Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
76. Dia masih Istri Saya.


__ADS_3

Afnan masih di dalam perjalanan. Hingga apa yang ia katakan kepada Hasna, yaitu melanggar lampu merah. Betul-betul ia lakukan.


Dua kali lampu merah telah ia terobos. Membuat Ubaydillah bersorak ria di tengah kesibukannya meretas dan membobol situs keamanan hotel.


Terbukalah server yang ia tuju. Mula-mula ia tuju Cctv hotel.


"Ada yang aneh!" Ujar Ubaydillah.


"Keanehan apa Dek?" tanya Afnan di sela-sela kesibukannya menyetabilkan laju mobil dan juga stir mobilnya.


"Ana lihat ada beberapa orang, seperti hendak melakukan ijab Qobul." jawab Ubaydillah.


"Ya mungkin saja memang saat ini, salah satu ruangan di sana, di sewa untuk merayakan pernikahan." Balas Afnan.


"Bukan! ini...seperti kenal!" Ubaydillah menelisik lebih jauh dengan apa yang ia temukan.


"Astaghfirullah'aladzim, ini Angela A'a Bro." cetus Ubaydillah kemudian.


"Maksudnya?" Afnan tidak mengerti.


"Dari gesture tubuhnya, ini Angela yang memakai gaun pengantin." jawab Ubaydillah.


"Astaghfirullah'aladzim. Apakah Angela akan di nikahi seseorang?"


"Gak faham!" balas Ubaydillah.


"Telepon Polisi Imron, agar secepatnya sampai sini. Atau minta padanya menghubungi polisi dari wilayah terdekat, agar segera datang ke lokasi. Tolong juga lihat Nana, di mana posisinya saat ini?" pinta Afnan.


Ubaydillah mengiyakan. Lalu ia melacak keberadaan Hasna, "Nana tidak begitu jauh dari kita A'a bro!"


"Baik, siapa pemilik hotel tersebut?" tanya Afnan.


"Arga Zulian Malik. Tapi sepertinya, bos muda itu sedang ke luar negeri. Ada sih, managernya, masih keponakannya. Hadi Angkasa Malik." terang Ubaydillah.


"Bisa minta akses masuk ke Hadi Angkasa, Dek? agar saat kita melakukan penyergapan, tidak membuat panik pengunjung lain." ujar Afnan.


"Ana usahakan, menghubunginya." balas Ubaydillah.


***


Afnan dan Ubaydillah telah sampai di hotel. Setelah mengendarai mobil dengan sedikit ugal-ugalan. Manager hotel tersebut sudah dapat di hubungi. Meminta akses masuk dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan dari tamu yang lain.


Hasna sampai hotel sepuluh menit setelah Afnan. "By, di mana?"


Hasna mengirimkan pesan singkat. Beberapa Polisi berpakaian preman yang berhasil polisi Imron mintai pertolongan, Sebetulnya sudah berjaga di beberapa titik yang di anggap rawan.


Afnan membuka layar ponselnya. Ia melihat Hasna berkirim pesan. "Byby di lantai dua, kamu langsung naik. Pakai lift nomor dua dan empat. Lebih baik naik terpisah, temui Byby di koridor sebelah kiri. Berjalanlah seperti pengunjung hotel pada umumnya. Sepertinya mata-mata penculik itu ada di beberapa titik."


Hasna segera membaca pesan dari Afnan. Lalu ia memperlihatkan kepada Lintang dan juga Adrian.


"Lalu, Angela ada di mana?" tanya Adrian. Kini ia merasa menjadi seorang pecundang karena tidak bisa bergerak lebih.


Afnan telah menelponnya agar Adrian tidak bertindak gegabah, lebih baik dia diam dan tenang untuk sementara. Takut jika salah bertindak nanti keadaan makin bertambah rumit.


Hasna, Lintang, Adrian bergegas ke tempat yang Afnan beritahukan. Polisi Imron memantau dari perjalanan, sekitar sepuluh menit lagi dia juga akan sampai di hotel.


