Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
56. Kehadiran Sang Ayah.


__ADS_3

Afnan faham, polisi Imron khawatir dengan kondisi Roy saat ini. Jangankan untuk melawan mereka. Bahkan berjalan saja masih kesulitan.


Namun Afnan merasa perlu menghargai niat tulus Roy. Maka dari itu, ia akan membiarkan Roy terlibat langsung dalam menyelamatkan Anak-anak.


"Akhi! Ana menghargai niat tulus nya. Tubuh nya boleh dalam keadaan tidak sempurna. Akan tetapi semangat hidup nya lah yang akan menjadi kekuatan untuk nya. Dan Ana tidak meragukan kemampuan beladiri nya. Bukan hal buruk, jika kita melibatkan Roy secara langsung." Ujar Afnan.


Polisi Imron mengangguk tanpa keraguan. "Asal Akhi berjanji, akan baik-baik saja," pinta Polisi Imron kepada Roy.


"Bawa tubuh mu kembali dengan utuh, demi Mami mu." Sambung Ubaydillah dengan wajah serius. Ia khawatir akan terjadi apa-apa dengan Roy. Bagaimana pun dalam beberapa hari kedepan, Roy berencana akan meng khitbah Dias.


Roy hanya mengangguk! ia tidak mau berjanji, karena tidak yakin dengan keselamatan nya. Yang mereka akan hadapi ini, manusia yang sangat rela menghabisi siapapun yang mencoba menghalangi ambisi nya, sekalipun itu masih ada hubungan keluarga. Namun Roy ingin menjadi orang yang berguna saat ini. Untuk hasil Akhirnya ia sudah serahkan kepada Allah.


"Ingat Roy! Ana percaya pada kemampuan mu. Pasti kamu memiliki cara tersendiri untuk melawan mereka. Karena Ana yakin, sedikit banyak kamu telah mengenal Paman mu!" Tutur Afnan.


Roy hanya mengangguk dengan tersenyum "Terima kasih Bang Ustadz."


"Aku pun, sebaiknya ikut masuk! jadi lebih mudah menjangkau Anak-anak. Aku akan membawa Anak-anak keluar dan mengamankan nya terlebih dahulu, sementara kalian berduel dengan mereka." Ujar Devano dan itu masuk di akal.


Tanpa kompromi kembali, mereka bersiap untuk masuk.


"Baik! bergerak dan berpencar. Tetap saling berdekatan. Agar mudah untuk membantu satu sama lain, jika keadaan sedang terdesak. Karena kita tidak tahu berapa jumlah penculik itu." Ujar polisi Imron dengan suara pelan namun tegas.


Mereka pun menurut dengan menganggukan kepala. Afnan kembali berpesan kepada para Warga. "Kami yang akan masuk dan mengamankan Anak-anak. Saudara sekalian, berpencar di luar saja. Jika kami sudah mulai terdesak, maka kami akan memanggil kalian agar membantu."


"Baik Ustadz!"


Ucap serempak para warga. Kemudian segera mencari tempat aman untuk berjaga di luar dengan segala peralatan sederhana yang mereka miliki.


Balok, bambu tajam, ketapel, batu, serta rantai dan gear sudah mereka persiapkan.


"Sebelum kita beraksi, sebaik nya berdoa dulu," Pinta Afnan.


"A'a bro yang pimpin doa," Ubaydillah menunjuk Afnan.


"Baik! mari menengadahkan tangan!" Afnan memulai dengan taawudz.


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."


Mereka ikut menengadahkan tangan.


Doa 1,


...مَالِكَ يَوْمِ الدِّيْنِ ,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ...


Laten: Maaliki yaumiddiin(i), Ii-yaaka na'budu wa-ii-yaaka nasta'iin(u)

__ADS_1


"Wahai penguasa hari pembalasan. Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."


(Surah Al-fatihah ayat 4 dan 5)


(Imam Nawawi mengatakan, penggalan doa tersebut di ucapkan oleh Rasulullah SAW Ketika berjumpa dengan musuh, di dalam sebuah peperangan dan diajarkan kepada umat nya.)


Doa, 2.


أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Laten : Anta maulaanaa faanshurnaa 'alal qaumil kaafiriin(a)


Arti nya: Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir. 


(Al-Baqarah : 286)


(Makna lebih luas, Bahwa:


Engkaulah Pelindung kaum Mukminin, dengan memberi pertolongan dan penjagaan. Hanya kepada-Mu kami berlindung. Maka berilah kami kemenangan atas kaum kafir.)


  اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ


Laten: Annii maghluubun faantashir


Arti: "Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolong lah aku (menangkanlah)."(Al-Qamar : 10)


حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ


Hasbunallah wani'malwakiil


"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." Gumam Afnan dalam hatinya.


Afnan, Ubaydillah, Devano, polisi Imron dan Roy pun bergegas mendekati pintu belakang. Mereka mengikuti suara Anak- anak yang mereka dengar.


