Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
89. Mengenang Hasna.


__ADS_3

Dua Minggu kemudian,


Afnan nampak murung setiap harinya, hanya jika bersama anak-anak saja ia akan nampak ceria. Ubaydillah tahu, Afnan hanya tidak mau jika anak-anak ikut merasakan kesedihannya.


Dua Minggu pula, Afnan tidak menginjakan kakinya di rumah kayu. Afnan dan anak-anak tinggal di rumah utama.


Umi selalu berusaha mengajak Afnan bicara agar tidak kesepian. Tidak ada yang menyalahkan pilihan Hasna. Pak Kyai dan Umi selalu legowo menerima keputusan Hasna.


Afnan tidak peduli lagi dengan pekerjaannya, ia hanya keluar kamar ketika waktu sholat tiba, atau ketika waktunya ia mengajar para santri. Setelah itu ia akan kembali mengurung diri di kamar miliknya di rumah utama.


"Sayang! di sini, untuk pertama kalinya kamu duduk setelah kita halal dan..." Afnan tertawa kecil ketika ia mengingat Hasna duduk nervous saat pertama kali Hasna di bawa ke kamar tersebut setelah acara pernikahan mereka. Afnan meneteskan air mata.


Tangannya mengusap halus permukaan kasur yang di lapisi seprei putih itu. "Ustadz aku berdarah!" masih terngiang kata-kata Hasna dengan nada manjanya.


Afnan mengekeh. "Hem, kamu lucu!" lalu Afnan pergi ke balkon kamar. Afnan memejamkan mata, ia mengingat saat pertama kalinya memeluk Hasna di balkon tersebut. Memeluknya dari belakang adalah hal termanis yang ia rasakan.


Wangi tubuh Hasna seakan melekat di hidungnya. Afnan Kembali murung. Pesan ataupun telepon dari Hasna di abaikannya, ia tidak sanggup untuk berbicara dengan Hasna.


Akan tetapi yang ia dengar dari Ubaydillah karena Hasna kerap kali menelepon Lintang dan berkirim pesan. Kini Hasna sudah mulai masuk sesi latihan setiap harinya.


Afnan menghela nafas berat. Ia duduk di bangku yang ada di balkon. Gunung tinggi yang indah kini terlihat, saat pertama kali Hasna melihat gunung itu yang biasanya tertutup awan dan kabut, ia begitu bahagia hingga Afnan di peluknya tanpa sadar.


"Sayang! terlalu banyak kenangan indah saat bersamamu. Kembalilah istri gemas nakal ku. Aku merindukanmu. Sungguh merindukanmu!" air mata Afnan meluncur begitu saja. Kemudian Afnan tergugu dalam tangisan tanpa suara.


Pukul sembilan pagi, Afnan keluar kamar. Afnan nampak sumringah. Ubaydillah baru saja tiba di rumah utama, ia ingin mengajak Afnan makan bersama sebelum berangkat bekerja.


Ubaydillah tersenyum tatkala melihat Afnan baru saja turun dari lantai atas, dengan senandung Shalawat sembari tersenyum.


"A'a bro sudah mau masuk kantor?" tanya Ubaydillah. Afnan sudah rapi dengan kemeja putih dan lengannya digulung serta celana bahan hitam.


"Tidak Dek! Ana mau mencari udara segar saja, agar rasa sesak ini terurai." Terang Afnan, lalu ia duduk di sofa. Wajahnya di hiasi senyuman yang otomatis tambah memancarkan ketampanan Afnan, walupun usianya hampir empat puluh tahun.



"Oh baiklah! nikmati waktunya A'a bro!" ujar Ubaydillah dengan ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Afnan.


"Maaf Dek! Anta masih harus kerepotan mengurus perusahaan sendiri. Ana masih ingin menetralkan suasana hati. Sekarang Ana hendak ke rumah Ninen dan Kikinya Nana, ingin mengenang kembali detik-detik bertemu Nana." Tutur Afnan dengan senyum yang tidak juga lepas dari bibirnya.


