
Satu jam berlalu.
Mami nya Roy pun telah tiba di rumah sakit. Ia nampak tegar, walaupun mengetahui Putranya tengah kritis di dalam ruang operasi.
"Tante ....! kami sudah berusaha mencari darah yang Roy butuh. Namun hasil nya nihil." Afnan berbicara selembut mungkin.
"Hemmm .... Papi nya, memiliki golongan darah yang sama. Namun, Tante sudah pernah berjanji tidak akan menemui, apalagi meminta apapun darinya. Sejak ia menceraikan Tante begitu saja, dua tahun lalu dan keluarga nya bertindak semena-mena terhadap kami." Pungkas Mami nya Roy. Afnan tercengang dan bingung. Ia baru tau, masalah ini.
"Maaf Tante! akan tetapi ini, berhubungan dengan nyawa putra nya." Ubaydillah ikut bicara.
"Roy yang meminta untuk tidak berhubungan serta meminta apapun kembali pada Papi nya." Mami nya Roy meneteskan air mata.
"Baik! saya dapat membantu kalian, jika saya yang meminta nya, bukan kah tidak melanggar janji kalian?" Polisi Imron berinisiatif.
"Nak?" Mami nya Roy menatap polisi Imron dengan haru.
"Saya polisi. Insya Allah dapat membantu, berdoa saja, agar Papi Roy sehat dan dapat mendonorkan darah nya." Tukas Polisi Imron.
"Aamiin!"
"Baik, kalau begitu Ana pergi Ustadz. Agar darah itu segera di dapat." Polisi Imron pun berpamitan dari tempat itu.
"Toyib! Syukron Akhi."
Setelah berucap salam, Polisi Imron pun meninggalkan ruangan tersebut.
Kembali hening ruang tunggu tersebut. Hingga suara Afnan memecah keheningan.
"Dek, Zain, Dev, Tante, Iqbal dan ....?" tanya Afnan kepada Istrinya Iqbal.
"Sheilla Az-Zahra, panggil saja Zahra Ustadz." Jawab istrinya Iqbal.
"Baik Zahra. Saya pamit sebentar, hendak menemui Putra, Putri dan Istri saya!" ucap Afnan.
Sheilla mengangguk takzim. Setelah mengucap salam, dan menitipkan keadaan di tempat itu kepada Ubaydillah, Afnan pun berlalu dan bergegas ke lantai empat, tempat dimana Afkha di rawat.
Iqbal dan Zahra.
**
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam," jawab. serempak dari dalam.
"Biyya." Afkha yang masih berada di dalam pangkuan Hasna begitu sumringah melihat Biyya nya baru saja masuk dalam keadaan baik.
__ADS_1
"Sayang! bagaimana keadaan nya?" Afnan mengecup kening Afkha lalu pindah ke kening Hasna. Setelah ia bersalaman dan menyapa anggota keluarga lainnya. Abi Kyai dan Umi, nampaknya belum kembali ke kamar tersebut.
"Alhamdulillah, A'a baik-baik caja Biy!" Afkha tersenyum.
"Hanya saja, Mimma tidak tega, A'a harus bobo miring terus! maka dari itu, lebih baik Mimma pangku, By!" ucap lirih Hasna dengan cairan bening mengambang di pelupuk matanya.
"Hemm," Afnan tersenyum seraya membelai kepala Hasna.
"Terima kasih, Mimma Sayang! sini Biyya yang ganti memangku, sebelum waktu Ashar tiba dan Biyya harus kembali ke ruang tunggu operasi." Ujar Afnan.
Hasna tersenyum. Dengan hati-hati mereka bergantian memangku Afkha. Lintang serta Elyavira, nampak bercengkrama dengan keluarga lainnya, di sofa yang bersebrangan dengan mereka.
"Alhamdulillah! Sudah sayang, A'a silakan bobo, Biyya akan menemani." terdengar kelegaan dari Afnan yang kini sudah duduk bersandar di atas tempat tidur Afkha.
