
Alhamdulillah acara Khitanan hari ini lancar. Setelah Ubaydillah menyampaikan pembuka penyambutan. Maka kini Afnan telah usai menyampaikan penutup dari pihak ponpes.
"Ya Allah, ini adalah sunnah-Mu dan sunnah nabi-Mu, semoga rahmat tercurah padanya dan keluarganya, dan kami mengikuti nabi-Mu, dengan kehendak-Mu dan qadha-Mu karena suatu hal yang Engkau inginkan, karena suatu hal ketentuan yang Engkau tetapkan, karena suatu perkara yang Engkau laksanakan, dan Engkau merasakan padanya panasnya besi dalam khitan dan bekam nya karena suatu perkara yang Engkau lebih tahu dari aku."
"Alhamdulillah Bapak, Ibu atas izin Allah, acara khitanan hari ini selesai sudah. Semoga dengan membaca doa khitan anak di atas, maka Insya Allah keturunan kita, menjadi penerus agama Islam yang Shalih dan Istiqamah di masa depan. Aamiin ya Mujibassailin." Ucap penutup Afnan di lanjutkan dengan penutup sambutan dan salam penutup pula.
Malam hari,
Orang tua Hasna baru sampai di ponpes pada waktu yang hampir bersamaan. Begitupun orang tua Lintang. Granny, Grandad, Daddy Dedryck dan Mommy Aaralyn pun baru tiba pada malam hari ba'da Isya, karena mereka berencana menginap di ponpes Hubbul Wathan.
"Masya Allah. Koq sampai nya dapat bersamaan begini?" tanya Papi Lintang.
"Iya nih, padahal kita tidak janjian ," jawab Dady Dadryck.
"Itulah jodoh," Granny tersenyum.
"Mungkin juga," Papa Hasna ikut menimpali dengan tertawa kecil.
"Mari sama-sama ke rumah utama," ajak Grandad.
"Mari, silakan yang sepuh terlebih dahulu," ucap Papi Lintang.
"Terima kasih," ucap Granny dan Grandad.
Mereka pun akhirnya jalan beriringan menuju rumah utama. Di Mesjid ponpes seperti biasanya, masih ramai dengan berbagai kegiatan kajian.
Setelah sampai rumah utama, mereka di sambut hangat.
"Mama, Papa!" Hasna menyambut dan memeluk orang tuanya dengan kebahagiaan.
"Apa kabar sayang?" tanya Papa nya. "Alhamdulillah Nana baik Pah!"
"Sayang! Mama rindu," Mama Hasna pun mencurahkan kerinduan nya pada Hasna.
Lalu di susul Vinny, Adik nya Hasna yaitu Almira yang kini sudah berusia sekitar 9 tahun.
"Nana sayang!" ucap Vinny sembari memeluk Hasna. "Mama Vinny, Mira." Mereka pun berpelukan.
"Kak Nana," sambut Almira. Seterusnya mereka bergilir saling bersapa.
"Lho Dias!" Pekik Hasna ketika ia melihat adik sepupu nya turut serta beserta Papa nya baru saja hendak masuk dan masih di depan pintu. "kak Nana! Dias rindu." Ucap Dias.
"kak Nana pun, masuk yuk!" ajak Hasna. Mereka pun masuk ke dalam rumah utama.
"Biyya, Umi, Abi,Kak Ubay, perkenalkan ini Adik sepupu nya Nana, Nama nya Dias." Hasna memperkenalkan Dias pada Anggota keluarga Afnan.
"Yas, ini suaminya Kak Nana, Usatdz Afnan. ini Abi Kyai, ini Umi nyai dan Ini Adik nya suami Kak Nana, Namanya Ustadz Ubay. Nah ini Istri nya." Hasna memperkenalkan mereka para Dias.
"Assalamu'alaikum. saya Dias!" Sapa Dias sopan. "Lho ini Mbak Lintang, kan? Sahabat nya Kak Nana!" tanya Dias.
"Iya ini Mbak Lintang." Jawab Lintang.
"Masya Allah. Berarti memang Kalian di satukan lagi di ponpes ini." Ucap Dias.
"Alhamdulillah. Seperti itu lah Dek!"
Akhirnya mereka pun saling bercengkrama hangat. Malam ini adalah malam berkumpul nya Keluarga besar ponpes dan para keluarga dari pihak besan.
__ADS_1
Hari ini ternyata bukan hanya Afkha dan peserta Khitan masal yang di khitan. Arsya pun pada akhirnya minta di Khitan.
