
Setelah melewati kekacauan di hotel dan pihak musuh telah di tangani polisi. Termasuk dalang kekacauan yaitu Kenneth dan Mark, mereka telah di amankan Polisi saat ini.
Kini Adrian maupun Angela telah berada di rumah sakit. Keduanya di bawa ke ruang UGD dengan tempat tidur yang bersebelahan.
"Honey bangunlah." Bisik Angela menoleh pada suaminya di brangkar sebelah sambil tetap meringis menahan sakit pada perutnya.
Hasna dan Lintang di perbolehkan menemani Angela hingga ke dalam, karena Angela terus merintih kesakitan.
Afnan, Ubaydillah dan yang lainnya menunggu di luar ruangan dengan doa yang tidak pernah putus.
Tidak begitu lama, datanglah team dokter dan juga perawat untuk menangani mereka. Adrian segera di tangani, membersihkan luka, menghentikan pendarahan dan juga penyatuan luka akibat tusukan dengan menjahit lukanya.
Angela makin histeris karena kram yang teramat pada perutnya.
"Tahan ya Ange! Insya Allah kamu dan calon bayi kalian akan baik-baik saja." Hasna berusaha menenangkan.
"Sakit sekali Na, Lin! help me," lagi-lagi Angela memohon kepada Hasna dan juga Lintang.
"Iya, sabar Ange... kami akan berusaha menolong kamu dengan doa Ange! saat ini kamu harus di tangani dokter dahulu ya, agar rasa sakitnya sembuh," Ujar Lintang.
"Dokter tolong selamatkan janin Saya!" pinta Angela dengan suara meninggi.
"Sabar ya Nyonya Angela, Kami akan berusaha dengan sebaik mungkin." jawab Sang dokter.
Hasna dan Lintang di persilakan keluar dari ruangan tersebut. Karena dokter akan segera menangani Angela. Darah terus-terusan keluar dari tubuh Angela bagian bawah.
***
Satu jam sudah Angela berada di dalam ruang UGD, sedang di tangani oleh dokter.
"By! bagaimana kalau Angela dan calon ba--!"
"Selalu ada harapan. Jangan pesimis Sayang!" Afnan mengelus lembut bahu Hasna. Kini mereka sama-sama duduk di ruang tunggu.
Sedangkan Adrian telah di bawa ke ruangan HCU, menunggu ia siuman sebelum di pindah ke ruang perawatan. Daddy yang menemani Adrian di ruangan tersebut.
"Selamat sore. Apakah saudara ini keluarga dari Nyonya Angela?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Ia dok! kami keluarganya," jawab Afnan.
"Saya Kakaknya dok!" ujar Ubaydillah Sembari berdiri dari duduknya.
"Baik! mari bicara di ruangan saya, ada hal serius yang ingin saya sampaikan." Pinta dokter.
Ubaydillah dan Afnan pun mengangguk. Setelah berpamitan kepada para istri. Afnan dan Ubaydillah mengikuti langkah dokter menuju ke ruangannya.
Di ruangan dokter,
"Jadi begini saudara. Nyonya Angela mengalami benturan pada bagian perut, maka dari itu ia mengalami Pendarahan cukup hebat." Dokter menghela nafas sejenak.
"Lalu dok?" tanya Ubaydillah. Afnan masih duduk tenang, menyimak.
"Maafkan kami, karena kami tidak dapat menyelamatkan janin Nyonya Angela. Janin tersebut sudah dalam keadaan gugur sejak di dalam perjalanan."
"Innalilahi wa innailaihi Rodjiun. Gugur dok?" tanya Afnan.
Di dalam hati, Afnan melafal doa. Dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa dikejutkan oleh orang yang tertimpa musibah, kemudian dia mengucapkan:
("Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu, dan memberi kelebihan kepadaku atas semua yang di ciptakan-Nya dengan kelebihan yang sempurna.") Maka dia akan diselamatkan dari musibah itu bagaimanapun juga." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 3882.)
"Ya, dan sudah dari beberapa jam lalu sebelum sampai sini." Jawab dokter.
"SubhanAllah. Lalu apa yang harus kami lakukan dok?" tanya Ubaydillah.
