Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
87. Amanat Abah Anom.


__ADS_3

"Aku akan membereskan pakaianmu! besok kita pulang. Akan tetapi, asal kamu tahu, yang menginginkan kalian sekolah ke luar negeri itu, bukan Aku, Abi ataupun Kak Ubay."


Hasna tertegun. "Jika bukan Byby, Abi dan Kak Ubay. Lalu siapa?" tanya Hasna.


"Ini keinginan dari almarhum, Abah Anom sebagai amanat. Siapapun istri kami, maka mereka di wajibkan sekolah ke luar negeri." jawab Afnan, Hasna tahu siapa itu Abah Anom, walaupun tidak pernah bertemu dengan beliau, akan tetapi jasa-jasanya banyak di kenang, beliau adalah kakeknya Afnan.


"Kami memilih Turki sebagai tujuan S2 kalian, karena kami memiliki rumah di sini, banyak kenalan dan beberapa keluarga juga ada di sini." Sambung Afnan.


Abah Anom adalah perintis pesantren Hubbul Wathan yang sesungguhnya. Awalnya hanya mendirikan Majelis pengajian sebagai tempat penampungan anak-anak kurang mampu untuk menimba ilmu keagamaan, hingga ia memiliki modal dan merintis pesantren dengan, doa, air mata, darah dan usaha yang tidak mudah, karena seorang yang katanya penghulu kampung dan membanggakan dirinya sebagai orang sakti, selalu berupaya menghancurkan Pesantren yang Abah rintis.


"Harusnya kalian kuliah di Turki ini saat meraih gelar S1. Akan tetapi, waktu itu anak-anak masih terlalu kecil dan juga waktunya akan lebih lama, yaitu empat hingga lima tahun. Sedangkan kini hanya dua tahun." Afnan kembali bicara.


"Mengapa Almarhum Abah,


mengamanatkan agar kami sekolah ke luar negeri?" tanya Hasna dengan menghampiri Afnan yang sudah duduk di sisi tempat tidur.


"Abah sempat melarang putrinya untuk kuliah ke luar negeri Karena menurutnya perempuan itu tidak harus memiliki pendidikan yang tinggi, cukup hanya mengaji dan tahu dasar-dasar keagaman. Akan tetapi setelahnya Abah larut dalam penyesalan hingga beliau pupus. (meninggal dunia)


"Kakaknya Umi, yaitu Umi Zubaidah meninggal dunia dan dibunuh dalam usia yang masih amat muda. sembilan belas tahun."


"Astaghfirullah! bukankah Umi Zubaidah meninggal karena tenggelam, By?" tanya Hasna, ia mengetahui cerita tentang Umi Zubaidah akan tetapi yang ia tahu, Umi Zubaidah meninggal karena tenggelam.


"Kami terpaksa menutupinya, karena si pelaku adalah...suami Umi Zubaidah sendiri."


"SubhanAllah!" Hasna menutup mulutnya tidak percaya.


"Suami Umi membenamkan Umi Zubaidah di dalam..." Afnan tergugu karena tangisan. Hasna berusaha menenangkan Afnan dengan mengelus bahunya.


"Sudahlah By!" Afnan memeluk Hasna. Setelah tenang ia kembali menceritakan perihal Abah Anom yang menyesal karena melarang putrinya sekolah ke luar negeri padahal mendapatkan beasiswa ke Kairo, Mesir.


Abah Anom malah menerima pinangan seorang pria yang di anggap baik untuk putrinya dan menikahkan mereka. Akan tetapi, si Pria bukanlah orang baik ataupun pria Shaleh seperti yang terlihat, dia berniat menjual istrinya pada pria hidung belang demi memenuhi kebutuhan hidupnya yang di habiskan di meja judi.


Umi Zubaidah menolak dengan tegas demi sebuah kehormatan, akan tetapi penolakannya berakhir dengan tragis, meninggal karena di benamkan dalam kolam renang. Pria itu di tangkap dan di bui seumur hidup. Akan tetapi keluarga Abah mengikhlaskan kepergiannya dengan alibi kecelakaan di kolam renang dan tenggelam.