Afnan sangat bersyukur, ia dapat kembali memeluk buah hati nya. Walaupun pikiran nya masih tertuju pada Roy dan hati nya tidak henti bertasbih, memohon keselamatan untuk Roy.
"Dek Sha, mana?" tanya Afnan, karena ia tidak melihat putrinya.
"Ke lantai dasar bersama Umi dan Abi serta Abang! mencari makanan katanya sih. Mungkin mencari angin juga By!" jawab Hasna.
"Oh, sudah lama?"
"Kurang lebih, satu jam yang lalu." Jawab Hasna. "Biyya sudah ma'em?" tanya Hasna. Afnan menggeleng. Pertanda belum.
"Ya Allah By! dari pagi belum ma'em?" Pekik Hasna, terkejut plus khawatir.
"Ssstt! tidak perlu bergaduh. Ada hal yang lebih penting daripada rasa lapar ini, sayang?" Afnan berkata seperti biasanya. Lembut dan menenangkan. Ia meraih telapak tangan Hasna dan menautkan jari-jari mereka.
"Nyawa Roy sedang di ujung tanduk!" jawab Afnan pelan.
"Astaghfirullah! Bukan nya Roy sedang di tangani oleh dokter?"
"Betul! akan tetapi ....!"
"Maaf By, Nana potong sebentar! bercerita sembari Nana suapi yah! ada ayam bakar, Kak Ubay yang beli, tadi." tawar Hasna.
"Baiklah! Byby Ingin di suapi oleh jari tangan mu langsung." Pinta Afnan dengan berbisik.
"Hemmm, tentu Byby sayang!" Hasna tersipu malu. Afnan menarik gemas dagunya di balik niqab. Afkha seperti nya mulai terlelap dengan nyaman dalam pangkuan Afnan.
Sembari menceritakan keadaan Roy. Akhirnya Hasna menyuapi Afnan makan, langsung dengan jari tangan nya, sesuai permintaan Afnan.
Kejahilan sesekali berlaku. Ketika jari nya masuk ke mulut Afnan. Terkadang Afnan menggigit nya pelan. Atau menghisap nya dengan mengedipkan mata. Karena malu dengan kelurga lain nya. Hasna akan pura pura kesal, dengan memelototi Afnan dan Afnan akan mengekeh.
**
Alhamdulillah! Setelah hampir lima jam, Roy sudah selesai di operasi, kini ia sudah berada di ruangan ICU. Dias masih di dalam perjalanan. Afnan sempat tertidur sebentar sembari memangku Afkha. Dengan usaha polisi Imron. Darah untuk Roy pun telah ia dapatkan. Roy masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Pukul tujuh malam, Dias telah sampai di rumah sakit.
"Di mana Abang? bagaimana keadaan nya,Tan?" tanya Dias kepada Mami nya Roy dengan khawatir, setelah ia sampai.
"Sayang! Roy ada di dalam ruangan ICU, kondisi nya, masih belum sadarkan diri. Tante mohon, Iyas Sabar yah."
"Insya Allah Tan! Iyas sabar dan akan ikut menjaga Abang di sini." Ucap Dias.
"Tapi .... Maaf! Iyas tidak akan dapat dekat dan menyentuh nya. Roy pasti tidak akan mengizinkan hal itu terjadi, Kalian bukan mahram." Ucap lembut Mainnya Roy.
"Iyas tahu itu Tan! namun setidaknya izinkan Iyas untuk dekat dengan nya, walaupun berjarak." Pinta Dias dengan penuh pengharapan.
"Asalkan, orang tua mu, sudah menyetujui nya," tukas Mami nya Roy dengan tersenyum.
"Insya Allah. Mereka sudah menyetujui nya Tan! Tadi Iyas sudah Izin."
**
Jam berlalu, hari berganti. Dua belas hari sudah, Roy masih terbaring di ruang perawatan VVIP setaraf ICU, masih belum sadarkan diri.
Sedangkan Afkha sudah pulih dan boleh pulang dari lima hari yang lalu. Afnan, Ubaydillah, Devano, Adrian dan Iqbal akan bergantian menemani Roy kala malam hari, siang hari Roy akan di temani Mami nya dan Dias, sesekali Hasna dan Lintang akan berada di sana.