"Mohon supportnya untuk si pasien. Sepertinya dukungan moril amat sangat di butuhkan, setelah Nyonya Angela mengetahui keadaan janinnya nanti." Ujar dokter.
"Baik dok! terima kasih atas sarannya." balas Ubaydillah.
"Mungkin sekitar dua jam lagi, penanganan terhadap Nyonya Angela oleh dokter obgyn selesai." ucap dokter.
"Baiklah, kalau begitu, kami permisi dok." Pamit Afnan dan juga Ubaydillah.
Afnan dan Ubaydillah sama-sama berdoa di dalam hati, doa mohon diberikannya kesabaran dalam menghadapi keadaan saat ini.
__ADS_1
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ۗ
Laten : Rabbanaa afrigh 'alainaa shabran watsabbit aqdaamanaa wa-anshurnaa 'alal qaumil kaafiriin(a)
Arti: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS. Al Baqarah, 2:250)
Doa mohon ketenangan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً ، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ , وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
Laten : Allahumma inni as-aluka nafsaan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.
Artinya : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridha dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu."
(Sumber: Berdasarkan hadis Nabi SAW dari Imam Thabrani dari Abu Umamah).
Mereka berdua pun segera keluar dari ruangan dokter dan kembali, menghampiri para istri di ruang tunggu.
Di ruang tunggu,
"Yank, apa yang dokter katakan?" todong Lintang karena merasa khawatir, terlebih raut wajah Ubaydillah dan Afnan nampak lesu.
"Hem, Angela kehilangan janinnya. Dia keguguran." Ubaydillah terisak pelan sembari memeluk Lintang.
"Ange... Angela keguguran? Astaghfirullah'aladzim." Lintang ikut menitikan air mata dalam pelukan Ubaydillah.
"Betul By?" Hasna ingin memastikan. Afnan menuntun Hasna untuk duduk. Kini mereka telah duduk bersebelahan.
Afnan menarik Hasna agar masuk kedalam rangkulannya. "Dari sejak di jalan tadi, janinnya sudah gugur."
"Innalilahi, Ya Allah, semoga Angela dan Adrian tabah ya By."
"Aamiin. Maka dari itu, kita terus bantu dengan doa, sayang." Ujar Afnan, Hasna mengangguk.
"Tolong sampaikan doa ini sayang, untuk Angela nanti, setelah kamu bertemu dengannya. Satu doa yang diajarkan Rasulullah ketika mendapati musibah berupa meninggalnya sosok yang dicintai. yang jika dibaca dan dipahami, akan mendapatkan ganti yang lebih baik lagi. Insya Allah," Pinta Afnan kepada Hasna.
"Ia By, lalu do'anya?" tanya Hasna pelan. Di sebrang sana Ubaydillah dan Lintang pun sudah sama-sama duduk.
Artinya: Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik." (HR: Muslim)
NB: Dengan memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah, semoga anak yang meninggal dalam perut (kandungan) bisa menjadi penghalang orang tuanya dari neraka dan semoga orang tuanya akan mendapatkan ganti yang lebih baik menurut versi terbaik-Nya.
Aamiin!! Wallahu alam bisawab.
***
Malam hari selepas Isya.
Angela sudah di ruang perawatan. "Mengapa ini harus terjadi padaku?" sesal Angela.
"Ange, tabah!" Hasna memeluk Angela.
"Sabar Ange, insya Allah ini jalan terbaik dari Allah." timpal Lintang sembari ikut memeluk Angela.
"Terima kasih Na, Lin. Kalian sudah berada di sisiku."
"Ange... kami sayang kamu, maka kami tidak akan meninggalkan kamu. Tolong tetap tegar dan kuat." Ucap Hasna.
"Insya Allah Na!" mereka kembali saling berpelukan.
"Bagaimana keadaan Ryan?" tanya Angela kemudian.
"Masih menunggu siuman Ange... Saat ini A'a Dav, A'a Ustadz dan Daddy yang menemani di ruangannya.
"Astaghfirullah'aladzim. Apa lukanya begitu dalam, hingga ia belum juga siuman?"
"katanya sih, sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja tadi sempat kehilangan banyak darah." jawab Lintang.