Dari sejak itu hanya satu yang Abah sesalkan, tidak menuruti keinginan Putrinya untuk sekolah ke luar negeri. Maka dari itu Abah mengamanatkan agar cucu, cucu mantu dan cicit perempuannya di haruskan bersekolah atau kuliah di luar negeri.


"Bahkan semua biaya untuk kalian bersekolah, sudah Abah siapkan dari beberapa lahan pertanian dan juga peternakan yang beliau tinggalkan." Ujar Afnan.


Hasna hanya diam, ia sedang mencerna segalanya, hal yang ia baru ketahui. "Mengapa Byby tidak menceritakan dari awal?" tanya Hasna.


"Hemm, kami pikir tidak perlu, ini yang kami takutkan! yaitu... harus mengulang kembali mengenai kisah kepergian Umi Zubaidah, penyebab mengapa hingga Kalian harus bersekolah di luar negeri." jawab Afnan.


"Itu pula alasan ku tidak pernah marah terhadap kesalahanmu! aku takut menjadi orang yang berubah kejam, sebagai manusia biasa, bohong jika aku tidak memiliki emosi. Di uji dalam menahan amarah itu amatlah berat, Sayang. Akan tetapi atas nama cinta karena Allah-lah, Alhamdulillah aku selalu berhasil meredam amarah. Kesabaran adalah kunci untuk kebahagiaan rumah tangga. Banyak penyelesaian lain ketimbang harus adu mulut apalagi adu jotos dengan istri."


"Ma'afkan Nana By!" Hasna merangkul Afnan dengan penuh penyesalan.


Lama mereka terdiam, hanya dengan berangkulan di hiasi isak tangis Hasna dengan pelan. Afnan membiarkan bahu depannya basah oleh air mata Hasna.


"Byby selalu mema'afkanmu! sudah, hapus air matamu. Aku kan sudah mengatakan, hanya air mata kebahagiaan yang diizinkan keluar dari mata indah mu!"


"Aku menangis karena bahagia By." balas Hasna dengan mengangkat sedikit wajahnya dan menatap sendu wajah Afnan.


"Baik! kamu istirahat saja dulu, tiga malam berada di dalam sel, ku rasa amatlah melelahkan." ujar Afnan, setelah Hasna menyetujui dan ia berbaring di atas tempat tidur, Afnan segera merapikan pakaian Hasna, ia akan mengabulkan permintaan Hasna untuk pulang ke Indonesia.


Hasna yang menyadari Afnan sedang merapikan pakaiannya segera turun dari tempat tidur dan menghampiri Afnan.


"Apa yang Byby lakukan?" tanya Hasna.


"Istirahat saja! biar aku yang merapikan pakaian mu! besok pagi kita pulang ke Indonesia."


"Tidak!"


"Maksudmu?"


"Aku berubah pikiran By! aku akan melanjutkan S2 ku hingga lulus." Ujar Hasna.


"Sungguh?"


"Insya Allah, tidak lama kan? hanyalah sisa satu tahun lebih sedikit."


Afnan memeluk Hasna. "Terima kasih, Sayang!" ucap Afnan. Hasna tersenyum lega dan kembali membalas pelukan Afnan.


"Glad to have you!" (senang memilikimu!) You’re my everything." (kamu segalanya untukku.) and I Love you!" ucap Hasna pelan namun penuh makna. Aku telah menemukan arti dari kata-kata yang Byby ucapkan ketika aku pulang malam, karena menyusup ikut balapan dengan Gengs Zig-zag." Hasna tersenyum.


"Iyi ki varsın, Sen parçalarımsın, Sen benim herşeyimsin. Seni Çok Seviyorum!" (bahagia memiliki mu, kamu adalah segalanya untukku. Aku sangat mencintaimu!) ucap Afnan sembari tersenyum. Pasalnya Hasna mengartikan kata-katanya dengan bahasa Inggris.


