Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
42. Dias tertarik kepada Roy.


__ADS_3

Di sebuah Klinik yang tidak jauh dari rumah sakit jiwa.


Saat Hasna tahu yang sedang di keroyok itu adalah Roy. Maka ia berusaha membantu nya dengan melumpuhkan satu orang si pelaku pengeroyokan.


Begitu pun dengan Lintang dan juga Dias. Mereka membantu menyelamatkan Roy sebisa mungkin, dengan melumpuhkan satu orang lainnya.


Ketika di rasa mulai kewalahan, maka mereka mencoba berteriak meminta bantuan.


Setelah di bantu beberapa orang dan juga tiga orang satpam rumah sakit tersebut. Akhirnya Roy dapat diselamatkan dan orang-orang yang mengeroyok nya lari begitu saja.


Setelahnya, Hasna membawa Roy ke klinik terdekat.


"Roy! kalau lo gak keberatan, kami ingin tahu, mengapa lo bisa di keroyok sama orang-orang itu?" tanya Hasna ketika mereka sudah keluar dari klinik dan Roy sudah diobati oleh dokter klinik


"Oke Na! cerita nya lumayan panjang. Mau duduk dulu di taman atau bagaimana?" tanya Roy.


"Mmmm ...." Hasna nampak berfikir sembari menoleh pada Dias yang sedang senyam senyum memandang ke arah Roy.


Walaupun Roy, terlihat babak belur dan masih menggunakan kruk penyangga, ketampanan Roy tidak lah luruh. Tubuh tinggi, putih nan atletis, nampak menggiurkan di mata Dias.


Dari sejak membawa Roy ke klinik, Dias sesekali melirik Roy dengan rasa kagum. Sehingga Hasna yang tahu arti dari tatapan Adik sepupunya pun selalu berusaha berbisik mengingatkan.


"Dek jaga pandangan mata nya! lama-lama, bisa jadi zina mata lokh!" bisik Hasna.


"Hihi, maaf kak! habis Roy ini kriteria cowok idaman, tinggi, putih, tampan, atletis. Astaghfirullah'aladzim. Salah ya Kak kalau Iyas kagum?" Dias tidak marah, ia malah tersipu dan salah tingkah.


"Ingat Dek! Mencintai atau mengagumi seseorang yang belum menjadi mahram tentu tidak boleh! apalagi berlebihan, misalnya seperti kamu ini dalam memandangnya sampai tuh mata hampir loncat." Ujar Hasna.


"Yah Kak! Babang Roy ganteng banget, lihat lah! aku mau ajak Papi untuk ngelamar nya!" ucap nyeleneh Dias.


"Ya ampun Yas! pakai mau melamar segala. Begitu lebih baik sih, daripada kamu nge halu tentang Roy." Ujar Hasna dengan mengekeh. Hasna merasa lucu pada Adik sepupu nya yang baru naksir cowok seperti nya.


Dias adalah gadis berhijab namun sedikit tomboy. Dias biasanya tidak akan pernah perduli kepada laki-laki. Apalagi kalau laki-laki itu yang mengejarnya. Dias akan sangat menghindari nya. Namun untuk Kali ini, sepertinya Dias tertarik kepada Roy.


"So, boleh dong aku pedekate sama doi." ucap nakal Dias.


"Dek!" pekik Lintang masih dengan setengah berbisik. "Walaupun memiliki perasaan lebih, tidak untuk mendekat secara langsung yah, melihat yang bukan mahram saja itu termasuk zina mata yang harus dihindari. Ini malah mau pedekate. Nanti pedekate nya Kalau kamu sudah Sah dan Halal." Ucap Lintang kembali. Bertujuan mengingatkan.


"Tapi Kak! aduh meleleh hati ku! lihat hidung nya, mata nya. Aw! aku ngeces kak!" ucap Dias kembali.

__ADS_1


"Meleleh! es krim kelles!" ledek Lintang.


"Iya gak boleh begitu ikh Iyas. Begini saja deh! tolong tetap jaga pandangan kamu! lebih baik berjuang dengan sabar hingga mendapatkan hubungan yang halal. Menyukai seseorang itu tidak mengapa Sebetulnya, asal jangan berlebih-lebihan. Nanti kamu bicara dengan Ustadz saja deh, bagaimana baik nya dengan perasaan kamu itu." Hasna seperti sedang membujuk Dais.


"Ingat Dek! Janganlah engkau iringkan satu pandangan kepada wanita/ laki-laki yang bukan mahram dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu halal bagimu, tetapi tidak yang kedua!" (HR Abu Daud). Ujar Hasna kembali.


"Astaghfirullah'aladzim. Maaf Iyas terpedaya pandangan mata. Baik kak! nanti aku mau minta pencerahan dulu sama A'a Usatdz kalau begitu." Tukas Dias.