"Dek, bagimana?" tanya Afnan. Ternyata kini mereka telah berada di ruang kontrol. Sebelumnya Afnan telah di persilakan masuk ke ruangan tersebut oleh sang Manager hotel.


Sedangkan Afnan telah berbicara dengan si pemilik hotel atas bantuan sang manager, ia meminta izin akan adanya sedikit keributan di hotel mereka.


Pemilik hotel tidak keberatan, karena ini menyangkut keselamatan seseorang. Terlebih Afnan pernah membantu mereka bangkit dari kesulitan pada beberapa tahun silam.


"Fix, Angela sudah memakai gaun pernikahan lengkap. Kenneth! Astaghfirullah, orang itu A'a Bro."


"Orang yang sama? yang hampir menghancurkan pernikahan Adrian dan Angela?" tanya Afnan. Ubaydillah mengangguk.


"Assalamu'alaikum!" tiga suara.


"Wa'alaikum salam." Afnan dan Ubaydillah.


"Sayang!"


"By!"


Afnan menghampiri Hasna. Ia memindai Hasna dari atas hingga bawah. Memastikan jika Hasna baik-baik saja. "Alhamdulillah, kamu baik-baik saja sayang."


Entahlah, rasa khawatir begitu membelenggu Afnan dari sejak ia tiba di hotel. Afnan segera memeluk Hasna, membuat Hasna tercengang, Afnan tidak biasa bersikap seperti itu, memeluk dirinya di hadapan orang lain, selain keluarga inti.


"Alhamdulillah, terima kasih sayang, sudah sampai di hadapan Byby tepat waktu." Bisik Afnan.


"Terima kasih kembali By, sudah memberikan izin agar Nana ugal-ugalan. Nana menerobos empat lampu merah." Bisik Hasna kembali.


"Astaghfirullah! koq banyakan kamu." Afnan pura-pura tersentak kaget. Hingga ia melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Yaah kebanyakan ya By?" tanya Hasna polos dengan menatap wajah Afnan.


Afnan meraih tangan Hasna, lalu menggenggamnya, ia menatap Hasna dengan senyuman. "Kurang!"


"Ikh Byby." pekik tertahan Hasna hingga melebarkan matanya. Afnan mengekekeh.


Afnan menyatukan kening mereka berdua. Lalu ia menelusupkan sesuatu di balik hijab lebarnya Hasna.


Hasna menerima pemberian Afnan sembari menelisik apa itu.


"Pistol By?" tanya Hasna pelan. Mereka masih menyatukan kening.


"Ia, kamu pegang ini, sembunyikan ini di balik pakaianmu. Byby percaya, kamu sudah mampu melakukannya bidikan dengan baik. gunakan di saat terdesak." bisik Afnan.


Hasna mengangguk. "Paha, lengan,kaki. Jangan menembak organ vital." ucapannya.


"Ya, sasarannya hanya di area itu saja. Hati-hati salah sasaran dan mengenai orang kita."


"Insya Allah, tidak By." Hasna memang sudah sering ikut berlatih menembak dengan Afnan Sebelumnya.


"Good, kita akan masuk sebentar lagi, tetap tenang, kuasai diri."


Hasna mengiyakan dengan antusias. Hasna segera menyembunyikan pistol pemberian Afnan di balik pakaiannya. Mereka segera mengakhiri bermesraannya.


"Yank! lebih baik nunggu di mobil, di bawah akan ada polisi yang berjaga. Nanti Ayank Dav, titip kamu pada polisi yang memakai pakaian preman." Pinta Ubaydillah.


Ubaydillah pun melakukan hal yang sama, yaitu berpelukan dengan Lintang.


"Baiklah Yank. Tapi aman kan?"


"Insya Allah, ini senjata untuk kamu jaga-jaga dan melindungi diri, tempelkan ujung penyengat ke area leher, tengkuk, atau area pergelangan tangan. Maka musuh akan lumpuh dengan cepat."


"Baik, Yank!" rupanya yang di berikan Ubaydillah kepada Lintang adalah alat kejut listrik portabel.