"Ayank, sudah dong wajah nya jangan meringis terus, mirip kuda lumping ganteng tahu." Ucap Lintang.
"Ya Allah Yank, mana ada kuda lumping ganteng." tukas Ubaydillah.
"Ada koq! tuh di cermin," ledek Lintang. Saat Ubaydillah menoleh. Maka pantulan diri nya lah yang berada di dalam cermin.
"Ayank! koq A'a Dav di samakan dengan kuda lumping!" protes lembut Ubaydillah. Membuat yang berada di ruangan tersebut tertawa.
Tadi siang, Ubaydillah sempat bersembunyi di balik pintu saat Arsya hendak di khitan.
"Abi, A'a Bro! tolong pegangi Abang, Dedek gak kuat haduh! bisa pingsan ini kalau di teruskan." Pinta Ubaydillah yang baru saja duduk memang kepal Arsya.
"Dek! masih trauma saja anta, kejadian masa kecil itu sudah berlalu lama." Ucap Afnan.
"Ya tetap saja A'a Bro. Ana takut!" balas Ubaydillah.
"Memang nya, Davian ada trauma Khitan, ketika kecil Abi?" tanya Daddy Dadryck.
"Hmmm ya itulah, Pak Dedryck! mengapa tadi setelah sambutan pembuka, utun milih pulang cepat dan ngumpet ya alasan nya karena utun masih takut kalau lihat orang di khitan. Tidak tahu nya Abang malah ingin ikutan di Khitan juga, padahal awal nya Abang juga takut." Jawab Pak Kyai.
Siang tadi, Ubaydillah bersembunyi di balik pintu sembari meringis dan jingkrak- jingkrak memegangi bagian alat reproduksi nya. Hingga Arsya selesai Khitan dan tertutup celana khusus Khitan. Barulah Ubaydillah berani mendekati.
"Dulu, ketika hendak di Khitan. Dedek sempat minggat, karena takut." Sambung Umi.
"Minggat?" tanya mereka serempak.
"Ia, minggat dan naik ke atas pohon mangga. Utun ngancam, kalau Abi berani membawa nya Khitan. Maka Mangga nya akan di petik Walaupun masih muda. Abi, Umi, A'a dan kakak-kakak nya serta para guru pembimbing dan para santri sibuk membujuk nya." ujar Abi Kyai.
Afnan yang ingat kejadian itu hanya tertawa kecil sembari mengelus kepala Afkha yang tidur di pangkuan nya. Sedangkan Afsha berada di rumah kayu bersama Devano, Elyavira dan Alnaira.
"Hanya cerita Dek! agar Granny dan Daddy serta Mommy tahu." Sergah lembut Umi. "Baiklah!" Ubaydillah menyusupkan wajah nya di belakang bahu Umi, sembari melingkarkan tangannya di perut Umi. Ubaydillah faham, Dirinya akan menjadi bahan tertawaan mereka.
"Lalu, selanjutnya bagaimana?" tanya Daddy Dadryck penasaran.
"Selanjutnya. Tidak ada yang berhasil membujuk nya, hingga Abi yang memancing nya, Abi pura-pura mau meninggalkan nya. Abi menenteng tas dokter yang akan mengkhitan nya. Abi bilang mau pergi ke Mesir. Sampai Si Dedek teriak-teriak minta jangan di tinggal, Abi jalan terus, hingga Dedek turun dari pohon mangga setengah loncat. Kalau saja Dedek masih usia lima tahunan kami akan biarkan. Namun usian nya sudah tujuh tahun. Masuk akhil baligh!" ucap Umi.
"Akhirnya mau di khitan?" tanya Granny. "Alhamdulillah dengan penuh perjuangan, Saat saya bawa tas itu mancing agar utun mengikuti saya hingga Aula. Betul saja Utun mengikuti saya sambil nangis, takut di tinggal ke Mesir. Akhirnya sampai di Aula. Saya bilang. Abi sudah sampai Mesir. Kata Utun Abi bohong. Loh Abi bilang kan ke Mesir, bukan ke negara Mesir. Nah ini lukisan Mesir kan? beruntung di dinding ada lukisan Mesir. Saya yang memangku nya kena cakar di pipi, dokter nya kena tendang sampai jatuh." Penjelasan Pak Kyai.
Mereka mengekeh bersama- sama untuk sejenak.