Hasna dan Afnan berpelukan Kembali, sore itu mereka habiskan untuk berbincang dengan Ubaydillah dan juga Lintang. Menceritakan kembali alasan mereka harus kuliah di luar Negeri.


Akhirnya Hasna dan Lintang memilih melanjutkan kuliahnya hingga lulus. Afnan menemani Hasna selama dua Minggu di Turki setelah kejadian keonaran tersebut, selain itu mereka memajukan pertemuan bisnisnya.


Saat pulang ke Indonesia, Afnan dan Ubaydillah melacak orang yang telah mengirimkan gambar dirinya pada Hasna. Ternyata itu adalah salah satu anak Gengs Zig-zag yang di bayar Hasna untuk memata-matai Afnan.


Lima juta rupiah untuk satu photo. Uang yang Hasna keluarkan namun, ketika anak itu tahu apa yang Hasna perbuat setelah menerima photo darinya. Maka dia meminta maaf dan bermaksud mengembalikan uang tersebut namun, Afnan menolaknya. Dengan syarat dia harus berhenti mengikuti kemauan Hasna.


**


Hari-hari berlalu, Bulan pun berganti. Tidak terasa kuliah Hasna dan Lintang akan segera rampung. Sesekali Afnan dan Ubaydillah membawa anak-anak untuk mengunjungi Ibu mereka di saat liburan.


Perkuliahan berjalan lancar walaupun kerap kali di warnai sedikit keonaran dari Hasna. Beberapa kali terlibat perkelahian karena meluruskan masalah yang di anggap salah. Namun, pada akhirnya Hasna akan berada di pihak yang benar, karena memang sudah benar dari awal.


Saat ini anak-anak sedang ada di Jakarta. Kakek mereka yang menjemput untuk berlibur di Jakarta. Afkha, Afsha dan Arsya telah lima hari di Jakarta, dua hari kemudian mereka akan kembali ke kota S.


"A'a Kha! aku mau pipis, sudah tidak tahan!" pekik manja Afsha dari bangku belakang. Mereka baru saja pulang mengantar Arsya dari kantor Ayah Lintang.

__ADS_1


Afkha duduk di depan bersama sopir. Kini mereka sedang menuju ke kantor sang Kakek yaitu Ayah Hasna.


"Tahan Dek, sebentar lagi Sampai di kantor Opu!" seru Afkha dengan Al-Qur'an kecil di tangannya. Dua surah Al-Qur'an berserta artinya harus ia setorkan pada Sang Ayah, yaitu Afnan ketika kembali ke Pesantren.


Afkha nampak tampan dengan jaket jeans berwarna jingga dan dalaman kaus putih, serta celana Chino panjang warna hitam, sepatu sport merk N putih. Satu yang menjadi ciri Khas Afkha yaitu kopiah selalu ia kenakan menutupi gaya rambut brush hair upnya. Namun, justru menambah kesan aesthetic untuknya.


"Tidak bisa A! aduh Pak, tolong Dedek sudah tidak tahan!" ujar Afsha pada sang supir.


"Sebentar Non! Bapak carikan Mesjid! di sana pasti ada toiletnya." Balas sang supir dengan sopan.


"Ia, tolong cepat!" rengek Afsha, duduk dengan gelisah dan meringis menahan ingin buang air kecil.


Al-Qur'an kecil yang juga ia pegang tanpa sadar ia masukan ke dalam kantong gamisnya. Gadis yang kini usianya hampir sepuluh tahun itu nampak cantik dengan hijab pashmina yang di lilit rapi di kepalanya. Afsha nampak imut dengan kulit wajah putih dan merona pink alami.


"Alhamdulillah, Mesjid Non!" seru Pak sopir.


