, tiangnya agama dan cahayanya langit dan bumi," (HR : Al Hakim) Ucap Afnan kembali.


"Semoga Roy mau menerima pinangan mu, Dek!" Doa Hasna.


آمِيْن اللّهُمَّ آمِيْن


"Aamiin Allahumma Aamiin." (kabulkanlah ya Allah kabulkanlah.) ucap mereka secara bersamaan.


**


"Pluk!"


Selembar gulungan kertas berisi tiga permen lollipop, mendarat di kepala belakang Roy, ketika ia hendak pulang ke asrama putra.


"Aduh! apa itu?" tanya Roy kepada Iqbal dan santri putra lain nya, seraya mengelus kepala nya yang terkena lempar kertas berisi lollipop.


"Kertas, Kang Roy!" ujar Iqbal dan santri lain nya, yang melihat sesuatu jatuh dari atas kepala Roy.


Iqbal pun mengambil kertas tersebut. "Buka nih?" tanya nya.


"Buka saja!" pinta Roy. Iqbal yang katanya saingan dalam mendapatkan Dias. Kini mereka lebih mirip sahabat akrab. Padahal Iqbal yang lumayan ca'em juga banyak santri putri menaruh hati padanya. Di tambah segudang ilmu dan perangai nya yang lucu. Tentu saja para santri putri tambah kesemsem terhadapnya.


"Sudah! isinya tiga buah permen lollipop! tulisan nya, Ana tidak berani baca." Ucap Iqbal, menyerahkan secarik kertas itu.

__ADS_1


"Baik, terima kasih." ucap Roy. Lalu ia membaca isi pesan dalam secarik kertas itu.


"Assalamu'alaikum, hilal calon imam! izinkan aku mengajukan CV diri untuk dapat berta'aruf dengan mu. Nama ku MERLINDIAS ATTSAUTSHA. Biasa di sapa Dias. Usia dua puluh tahun, kuliah jurusan kedokteran tingkat akhir. Lollipop ini anggap saja sebagai pinangan awal! tunggu aku yang akan datang mengkhitbah mu bersama orang tua ku. Jika Abang setuju, maka berbalik lah, lihat aku dan berikan senyuman mu." Roy selesai membaca isi kertas pesan dari Dias.


Roy pun berbalik, Ia melihat Dias sedang berdiri dan mengatupkan kedua telapak tangan nya, sebagai permintaan maaf dan harapan, di ambang pintu utama asrama santri putra, ia bersama tiga orang santri putri lain nya. Roy hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Namun itu cukup untuk Dias tetap melangkah menuju ta'aruf.


"Kang Roy? Neng Dias betul-betul ingin melamar Antum?" tanya Iqbal.


"Entahlah! baca saja pesan nya, lollipop nya, mari untuk kenang-kenangan." Ucap Roy dengan tertawa kecil, menyerahkan secarik kertas itu kepada Iqbal dan mengambil lollipop dari tangan Iqbal.


"Neng Dias! kenapa bukan sama A'a, atuh berkirim pesan nya?" Iqbal meratapi isi pesan yang baru ia baca.


"Sudahlah lah, kang Iqbal! mari masuk kamar, untuk tidur cepat, agar dapat bangun malam. Sesuai anjuran Ustadz, kita kan harus bangun untuk tahajud." ajak Roy.


"Mari! tapi ana sedih." jawab Iqbal.


"Tidak perlu sedih. Jodoh di tangan Allah. Selama tenda dan prasmanan berisi rendang serta pak penghulu belum mengucap Sah! masih ada kesempatan, Kang Iqbal." Ujar Roy berkelakar sembari menepuk bahu Roy.


"Astaghfirullah! betul juga ya!" seru Iqbal.


**


Beberapa hari kemudian,


Dias betul-betul kembali ke Jakarta. Ia menyampaikan niatan nya untuk ta'aruf dan melamar Roy. Walaupun awalnya menentang, namun Papi dan Buna nya menuruti permintaan Dias pada Akhirnya.


Mereka telah berkumpul di rumah utama, atas permintaan Abi kyai.


"Ini yang namanya Roy!" ucap Papi Dias. Roy mengecup tangan kanan Papi Roy dan menyapa nya dengan sopan.


"Nak Roy! Papi Dias ini, datang ke sini dari jauh, ingin ber ta'aruf dengan Nak Roy lalu meminang Nak Roy, untuk putri nya yaitu Dias!" ucap Abi Kyai.


Roy diam sejenak, sebelum akhirnya memberi balasan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2