
"Kembali Nak!"
"Kembali Nak!"
"Kembali lah!"
Roy berdiri membeku. Roy bergeming di tempat nya semula. Ia berpakaian serba putih, rambut gondrong, sebahunya tergerai begitu saja.
Sejak Roy tinggal di pesantren dari beberapa bulan lalu. Ia yang biasanya memangkas rambut nya dengan pendek, kali ini Roy membiarkan nya tumbuh panjang, hingga menyentuh bahu nya.
"Pergilah! itu Ibu mu! kau belum saat nya meniti anak tangga ini!" Seorang kakek yang juga berjubah putih dan berjenggot putih panjang menjuntai hingga ke arah kaki nya, menyuruh Roy pergi.
Roy pun menuruti perintah si Kakek. Ia berjalan perlahan, suara riuh Anak-anak makin menghilang, tangga yang tinggi pun sudah tidak ada. Kini keadaan seperti di sebuah taman terhampar rumput hijau nan asri.
Roy mengikuti langkah satu orang wanita paruh baya, yang tidak dapat ia lihat dengan jelas, wajah nya. Di sisi lain seorang wanita lebih mudah menghampiri wanita paruh baya itu. Ia menoleh sejenak kepada Roy dengan tersenyum. Lalu ia berjalan dan semakin menjauh.
"Tunggu!" ucap Roy penasaran. Namun sebuah hantaman pada tubuh Roy menghempaskan nya. Bagai jutaan cahaya membawa tubuh Roy melewati lorong yang entah apa namanya. Gelap! itu yang Roy rasakan pada akhirnya. Hingga mulut Roy bergumam dengan mata tetap tertutup.
"Tunggu! Mam-Mami!"
"Mam!"
Jiwa Roy yang sempat terombang-ambing berada di alam cahaya pun kembali membaur dengan raganya yang terbaring lemah di atas berangkar rumah sakit.
Jari-jari Roy yang sempat membeku kini bergerak perlahan. Dias yang sedang berdzikir di dekat sofa namun matanya mengarah ke arah Roy. Ia menyadari jari-jemari Roy bergerak.
"Abang!" pekik Dias. Ia bergegas menghampiri Roy, dengan mukena yang masih ia kenakan.
"Ada apa Nak?" tanya Mami Roy.
"Jari Abang bergerak Tan!"
"Masya Allah. Betulkah?" Mami Roy pun ikut berdiri dan menghampiri Roy. "Tidak sayang! tidak ada pergerakan apapun. Mungkin hanya halusinasi saja."
"Tidak! Iyas yakin, tadi Abang bersuara dan jarinya bergerak! Abang, bangun Bang! Abang bangun!" Dias histeris, terbawa perasaan sesak penuh harap.
"Abang bangun! Abang jahat! Abang bohong. Bangun Bang! bangun!" karena terbawa emosi, tanpa sadar Dias meraih tangan Roy, ia menangis dan mengecup nya dengan pilu. Air matanya berjatuhan dan membasahi punggung tangan Roy.
Mami Roy berusaha mencegah nya. Namun Dias menepis dengan kasar. Hingga suara berat dan lemah dari Roy menghentikan tangisan Dias.
"Hai calon Makmum. Aku belum mati! tak perlu di tangisi." ucap Roy lirih dengan seringai yang di paksakan di balik masker oksigen.
Dias mendongakan wajah nya. Untuk memastikan bahwa itu Roy yang bicara. Tangan Roy masih ia genggam.
"Abang! A-abang sungguh itu kamu? Alhamdulillah, akhirnya Abang sadar!" pekik Dias dengan sumringah.
Roy tersenyum lemah. "Aku baru kembali dari ambang kematian. Jangan biarkan aku bersyahwat karena genggaman tangan mu."
__ADS_1
Roy kembali berucap dengan lemah. Lebih mirip bergumam.
"Astagfirullah'aladzim. Maaf!" Dias melepaskan tangan Roy. Wajahnya memerah. Malu nya bukan main. Ia kepergok si empunya tangan sedang menggenggam nya erat.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar sayang! Mami takut kamu akan ....!"
"Ssstt! tidak Mih!"
"Iyas, akan memanggil dokter." Setelah di anggukan kepala oleh Mami Roy. Dias segera memanggil dokter.
**
Tiga jam kemudian. Roy sudah di nyatakan sadar dengan kondisi stabil. Afnan, Ubaydillah dan Hasna serta Lintang sudah berada di ruangan Roy. Begitupun dengan orang tua nya Dias yang dalam beberapa hari ini tinggal di rumah kayu milik Afnan dan Hasna. Kini mereka sudah berada di ruang rawat Roy.
"Alhamdulillah. Akhirnya Akhi sadar Roy." Afnan berucap syukur.
"Alhamdulillah Bang Usatdz, Allah masih memberikan kesempatan, agar aku melanjutkan taubat kepada-Nya." Jawab Roy.
"Selamat kembali ke Dunia Roy," ucap Ubaydillah.
"Terima kasih Bang Ustadz Ubay." Roy tersenyum.
"Alhamdulillah. Kamu sudah sadar Nak! Kami sudah berada di sini berhari-hari karena permintaan Iyas. Sebab saat kini, kamu sudah sadar. Maka seperti nya kami dapat kembali ke Jakarta dengan tenang." Ujar Papi Dias.