"Santai saja, perlu Ana temani?" tanya Ubaydillah.


"Terima kasih! Anta urus saja pekerjaan, o yah ajak serta Neng Lilin, jangan sampai dia lepas seperti Nana." Afnan menghela nafasnya pelan, baru sadar dengan apa yang dia ucapkan. Wajahnya langsung murung.


Afnan berdiri dari duduknya dan ia menepuk pelan bahu Ubaydillah. "Ana pergi Dek, Assalamu'alaikum." ujar Afnan.


"Wa'alaikum salam!"


Ubaydillah masih terpaku dan duduk di tempatnya. Ubaydillah segera berdiri dan setengah berlari ke rumah kayu, ia hanya ingin memastikan Lintang masih ada dan tidak lepas seperti Hasna.


"Astaghfirullah, Yank!" pekik Lintang, ketika Ubaydillah masuk ke dalam kamar tanpa salam. Lintang yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk pun merasa terkejut.


"Maaf Yank! Maaf!" Ubaydillah membalikkan tubuhnya dengan menutup mata. "Loh... aduuuh mengapa aku harus memutar tubuh dan menutup mata? Neng Lilin halal untuk ku!"


Ubaydillah segera menghampiri Lintang yang sedang memilih pakaian di depan lemari. "Yank! kamu mau ke Eropa juga ya?"


"Ayank apaan sih? ke Eropa ngapain coba?" Lintang menoleh untuk melihat wajah Ubaydillah karena Ubaydillah memeluknya dari belakang.


"Hem, Mungkin saja ikut Dek Nana jadi pembalap!"


"Ikh apa sih, aku tuh gak jago balapan, kalau berkuda aku jagonya, di sini juga banyak kuda koq, ngapain ke Eropa."


"Alhamdulillah, berarti kamu gak akan lepas dari aku kan?"


"Memangnya aku ayam!" ujar Lintang dengan cemberut, "Ayank kerja sana! sudah siang ini,"Ubaydillah belum melepaskan Lintang dari pelukannya.


"Tidak jadi berangkat kerja! aku mau jagain kamu saja, takut lepas!"


"Astaghfirullah'aladzim, Ayank!" teriak Lintang, merasa geram akan kelakuan Ubaydillah.


"Gara-gara Nana nih! hingga Ayank Dav parno! yah...alamat jadi sandera Ayank Dav, ini sih seharian di kamar," gerutu Lintang dalam batinnya dengan tubuh merosot pura pura lemas.


**


Afnan baru saja sampai di rumah Nenek dan Kakeknya Hasna. Afnan mengendarai Valentino, ia masih di atas motor sedang membuka helmnya. Bik Rumi yang baru saja keluar dari arah belakang hendak ke warung, sampai terkesima melihat penampilan Afnan yang memang memanjakan mata.


"Assalamu'alaikum!"


"Bik!"


"Assalamu'alaikum!"


Afnan mengulang kembali salamnya yang tidak kunjung di jawab Bik Rumi. Bik Rumi masih berdiri di tempatnya tengah senyam-senyum.


"Assalamu'alaikum, Bik!" Afnan kembali mengucap salam dengan suara agak keras.


"Wa-waalaikum Salam! maaf Den, Ustadz," Rumi menunduk malu.


Afnan menggangguk dan tersenyum. "Ninen dan Kiki, ada di rumah?" tanya Afnan.


Rumi mengangguk. "Ada Den!"


"Baiklah, Saya masuk ya Bik!" pamit Afnan dan Rumi hanya mengangguk sembari tersenyum.


Afnan pun masuk ke dalam beranda rumah Nenek Hasna, terdengar mengetuk pintu serta berucap salam. Tak berapa lama, suara Nenek Hasna menyambut kedatangan Afnan.


"Masya Allah, Neng Nana! suami ganteng, macho kayak begitu pake di tinggal jauh, tah engkeu lamun Den Ustadz, di karungan ku gadis, kumaha? aih naon ari maneh Rum?"(nanti kalau Den Ustdaz di karungin sama gadis, bagaimana? eh apa sih kamu Rum?) gumam Bik Rumi.