"Alhamdulillah, cepat pak! aku duluan ya!" setelah mobil masuk ke dalam pelataran parkir, Afsha tidak peduli lagi jika mobil belum sepenuhnya parkir dengan sempurna, ia segera membuka pintu dan berlari menuju toilet wanita.


Afkha geleng kepala melihat kelakuan Adiknya. Ini bukan yang pertama, Afsha sering kebelet pipis jika di perjalanan. Afkha pernah menyarankan untuk Afsha memakai diapres dan berakhir dengan sebuah cubitan manis dari Afsha.


Brugh!


"Astaghfirullah!" Afsha bertubrukan dengan seseorang yang juga sedang berlari. "AllahuAkbar!" pekik Afsha ketika ia sadari sedang terjatuh dan duduk di pangkuan seorang laki-laki.


Ternyata laki-laki itu yang tidak sengaja bertubrukan dengannya. Tubuh tinggi dengan wajah rupawan, rambut agak gondrong dengan kombinasi warna kuning keemasan di sisi lain rambutnya, laki-laki itu mengenakan seragam SMA.


"Augh!" lenguh laki-laki itu ketika tubuh Afsha mendarat bebas di pangkuan laki-laki tersebut dan bokong Afsha otomatis menekan kasar aset berharganya.


"Aduh! anak kecil...bangsat banget! aset gue hancur sebelum berkembang biak." umpatnya dengan meringis dan wajah memerah.


"Maaf Kak! aku buru-buru." Beberapa detik pandangan mereka bertemu.


"Kakak tampan! Astaghfirullah'aladzim." gumam Afsha dalam batinnya.


"Wao! anak kecil ini cantik dan juga imut!" pekik si anak SMA dalam batinnya.


"Enyah lu dari pangkuan gua!" ketus si laki-laki dengan nada tinggi.


"Astaghfirullah'aladzim! maaf kak! kalau begitu permisi, Assalamua'laikum." Afsha segera berdiri dari pangkuan anak SMA itu, dan ia segera berlari ke arah toilet wanita mengikuti petunjuk arah berupa gambar panah pada dinding.


"Oush! jatuh ternikmat," tawa anak SMA itu mengejek dirinya.


Tidak berapa lama ia mengerutkan dahinya, sebuah benda kecil yang mirip buku tergeletak di samping tangannya. "Apa ini?"


Lalu ia mengambilnya. Membuka benda tersebut, huruf Arab dan juga laten tulisan di dalamnya. "Seperti kitab suci orang Muslim?" gumamnya.


Ternyata itu adalah Al-Quran Afsha yang tidak sengaja jatuh dari dalam saku gamis Afsha.


"Mungkin masuk ke bangunan ini!" terdengar suara beberapa laki-laki dari arah luar Mesjid.


Terdengar ia menelpon seseorang sembari berlari ke arah yang tadi di lewati Afsha. "Riz, gue di sebuah bangunan seberang Macdonald, tidak jauh dari Sekolah gue. Tolong! gue di kejar orang-orang Bokap! motor, gue tinggal di sekolah."


Anak SMA itu masuk ke dalam toilet wanita bagian luar. Ia bersembunyi di sana, di sebelah toilet bagian kecil yang terdapat Afsha di dalamnya dan sedang membenahi pakaiannya.


"Aaam, lega!" gumam Afsha sembari keluar dari ruangan sempit itu. Ia menuju cermin besar yang terpasang di dinding, ia mematut dirinya sebentar untuk membenarkan hijabnya. Mesjid tersebut masih sepi, karena belum masuk waktu Shalat.


"Aaaaaaaa!!!!"


Teriakan Afsha menggema di dalam toilet tersebut saat ia menangkap bayangan tubuh tinggi seorang pria di belakangnya. Pria tersebut terkejut hingga ia langsung menarik Afsha dan membekap mulutnya.


"Diam!" bentaknya.


"To-long le-pas! ja-jangan sen_sen tuh Saya!" mohon Afsha dengan tubuh bergetar.