"Terima kasih banyak Om, Tante, Dias! sudah meluangkan waktu untuk menjaga saya. Mami telah menceritakan nya, Saya amat bersyukur di kelilingi orang orang Shalih dan Shalihah." Roy terharu.
"Abang ....!" panggil manja Dias, ia mirip Anak-anak yang sedang merajuk minta mainan.
"Abang lupa?"
"Tentang?"
"Tentang .... ah sudahlah! mungkin aku terlalu terburu-buru. Abang baru juga sadar," ucap Dias. Ia menyimpan kembali harapan nya.
Roy tersenyum. "Om! boleh saya bicara?" tanya Roy kepada Papi Dias. Roy tidak ingin membuang waktu lagi untuk nya mempersunting Dias.
"Silakan Nak!"
"Om, Tante! jika masih ada kesempatan. Roy ingin menikahi Dias, namun Om berhak menolak dengan keadaan Saya yang seperti ini." Ujar Roy.
Seisi ruangan tersebut saling pandang dan tersenyum. Yang paling terkejut mungkin Dias. Namun di dalam hatinya amat berbunga-bunga.
"Hem! bagi Om, semua Om serahkan kepada Putri Om, kan ia yang akan ....."
"IYAS, MAU!"
Belum pun Papi nya selesai bicara, Dias sudah memangkas dengan sebuah jawaban, membuat yang berada di dalam ruangan tersebut tergelak.
__ADS_1
"Yas! Yas! antusias sekali." Goda Hasna. Dias tersenyum salah tingkah.
"Kamu sudah tahu jawabannya Roy. Maka dari itu, Om pun merestui kalian! lalu, Buna?" Papi Dias bertanya kepada Buna nya Dias.
"Kalau Buna sih ikut saja. Selama, Iyas bahagia." Akhirnya mereka lega dengan jawaban Buna nya Dias.
"Dias, bersedia kah menjadi Makmum ku? orang yang jauh dari kata sempurna. Bahkan, aku baru belajar berhijrah menjadi orang yang terlihat baik dan kali ini, aku malah akan menjadi beban dalam beberapa hari kedepan karena keadaan ku." Ungkap Roy.
"Tentu, Abang! Iyas bersedia menjadi makmum nya Abang. Iyas tidak perduli dengan keadaan Abang. Iyas menerima keadaan Abang lillahita'ala, dengan kondisi apapun. Yang Iyas tahu, Abang mau berhijrah di jalan Allah dan belajar untuk lebih baik saja, itu sudah cukup." Jawab Dias dengan yakin.
"Ini cincin yang Abang titip melalui A'a Ustadz, apakah betul, ini cincin untuk meng-Khitbah Ku?" tanya Dias sembari menyodorkan kotak berisi cincin yang ia terima dari Afnan tempo hari, sebagai titipan dari Roy.
"Betul, itu Cincin yang ku titipkan kepada Bang Ustadz. Sebelum kejadian penculikan, Aku memang hendak ke Jakarta untuk meng-Khitbah mu. Namun Allah berkehendak lain. Aku malah terbaring di sini." Jawab Roy.
"Abang memberikan cicin itu, bertepatan dengan tanggal, di mana, kamu berniat ke Jakarta untuk meng-Khitbah Iyas, Mami mu yang memberikan nya langsung Roy." Afnan memberi sebuah kejelasan.
"Iya Nak! Mami yang memberikan nya dan Iyas serta orang tua nya telah menerima. Untuk saat ini, Dias adalah Makthubah untuk mu." Mami Roy membenarkan. Orang tua Dias pun ikut mengiyakan.
"Alhamdulillah. Terima kasih!" Roy merasa terharu.
"Bang! jika Abang sudah siap. Iyas Ingin .... kita menikah pada hari ini juga. Iyas mau merawat Abang tanpa jarak." Dias menyampaikan keinginannya dengan malu.
"Yakin?" tanya Roy terkejut. Begitupun dengan orang tua Dias. Mereka pun merasa terkejut dengan permintaan Putri nya.
"Insya Allah." Dias mengangguk dengan tersenyum.
"Bungkus Roy!" ledek Ubaydillah.
"Ayank apa sih!" protes Lintang.
"Hehe! season sweet mendebarkan ini Yank!" jawab Ubaydillah dengan mengekeh.
"Mangga, Roy! di jawab," pinta Afnan.
"Hem, lebih cepat, lebih baik! saya tidak mau berkhalwat yang akan menimbulkan syahwat dengan hasil akhir maksiat." Jawab Roy dan itu sudah merupakan suatu jawaban.
"Jadi, Abang?" Dias ingin lebih yakin dengan ucapan Roy.
"Aku siap, untuk menikahi mu hari ini juga." Ucap Roy tegas.
"Alhamdulillah!"
Ucap serempak yang berada di ruangan tersebut. Termasuk orang tua Dias. Nampak nya mereka ikhlas atas keinginan Putrinya.
"Bagaimana, jika Ba'da Ashar, Roy?" tanya Afnan.
"Baiklah Bang! Aku mohon bantuannya, untuk membawa penghulu dan saksi ke sini." Ujar Roy.
__ADS_1
"Insya Allah!"
Bersambung ....