Afnan telah berada di dalam rumah Ninen Hasna, ia sudah duduk dan berbincang dengan Kakek Hasna di ruang keluarga. Ruangan di mana untuk pertama kalinya Afnan dan Hasna bertemu, ketika Hasna memakai dress sexy yang berhasil membuat Iman Afnan berguguran.


Terbayang juga saat beberapa hari kemudian Afnan bertamu. Hasna mengenakan kain sarung mirip ninja. Afnan kembali tersenyum.


"Ma'afkan Nana, Nak Ustadz! kami gagal mencegahnya berangkat ke Eropa." ujar Kakek Hasna dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Hem, tidak mengapa Ki! jika dengan mengejar mimpinya adalah kebagian untuk Nana, maka Saya lebih bahagia. Karena Istri, yang saya Cintai bahagia." ujar Afnan dengan tersenyum.

__ADS_1


Ninen Hasna malah meneteskan air mata. Ia betul-betul merasa iba kepada Afnan, Ninen merasakan ketulusan Afnan dalam kata-katanya.


"Terima kasih Nak Ustadz tidak membencinya!" Ninen akhirnya bicara dengan air mata yang mulai berjatuhan.


"Mana mungkin Saya membenci Ibu dari anak-anak Saya! bagaimanapun ia pernah berkorban nyawa demi untuk membahagiakan Saya! agar menjadi laki-laki yang sesungguhnya yaitu mendapatakan gelar Ayah! yang tidak akan pernah Saya dapatkan dari sekolah mana pun, karena hanya Nana yang meluluskan itu. Lalu, apakah Saya harus marah dan membencinya ketika ia meminta sedikit keridhoan dari Saya untuk mewujudkan impiannya demi melengkapi kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak Nin!" Afnan tersenyum.


"Rasanya tidak adil jika Saya membelenggu mimpi Nana, hanya karena dia seorang Istri dan juga Ibu. Sepertinya saya pun harus berkorban untuk kebahagiaan Nana, pengorbanan Saya, pantas Nana dapatkan! di bandingkan pengorbanan Nana ketika mengandung dan melahirkan anak-anak Saya. Maka, pengorbanan Saya saat ini tidak ada nilainya. Afnan Ikhlas dan ikut bahagia karena Nana memilih jalannya dengan tidak munafik." Ujar Afnan kembali. Membuat Nenek Hasna kembali menangis.


Setelah cukup lama bercengkrama, akhirnya Nenek Hasna mengajak Afnan makan. Setelah makan, mereka berjamaah Dzuhur, Afnan yang menjadi imam.


Afnan sempat tidur siang di kamar Hasna yang berada di rumah Ninennya. Hingga Ashar tiba, Afnan Kembali menjadi Imam untuk Ninen, Kiki dan Bik Rumi. Setelahnya Afnan Pamit pulang.


Sepi kembali menghampiri Afnan ketika ia sampai di rumah kecil. Afnan tidak pulang ke Ponpes, ia telah menelpon Umi untuk menginap di rumah kecil.


Segala kenangan tentang Hasna kembali menyapa Afnan. Di setiap sudut rumah kecil adalah kenangan indah bersama Hasna.


Afnan menghela nafasnya, lalu ia pergi ke garasi rumah kecil. Mobil Ferrari merah, yang cukup lama tersimpan di garasi tujuannya.



"Hem, mari kita bersenang-senang sebentar, Sayang!" gumam Afnan dengan tersenyum miring. Lalu ia masuk ke dalam mobil dan mengecek kelayakan mobil tersebut.


Afnan tersenyum puas. Semua berfungsi baik sepertinya, karena Ubaydillah selalu melakukan pengecekan secara berkala.


Afnan mengeluarkan mobil dengan santai. Ia teringat saat Hasna marah karena cemburu, Afnan tersenyum senang. Rute yang afnan pilih adalah rute yang dulu Hasna lalui.


**


Di rumah kayu milik Ubaydillah.