"Drian, tolong kamu tenang. Karena kami akan menunjukkan istri kamu di monitor. Namun, apapun yang kamu lihat, tetap tenang." Pinta Afnan dengan menepuk bahu Adrian pelan. Adrian mengiyakan.


Monitor kembali menampilkan keadaan di sebuah ballroom hotel tersebut. Mata Adrian terbelalak. Angela nampak jelas tengah mengenakan gaun pengantin.


"Baby!" gumam Adrian. Tangannya terkepal erat, Adrian menahan diri agar tidak langsung berlari ke ruangan tersebut. Ia pun sebisa mungkin menahan emosinya, Adrian masih mendengarkan instruksi dari Afnan.


Lima belas menit kemudian, Ubaydillah telah kembali setelah mengantarkan Lintang ke lantai bawah, ia kembali bersama Daddy Dadryck, Polisi Imron dan empat polisi lainnya.


"Sekarang Akhi?" tanya Polisi Imron kepada Afnan setelah mengucap salam.


"Lebih cepat maka akan lebih baik. Lihat, sepertinya ijab qobul akan segera di mulai." jawab Afnan.


"Mari berdoa terlebih dahulu, musuh di titik tertentu, sudah mulai di amankan." tukas Polisi Imron.


Kini mereka menghadap kiblat, di mulai dengan basmallah, memanjatkan doa sebelum memulai aksi penyelamatan Angela.


"Adrian jadi bayangan Ana. Begitu ada kesempatan cepat amankan angela. Bawa turun menuju mobil Lilin. Kalian pergilah pulang terlebih dahulu. Akan ada polisi yang mengawal Kalian." Pinta Ubaydillah.


"Daddy, bayangi saja Akhi Imron, perhatikan lagi musuh kita Dad!" Ujar Adrian.


"Ok, Son!" jawab Daddy.


"Jika Angela dan Adrian sudah aman, maka ikutlah Daddy pulang bersama mereka. Biar Dav dan A'a Ustadz serta Akhir Imron, yang menangani di sini."


"Tapi Dav--,"


"Dad! Dav tidak mau Kalau sampai Daddy terlibat lebih jauh membahayakan diri Daddy sendiri di sini. Mommy, Dev, Granny dan Grandad menanti Daddy. Terutama Nai dan Acha."


Daddy Dadryck hanyalah mengangguk. Ia faham Ubaydillah merasa khawatir terhadapnya.


"Bismillah...,"


Mereka mulai bergerak meninggalkan ruangan kontrol hotel tersebut, menuju ballroom hotel lantai tiga.


Beberapa orang Kenneth nampak berjaga di depan ballroom hotel tersebut.


Afnan, Ubaydillah, dengan yang lainnya, bermain isyarat. Lalu mereka mulai menyerang dengan tanpa gaduh.


Satu orang mampu di lumpuhkan dengan sengat listrik portabel oleh Ubaydillah. Afnan membius satu orang lainnya. Daddy mengandalkan kebisaannya dengan ilmu titik pelemah syaraf melalui beberapa totokan. Adrian ikut mengendap dengan menyetrum satu orang lainnya. Polisi Imron membidikan bius dari senjata khusus miliknya.


Maka tanpa menimbulkan suara gaduh tumbang-lah para orang Kenneth yang berjaga di luar ballroom tersebut. Setelah tumbang, tugas polisi lain untuk mengamankan mereka. Afnan dan lainnya masuk ke dalam ballroom dengan tergesa namun tetap hati-hati.


Di dalam Ballroom hotel,


Kenneth hampir saja selesai mengucapkan ijab qobul. Di saksikan Mark dan dua orang lainnya, pegawai Angela yang berkhianat. Sang penghulu nampak gemetar dan pucat di tempat duduknya. Pucuk revolver menempel di kepala, siap meledakan kepalanya.


"Berhenti! Apa apaan ini? Saya suaminya, mana mungkin istri saya akan menikah kembali, dia masih istri saya hingga detik ini." Adrian emosi. Ia terlepas dari Afnan, Adrian segera menyeret Kenneth dan langsung menghajarnya.