"Oke, gue lepas! janji gak berteriak lagi, kalau enggak! mampus luh!" ancam pria tersebut. Sembari melepaskan Afsha perlahan setelah ia mengangguk patuh.


Afsha berusaha menenangkan dirinya. Ia sudah di bekali ilmu beladiri oleh orang tuanya. Namun, entah mengapa, kali ini ia merasa hatinya santai walaupun sedikit takut


"Loh Kakak!" tunjuk Afsha ketika ia menyadari siapa laki-laki di hadapannya.


"Elo!" laki-laki itu adalah yang tadi bertubrukan dengan Afsha.


"Kakak, salah masuk toilet ya? ini toilet wanita!"


"Berisik lu! anak kecil kalau gak tahu apa-apa diam saja!" hardik anak SMA itu. Lalu ia berjongkok terdengar nafasnya masih berburu karena terkejut. Sepertinya ia sedang menghindar dari kejaran seseorang.


"Astaghfirullah! tangan Kakak berdarah!" pekik Afsha.


"His, gue bilang diam! cuma luka segini sih Cemen, ada luka lebih besar dari ini di tubuh gue!" ucap Anak SMA itu, sembari membuka kancing seragam putihnya.


"Kakak mau apa? hentikan! itu akan menodai mataku!" pekik Afsha sembari memohon ampunan kepada Allah di dalam hatinya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Gue gak mau ngapa-ngapain! hanya ingin memperlihatkan bekas luka gue! lihatlah!" entahlah anak SMA itu ingin memamerkan lukanya di hadapan anak kecil cantik itu, yang bahkan usianya belum genap sepuluh tahun.


"Tidak mau! itu berdosa." bantah Afsha.


"Lihat! kalau enggak, gue pastikan lu gak bisa keluar dari tempat ini!" ancamnya.


"Tapi, Kakak harus secepatnya merapikan pakaian Kakak!"


"Oke!" jawab santai si anak SMA. Afsha membuka matanya beberapa detik untuk melihat otot perut si anak SMA, eh salah bekas luka anak SMA itu di bagian perut atas, bekas luka yang memanjang nampak terpampang nyata di sana.


"Sudah!" Afsha bergidik ngeri, lalu segera membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


Anak SMA itu mengekeh sembari mengancingkan Kembali seragamnya. Kemudian ia mengeluarkan sebatang rokok dan juga Zippo kecil lalu ia menyalakan rokoknya.


"Punya air minum?" tanyanya.


"Tidak di bawa, ada di dalam mobil. Mau aku ambilkan?"


"Tidak perlu!" jawab anak SMA itu dengan angkuh. "Mau bantu obati luka gue? maka lu akan bebas keluar dari tempat ini." ujarnya dengan nada dingin. ia kembali menghisap rokoknya.


"I-iya Kak! akan tapi maaf! aku tidak bisa menyentuh Kakak!"


"Kenapa?"


"karena laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dilarang saling bersentuhan!" jawab Afsha dengan pasti.


"Heh, ajaran dari mana itu?" cibir anak SMA tersebut.


"Dalam ajaran Agamaku!" jawab Afsha tanpa keraguan.


"Agama? Agama apa?"


"Islam! memang Agama Kakak apa?" tanya Afsha.


Anak SMA itu menggeleng pelan. "Cepat obati luka gue nih!" Anak SMA itu menyodorkan lengannya.


Basuh dulu dengan air Kak! lalu keringkan dengan tisu dan nanti aku akan menempelkan plester di luka Kakak! kebetulan aku memiliki plester di dalam tas, aku suka dengan gambarnya!" celoteh Afsha. Namun, anak SMA itu tidak peduli, ia segera membasuh lukanya dengan meringis.


"Nih, cepat tempelkan plesternya! ucap si anak SMA setelah mengeringkan lukanya dengan tisu.


Afsha menghela nafasnya pelan. Lalu ia mengeluarkan plester dan mencari cara agar tidak menyentuh kulit laki-laki itu secara langsung.