"Apa yang buat Davian takut sekali di Khitan?" tanya Grandad. Yang lain nyimak.
"Katanya takut! kalau Khitan itu rasa nya seperti di gigit macan! nanti semuanya habis," jawab Umi dengan mengekeh.
"Haduuuhh Dav! ada ada saja kamu," ucap Daddy sembari tertawa kecil.
"Tapi masih utuh kan Dav?" ledek Grandad. "Alhamdulillah utuh Grandad! kalau tidak lalu siapa yang menghamili Lilin, hihi." akhirnya Ubaydillah pun tertawa kecil plus malu.
"Sudah ah. Dedek malu!" celoteh Ubaydillah kembali, yang masih membenamkan kepalanya di pundak belakang Umi.
"Sayang, bagaimana rasanya, dapat suami, yang khitan nya, hasil gigitan macan?" canda Papi nya Lintang.
"Aaarrggghh ganas Pih!"
Mereka akhirnya tertawa bersama, mendengar pengakuan Lintang.
__ADS_1
Keesokan harinya.
"Adrian! ini masa A'a di belikan hadiah motor cross. A'a masih kecil!" protes Hasna saat ia lihat hadiah apa yang Adrian berikan untuk Afkha.
Adrian memberikan hadiah untuk Afkha yaitu sebuah motor cross ukuran kecil. Memang Afkha yang menginginkan nya.
"Sayang! mulai kufur nikmat deh!" tegur lembut Afnan. "Bukan gitu By. Nana bersyukur, akan tetapi, A'a kan masih terlalu kecil untuk motor beginian." Balas Hasna dengan cemberut dan masuk ke dalam rumah.
"Tunggu! hei tidak baik pagi-pagi, bibir nya di maju-majuin gitu." Afnan memeluk Hasna dari belakang setelah ia memastikan pintu tertutup rapat.
"Ya habis nya. Adrian!" ucap Hasna tanpa melanjutkan kembali.
"Sini," Afnan mengajak Hasna duduk di sofa.
"Dengarkan sayang! Dia (Allah) tidak suka hal itu terjadi akan tetapi iman yang bersemayam di hatinya menjaganya dari menggerutu (mendongkol). Terjadi dan tidak terjadinya hal itu tidak sama baginya. Perbuatan seperti ini wajib hukumnya karena Allah SWT memerintahkan untuk bersabar sebagaimana dalam firman nya:
"Dan taatlah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah SWT beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal : 46)
"Astaghfirullah'aladzim. Tapi Nana tidak kesal atau pun marah By!" Tatapan Hasna meyakinkan Afnan.
"Byby tahu! namun sayang menggerutu," Afnan mengingatkan.
"Masa sih?"
"Iya tuh!"
"Rasanya tidak!"
"Iya."
"Hihi. Maaf By!" ucap Hasna sembari menyeringai merasa bersalah.
"Meminta ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada Adrian," tukas Afnan.
"Insya Allah By! Nana hanya takut A'a berulah dengan memiliki motor cross itu. Ia masih terlalu kecil." Aku nya Hasna, ia hanyalah khawatir.
"Berkaca diri yah? Mimma sendiri usia berapa balapan liar?" tanya Afnan.
"Ummm 17 tahun!"
"Nah, apa tidak terlalu kecil apalagi Mimma seorang wanita."
"Byby! Koq jadi bawa-bawa Mimma!" hardik pelan Hasna.
"Ingatlah sayang! Takdir Allah. Buah jatuh tidak akan jauh dari timbangan. Ya begitulah mungkin anak-anak kita nanti. Maka dari itu persiapkan diri untuk menghadapi mereka, tentunya dengan arahan Iman dan Islam yang kokoh. Agar mereka pun melakukan nya dengan Keimanan penuh." Ujar Afnan.
"Gak salah itu By?"
"Salah apa nya?"
"Seingat Nana! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Koq timbangan?" tanya Hasna bingung.
"Ya itu dulu, karena metik dari pohon langsung. Kalau sekarang, mayoritas orang membeli di toko buah. Otomatis di timbang, bukan di petik! faham?" ucap Afnan sembari menarik hidung Hasna Lalu ia pergi begitu saja masuk ke dalam kamar.
"Bybyyyy! ikh aneh pribahasa nya, dasar pebisnis! apa pun di sangkut pautkan dengan bisnis!" pekik Hasan. Afnan yang mendengar kebawelan mulut Hasna, ia terpingkal di kamar.
Bersambung ....
__ADS_1