
Setelah Diam beberapa saat Roy pun memberikan jawaban.
"Saya amat menghargai niat baik Om dan putri Om untuk berta'aruf dan lalu meminang saya. Saya amat terharu dan juga bahagia. Saya amat berterima kasih, masih ada orang baik yang menghargai keberadaan saya saat ini. Namun saya mohon Om atau pun Dias jangan marah. Mohon maaf Saya tidak dapat memberikan jawaban pasti. Saya belum menerima ataupun menolak niat baik ini. Jika pun nanti kita berjodoh! Allah pasti akan menautkan kami berdua dalam sebuah ikatan pernikahan. Untuk saat ini saya masih harus membenahi diri. Ayah saya di dalam sel, berstatus tahanan dengan masa hukuman seumur hidup. Melihat kondisi Ibu saya yang masih harus dalam perawatan dan kondisi saya yang juga belum pulih. Maka saya tidak berani menerima pinangan ini, apalagi untuk melangkah lebih jauh." Tegas Roy.
Mendengar jawaban Roy. Papi dan Buna Dias terlihat dapat menerima walaupun sedikit kecewa. Namun mereka begitu salut dengan jawaban Roy. Papi Dias harus menghormati keputusan Roy.
Sedangkan Dias nampak belum dapat menerima atas jawaban Roy. Dias menangis dan berlari ke luar rumah utama. Tujuan nya saung sawah tempat ia mengulangi pelajaran, merenung dan bersenda gurau dengan santri putri lain nya kala waktu senggang.
"Dias!" gumam Roy.
Hasna dan Lintang ingin mengejar Dias.
"Biarkan saja!" pinta Papi Dias.
*
"Huuuuu.... huuuu.... whaaaa.... whaaa....patah hati sebelum di luruskan."
Dias yang menangis dalam diam di saung sawah tersebut dan hanyalah terisak saja. seketika menghentikan tangisnya. Ketika ia mendengar ada suara lain lebih kencang sedang menangis di balik saung dan itu suara laki-laki.
"Ah siapa?" Dias mengerut dahi.
Dias pun mencoba mengintip dari atas saung yang hanya bersekat separuh itu. Betul saja seorang laki-laki sedang bersimpuh di pelataran saung dan sedang menangis meraung-raung.
"kang Iqbal!" seru Dias dengan terkejut.
"Iqbal yang mendengar Nama nya di sebut. Lalu ia pun mendongakkan wajahnya. "Neng Dias!"
Rupanya Iqbal pun merasa terkejut karena ada Dias di saung itu. Iqbal yang tidak siap akan Jawaban Roy. Maka ia pun berfikir Roy menerima pinangan Dias dan daripada ia menangis di rumah utama atau kamar asrama. Maka Iqbal pun memilih berlari ke saung sawah dan menangis di luar saung. Tidak berapa lama Dias yang tidak tahu ada Iqbal di tempat tersebut pun masuk ke dalam saung, setelah berlari, karena kecewa dengan jawaban Roy.
"Koq kita di sini?" tanya Iqbal.
"Gak tahu! Aku fikir gak ada orang." jawab Dias.
"Neng Dias ngapain di sini? bukan nya sana temani calon imam nya." Ucap Iqbal.
"Belum kang! Abang belum menerima pinangan Papi! Huaaaaaa." Tangis Dias pecah.
"kalau begitu, kita sama-sama patah hati dan patah semangat!" ujar Roy.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Dias di sela tangis nya.
"Ya itu. Neng Dias patah hati oleh Kang Roy! Ana patah hati oleh Neng Dias. Huaaaa." Iqbal menangis kembali.
"Maaf kang Iqbal. Iyas hanya suka dengan Abang!"
"Baiklah! Ana ikhlas. Tapi boleh kan Ana meminta sesuatu?" tanya Iqbal.
"Terima kasih Kang Iqbal. Sebutkan saja!"
"Jika Ana tidak memiliki kesempatan untuk hidup bersama dengan Neng Dias. Setidaknya beri Ana kesempatan untuk menangis bersama dengan Neng Dias." Pinta Iqbal.
"Baiklah! Huaaaa." Mereka berdua mulai menangis bersama. Saling bersahutan dengan berbagai irama. Dias di dalam saung dan Iqbal di luar saung menempel pada Dinding saung.
Hingga waktu Maghrib, mereka baru mengakhiri tangisan bersama nya. Setelah puas menangis, mereka kembali ke area Ponpes, Iqbal berjalan di depan dengan jarak tiga meter dari Dias dan Dias di belakang nya.
*
Roy dan Dias berpapasan di area Mesjid. Roy sudah rapi dengan stelan Koko. Mereka saling diam dan hanya melirik. Roy merasa iba melihat mata Dias sembab, ia tahu pasti Dias habis menangis.