Polisi Imron mengendap dan berada di urutan depan. Di tangan kanan nya pistol ia genggam. Seperti biasanya, hanya polisi Imron yang akan mengeluarkan senjata nya terlebih dahulu, karena ia polisi.


Jika dalam keadaan terdesak. Maka Afnan dan Ubaydillah pun akan dengan terpaksa mengeluarkan sejata mereka dari holster nya.


"Ustadz dan Dek Ubay yang masuk terlebih dahulu. Akhi Dev sebaiknya membayagi Ustadz. Ana melindungi kalian dari balik pintu. Akhi Roy siap di samping ambang pintu. Kita akan mengeluarkan Anak-anak terlebih dahulu." Pinta polisi Imron yang sudah faham dengan situasi di dalam. Ia mengintai di balik jendela.


Anak-anak nampak sedang berbuat kekacauan di dalam. Afnan, Ubaydillah, Devano dan Roy menganggukan kepala pertanda faham.


Afnan berkode. Ketika ia rasa celah untuk masuk ke dalam agak mudah, karena pintu sedang terbuka lebar.


Suasana kabut tipis yang masih menyelimuti pemukiman tersebut, amat menguntungkan karena dapat menyamarkan pergerakan mereka.


Sedangkan di dalam rumah, perhatikan si penculik sibuk dengan Anak-anak.

__ADS_1


"Bismillah! Satu, dua, tiga!" gerakan bibir Afnan mampu di baca oleh keempat nya. Terutama Ubaydillah dan Devano yang akan ikut masuk.


Setelah hitungan ketiga. Afnan dan Ubaydillah serta Devano pun. Masuk dengan mudah. mereka bersandar dan merapatkan tubuh pada dinding.


Afkha dan Arsya yang menyadari kehadiran sang Ayah. Mereka pun tersenyum sumringah. Dengan cepat Afnan dan Ubaydillah meletakkan jari telunjuk pada bibir mereka. Isyarat agar mereka tenang dan diam Jangan bersuara.


Afkha dan Arsya pun menurut. Namun upaya Afnan gagal. Alnaira yang baru menoleh dan melihat Devano di sisi belakang Afnan. Ia malah berteriak kegirangan.


"Apiiiiih! Kakak Sha, Apih dan Biyya Nan!" pekik nya sembari jingkrak-jingkrak.


"Biyyaaaaa!" Afsha pun memanggil Afnan dengan senang dan mereka berlari begitu saja. Otomatis para penculik pun menoleh ke arah pintu.


"Hei! hei kalian, jangan kabur!" teriak salah satu penculik yang menyadari Anak-anak berlari dan mereka terkejut, karena sudah ada beberapa orang di sekitar pintu.


"Siapa kalian?" tanya kasar si penculik.


"Kalian tidak perlu tahu, siapa kami!" jawab Afnan tidak kalah sengit.


Arsya, Afsha dan Alnaira sudah berlari dan langsung memeluk Afnan, Ubaydillah dan Devano. Sedangkan pergerakan Afkha terhenti akibat di jegal penculik yang memegang pistol.


Afkha tidak hilang akal. Ia segera mendorong tubuh si penculik yang dari tadi mengacungkan senjata nya. Tubuh si penculik pun limbung. Revolver yang memang sudah siap di gunakan, pelatuk nya secara tidak sengaja tertarik maka otomatis mengaktifkan pin tembak.


Dor .... dor .... dor .... dor ....


Enam kali suara letupan senjata api, terdengar menggema di ruangan tersebut secara membabi buta ke berbagai arah dan atap, Karena tidak siap nya si pemegang senjata.


"Astaghfirullah'aladzim."


Afnan, Ubaydillah, Devano, polisi Imron dan Roy beristighfar secara bersamaan.


"Aaaaaa..., Apiiihh! Nai takut!" teriak Alnaira.


"Nai! ini Apih, peluk Apih sayang! sembunyikan kepala mu di dada Apih" Pinta Devano. Alnaira pun menurut. Devano memeluk Alnaira, dengan segera ia memutar tubuhnya menghadap ke dinding menyembunyikan Alnaira diantara dadanya dan dinding.


"Biyyaaaaa! Dedek juga takuuutt" teriak Afsha kemudian. Tubuh nya menggigil dalam dekapan Afnan yang sudah berjongkok untuk melindungi nya.


"Tenang, sayang!" ucap Afnan pelan pada Afsha. Ia berusaha menenangkan Afsha dengan batin berkecamuk khawatir dengan keadaan Afkha di seberang sana.


"Dad's A'a Kha!" pekik Arsya. Samar-samar Arsya melihat kening Afkha berdarah ketika wajah nya mendongak dan tubuh nya bertelungkup di lantai. Posisi Afkha tiarap, sebagai upaya nya menghindari tembakan.


Tidak selang lama, setelah suara tembakan berhenti, terdengar pula Afsha dan Alnaira berteriak memanggil Afkha.


"A'a Kha, cepat bangun dan lari ke mari." Teriak Afsha


"A'a Kha, Awaaasss!" Pekik Alira melihat saudara nya dalam bahaya dari balik punggung Devano.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2