"Honey!"

__ADS_1


Adrian baru menyadari jika tangan Angela dan Kenneth terikat oleh sebuah borgol, saat Angela memanggilnya.


"Bajingan kau Ken!" bugh, bugh...


Kenneth yang tangannya terborgol tidak mampu bergerak banyak. "Habisi mereka." Perintah Kenneth pada orang-orangnya.


Pada akhirnya rencana yang telah tersusun rapi hanyalah angin lalu. Keributan pun tak dapat terelakkan lagi.


"Ken, lepas!" teriak Angela.


Kenneth menyeret paksa Angela. "Honey, help me! perut ku..." keluh Angela.


Afnan, Hasna, Ubaydillah Daddy dan polisi Imron sedang meladeni orang-orang Kenneth.


Tendangan, tonjokan, pukulan sedang terjadi saat ini. Keadaan ballroom hotel tersebut sangat kacau.


Sang penghulu sudah keluar untuk menyelamatkan diri. Adrian masih berusaha menghajar Kenneth. Kesulitannya saat ini. Kenneth menjadikan Angela sebagai tamengnya.


"Honey, perut ku...!"


"Tahan sebentar Baby!"


Angela nampak meringis sembari memegangi perutnya sejak ia di seret paksa oleh Kenneth.


"Adrian, tarik Angela sedikit! Ange angkat tangan mu, yang ada borgolnya."


Teriak Hasna. Adrian dan Angela yang mendengar itu hanyalah melakukan apa yang Hasna teriakan. Detik berikutnya.


Dor...


Dor...


Dor...


"Astaghfirullah'aladzim."


Adrian dan Angela terkejut. Namun, detik berikutnya mereka tersenyum. Borgol itu terputus karena bidikan Hasna yang tepat sasaran.


Sedangkan tembakan lainnya mengenai kaki Kenneth. "****!" umpat Kenneth sembari meringis.


"Good, sayang."


Afnan mengacungi jempol dari kejauhan dengan tersenyum. Hasna membalas itu dengan melakukan hal yang sama.


Adrian segera menuntun Angela untuk keluar terlebih dahulu. Afnan dan yang lainnya masih menumbangkan beberapa orang.


Namun, usaha Adrian sepertinya ada yang menjegal. Kenneth yang masih meringis menahan kakinya yang terkena tembakan dari Hasna, dengan susah payah ia menyusul Adrian dan Angela.


"Kembalikan, dia padaku!"


Kenneth menarik Angela hingga terpelanting. Angela jatuh menghantam Vas bunga besar. "Awsh, Honey!" teriak Angela. Ia memegangi perutnya dengan menangis, darah segar mengalir di antara paha.


"Baby!" Adrian yang sempat jatuh, ketika melihat Angela nampak meringis kesakitan, Adrian berusaha bangkit dan berlari menuju Angela namun,


Jresh!


"Allahu Akbar"


Sebuah belati menancap tepat di perut kirinya. Adrian tumbang seketika.


"Astaghfirullah'aladzim!"


"Angela dan Adrian!" seru Afnan, tepat saat orang Kenneth yang terakhir ia dapat lumpuhkan.


"Ange..." teriak Hasna. Ia segera berlari untuk menghampiri Angela.


"Na! help, perut ku sakit..."


Polisi Imron yang menyadari Kenneth tengah memegang belati yang berlumuran darah. Ia segera membidik tangan Kenneth dari kejauhan.


Dor...


Prang...


Seiring belati yang jatuh dari tangannya. Kenneth pun jatuh tersungkur.


"Adrian!"


Afnan, Daddy dan Ubaydillah segera menghampiri Adrian yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.


Keadaan sungguh sangat kacau. Beberapa orang tergeletak di sana termasuk Mark. Polisi segera mengamankan mereka. Angela dan Adrian segera di larikan ke rumah sakit.


Bersambung...

__ADS_1


Baca juga Karya Terbaru dari Author, terima kasih 👇



__ADS_2