"Sayang! cepat mandi, aku antar ke rumah Umi. Gawat! A'a Ustadz sepertinya mengendarai mobil sport miliknya." Ubaydillah gedubukan ketika melihat pemantauan atas Afnan beralih dari rumah kecil ke jalan raya tempat dia balapan dengan Hasna. Itu artinya Afnan sedang mengulang kebersamaan dengan Hasna. Ubaydillah baru menyadari apa yang di maksud Afnan mencari udara segar, yaitu mengenang Hasna.


"Yank! pergi saja, aku tidak perlu ke rumah utama sekarang, nanti saja setelah Maghrib baru ke rumah utama!" tolak Lintang.


"Tidak! harus sekarang! aku takut kamu minggat!"


"Astaghfirullah Ayaaaank! mana bisa aku kabur jika di setiap pakaian yang aku kenakan, Ayank pasang pelacak!" kesal Lintang.


"Hehe," Ubaydillah menyeringai sembari mengusap tengkuknya. "Kamu lama nih!" Ubaydillah mengangkat Lintang ke kamar mandi. Akhirnya mereka mandi secara bersamaan.


"Haduh Nana yang bikin ulah, gue yang kena getahnya. Ayank Dav jadi parnoan gini, mana gue di sekap seharian di kamar. Awas aja lu Na! kalau nanti balik," ancam Lintang dalam hatinya.


**


Afnan sudah berada di titik pada saat mereka balapan. Afnan memutar mobilnya percis seperti dulu. Ia melakukan manuver donut, melakukan gerakan berputar pada mobilnya, menekan pedal gas sampai mesin meraung mendekati batas maksimal putaran, Hingga roda mobil menghasilkan gesekan yang mengeluarkan asap pada akhirnya.


Tatapan tajam fokus pada aspal di depannya. Hingga mobil berhenti berputar dan asap tebal perlahan mulai menghilang.


Afnan meninju stir mobilnya. Ia menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar, lalu ia kembali tergugu dalam tangisan. Entah tangisan yang ke berapa kali sejak Hasna berangkat ke Eropa.


Afnan meninggalkan tempat tersebut. Jalan tol tujuan Afnan.


Di sisi lain, Ubaydillah sedang dalam perjalanan menuju rumah kecil bersama Arif sang Asisten. Arif adalah salah satu santri putra dengan kemampuan baik dan kompeten di bidang bisnis, Arif sudah lama mengabdi di pesantren sebagai pembimbing. Maka dari itu Ubaydillah merekrut Arif sebagai Asistennya.


"Apakah Ustadz Afnan hendak ke luar kota Kak?" tanya Arif.


"Tidak, ia hanya butuh menghirup udara segar." Mendengar jawaban Ubaydillah, Arif mengerutkan dahi. Cari udara segar tapi masuk tol, mengapa tidak ke pegunungan saja. Itu kira-kira yang ada di dalam benak Arif.


Ubaydillah masih memantau pergerakan Afnan pada layar Ipad-nya. Ubaydillah memang sengaja memantau Afnan karena merasa khawatir akan sikapnya akhir-akhir ini.


Afnan sudah berada di jalan tol. "Sayang! apakah kamu mengingat momen ini? kalau kamu lupa, maka aku akan mengingatkannya untuk mu!" Afnan tersenyum.


"Bismillah!" Afnan mulai menekan power pada pedal gasnya. Ia mengejar truk di depannya. Mengambil ancang-ancang untuk masuk ke dalam kolong truk.


Afnan mulai mensejajarkan mobilnya dengan sisi truk. Terlebih dahulu Afnan mengedipkan lampu LED depannya dua kali ke arah spion truk. Pengemudi mobil truk mengerti dengan membunyikan satu kali klakson.



Setelah mendapatkan persetujuan dari si pengemudi truk, Afnan makin mepet ke kolong truk. Sekali lagi satu kedipan dari lampu Afnan, menyuruh pengemudi truk tenang dan menjalankan truknya stabil.




Afnan mulai berseluncur masuk ke dalam kolong truk. "Allahuakbar!" pekik Afnan. jantungnya berpacu lebih cepat, seiring kecepatan dan ketepatannya dalam melakukan manuver tersebut.