Ia teringat dengan bolpoin di dalam tas kecilnya. Lalu ia keluarkan dan mulai menempel plester pada luka anak SMA itu dengan bantuan bolpoin untuk menekan sisi plester bergambar karakter cartoon Upin Ipin tersebut.


"Sudah kak! boleh Aku pergi?" tanya Afsha.


"Hem, hush! hush!" usir anak SMA itu dengan mengibaskan tangannya.


"Terima kasih Kak! permisi Assalamua'laikum!"


Afsha segera keluar dari toilet tersebut. Namun, langkahnya terhenti saat anak SMA itu memanggilnya.


"Gentala!"


"Ah?"


"Nama gue Gentala! panggil Genta atau Tala!"


"Oh baik Kak, Gentala!"


"Artinya Naga!" sambung Gentala.


"Hem," Afsha tersenyum dengan menundukkan kepalanya, sudah terlalu lama ia memandang yang bukan mahramnya.


"Aku... Afsha panggil saja Sha! tolong perbaiki cara bicara Kakak! Jangan terlalu kasar."


"Hum!" anak SMA itu mengangguk. Anak kecil di hadapannya membuat ia nyaman. Ingin rasanya berlama-lama dengan Afsha.


"Kita akan bertemu lagi suatu saat!"


"Jika Allah menghendaki!" jawab Afsha.


Kemudian Afsha segera pergi dari toilet, meninggalkan Gentala seorang diri. Setelah kepergian Afsha, Gentala mengeluarkan Al-Qur'an Afsha, ia mengamatinya.


"Sha! berarti ini milik anak kecil tadi?" Gentala membaca ukiran Nama 'Sha' yang di ukir cantik dengan tinta emas dalam sampul Al-Qur'an.


"Sorry anak kecil! ini akan gue bawa untuk menemani hari-hari gue nanti. Mungkin suatu saat nanti ini akan berguna." gumam Gentala.


Telepon Gentala berdering, itu dari orang yang menjemputnya. Namun, mata Gentala terbelalak sebelum ia keluar dari toilet ketika melihat plester di dalam cermin. bukan plester yang menjadi masalah, gambar kartun dari plester tersebut yang membuat dia murka hingga berteriak.


"Aaarrggghh anak kecil! gila aja, lakik Macho model gue di tempelin plester gambar Upin Ipin sama pasukannya." kesal Gentala, ia segera berlalu dari toilet tersebut.


Sedangkan Afsha, ia sedang senyam senyum sendiri di dalam mobil yang telah meninggalkan pelataran parkir Mesjid. Afkha yang melihat dari kaca spion depan, ia hanya mengerutkan dahi lalu ia kembali melafalkan Al-Qur'an-nya.


"A! Al-Qur'an ku hilang!" pekik Afsha setelah ia menyadari Al-Qurannya tidak ada di saku gamis. Pantas ia merasa ada yang lupa dari setadi masuk ke dalam toilet, biasanya ia tidak pernah membawa Al-Qur'an ke dalam toilet, sungguh ia lupa.


Afkha saat ini, usia hampir 10 tahun,




Afsha,




***


Dua tahun sudah. Hasna dan Lintang sudah merampungkan thesisnya, beberapa bulan mereka lulus dan sudah menyandang gelar S2. Kini Hasna dan Lintang sudah kembali ke Indonesia dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya.


Sesekali mereka mengisi tausiah dalam acara pengajian dengan trio hijrahnya. Hasna juga mulai ikut mengajar di pesantren di sela kesibukannya berlatih balap motor di sirkuit H.A.Z.


Setelah enam bulan di Indonesia, Hasna mendapatkan tawaran dari klub balap motor internasional di benua Eropa. Pasalnya Video Hasna yang sedang balapan dan beberapa atraksi motornya, viral di media sosial dengan caption 'Wanita bercadar balapan! dengan skill Dewi!' dan datanglah tawaran balapan tersebut, hingga saat ini, Afnan belum menyetujuinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2