
Dokter dengan cekatan memeriksa keadaan Roy.
Afnan dan Polisi Imron menunggu di luar. Dua orang Polisi sudah undur diri. Mereka harus mengadakan penyelidikan tentang kasus ini.
Dokter keluar dari ruangan. "Maaf! diantara Saudara berdua, siapa keluarga terdekat nya?" tanya Dokter.
"Saya Dok! dia Adik saya." jawab Afnan mantap. "Maaf, ada hal serius?" tanya Afnan Kembali.
"Heemmm, nampaknya kami harus segera mengoperasi Adik Anda! untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bagian tulang rusuk." Ucap Dokter.
"Lakukan saja Dok! mohon usahkan apapun untuk Adik saya, agar Adik saya akan tetap baik-baik saja." Pinta Afnan dengan memohon.
"Insya Allah. Kami akan melakukan yang terbaik. Mohon iringi usaha kami dengan doa. Untuk saat ini silakan Anda tanda tangani dokumen persetujuan operasi." Pinta sang dokter.
"Tentu Dok."
***
Setengah jam sudah. Roy berada di ruang operasi. Afnan dan Polisi Imron masih menunggu di depan ruang operasi. Ubaydillah dan Devano nampak baru keluar dari lift hendak menghampiri Afnan dan polisi Imron. Sepuluh menit yang lalu, Polisi Imron menelpon Ubaydillah untuk menemani mereka.
Hasna yang sudah tahu pasti mengenai kabar Roy. Ia rasa perlu untuk menelpon Dias dan keluarganya.
"Astagfirullah! Apa Kak? Abang tertembak dan sekarang sedang berada di ruang operasi?" / Dias.
"Iya Dek! sabar. Kakak mohon doa untuk nya, agar masa kritis nya dapat terlewati dengan mudah." / Hasna.
"Insya Allah Kak! Iyas mau ke sana sekarang. Tapi Buna dan Papi, baru saja berangkat ke keluar kota." / Dias.
"Kalau mau ke sini. Iyas Izin dengan Buna dan Papi. Lalu, kamu pakai supir Dek, jangan nyetir sendiri." / Hasna.
"Tentu Kak! terima kasih atas info nya. Iyas siap-siap. Assalamu'alaikum."/ Dias.
"Sama-sama. Wa'alaikum salam." / Hasna.
Hasna mengakhiri panggilan telepon nya. Ia kembali menghampiri Afkha yang sedang ikut bershalawat dengan Abi Kyai.
"A'a ma'em yah! kan mau minum obat lagi." ucap Hasna.
"Baik Ima."
"A'a mau duduk di pangkuan Mimma?" tanya Hasna kembali.
"Kalau begitu, Umma yang suapi, A'a duduk di pangku." Umi pun berinisiatif.
Afkha mengangguk. Abi Kyai segera mengangkat pelan Afkha lalu meletakkan dengan duduk miring ke dalam pangkuan Hasna. Umi sudah siap dengan mangkuk bubur di tangan nya.
"Terima kasih Abi." ucap Hasna, setelah Afkha duduk dengan nyaman dalam pelukan nya.
"Sama sama, Neng!" suara ngebas dan berwibawa nya pak Kyai dengan tersenyum.
"Ima, A'a lindu Biyya." Bisik Afkha. Hasna tersenyum.
"Nanti ya sayang. Mimma pun rindu. Akan tetapi, ada hal yang lebih penting bagi Biyya untuk saat ini." Balas Hasna.
"Hal penting apa?" tanya nya dengan polos.
Hasna menghela nafas, lalu ia saling pandang dengan Umi dan Abi yang berada di hadapan nya. Abi Kyai mengangguk. Pertanda harus menceritakan apa yang terjadi dengan Roy.
"Hemm.... Om Roy, tertembak sayang! tepat nya di tembak paman nya sendiri. Dan saat ini sedang di operasi."
"Innalilahi. Semoga Om Loy baik-baik caja dan semoga Allah mengampuni Paman nya Om Loy!" ucap Afkha.
"Aamiin." Serempak.
"Ima ....," suara Afsha memanggil Hasna. Ia baru saja bangun dari tidur nya.
"Sayang. Mari di duduk dekat A'a, maaf Mimma belum dapat memangku Dedek yah!"
"Ia Ima, Dedek mengeyti. A'a cudah baikan?" tanya Afsha.
"Alhamdulillah, Sudah Dek!" jawab Afkha.
"Dedek dengan Abba saja yuk! ke lantai bawah beli makanan," tawar Abi Kyai.