Dengan sigap, setelah berseluncur beberapa detik maka Afnan mengendalikan Ferrarinya, keluar kolong truk dengan hitungan detik pula, jika tidak, maka habislah terlindas roda truk.




"Huh! Alhamdulillah!" teriak kemenangan dan rasa Syukur dari Afnan. "Sayang, lihat! aku melakukannya lagi. Jika kamu ada disini, pasti takut seperti waktu itu, aku suka saat kamu menangis dan berteriak ketakutan!" Afnan cengengesan sendiri.


Afnan segera mendahului mobil truk yang tadi telah membantunya untuk berslipstrean di jalan tol. Setelah beberapa meter mendahului mobil truk tersebut Afnan menyalakan lampu hazard-nya selama beberapa detik sebagai ungkapan terima kasih. Si pengemudi truk mengedipkan lampu tembak ke arah Afnan, pertanda membalas ucapan terima kasih Afnan.


Setelahnya Afnan meninggalkan truk tersebut, membuat pengemudi truk dan sang kernet geleng kepala lalu tertawa bersama karena lega telah berhasil membantu mobil merah di depan.


Afnan melirik ke bangku sebelah yang kini kosong. Dulu ia menggunakan mobil sport Hasna namun, ia ingat betul saat Hasna berteriak dan menangis.


**


Ba'da Isya, Afnan kembali ke rumah kecil. Ia shalat Maghrib dan Isya di perjalanan. Ubaydillah telah berada di rumah kecil bersama Arif sang asisten.


"A'a Bro! akhirnya Anta pulang!" Ubaydillah merangkul Afnan.


"Ma'afkan Ana Dek! sudah membuat Anta khawatir." Afnan tahu bahwa Ubaydillah merasa khawatir terhadapnya.


"Sudahlah. Ana harap, A'a bro kembali seperti sebelumnya. Sebagai adik yang sudah menemani A'a bro dari kecil dan melewati suka, duka bersama! hati Anak sakit melihat A'a bro terpuruk seperti ini." Ujar Ubaydillah dengan menangis.


"Dek! ma'afkan Ana! ma'afkan Ana! Ana merasa sudah gagal menjadi suami yang baik untuk Nana!"

__ADS_1


"Tidak A! Anta tidak gagal, Anta suami terbaik dan suami hebat. Jika Ana ada di posisi Anta, belum tentu dapat sekuat Anta." Afnan dan Ubaydillah tidak ada yang bicara kembali. Mereka larut dalam rangkulan kesedihan, tangisan tanpa suara Afnan pecah dalam rangkulan Ubaydillah, Arif hanya mampu melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.


**


Lewat tengah malam.


Afnan, Ubaydillah dan Arif terlelap di kasur lantai depan televisi.


Afnan bermimpi tentang Hasna. "Kemarilah, Sayang! pegang tangan ku!"


"Tidak By! Nana sudah bersalah pada Byby. Nana berdosa, Nana telah menjadi istri durhaka!" Hasna tidak meraih uluran tangan Afnan, Hasna malah menjauh.


"Sayang...!" panggil Afnan.


"Tidak By! Ambisi selalu menumbuhkan keegoisan. Apa yang sesungguhnya ku cari? meninggalkan hal terbaik, untuk yang terlihat baik? maka penyesalan adalah hadiah yang pantas ku dapatkan, By! tinggalkan Nana sendiri By! aku pantas menerimanya. Aku pantas menyesal karena keegoisan ku! aku tidak menemukan apapun dari ambisiku selain penyesalan dan aku pantas mendapatkan itu."


"Sayang!"


"Astaghfirullah'aladzim! rupanya hanya mimpi." gumam Afnan. Ia mengusap wajahnya kasar, titik keringat menyebar di dahinya. Afnan segera bangun dan ketika melihat jam sudah pukul dua dini hari, maka Afnan putuskan untuk Shalat malam tanpa membangunkan Ubaydillah.