"Keadaan Adrian akan baik-baik saja Ange." ucap Hasna.
Hasna dan Lintang terus menyemangati dan membuat Angela agar tetap tenang.
Di ruangan HCU,
__ADS_1
Ternyata Adrian sudah sadar dari tiga puluh menit yang lalu. Ia sedang dalam pengecekan dokter. Karena keadaan Adrian di nyatakan stabil. Maka dokter memindahkan Adrian ke ruang perawatan yang sama dengan Angela, atas permintaan Ubaydillah.
***
Tempat tidur Adrian dan Angela telah sejajar di ruangan rawat inap tersebut.
"Ryan!"
"Baby!"
tangan Angela dan juga Adrian saling bertautan. Mereka sama-sama berbaring. Adrian belum boleh banyak bergerak.
"Honey! ma'afkan aku." Ucap Angela. "Calon... calon Anak kita tidak selamat!" Angela tergugu dalam tangisan.
"Astaghfirullah'aladzim. Calon anakku? maafkan Papa Nak, tidak dapat menjagamu." ucap penyesalan dari Adrian. Lalu Adrian pun menangis.
Tangan keduanya masih saling bertaut, dengan tubuh sama-sama dalam kondisi lemah.
"Kamu tidak salah Baby! Semua ini sudah menjadi takdir dan ketentuan-Nya. Jangan menangis lagi, karena aku tidak bisa memelukmu saat ini." Ujar Adrian dengan menoleh pada Angela dan tersenyum getir.
Angela pun tersenyum. "Tidak Honey, aku tidak menangis lagi koq."
"Calon anak kita sudah bahagia di sana." Ujar Adrian.
"Insya Allah." Jawab Angela.
**
Kelurga Granny baru saja tiba di rumah sakit tersebut.
"Sayang!" Granny memeluk Angela dengan tangisan.
"Babynya Ange telah pergi Granny."
"Yang terpenting, Alhamdulillah kamu dan Ryan selamat, Sayang." Ungkap Syukur Granny.
"Darl, kamu baik-baok saja kan?" Mommy Aaralyn memeluk Daddy Dadryck.
"Aku, Baik Hon!" jawab Daddy dengan menerima pelukan dari Mommy Aaralyn.
"Yan! gue turut menyesal dan berduka cita atas musibah ini." Ujar Devano yang menghampiri Adrian.
"Terima kasih Dev." balas Adrian.
Elyavira ikut duduk di sisi Angela dan memeluknya. Orang tua Adrian sedang dalam perjalanan.
Keadaan saat ini masih di selimuti dengan aura duka dan juga kesedihan. Hingga tiba-tiba telepon Afnan berdering.
"..." / lawan bicara Afnan.
"Saya sendiri, itu mobil milik Istri saya. Namun, saya yang mengendarai. Baik, Pak!" / Afnan.
"..." / lawan bicara Afnan.
"Kami akan bertanggung jawab, ya nomor polisi itu milik adik saya. namun, Istri saya yang mengendarai. Untuk itu kami yang akan bertanggung jawab. Harus malam ini juga?" /Afnan.
"..." / lawan bicara Afnan.
"Baik, besok pagi kami akan menghadap." /Afnan.
Sambungan telepon pun terputus.
"Siapa By?" tanya Hasna.
"Divisi lalu lintas. Menanyakan identitas mu, mereka telah menelpon ke ponpes dan dari pihak ponpes memberikan nomor telepon Byby."
"Jadi... secepat itu kita di tilang By?"
"Ya, besok kita harus ke kantor polisi."
"Astaghfirullah, ternyata polisi-polisi itu tidak sabaran." ujar Hasna dengan tersenyum ke arah Afnan.
"Sepertinya mereka sudah amat rindu padamu, Sayang. Kan sudah lama tuh, kamu tidak plesiran ke kantor polisi." celoteh Afnan dengan mengekeh.
"Jangan mulai By!" Hasna mencubit perut Afnan hingga meringis. Akhirnya mereka sama-sama menahan tawa. Kemudian Afnan menggenggam tangan Hasna menelusupkan tangan mereka, di balik hijab lebarnya Hasna.
__ADS_1
Bersambung...