"Boleh Abba!" ucap Afsha begitu sumringah.
"Abang, juga ikut. Abba!" Arsya tiba-tiba saja keluar dari ruang sebelah bersama Lintang.
__ADS_1
"Tentu sayang. Umma harus ikut nih seperti nya. Nai mau ikut juga?" tanya Abi Kyai.
"Nai, macih Bobo Abba," jawab Arsya.
"Biarkan saja, nanti kalau Nai bangun lalu hendak menyusul. Kami yang akan mengantar nya. Untuk saat ini Rama Yayi dan Umi Nyai silakan lebih dulu ke lantai dasar." Ucap Daddy Dedryck.
"Sini Mi. Biar Lilin yang meneruskan menyuapi A'a." Pinta Lintang.
"Baiklah kalau begitu, ma'em A'a juga sisa sedikit koq, sayang! kami ke lantai dasar dulu." Pamit Umi kepada Hasna dan Lintang. Setelah Umi memberikan mangkuk berisi bubur kepada Lintang.
"Silakan Umi." Jawab serempak kedua nya.
Setelah mereka berpamitan dengan berucap salam. Maka Abi Kyai, Umi, Afsha dan Arsya pun pergi ke lantai dasar rumah sakit.
Di ruang Operasi.
"Dok! kesetabilan pasien menurun. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah. Kita butuh transfusi darah secepatnya." Ucap sang Asisten Dokter.
"Tenang! ini bukan pertama kali, kita menangani pasien kritis karena kekurangan darah." Balas Dokter.
"Tapi Dok! darah pasien ini langka! di Bank darah rumah sakit ini, sepertinya tidak memiliki persediaan golongan darah macam ini. Yang saya tahu, di Bank darah milik rumah sakit kota sebelah, ada satu kantung, atau mungkin untuk saat ini sudah tidak tersedia lagi!" sambung asisten dokter lain nya.
"Memang apa, golongan darah nya?" tanya dokter.
Para asisten pun saling pandang. Lalu dari salah satu asisten tersebut menjawab.
"Rh-null!"
"Astaghfirullah'aladzim. Golden Blood! Golongan darah yang paling kami takutkan untuk di temui, ketika operasi." ucap frustasi sang dokter. Ia memias seketika.
Sang asisten menyentuh bahu sang dokter untuk menguatkan dan meyakinkan, akan pastinya pertolongan dari Allah.
Sang dokter mengangguk yakin pada akhirnya. Ketakutan itu harus di hadapi. Ini adalah persoalan pelik, kali pertama baginya dan team. Ujian terberat dalam sejarah perbedahan sang dokter dalam kurun waktu tiga puluh tahun yang ia telah jalani.
"Ya Allah! tolong kami. Di akhir masa tugas ku, ini Ujian terberat yang harus di hadapi. Orang ini harus kami selamatkan. Tolong lah ya Rab! walaupun di dunia di prediksi hanya ada empat puluh orang yang memiliki golongan darah ini. Namun dengan kekuasaan mu, tidak ada yang tidak mungkin. Hamba percaya pada kebesaran dan pertolongan serta mukjizat mu. Walaupun hanyalah Rasul Mu- yang mendapat gelar Ulul Azmi yang mendapat mukjizat, karena bagi manusia biasa tidak pantas di sebut mukjizat, yang pantas hanyalah keajaiban." ucap Dokter dengan memohon penuh pengharapan.
Sedikit pengetahuan: Ulul Azmi adalah; Gelar kehormatan yang di berikan kepada lima Rasul Allah. Ulul Azmi artinya orang-orang besar. Dari dua puluh lima Rasul, yang wajib kita ketahui, ada lima rasul yang diberi gelar Ulul Azmi. Mengapa seperti itu?
Ket; Disebut ulul azmi, karena mereka banyak mengalami berbagai cobaan dan penderitaan ketika
menyampaikan ajaran Allah. Oleh karena itu, atas ketabahan dan kesabaran mereka, Allah menganugerahi mereka gelar Ulul Azmi.
Nabi Muhammad SAW
(Peristiwa Isra mi'raj dan di beri keistimewaan yaitu kitab suci Al-Qur'an, sebagai pedoman umat Muslim dunia).
Nabi Isa AS
( Dapat menghidupkan yang mati, atas izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam. Mukjizat untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.
Dia (Isa) berkata ; "Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi." (QS Maryam ayat 30).
Nabi Musa AS
(Tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Tongkat Nabi Musa dapat membelah Laut Merah sehingga dapat diseberangi. Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.)