Sore ini, Dias merasa amat hampa, Roy belum juga menunjukkan tanda-tanda membaik. Dias meneteskan air mata, sembari membaca Ayat suci Al-Qur'an di sisi tempat tidur Roy. Satu minggu lalu, Roy sempat kejang dan dokter khawatir pecah pembuluh darah. Namun, rupanya ia alergi obat yang di suntik lewat infusan.
"Abang, cepatlah sadar. Abang pernah berjanji hendak meng-Khitbah Iyas. Bukankah janji itu adalah hutang? apakah Abang, mau mengingkari janji itu?" tanya Dias. Tidak ada respon apapun dari seorang Roy yang mamang masih koma.
"Lalu .... bagaimana pertanggung jawaban Abang , di hadapan Allah?" tanya Dias, seperti bertanya kepada orang yang tengah berbincang dengan nya.
"Mungkin Aku ini egois, Abang. Namun tidak ada yang salah dari perasaan ini. Aku ingin menikah dengan mu, semata karena ibadah. Andai Abang saat ini sudah halal untuk ku. Maka aku akan dengan iklas merawat mu tanpa ada jarak."
"Iyas sudah menerima cincin yang Abang berikan untuk meng-Khitbah Iyas. Aku tidak berani menyentuh nya. Sebagai mana Abang katakan. Kita akan dapat saling bersentuhan ketika halal. Begitu pun cincin ini. Aku ingin Abang yang menyematkan nya di jari ku! Abang, kembali lah di tengah-tengah kami." Dias menangis, ia hanyalah mampu memandangi Roy, diiringi dengan doa. Tanpa dapat menyentuh nya sedikit pun.
Di ruangan itu Dias di temani Mami Roy. Namun Mami Roy nampak kelelahan dan ia tertidur dengan posisi duduk di sofa dengan Al-Qur'an juga di pangkuan nya.
"Astaghfirullah." Dias menghela nafas nya, ketika ia mendengar kumandang Adzan Dzuhur. Dias segera berdiri dari bangku nya, untuk mengambil wudhu dan membangunkan Mami Roy. Namun tubuh nya terasa limbung.
"Astaghfirullah'aladzim! kepala ku!" Dengan terpaksa Dias berpegang di sisi besi berangkar Roy. Dias memejamkan mata untuk sesaat. Tanpa ia sadari tetesan air mata nya jatuh tepat pada permukaan kulit tangan Roy yang memang berada di sisi besi pembatas tempat tidur.
Dias berhasil menguasai diri. Ia segera berjalan dengan perlahan ke arah sofa dan membangunkan Mami Roy.
Setelah Mami Roy bangun. Mereka mengambil wudhu lalu shalat berjamaah masih di dalam ruangan tersebut.
Di alam bawah sadar Roy.
Sudah dari beberapa hari lalu, Roy di kelilingi orang orang berpakaian jubah putih. Namun wajah mereka tidak jelas. Ada orang tua, wanita dan Pria. Ada pula Anak-anak yang Roy sering ajak berlari lari di sebuah taman yang indah nan asri. Taman beserta orang-orang nya, nampak bercahaya. Namun ada sesuatu yang mengganjal Roy, mengapa ia tidak kunjung ikut para orang tua menaiki tangga entah menuju ke mana!
Roy dapat melihat ada yang mudah menaiki tangga tersebut. Ada yang sulit. Ia hanya mampu mengamati nya. Tiap kali ia hendak meniti anak tangga. Ada sosok yang menatap nya nanar penuh harap agar ia kembali dan Roy selalu mengurungkan niat nya. Namun seseorang itu akan menghilang jika Roy hampiri.
__ADS_1
Namun tidak untuk kali ini. Roy sudah bersiap meniti anak tangga yang nampak mengambang dan menjulang tinggi menembus langit. Perlahan namun pasti Roy berpijak pada anak tangga pertama. Namun langkah Roy seperti ragu pada pijakan kedua.
Bersambung ....