Afnan larut dalam sujud dan dzikir. Ia memohon kepada Allah untuk membukakan pintu Hati Hasna, agar segala doa-doa darinya mampu menyentuh qolbu Hasna untuk dapat berfikir ulang mengenai Anak-anak dan dirinya.


Doa memohon istrinya di salihkan.


"Wallazina yaquluna rabbana hab lana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a'yuniw waj'alna lil-muttaqina imama.”


Artinya: Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan, Ayat 74)


Doa untuk hubungan jarak jauh dengan istri atau suami. Agar Istri atau suami tetap rindu dan setia.


"Walqoytu Alayka Mahabbatam Manna Walitusna A' Ala Ain."


Artinya: "Aku limpahkan kepadamu kasih sayang yang berasal dari-Nya, agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Nya."


Doa agar pasangan kembali dalam Ridho-Nya.


"Qul in kuntum tuhibbuuna Allaha fattabi 'uunii yuhbibkumu Allahu wayaghfirlakum zunuubakum wallahu ghafuurun rahiim "


(Katakanlah: " Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). (QS Al-Imran : 31)


**


Pagi Hari,


"Bagaimana?" tanya Ubaydillah pada Arif.


"Nihil Kak! A'a Ustadz sepertinya sudah keluar dari sebelum Subuh!" jawab Arif.


Mereka kehilangan Afnan. Alat pelacak Ubaydillah tidak berfungsi, sepertinya Afnan mengacaukan sistemnya sebelum pergi.


Triing! triing!


Berdering lah ponsel Ubaydillah.


"Ya, Assalamu'alaikum!"/ Ubaydillah.


"...."/ si penelepon.


"Baik, saya ke sana!"/ Ubaydillah.


Sambungan telepon terputus.


"Rif, kita ke sirkuit HAZ!"


"Ada, apa?" tanya Arif.


"A'a Ustadz, sejak setelah Subuh tadi, dia memutari sirkuit dengan berbagai kemampuan balapnya ia jajal."


"Astagfirullah, sudah berada jam dari sejak Subuh tadi, mari Kak."


Ubaydillah dan Arif segera menuju sirkuit HAZ. Afnan masih asik ber-slip stream dan juga melakukan manuver lainnya. Mimpi tadi malam lah yang membuat Afnan kembali di landa rasa bersalah.


Dua jam sudah, Ubaydillah berada di sirkuit tersebut. Ia menyaksikan aksinya Afnan dari atas tribun penonton. Ubaydillah sudah menghubungi Afnan namun, Afnan mengabaikannya. Ubaydillah hanya berharap Afnan segera mengakhiri hal konyolnya.


Hingga bunyi decitan rem dan juga roda mobil di akhiri suara benturan mengejutkan Ubaydillah.


Sreettt


Ngiiiikkk


Brugh!


"Innalillahi..."


Ubaydillah segera berlari, melihat mobil Afnan yang sudah menabrak pembatas jalan dengan posisi miring.


"A'a Bro!" panggil Ubaydillah dengan suara keras saat setelah berada di sisi mobil.


"Ana tidak apa-apa Dek! hanya saja kepala Ana pusing!" Afnan menyeringai dengan sanatai, di balik kemudi dengan airbag sudah mengembang.


"A'a bro, ini kelelahan. Belum sarapan pula!" ujar Ubaydillah, nampak kening dan lengan Afnan berdarah.


"Mari A! biar Arif yang urus mobil ini!" Ubaydillah membantu Afnan keluar dari mobil.


"Badan A'a bro panas!"


"Ana baik-baik saja Dek!" Afnan makin pucat. Sepertinya Afnan hanya makan saat di rumah Neneknya Hasna, itu pengakuan Afnan. Setelah itu Ubaydillah tidak melihat Afnan makan.


Maka dari itu kondisi kesehatan Afnan menurun karena tidak makan dan kelelahan.


"Dek! gelap!" bisik Afnan.


"Kita ke rumah sa~!" belum pun Ubaydillah selesai bicara. Afnan sudah terkulai lemah, ia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2