Nabi Ibrahim AS
(Mukjizat Nabi Ibrahim AS adalah tidak hangus terbakar api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrub. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.)
__ADS_1
Nabi Nuh AS
(Nabi Nuh AS, dapat membuat perahu besar atas Izin Allah.
Perahu Nabi Nuh dapat dinaiki makhluk beriman dan menyelamatkan dari banjir besar.)
Para asisten ikut mengaminkan.
"Coba hubungi Bank darah, rumah sakit kota tetangga, semoga mereka memiliki golongan darah ini." Pinta dokter pada asisten.
"Baik dok, segera!"
"Kabarkan juga kepada keluarga nya, mengenai hal ini. Kalau saudara ini memiliki golongan darah Rh-null, semoga salah satu dari keluarga nya, memiliki golongan darah yang sama."
"Baik Dok!"
Sang Asisten Dokter pun keluar ruangan, untuk mencari darah yang harus segera di transfusi pada tubuh Roy. Karena operasi masih berjalan. Ia amat bersyukur, di Bank darah rumah sakit sebelah, memiliki satu kantung darah yang di butuhkan. Ia tinggal berjuang mencari kekurangan nya.
"Keluarga pasien!"
"Saya Dok," Afnan segera menghampiri asisten dokter. Ketika merasa di panggil.
"Bagaimana dok, operasi nya?" tanya Afnan. Ubaydillah pun ikut menghampiri.
"Operasi masih berjalan. Namun, pasien kehilangan banyak darah dan kami harus segera mendapatkan darah untuk transfusi." jawab Asisten Dokter.
"Tidak mengapa Dok! lakukan saja, berapapun kantung darah yang di butuhkan, tidak masalah. Kami akan menanggung biaya nya." ucap Afnan penuh pengharapan.
"Bukan! bukan masalah itu Saudara! karena darah transfusi itu gratis."
"Lantas?" tanya Ubaydillah.
"Rh-null! pasien memilki type Rh-null. Golongan darah yang sangat langka."
"Astaghfirullah'aladzim. Apakah di rumah sakit ini tidak memiliki persediaan, golongan darah macam itu?" tanya Afnan.
Asisten dokter hanya menggeleng. "Alhamdulillah, di Bank darah kota sebelah ada! dan pihak rumah sakit kami, sedang mengambil nya. Namun hanya satu kantung dan tidak akan cukup. Minimal kami butuh lima hingga enam kantung."
"Kami akan membantu mencari. Atas Izin Allah, Insya Allah kami akan mendapatkan nya." Ucap Afnan yakin. "satu kantung dapat bertahan berapa lama?" tanya Afnan Kembali.
"Kantung darah biasanya harus habis kurang dari empat jam. Dihitung dari mulai keluar dari penyimpan. Namun proces transfusi tergantung dari kebutuhan darah si pasien." Jawab pasti Asisten dokter.
"Baik! kami akan berusaha dari sekarang untuk mencari golongan darah yang sama." Ujar Afnan.
Asisten dokter segera kembali ke dalam ruangan operasi.
Afnan menelpon Zainal agar memeriksa santri di ponpes, yang memiliki golongan darah tersebut.
"Astaghfirullah! dari ribuan santri, tidak ada satu pun golongan darah yang sama?" / Afnan.
Kini ia sedang menerima telepon dari Zainal yang sedang berusaha mencari golongan darah yang cocok untuk Roy.
("......") / Zainal.
"Baik! tolong bawa saja Mami nya Roy ke sini. Katakan apa yang terjadi dengan putranya."/ Afnan.
("......")/ Zainal.
"Ana dengar, Mami Roy ada yang menemani, Iqbal dan Istri nya? kalau ia! ajak serta mereka agar mendampingi Mami Roy!"/ Afnan.
(".....") / Zainal.
"Insya Allah. Wa'alaikum salam." / Afnan.
"Bagaimana Dek, Dev, Akhi?" Afnan berharap lebih kepada Ubaydillah, Devano serta Polisi Imron.
"Nihil A'a Bro!" Ubaydillah telah menelpon para pekerja, namun tidak ada yang memiliki golongan darah itu.
"Tidak ada juga Bang!" Devano pun tidak berhasil menemukan golongan darah tersebut.
"Satu rekan dan kawan lain nya. Termasuk kawan jalanan. Mereka tidak ada yang memiliki golongan darah tersebut!" Polisi Imron nampak kecewa.
__ADS_1
"Astaghfirullah'aladzim. Ya Allah, tolong Roy!" gumam Afnan dengan bersandar lesu.
Bersambung ....