"Good!"


Balas Hasna dan Lintang secara bersamaan. Kini mereka tertawa ringan bersama. Roy yang berjalan di depan mereka, sempat berhenti sejenak mendengar tawa dari ketiga nya.


"Jalan Roy! kita ke mobil saja, lo mau kan kami ajak ke ponpes! seperti nya, kamu akan aman di sana Roy!" Ucap Hasna yang faham Roy sedang terganggu dengan tawa renyah mereka.


"Hem! untuk saat ini gak ada pilihan lain Na! seperti nya memang gue butuh tempat untuk istirahat dan bersembunyi. Satu hal yang perlu kalian tahu! biar pun tadi gue di keroyok, tapi gue gak melakukan kejahatan yah! gue di keroyok bukan karena hal itu." Jelas Roy, ia khawatir Hasna berfikir buruk.


"Gak koq Roy! kami enggak sampai berfikir ke arah situ! ya kan, Lin, Dek?" balas Hasna lalu dia bertanya kepada Lintang dan Dias.


"Hu'uh!" jawab serempak kedua nya. "Terima kasih," ucap singkat Roy.


"Oke Roy, lo sama Lintang dan Dias masuk ke mobil yah, gue hendak menelpon suami gue sebentar." Ujar Hasna.


Setelah di anggukan kepala oleh Roy. Maka Lintang serta Dias pun berjalan mengarah ke mobil.


Di hotel tempat Afnan berdiri saat ini.


Afnan dan Ubaydillah sedang mengadakan pengecekan rutin terhadap Fafasilitas hotel, apa saja yang masih kurang. Namun saat Afnan asik berbincang teleponnya berbunyi.


"Sayang!" gumam Afnan. Itu telepon dari Hasna. Lalu ia menerima telepon nya dengan segera.


"Assalamu'alaikum sayang!" /Afnan.


"Wa'alaikum salam By."/ Hasna.


"Sayang, sudah pulang?" /Afnan.


"Nana sudah pulang dari rumah tenang, namun secara tidak sengaja Nana melihat Roy sedang di keroyok," / Hasna.


"Astaghfirullah'aladzim, Alhamdulillah ala kulli haal. Di mana sayang?" /Afnan.

__ADS_1


"Di depan pintu masuk rumah sakit jiwa, yang dekat kedai mie ayam langganan aku By." / Hasna.


"Baiklah, lalu mengapa Roy bisa di keroyok, memang apa yang terjadi?" / Afnan.


"Nah itu dia By! Nana belum dapat jawaban dari Roy! yang pasti seperti nya Roy butuh tempat untuk berlindung dan menenangkan diri."/ Hasna.


"Kalau begitu, bawa pulang saja ke ponpes. Minta izin Abi dan Umi, nanti biar Abi yang memutuskan, Roy akan tinggal di rumah atau Asrama ponpes." /Afnan.


"Insya Allah By! memang Nana hendak meminta izin pada Byby untuk membawa nya pulang ke ponpes, eh Byby berinisiatif terlebih dahulu. Terima kasih Byby Sayang." /Hasna.


"Kembali Kasih istri ku sayang."


Setelah mengucapkan salam akhir. Maka sambungan telepon pun berakhir.


"Bagaimana Na?" tanya Lintang ketika Hasna baru saja mendekati pintu mobil.


"Ustadz menyarankan agar membawa Roy ke ponpes." Jawab Hasna.


"Baiklah. Saran yang bagus," ujar Lintang.


***


Empat puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di ponpes Hubbul Wathan.


"Langsung ke rumah utama saja," ajak Hasna. "Oke Na!" balas Lintang.


Dias hanya diam saja, saat ini ia lebih banyak menunduk walaupun sesekali melirik Roy.


Sedangkan Roy nampak cuek dan bersikap wajar, walaupun sesekali ringisan terlihat dari nya, Ketika luka pada wajah nya terasa linu.


"Waaah keren nih ponpes Na! gue fikir, ponpes yang lo maksud itu di daerah terpencil dengan bangunan kuno." ucap kagum Roy.


"Lokh ini juga kan agak terpencil dan jauh dari pemukiman warga sekitar." Jawab Hasna.


"Hehe, iya sih lumayan terpisah dari pemukiman warga, namun suasana nya ramai karena banyak santri dan juga asri. Wah bakal betah nih lama-lama di sini." Celoteh Roy.


"Semoga ya Roy. lo kerasan di sini. Suami gue sudah mengizinkan lo untuk tinggal di sini, sekarang kita ke rumah orang tua kami yuk. Minta izin sekaligus memperkenalkan lo kepada mereka Roy." Ajak Hasna.


"Baiklah!" Roy pun hanya menurut ajakan Hasna.

__ADS_1


"Awas Roy!"


Bersambung ....


__ADS_2