"Maaf!" ucap Roy ketika Dias melewati nya.
Kini mereka berbicara dengan saling membelakangi.
"Maafkan Aku! Izinkan Aku untuk membenahi diri ke arah lebih baik. Aku ingin menjadi Imam yang baik untuk mu kelak! jika Allah menjodohkan kita." Ucap Roy yang membuat hati Dias seketika berbunga-bunga.
"Abang! tidak menolak pinangan Papi?" tanya Dias.
"Tidak! Aku tidak menolak, namun belum dapat menerima. Biarkan waktu yang akan membawa ku menjemput mu untuk berada dalam satu mahligai rumah tangga." Jawab matap Roy.
Dias tersenyum lebar. Harapan nya belum pupus ternyata.
"Untuk sementara. Aku akan menganggap mu Adik!" Roy mengeluarkan sesuatu dari saku Koko nya. "Nih!" Roy menjulurkan barang tersebut tanpa menoleh, dengan memegang tepi nya, agar ketika Dias mengambil. Tangan mereka tidak bersentuhan.
"Terserah Abang saja! apa ini?"
"Ambillah. Ingat aku Ketika memandang benda ini, bawa nama ku dalam setiap Doa mu. Begitupun Aku, Lollipop dari mu, ku anggap dirimu dalam wujud lain. Aku pun akan selalu membawa Nama mu, di dalam setiap doa ku." Ujar Roy.
Dias yang mendengar permintaan Roy merasa akan melayang karena bahagia nya.
__ADS_1
Dias meraih benda pemberian Roy dengan hati-hati. Ia takut menyentuh tangan Roy.
Sebuah Pin atau bros kecil berwarna Silver dan bergambar sepasang merpati.
"Terima kasih, Aku akan menjaga benda ini seperti menjaga Abang!" ucap Dias.
Roy menoleh dan tersenyum. Pandangan mereka kini bertemu. Untuk sesaat mereka saling pandang.
"Astaghfirullah'aladzim!"
keduanya sadar dan segera menguasai diri. Roy masuk ke dalam Mesjid dan Dias pulang ke rumah utama dengan berbunga-bunga tentu nya.
***
Beberapa bulan kemudian.
Roy ternyata memiliki kemapuan Agama yang baik di balik ke brutalan nya dahulu. Sudah jelas Roy, salah pergaulan saja.
Keadaan Roy sudah jauh lebih baik. Afnan membiayai pengobatan kaki Roy. Kini setelah Empat bulan tinggal di pesantren Hubbul Wathan. Roy hanya menggunakan satu alat bantu berjalan. Untuk Roy dapat berjalan normal kembali seperti nya harapan nyata. Menurut Afnan hanya perlu lebih bersabar.
Setelah Afnan dan Ubaydillah serta Devano menceritakan mengenai Rengga Adipati, atas ancaman nya lah Afnan serta Ubaydillah menyerang nya. Hingga Afnan terluka. Maka Roy pun merasa tidak enak hati, sudah ber perasangka tidak baik Kepada Afnan.
Terlebih Afnan membantu Ibu nya Roy keluar dari rumah sakit jiwa dan karena kondisi psikologis nya baik! maka Afnan mengizinkan Roy beserta Ibu nya tinggal di pesantren, menempati salah satu building ponpes. Tentu Roy sangat berterima kasih kepada keluarga ponpes.
Afnan membuka peluang pekerjaan untuk Roy! yaitu membuka sebuah bengkel motor kecil- kecilan. Dengan merekrut para santri putra yang ingin berkecimpung di dunia otomotif. Setelah tiga bulan dalam kendali Roy. Bengkel tersebut sudah jauh lebih ber laba dari sebelumnya.
"Pluk!"
Sebuah lipatan kertas berisi permen lollipop mengenai punggung Roy. ketika ia mengikuti kajian kitab. Maka Roy pun menoleh.
Roy tahu siapa yang melempar nya. Sang pelaku, sedang nyengir dan mengangkat tangan nya dengan jari berbentuk huruf V. Dias berada di bagian santri putri. Yang berbeda di belakang kumpulan santri putra.
"Yas! permen lagi?" ucap Roy tanpa bersuara, ia hanyalah menggerakkan bibirnya. Roy memiringkan tubuhnya, agar dapat menjangkau Dias dengan penglihatan nya.
Setelah lamaran hari itu, Dias dan Roy nampak jauh untuk menjaga jarak. Namun dua bulan terakhir hubungan Dias dan Roy seperti nya berkembang baik! walaupun Roy selalu menganggap Dias sebagai Adik. Terlebih Dias agak jahil.
"Baca!" Dias mengangguk, ia pun melakukan hal yang sama dengan berbicara tanpa suara.
Bersambung ....
__ADS_1